Islandzandi

Islandzandi
Saya Lepasin Bapak. Saya Harap Semua Ini Selesai Sampai Di Sini."



Menurut Dasya, menghadapi semuanya alih-alih kabur bersembunyi adalah pilihan yang tepat. Karena sebetulnya Freya tidak bersalah, dia hanya menjalani kehidupannya seperti kebanyakan muda-mudi lain-lagipula bukankah semua orang juga punya rahasia.


Freya hanya kurang beruntung saja rahasianya menyebar diketahui semua orang.


"Lagian ya, foto-foto itu diambil di basement parkiran. Cuma orang-orang yang pernah ke Nightiest yang tau kalau itu parkiran di klub malem. Dan di foto-foto itu nggak ada yang mengindikasikan lo lagi mabok. Bisa aja sebenernya lo lagi pingsan 'kan? Caption yang dikirim barengan sama foto-foto itu yang jadinya menggiring opini orang—meskipun yah, emang isinya bener, sih. Tapi kalau orang lain cuma liat foto itu tanpa baca caption-nya, belum tentu mereka bakalan mikir lo sama Pak Orion abis mabok-mabokan di klub malem. Udah, nggak usah ngumpet, lo nggak salah. Nanti mereka malah makin semangat ngegibahin lo." Begitu kata Dasya dalam usahanya menenangkan Freya.


"Lo punya kita, Frey. Nggak usah takut sama pendapat orang lain." Qila lantas menambahkan.


Maka begitulah akhirnya hingga mereka memutuskan untuk makan siang di kantin Fikom. Seakan berusaha menantang orang-orang yang sejak kemarin menghujani sosial media Freyq dengan komentar buruk. Freya duduk dikelilingi Rania, Qila, Juni dan Dasya. Berusaha menulikan telingannya dari segala kasak-kusuk tajam. Berpura-pura tidak menyadari tatapan yang diam-diam dilemparkan sepenjuru kantin.


"Eh, yang itu bukan, sih?"


“Gila ya, masih berani ngampus. Kalau gue sih udah nggak ada muka kali ketemu orang-orang.”


"Emang nggak punya muka kali. Makanya nggak tau malu gitu."


Freya menelan makanannya susah payah begitu mendengar bisik-bisik dari meja sebelah. Dia menundukan kepala, merasa lebih baik menatap nasinya ketimbang orang-orang di sekitar.


Juni yang duduk di sampingnya perlahan menggenggam sebelah tangan Freya, seakan berusaha memberikan kekuatan.


“Nggak usah didenger. Setan nggak usah didenger." Dasya bergumam sambil melahap mi ayamnya.


Freya mengangguk meski sulit.


"Eh, tapi menurut lo mereka udah ngapain aja? Mainnya ampe ke klub gitu."


"Ya lo pikir aja sih, emang di klub ngapain coba? Main karambol?"


"Murah banget ya kalau gitu? Biar sambil menyelam minum air kali ya?"


"Dapet yang enak, terus dapet nilai bagus juga gitu maksud lo?"


"Lah bedanya sama ayam kampus apa, dong?"


Freya merasakan jantungnya mencelus mendengar ini. Seburuk itukah dirinya di mata orang-orang? Itukah yang orang lain pikirkan tentangnya, hanya karena beberapa foto saja?


"Anjing." Rania mendesis tajam, kedua tangannya mengepal marah. Dia tidak bisa menahan dirinya lagi. Dengan amarah menggelegak, dia menggebrak meja dengan kencang dan bangun dari duduknya. Membuat bisikan-bisikan itu terhenti dan orang-orang segera menatapnya dengan heran bercampur kaget.


Rania menoleh pada sekumpulan gadis yang duduk di meja sebelah. Ditatapnya gadis-gadis itu dengan tajam.


Baru saja dia bersiap melontarkan segala makian yang terlintas di kepalanya, ketika sesosok pemuda jangkung berjalan masuk ke dalam kantin. Menyita perhatian semua orang, dan lagi-lagi menimbulkan bisikan-bisikan yang lebih heboh dari sebelumnya.


Perlahan Rania mengerang. Bukankah dia sudah meminta Orion untuk tidak datang kemari?


Freya membeku di tempatnya. Dia menatap kosong Orion yang berjalan lurus ke arahnya. Apa lagi sekarang? Apa lagi yang akan Orion lakukan sekarang?


Orion berhenti begitu tiba di depan meja Freya. Ditatapnya perempuan itu dengan tatapan tidak terbaca. Sebelum akhirnya dia mendekat, dan meraih tangan Freya. Freya yang tidak menduga ini semua hanya bisa membiarkan Orion menariknya berdiri begitu saja.


Freya tahu bukan hanya dirinya yang terkejut mendengar ini. Dia bisa melihat semua orang terkesiap terkejut mendengar apa yang baru saja Orion katakan.


Tunangan, katanya?


Belum sempat Freya bereaksi, Orion telah lebih dulu menariknya pergi dari sana. Dia diam saja ketika Orion menggenggam tangannya dan terus berjalan entah ke mana.


Pikirannya terasa makin runyam sekarang.


Sama seperti sebelum-sebelumnya, mereka baru berhenti di parkiran belakang. Tempat itu selalu sepi dan jarang dijamah. Ketika Orion akhirnya berbalik dan berdiri menghadapinya, perlahan Freya melepaskan genggaman pemuda itu pada tangannya.


Masih dengan kepala menunduk, Freya bergumam pelan, "Tunangan? Harus, ya, sampai bohong sejauh itu?”


Orion menghela napas. "Maaf. Saya rasa cuma ini yang bisa saya lakuin. Seengganya dengan gini, orang-orang nggak akan mikir yang macem-macem lagi soal hubungan kita. Ada alesan buat foto-foto itu."


Freya mendengus mendengar jawaban Orion. Dia mendongak dan menatap pemuda itu nanar. "Nggak ada yang bisa dilakuin selain ini? Bapak bisa diem aja dan nggak usah ikut campur! Meskipun ini bukan rencana Bapak, tapi dengan orang-orang benci saya udah nambah alesan buat bikin saya makin terluka 'kan? Itu 'kan yang Bapak mau sejak awal ngejalin hubungan sama saya?"


"Freya-"


"Kebohongan Bapak bikin saya capek. Bapak sadar nggak sih, bahkan dari awal hubungan kita udah didasarin sama kebohongan 'kan? Bapak minta saya jadi pacar pura-pura di depan temen-temen Bapak, dan dari sana saya kejebak semua rencana Bapak. Nggak seharusnya saya percaya sama hubungan yang dimulai dari kebohongan." Suara Freya tercekat di akhir kalimat. “Sekarang saya nggak tau lagi mana yang harus saya percaya dari omongan dan perlakuan Bapak Mungkin nggak ada satu pun."


Sejenak Orion terdiam. Perlahan dia berjalan mendekat dan meraih kedua tangan Freya. Perempuan itu tidak berontak ketika Orion menggenggam tangannya dengan lembut.


"Saya nggak maksa kamu percaya, Freya. Tapi saya rasa kamu tetep harus denger ini. Dari awal, niatan saya deketin kamu emang udah salah. Saya berniat nyakitin kamu hanya karena luka di masa lalu. Saya nyeret kamu ke dalam masalah yang bahkan nggak pernah kamu tau. Saya salah." Dia berhenti sejenak untuk menatap kedua manik Freua yang kini berkaca-kaca. "Tapi setelah saya jalanin ini semua, pelan-pelan saya sadar soal kesalahan itu. Apa yang buat saya sadar? Rasa sayang saya sama kamu. Setelah rasa sayang itu tumbuh, saya nggak bisa liat kamu nangis. Saya nggak tahan liat kamu terluka. Waktu kamu dicelakain Aubrey, waktu kamu ngilang di acara Shine, saya bener-bener panik, Freya. Saya nggak pernah setakut itu sebelumnya."


Setitik air mata turun membasahi pipi Freya mendengar ini. Dengan hati-hati Orion menggerakan jemarinya menghapus air mata itu. Lantas, sebelah tangannya itu dia biarkan untuk menangkup wajah Freya.


"Kamu inget waktu saya mendadak ngejauh? Malam sebelumnya kamu berterimakasih buat kehadiran saya, kamu bilang saya harapan kamu. Ketulusan kamu yang buat saya tersadar sejahat apa saya. Status kita bukan satu-satunya alesan saya milih ngejauh. Saya pikir dengan ngejauh, saya bisa mencegah kamu ngerasa sakit. Saya pikir dengan ngeakhirin hubungan kita lebih awal, bisa memperbaiki semuanya. Tapi saya emang bodoh. Itu semua nggak berhasil. Nyatanya saya bahkan nggak bisa liat kamu sama laki-laki lain, saya belum siap ngelepasin kamu." Orion tersenyum pahit mengingat itu semua. "Pada akhirnya saya milih buat kembali. Saya nggak mau lepasin kamu lagi, saya berniat buat cerita tentang semua ini setelah saya siap. Tapi ternyata saya nggak pernah siap. Saya terlalu takut kehilangan kamu. Saya bahkan nggak bisa ngendaliin diri waktu kita ketemu Kelana, sampai-sampai saya bersikap kasar sama kamu."


Kini Freya mulai terisak. Orion berusaha menahan diri untuk tidak menarik perempuan itu ke dalam pelukannya.


"Saya cuma pengen kamu tau, Freya. Meskipun niatan awal saya salah, saya nggak pernah main-main sama semua perkataan dan perlakuan buat kamu.


Perasaan sayang saya buat kamu, bener-bener serius, Freya. Saya serius waktu janji buat ada di sisi kamu, nyari kebahagiaan sama kamu. Meski mungkin sekarang janji itu nggak bisa saya penuhin.” Orion berhenti sejenak, dan menatap Freya dengan seulas senyum sedih di bibirnya. "Maafin saya, afreya. Maaf. Kamu nggak perlu terima kata maaf saya kalau kamu rasa itu terlalu berat. Saya ngerti. Kamu bisa terus benci saya. Asal saya mohon, jangan terluka lagi. Saya harap kamu bisa bahagia."


Seperti apa yang dia katakan pada Kenan, terkadang kata maaf tidak membantu sama sekali. Terkadang kata maaf hanya digunakan sebagai tameng dari rasa bersalah. Terkadang, maaf bisa membebani mereka yang terluka. Seakan menjadi pemecahan masalah yang dipaksakan, padahal rasa sakitnya belum sembuh sepenuhnya.


Orion tidak mau Freya merasa seperti itu karena kata maaf darinya.


Perlahan Freya menarik napas, lalu menatap Orion lurus-lurus.


"Saya ngerti," katanya dengan suara serak. Dia meraih tangan Orion yang menangkup wajahnya, lalu menggenggamnya. "Bapak bilang, Bapak terlalu takut ngelepasin saya. Sekarang, biar saya yang lepasin Bapak. Saya harap semua ini selesai sampai di sini."


Bersamaan dengan itu, Freya melepaskan genggaman tangan mereka. Seakan ingin menunjukan bahwa dia benar-benar telah melepaskan pemuda itu.


Ketika Freya berbalik dan berjalan pergi meninggalkannya, Orion tahu, ini memang telah menjadi akhir untuk mereka berdua. Seperti apa yang Freya harapkan.