
Di atap Svetovska Company…
Pukul 14.00 sore…
Alditra sedang berdiri sambil merokok menikmati waktu istirahat. Tak lama setelah beres merokok Alditra mengambil sebuah photo di sakunya dan melihat photo itu.
Hah… Sial banget nasib Island sampe harus berurusan sama Om Jeny… Dan yang lebih membuatku terkejut adalah, orang yang menjadi targetku sekarang ini sangat mirip denganmu… Wajah tingkah lakunya… Semua itu mengingatkanmu… Ini seperti kamu mati untuk kedua kalinya…
Tak lama saat Alditra sedang menikmati pemandangan Reyandra datang dengan sebuah minuman dan melihat kearah Alditra dari kejauhan.
"Alditra… Apa sebenarnya rencanamu? Siapa yang menyuruhmu untuk masuk kesini?! Kenapa kamu memaksa masuk kesini? Apa yang kamu incar?!" gumam Reyandra dalam hati.
**
Di Universitas Saimdang…
Pukul 17.00 sore…
Di ruang Administrasi…
Alditra yang sedang mengisi formulir pendaftaran untuk mahasiswa baru di jurusan itu…
Saat Alditra sudah selesai menulis, dia melihat kearah Islandzandi yang sudah berada disampingnya terdiam. Alditra melihat wajah Islandzandi dengan serius saat Islandzandi tengah sibuk dengan Handphonenya. Islandzandi yang memang ada urusan dengan Pak Indra tentang perkuliahan semester akhir dan soal magangnya yang tinggal beberapa minggu lagi.
Islandzandi tersenyum melihat kearah Alditra saat sadar dia sudah ditatap olehnya dengan tajam. "Gue mau nanya sama lo, kenapa sih lo suka merhatiin gue?"
"Siapa?"
"Ya lo… Siapa lagi, lo pikir gue nggak tau?! Sejak pertama kali lo masuk ke perusahaan,gue ngerasa lo suka merhatiin gue… Isn’t that right?"
Alditra terdiam lalu tersenyum kecut. "Lo… Mirip sama seseorang…"
"Hah… Jangan bilang itu pacar lo! Trus kenapa kalian putus?"
"Dia… Meninggal…" ucap Alditra langsung terdiam menunduk.
Islandzandi terdiam langsung melihat Alditra merasa bersalah.
"Oh, sorry… Gue bener–bener nggak tau, Sorry ya…"
"It’s okay kejadiannya udah lama kok… Nggak usah dipikirin… Mau liat photonya?"
Islandzandi terdiam melihat Alditra serius. Lalu Alditra pun mengeluarkan photo di dalam dompetnya.
"Gue yatim piatu, disini gue hidup sendiri… Saudara nggak tau ada dimana, yang dekat sama gue ya Cuma Om gue, selama gue hidup dia sering bantu gue dalam masalah apapun, makanya gue bisa kayak gini… Dan sekarang gue pengen nunjukin rasa terima kasih gue atas bantuannya selama ini…"
Islandzandi terdiam melihat kearah Alditra.
"Hah, serius? (melihat Alditra lalu melihat photo pacarnya lagi) Dia emang terlihat mirip gue sih… Eeu, trus lo tinggal sendiri apa sama Om lo?"
"Selama 10 tahun ini gue tinggal dan kerja sama Om gue, karena gue…"
Islandzandi terdiam teringat Reyandra.
"Dia sama kayak Reyandra… Hidup sendiri…" ucap Islandzandi dalam hati.
Islandzandi terdiam sejenak dan melihat kearah Alditra.
Alditra melihat Islandzandi yang sedang melihat kearahnya. "Aahaha please… Don’t pity on me…"
"Nggak! Siapa juga yang kasihan sama lo! (cemberut kearah Alditra) Cuma… Hidup lo sama kayak seseorang yang gue kenal!"
"Lo pacaran sama direktur trus Aufar gimana? Dia kayaknya sayang banget sama lo! Keliatan kok…"
Islandzandi hanya tersenyum tanpa berkata…
"Ok, lo nggak mau bahas masalah Aufar maupun Reyandra… Tapi serius, lo kalo ada masalah sama mereka lo bisa cerita sama gue…" melihat kearah Islandzandi tersenyum.
**
Esoknya…
Di Svetovska Company…
Pukul 13.00 siang…
Di lorong ruangan… Alditra buru-buru mengangkat telpon…
“Ya Om!”
“Bagaimana? Sudah ada gerakan?” tanya Pak Jeni.
“Belum om, saya sedang berusaha untuk mengambil hatinya, saat pertama kali masuk kesini Direktur sempat curiga, tapi sekarang tidak lagi, saya harus tetap berhati-hati, mungkin saja Direktur diam tapi sedang mengawasi saya… Dan om, sepertinya Aufar juga sedang mencurigai saya… Apa tidak apa-apa saya melakukan itu pada orang yang disayangi oleh putranya sendiri…”
“Wanita itu sudah mempermalukan keluargaku karena memutuskan hubungan pertunangannya dengan Aufar… Aku tidak rela kalau Aufar terus menerus melindungi dia dan sudahlah… Awas Dhit! Jangan mentang-mentang dia mirip dengan Almarhum pacarmu jadi kamu bersikap lembek padanya”
“Bagus! Kalau bisa jangan terlalu lama...! Aku juga sekarang sudah mengajukan usulan pada para investor untuk segera menurunkan Diandra dari jabatannya!”
“Baik om!” ucap Alditra sambil menutup teleponnya.
Alditra terdiam berfikir, lalu pergi dari lorong itu. Sementara itu di balik lorong Eolia sedang berdiri mendengar pembicaraan Alditra di telpon.
“Reyandra benar! Dia memang mata-mata! Apa yang diincarnya? Siapa yang ada di balik telpon itu… Apa aku harus lapor sama Reyandra? Apa tujuan mereka memasukan Alditra kesini dan siapa yang akan diambil hati olehnya? Siapa yang dia incar” ucap Eolia dalam hati.
***
Di Apartement Reyandra…
Pukul 17.00 sore...
Islandzandi sedang di ruang tv sambil duduk dilantai membuat miniature denahnya dengan serius sambil mendengarkan lagu dari Handphonenya…
(Ost. Virgoun – Bukti)
Sementara Reyandra duduk dibelakangnya sambil melihat Islandzandi tersenyum.
"Hei Island…"
"Hm??? (melihat kearah Reyandra) Kenapa?"
Reyandra terdiam ragu melihat kearah Islandzandi.
"Saya menemukan ini di laci meja…" ucap Reyandra sambil membuka beberapa majalah pernikahan di samping sofa.
Islandzandi melihat kearah Reyandra kaget. "Eu… Itu Cuma, aku Cuma liat-liat doang kok!" beranjak dari tempat duduknya dan merebut majalah itu dari tangan Reyandra.
Reyandra tersenyum kearah Islandzandi sambil menarik tubuh Islandzandi untuk duduk di pangkuannya.
"Kan sudah saya bilang semua urusan pernikahan biar saya yang urus, kamu kan sedang banyak kerjaan (terdiam melihat kearah Islandzandi) Apa kau juga mau ikut memilih?"
Islandzandi terdiam melihat kearah Reyandra. "Rey, aku udah buat kerputusan…"
Reyandra melihat kearah Islandzandi terdiam curiga. "Aaahhh, jangan pernah berfikir kalau kamu tidak akan menikah dengan saya…"
Islandzandi tersenyum kearah Reyandra. "Sebegitu ngebetnya ya kamu pengen nikah sama aku?! Padahal yang mau aku omongin bukan masalah itu…"
"Jujur saja ini adalah saat yang saya tunggu-tunggu Island, setelah Om Diandra sudah setuju untuk melepaskanmu pada saya…"
Islandzandi mencium Reyandra dengan lembut. Reyandra terdiam kaget, sementara Islandzandi hanya tersenyum melihat reaksi Reyandra.
"Tenang aja, ini juga yang aku tunggu-tunggu kok, aku nggak akan nyerah Rey, bentar lagi kan aku beres magang nih.. Nah rencananya aku mau langsung memercepat kuliah aku biar cepet lulus. Jadi... Mungkin aku agak sibuk ke kuliah, dan aku nggak akan memgikat kontrak di svetovska, nggak apa-apa kan?"
"Kirain apaan, iya saya ijin kamu untuk fokus ke kuliah... Dan kamu ijinin buat lepas dari Svetovska. Tapi... Pemotretan?" melihat Islandzandi serius.
"Kalau aku ada waktu aku bisa sesekali mengambil jadwal sama Aslan… (melihat Reyandra yang masih terdiam berfikir) Ya… boleh ya Rey... Please!!" ucap Islandzandi melihat Reyandra memelas.
"Baiklah tapi nggak sering ya, cuma sesekali aja, dan itu pun ngambilnya nggaknyang sexy-sexy kayak kemaren" tersenyum kecut kearah Islandzandi.
Islandzandi tersenyum lalu memeluk Reyandra. "Makasih ya… Kamu selalu ngertiin aku… (mencium pipi Reyandra) Ah satu lagi"
"Apa lagi? (melihat Islandzandi kaget) Kamu ini selalu buat saya shock karena rencanamu yang diluar dugaan saya…."
"Aku akan menikah sama kamu tanpa pesta…"
Reyandra terdiam melihat Islandzandi. "Apa karena ucapan Eolia?"
Islandzandi tersenyum kecut. "Ya, dia menyadarkanku akan sesuatu yang penting yang aku sendiri lupa dimana posisi aku saat ini… Aku nggak juga mau kalo gara-gara keegoisanku jadi menyulitkan posisimu di perusahaan… Kamu sebagai Direktur harus memberi contoh yang benar pada karyawan lain kan… Ya meskipun dengan berbohong masalah statusmu…"
"Benarkah? Hm… (berfikir) Sedikit demi sedikit kamu mulai berfikir dewasa ya… Tapi saya yakin ayahmu tidak akan setuju."
"Kalo masalah papah, biar aku yang kasih pengertian, ya… Mesklipun sulit, kamu tau papah kayak gimana kan?"
Reyandra tersenyum sambil mengangguk. "Apa Aufar sudah kamu beritahu?"
"Eeu… (terdiam) Aku masih nyari waktu yang tepat buat ngomong sama Aufar, dia nggak mungkin bisa nerima semua kayak Eolia, aku yakin dia pasti akan berbuat sesuatu yang bodoh… Dia orangnya nekatan… Aku nggak mau terjadi sesuatu sama dia!"
Reyandra terdiam melihat Islandzandi yang sedang melamun.
"Satu lagi… (sambil memegang pipi Islandzandi dengan kedua tangannya) Bisakah kamu tidak mencium saya secara tiba-tiba?"
Islandzandi tersenyum penuh arti dan melihat Reyandra serius. "Kenapa? Kamu harusnya siap-siap dengan apa yang akan aku lakukan! Dan mungkin tidak hanya ciuman, mungkin lebih… (candanya sambil beranjak mengerjakan pekerjaannya lagi) Udah ah, kalo kamu ngajak ngobrol aku nggak akan selesai-selesai ini…"
Sementara Reyandra hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.