
Di rumah Pak Diandra…
Pukul 22.00 malam…
Di ruang keluarga… Pak Diandra dan Bu Audrey sedang menunggu Islandzandi pulang… Sementara Islandzandi yang baru pulang diantar Erik masuk ke ruang tengah sedikit mabuk.
"Island! Dari mana saja kamu?" ucap Pak Diandra kesal.
"Sayang, kau tau Reyandra beberapa kali menelponmu handphonemu tidak aktip kami juga tidak bisa menghubungimu!" timpal Bu Audrey.
Islandzandi terdiam. "Hah… Mam tau apa yang dilakukannya hari ini?"
"Dia memecatmu?!" ucap Pak Diandra.
Islandzandi terdiam terkejut melihat Pak Diandra.
"Sayang, Reyandra sudah cerita pada kami jauh-jauh hari… Dan ini semua demi kebaikanmu!"
"Apa? Demi kebaikan aku? Harusnya dia cerita masalah ini sama aku bukan sama kalian!"
"Dia tau kalau bicara denganmu kamu pasti menolak dan tidak akan mendengarkan alasannya…"
"Hah… Trus mana dia sekarang?"
"Dia sedang keluar kota ada urusan bisnis yang mendadak! Makanya dari tadi kenapa kamu mematikan telponmu?!"
"Hah?" terdiam kaget.
"Island, Reyandra melakukan itu karena dia nggak mau kamu terluka saat semua tau kalau kau adalah Istrinya bukan selingkuhannya!"
Islandzandi terdiam berfikir. "Aku mau ke kamar! Aku capek mau istirahat!"
"Island…"
"Jangan ada yang masuk ke kamar!" ucap Islandzandi yang langsung pergi meninggalkan ruang keluarga.
Sementara Pak Diandra dan Bu Audrey masih terdiam saling pandang.
"Sudahlah! Nanti juga dia baik sendiri!"
"Tapi Reyandra pulang 2 sampai 3 hari pah…"
"Kita lihat besok! Kalau tidak baik juga kita telepon Reyandra untuk berbicara padanya!"
**
Di kamar Islandzandi…
Pukul 23.30 malam…
Islandzandi sedang duduk berfikir.
"Apa ini salah gue? Tapi gue kesel banget sama Reyandra, kenapa sih dia nggak ngomong langsung sama gue? Kasih penjelasan kek sama gue? Kayak nggak tau sifat gue aja deh! Sekarang mu baikan gimana orang Reyandra nya juga nggak ada! Bodo ah terserah dia! Yang jelas gue nggak akan ngehubungin dia dulu! Biar tau kalo aku marah sama dia! Aaaakkkhhh... sebeelll!!!" gerutu Islandzandi kesal.
Islandzandi pun tiduran di tempat tidur sambil melihat photo Reyandra di Handphonenya yang sedang di chash sampai ketiduran.
Jam 07.00 pagi...
saat Islandzandi terbangun dia pun melihat Handphonenya dan membaca pesan dari Reyandra masih belum mengganti pakaiannya.
...Reyandra...
...“Island… Saya minta maaf, saya melakukan ini bukan karena saya ingin, tapi saya hanya mau melindungimu dari mereka yang sedang mencaci makimu.. Saya nggak mau kalau kamu terluka lagi… saya mohon kamu jangan marah lagi, dan juga maaf saya nggak bilang kalau saya pergi keluar kota selama beberapa hari...”...
...Aufar...
...“Hei… gossip tentang lo di kantor sangat buruk… Reyandra mecat lo karena dia bener-bener mau ngelindungin lo Island… Cuma ini yang bisa gue bantu buat Reyandra… So Please… Ngertiin Reyandra ya… Apa yang Reyandra lakukan gue juga pasti akan ngelakuin hal yang sama kayak dia… Karena kita sayang sama lo…”...
...Erik...
...“Hei… Pasti Reyandra mau yang terbaik buat lo.. So please don’t get angry again ok?!”...
...Haura...
...“Island! Jangan lupa ya kita ada MT Jurusan besok lusa jadi besok sore lo kudu datang ke kampus buat prepare”...
"Hah... Gila semua pada nyuruh gue ngertiin Reyandra, sampe Aufar pun ngebela dia! (terdiam) Gini ya punya laki ganteng orang penting di perusahaan... Apalagi gue satu kantor sama dia dan gue Cuma bagian staf doang... Makan hati banget sih!"
Tak lama suara telpon dari Haura berdering.
"Iya Ra?"
"Island, lo dimana? Lo nggak lupa kan sekarang ke kampus?! Gue juga sampe ngebela-belain ijin ke kantor nih...”
"Iya, gue nggak lupa ini juga gue mau siap-siap kok!"
“Ya udah gue tunggu di kampus ya... Cepetan loh!!”
"Iya bawel! Gue tutup ya!" menutup telponnya lalu terdiam melihat jam dindingnya.
***
Sementara di luar kota…
Pukul 10.00 siang...
Reyandra yang masih terbangun sedang terdiam menatap Handphonenya berharap ada kabar dari Islandzandi.
"Hah... Island... Kamu masih marah? Sampai sekarang kamu belum ngasih kabar sama sekali! (mencoba menelpon Islandzandi lagi) Saya harap kali ini kamu angkat..."
“Ya...”
Reyandra tersenyum. "Thanks god, Island... makasih sudah menjawab telpon saya kali ini... Kemarin saya benar-benar bingung tidak bisa menghubungimu... Saya minta maaf soal pemecatan itu... Kamu pasti sudah tau alasannya kan?!"
“Hhmmm...”
Reyandra terdiam. "Paling tidak saya sudah mendengar suaramu... I miss you Island... (masih terdiam menunggu jawaban Islandzandi yang masih terdiam juga) Kamu lagi dimana? Kedengarannya ramai banget!"
“Aku lagi di kampus...”
"Mungkin lusa saya pulang..."
“Hhmm... Aku juga lagi ada MT di kampus jadi nggak akan ada di rumah pas kamu pulang...”
"MT?"
“Iya, pengenalan jurusan sama kampus buat mahasiswa baru...”
"Di kampus?"
“No... Tapi di pantai...”
"Jadi saya belum bisa ketemu sama kamu... Ya sudah saya tunggu saja... Kamu hati-hati disana..."
“Hmmmmhhh” gumamnya sambil menutup telponnya.
Reyandra pun terdiam masih berfikir.
"Kenapa? Island? Kalian masih marahan? (melihat Reyandra yang masih terdiam) Hah... Bentar lagi meeting dimulai, kita harus ada di ruangan sebelum klien datang..."
"Bisa tidak urusan kedepan kita selesaikan hari ini?"
Eolia melihat Reyandra kaget. "Kamu mau memadatkan jadwal hari ini?"
"Saya ingin segera pulang dan bertemu Island... Pergi dengan kondisi hubungan kami seperti ini membuat saya tidak bisa bekerja dengan serius!"
"Kau tau itu tapi kau melakukan juga! Kau juga tau sifat Island tapi tetap tidak memberitahunya tentang pemecatannya. (terdiam melihat kearah Reyandra yang masih terdiam) Akan aku usahakan hari ini beres tapi pasti akan memakan waktu banyak..."
"Tidak apa-apa yang penting besok saya bisa pulang! (melihat Eolia menyesal) Maaf..."
Eolia hanya terdiam melihat kearah Reyandra.
***
Di Studio Aslan...
Pukul 15.40 sore...
Aslan sedang mengedit photonya di ruangannya sementara Islandzandi sedang tiduran di sofa ruangan Aslan sambil mengutak ngatik Handphonenya.
Aslan melihat kearah Islandzandi yang masih galau. "Tadi ke kampus? Katanya ada acara ya?"
"Hhmm... (cemberut) Erik yang cerita ya? Dia juga sekarang lagi belanja buat persiapan Haura..."
"Lo nggak belanja juga?"
"Tar aja abis dari sini..."
"Island... (terdiam ragu) Eeu... Klien kita yang bekerja dengan Svetovska pengen lo yang jadi model di videoklip teaser Game itu... Mau di terima ga?"
"Boleh... Iya terima aja!"
"Island, Reyandra ngelakuin itu karena dia nggak pengen lo disakiti sama orang lain! Dan mungkin itu juga buat kebaikan lo juga..."
"Harusnya dia tuh ngomong sama gue bukan sama bokap nyokap ataupun kalian! Ini tuh hubungannya sama gue! (terdiam kesal) Lagian ya, dulu itu kesepakatannya nggak gini! Dia bilang gue bakalan ngerjain launching gamenya dulu baru keluar!"
"Gue nggak tau lebih jelasnya sih, Cuma c’Erik cerita sama gue kayak gitu! Ya udah sana siap-siap gue mau mulai pemotretannya nih!"
"Iya-iya!"
***
Di Universitas Saimdang...
Gedung Jurusan Desain Grafis...
"Beneran lo nggak apa-apa gue nggak ikut?" ucap Aufar cemas.
"Heh, dia bukan anak kecil kali... Lagian ada gue ya..." gerutu Haura.
"Tau nih khawatirnya lebih-lebih dari seorang nyokap deh..." seru salah satu temennya lagi yanf memang mereka sedang berkumpul.
"Tau bokap nyokapnya aja nggak sampe kayak gitu kan..." seru temen lainnya lagi.
Aufar melihat kearah teman-teman sekelas Islandzandi lalu berbisik pada Islandzandi. "Yakin mereka mau MT bukan mau Clubing? Pakeannya kok kayak gitu?"
"Yaaa... Dasar! Udah sana pulang!"
Aufar tersenyum melihat kearah Islandzandi lalu memegang pipi Islandzandi. "Syukur deh lo udah nggak badmoood lagi... Havefun ya disana! Kalo ada apa-apa telpon gue..."
"Bawel!"
Sementara Shandika yang tengah mempersiapkan acara dengan panitia lain memperhatikan Islandzandi dengan Aufar. Tak lama Shandika dan para Panitia pun berjalan ke arah Mahasiswa Baru.
"Ok, semua udah siap? Kita langsung pergi biar ada waktu untuk prepare acara disana."
"Emang acaranya apa kak?"
"Liat aja ntar disana!"
Teman-teman yang lain pun melihat cemberut karena jawaban Shandika yang ketus.
Haura berbisik pada Islandzandi. "Gue heran kenapa ke yang lain doi ketus tapi kalo berhadapan sama lo doi nggak ketus ya... Malah gue liat sih lembek gitu... Jangan-jangan doi..."
"Udah deh jangan mulai! Lo tau kan gue udah punya laki..."
"Iya lo punya laki tapi kan lo masih marahan sama dia! Hah... Lagian ya, lo tau kan dia tuh ngelakuin itu karena dia emang nggak mau lo terluka, buktinya sekarang semua karyawan ngomongin kejelekan lo gue sampe cape buat ngasih pengertian sama mereka! (melihat Islandzandi yang masih terdiam) Makanya lo baikan deh sama Reyandra, minta maaf sana... Gue juga kalo jadiu Reyandra pasti ngelakuin hal yang sama kok... Berita dikantor tentang lo sama Reyandra itu udah jadi perbincangan sehari-hari... Lo tau, gue malah liat waktu Reyandra jalan di Lobby beberaba karyawan langsung ngomongin dia, malah ada yang dengan terang-terangan ngomongin Reyandra pas ada Reyandra... Gila nggak tuh!"
"Separah itu?"
"Iya, untung aja Reyandra masih kuat sama omongan kayak gitu... Apalagi semua orang ngomongin bininya... (melihat Islandzandi yang masih terdiam) Udahan ya ngambeknya, kasian Reyandra..."
Tak lama mereka pun masuk ke Bus.
***
Di rumah Pak. Diandra...
Pukul 21.00 malam...
Pak Diandra dan Bu Audrey sedang duduk di Ruang keluarga...
Tak lama Bi Inah datang kearah mereka dari ruang tamu.
"Siapa yang datang bi?"
"Den Reyandra Bu..."
Bu Audrey dan pak Diandra terdiam saling melihat lalu beranjak dari sofa dan berjalan kearah ruang tamu.
Tak lama Reyandra masuk ke ruang tamu dengan membawa tas besarnya.
Reyandra kaget melihat Pak Diandra dan Bu Audrey menunggunya. "Loh Om, Tante? Kenapa ada disini? Saya pikir sudah tidur. Maaf mengganggu ya?"
"Nggak kok, kami memang sedang menonton..."
"Apa ada masalah Rey?" ucap Pak Diandra serius.
"Nggak Om, saya hanya menyelesaikan pekerjaan lebih cepat saja, karena saya ingin cepat pulang!"
"Tapi Island sekarang..."
"sedang melakukan MT di kampusnya kan..."
Pak Diandra terdiam. "Kau sudah bisa menghubunginya? Kalian sudah baikan?"
"Saya sudah bisa menghubunginya Om, tapi untuk baikan sepertinya belum... Island masih bersikap dingin saat di telpon."
"Hah, yang sabar ya Rey... Nanti juga dia akan baik lagi..."
"Iya tante..."
***
Di halaman penginapan...
Pukul 23.35 malam...
Kakak tingkat sedang berbaur sama adik tingkat untuk mengakrabkan diri dengan mengadakan barbeqyu dan minum-minum...
Sementara itu kakak tingkat perempuan sedang mendekati Shandika yang sedang duduk sambil mendengarkan lagu tidak menggubris teman wanitanya.
Haura, Islandzandi dan teman-teman yang lain sedang duduk di bangku adik tingkat sambil minum-minum...
Haura melihat Islandzandi memperhatikan Handphonenya. "Kalo nunggu kabar dari Reyandra lama... Harusnya tuh lo yang ngehubungin dia dulu... Lo jangan kalah deh sama gengsi... Gue tau lo malu kan buat ngehubungin dia duluan?!"
"Gue keluar dulu bentar ya..."
"Kemana lo?"
"Cari angin..." ucapnya sambil pergi dari hadapan Haura dan teman-temannya.
Haura hanya tersenyum melihat tingkah Islandzandi. "Hah.. Bilang aja lo mau telpon Reyandra tapi malu ada gue kan..."
Shandika kearah Islandzandi langsung beres-beres dan beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana sih Dik? Udah disini aja..."
"Gue ada urusan dulu... Tar gue balik lagi..."
"Bener ya balik lagi... Awas kalo boong!"
Shandika berjalan mengikuti Islandzandi. Sementara Laras yang memperhatikan arah Shandika pergi melihat kearah Islandzandi kesal.
Saat Islandzandi sedang berjalan disisi pantai...
Shandika menyusul dan mensejajarkan badannya dengan Islandzandi.
"Kemana lo?"
Islandzandi melihat kearah Shandika kaget. "Loh... Kok lo ada disini kak?" melihat sekitar.
"Kenapa nggak boleh?"
"Ya... Nggak gue takut tar dilabrak sama fans lo... Fans lo kan banyak!"
Shandika tersenyum. "Ck... Fans apaan... (melihat kearah Islandzandi yang masih terdiam) Gue denger lo udah beres magang ya?"
"Oh... Iya, gue sekarang lagi bikin siap-siap bikin laporan magang gue nih..."
"Kalo lo butuh sesuatu atau mau nanya sesuatu lo bisa hubungin gue..."
"Kan lo juga lagi sibuk nyusun skripsi lo kan kak..."
Mereka pun jalan-jalan sambil mengobrol, Islandzandi pun sampai lupa untuk menghubungi Reyandra.
**
Di kamar Islandzandi...
Pukul 04.00 pagi...
Haura terbangun karena pintu kamarnya dibuka oleh Islandzandi yang baru pulang.
Haura masih pusing dan melihat jam dinding. "Lo baru pulang?" menggaruk kepalanya.
Islandzandi kaget melihat Haura yang terbangun. "Ah, Eu... Iya, udah lo tidur aja lagi baru jam 4 pagi... Gue juga mau tidur... Yuk..." ucapnya sambil langsung tertidur di samping Haura.
Pukul 08.00 pagi...
Haura yang baru dari luar membawa sarapan ke kamar dan menyimpannya di meja depan tempat tidurnya.
Islandzandi yang mendengar pintu ditutup dan mencium wangi makanan pun terbangun...
"Pagi!!" ucapnya sambil duduk sarapan melihat Islandzandi yang masih sedikit tertidur.
"Mmhhmm... Pagi...." melihat Handphonenya lalu bangun dari tidurnya.
"So... Ada apa tadi malem sampe pulang pagi... nggak mungkin kan lo telpon Reyandra sampe pagi buta... Kalian udah baekan kan?!"
Islandzandi terdiam. "Gue nggak sempet nelpon Reyandra..."
"Lah.. Trus lo ngapain diluar sampe jam 4 pagi?"
"Gue ngobrol sama kak Shandika..."
Haura terdiam. "Shandika ketua jurusan kita? Yang galak itu?"
"Dia nggak galak kok, aslinya baik banget..."
Haura curiga melihat kearah Islandzandi. "Hah... Gue curiga deh sama dia, kayaknya dia sengaja ngedeketin lo karena ada magsud..."
"Nggak mungkin! Dia baik kok ke temen-temen sekelasnya... Fansnya juga banyak!"