Islandzandi

Islandzandi
Pacar Pura-Pura



Jadi, hari Minggu datang begitu cepat. Tahu-tahu Freya sudah duduk bersama Orion dan ketiga temannya, Evan, Ezra, dan Matteo, di aula pernikahan. Menurut secuil informasi yang Orion berikan, ketiga temannya, termasuk mempelai pria, adalah teman semasa kuliah dulu. Dari ketiga teman Orion, hanya Evan yang kelihatan tidak asing di mata Freya. Setelah diingat-ingat, Freya memang pernah beberapa kali bertemu dengan Evan saat harus menjemput Arkana di Nightiest. Terkadang Evan duduk mengobrol bersama Haidar dan beberapa teman mereka yang lain.


"Bentar lagi lo nyusul Zaidan nih kayaknya." Ezra menukas sambil tersenyum jahil pada Orion. Zaidan yang dia maksud adalah teman mereka yang hari ini menjadi mempelai pria.


Orion terkekeh kecil lalu menoleh pada Freya yang duduk di sampingnya. Pria itu menggenggam tangan Freya di atas meja, dan menjawab ringan, "Pengennya sih gitu. Tapi tunggu dianya lulus kuliah dulu lah." Bibirnya mengulas senyuman lebar. "Iya nggak, Sayang?"


Freya yang sedang meneguk


minumannya hampir saja tersedak karena dua hal. Orion yang tiba-tiba menggenggam tangannya, dan panggilan 'sayang' tadi. Tapi pada akhirnya ia hanya mengangguk kecil sambil tersenyum malu-malu.


Menemani Orion ke pernikahan temannya, sama dengan berpura-pura menjadi pasangan Orion selama seharian.


Otak polos Freya baru menyadari kenyataan itu setelah beberapa menit dia menginjakan kaki di aula ini. Orion membawanya ke meja bundar yang diisi oleh sekumpulan pria dan memperkenalkan Freya sebagai pasangannya. Ketiga teman Orion yang duduk di meja itu langsung menyambut mereka dengan antusias, seakan melihat Orion menggandeng perempuan sama menyenangkannya dengan mendapat kabar memenangkan lotre.


Padahal tak satu pun dari ketiga teman Orion membawa pasangannya, hanya Orion seorang yang datang bersama perempuan. Freya juga tidak mengerti kenapa Orion mesti menjadikannya pacar pura-pura di depan temannya.


Maksudnya, biasanya ‘kan kalau seseorang mencari pacar pura-pura karena dia tidak ingin kalah dengan orang lain yang sudah punya pasangan. Kalau ketiga teman Orion saja tidak satu pun yang datang bersama pasangan, kenapa Orion repot-repot meminta Freya menjadi pacar pura-puranya?


Tentu saja Freya tidak sempat menanyakan hal itu.


"Bener 'kan apa kata gue, Orion ngelamar jadi dosen bukan buat cari duit. Buat cari jodoh." Matteo menyahut sambil merotasikan mata. "Sengaja banget cari daun muda, biar seger terus, ya?"


Orion mendecak mendengar ini. "Heh, gue nggak setua itu, ya."


Teman-temannya yang lain tergelak mendengar ini. Di tempatnya Freya menahan dengusan tawa.



"Kamu juga jangan ketawain aku dong, Frey." Orion menoleh pada Freya dan memasang raut terluka.



"Hah, engga, P—Kak." Freya bergumam, bersyukur dirinya masih sempat menahan lidahnya agar tidak memanggil Orion dengan sebutan Bapak seperti biasa.


"Mampus lo diketawain cewek sendiri." Matteo terkekeh dan ditanggapi delikan Orion.


"Tapi gue ikut seneng loh lo akhirnya nemu cewek baru." Ezra berujar lagi, kali ini wajahnya berubah lebih serius. "Lo udah lupain soal itu 'kan?"


Kedua alis Freya berjingkat mendengar ini. Ia menoleh pada Orion, menatapnya dengan penasaran.


Melupakan soal apa?


Freya menyadari raut jenaka seketika meninggalkan wajah Orion. Pria itu menatap Ezra beberapa saat dengan tatapan tak terbaca.


"Lo tau sekarang bukan saat yang tepat buat bahas hal itu." Evan yang sejak tadi hanya jadi pendengar akhirnya buka suara. Ia lalu mengerling Freya. "Apalagi ada Freya di sini. Can't you respect her?"


Laki-laki itu berujar dengan begitu santai, tapi bahkan Freya sendiri bisa merasakan bagaimana perkataannya mengintimidasi Ezra.


Di tempatnya Ezra mengerjap, mungkin baru menyadari kesalahannya. "Oh, sori, sori. Gue nggak bermaksud."


Pada akhirnya Orion melepas kekehan kecil demi memecah suasana yang mendadak berubah dingin dia menatap satu per satu teman-temannya sambil tersenyum tipis.


"Chill, Guys. Gue udah lupain soal itu kok. Kalau nggak, nggak mungkin kan gue bisa gandeng cewek lain."


Sejenak tidak ada yang menanggapi, sampai akhirnya Matteo menyahut, "Yah, pokonya gue tunggu undangannya ajalah. Awas aja kalau lo sampai lupa ngundang gue."


Orion tertawa kecil lantas mengangguk. "Siap. Nggak usah di tanyalah kalau urusan itu."


Tak lama upacara pernikahan


dimulai. Perhatian mereka segera teralih pada Zaidan dan pengantin wanitanya di depan podium sana. Freya yang semula tengah mengamati kedua mempelai itu terkejut ketika Orion tiba-tiba menggeser duduknya hingga mendekatinya dan berbisik pelan sekali.


"Akting kamu sejauh ini bagus. Good job, Frey."


Sekilas Freya menatap Ezra, Matteo dan Evan. Ketiganya tengah fokus mengamati prosesi pernikahan. Ia lalu balas berbisik pada Orion, "Saya cuma duduk terus senyum-senyum doang perasaan."


Orion tersenyum kecil dan mengusap tangan Freya dalam genggamannya. Freya baru menyadari sejak tadi genggaman mereka belum terlepas.


"Itu yang saya maksud bagus. Awalnya saya malah takut kamu bakalan langsung kabur begitu saya kenalin kamu sebagai pacar saya." Orion terkekeh. "Maaf nggak bilang-bilang dulu. Takutnya kamu nolak duluan."


Freya menahan diri untuk tidak berdecak. "Pengennya juga saya kabur, Pak. Tapi saya inget karpet mahal itu."


Mendengar ini Orion tertawa kecil. "Kayaknya lama-lama saya bersyukur karena kamu udah muntahin karpet saya."


Perempuan itu lalu menyapukan pandangannya ke seisi ruangan. Lalu seakan ditarik magnet, tatapannya tiba-tiba berhenti pada pasangan yang duduk beberapa meja darinya. Kedua mata Freya seketika membola begitu menyadari siapa mereka. Dia tidak mungkin salah lihat 'kan?


Freya memicingkan matanya, berusaha melihat dengan lebih jelas. Dan ya, dia tidak salah lihat. Pasangan yang kini tengah bertepuk tangan bersama tamu lain, memang Kenan dan Kiran.


Sialan.


Bagaimana bisa Freya baru menyadari keberadaan kakak sepupunya di sini?


Kepala Freya lalu bekerja dengan cepat. Urusannya bisa runyam jika sampai Kenan juga menyadari Freya menghadiri pesta pernikahan ini. Kenan pasti akan menanyainya kenapa dia datang kemari, mengingat Freya tidak mengenal kedua mempelai. Mau jawab apa dia? Berpura-pura jadi pasangan dosennya untuk menebus karpet mahal yang dimuntahinya saat dia mabuk sehabis dari klub malam?


Kenan benar-benar akan membunuhnya kalau sampai dia tahu.


Sebelum semuanya terlambat, Freya bergerak bangun dari duduknya dengan hati-hati, berusaha tak menarik atensi tamu lainnya. Tapi tentu saja, Orion yang duduk berdempetan di sampingnya menyadarinya. Laki-laki itu menahan lengannya.


"Mau ke mana?" tanyanya dalam bisikan pelan.


Bola mata Freya bergerak gelisah. Dia harus segera pergi dari sini, tapi Orion mungkin takkan mengizinkannya. "Eh, itu... Mau ke toilet sebentar."


Kening Orion mengerut. Dia menarik Freya agar kembali duduk di kursinya. "Bohong."


Sial.


Orion pasti punya radar pendeteksi kebohongan.


"Aduh, Pak, saya nggak bisa di sini lebih lama. Bahaya." Akhirnya Freya berujar dalam bisikan pelan, tidak lagi menyembunyikan raut paniknya.


Melihat ekspresi panik Freya, Orion kembali melunak. "Kenapa emangnya?"


Freya menggigit bibirnya. "Panjang jelasinnya, nanti aja ya? Sekarang biarin saya keluar dari sini dulu ya, Pak."


"Saya ikut," kata Orion. "Masa saya ngebiarin pacar saya pergi sendirian."


Mendengar ini Freya meneguk salivanya susah payah. "Pacar pura-pura ‘kan, Pak."


"Iya, jutsru karena pura-pura nggak boleh keliatan mencurigakan." Orion menyahut. Dia lalu bangun dari duduknya dan menarik tangan Freya. "Ayo."


Freya ikut berdiri dan berjalan bersama Orion meninggalkan meja. Freya bersyukur di belakang Ezra, Matteo dan Evan hanya menatap bingung tapi tidak mengajukan pertanyaan apa pun tentang kepergian mendadak mereka.


Dengan jantung berdebar Freya berjalan menuju pintu keluar, berharap semoga Kenan atau Kiran tidak menoleh ke arahnya.


Hingga akhirnya begitu dia dan Orion sampai di pintu keluar, Freya baru bisa menghela napas lega. Dia menyandarkan punggungnya pada dinding sambil menekap dadanya.


"Gila, deg-degan parah."


Orion berdiri di hadapannya sambil menyusupkan kedua tangan ke saku celana. "Berminat untuk jelasin?"


Freya menarik napas sejenak sebelum buka suara, "Saya baru nyadar, Pak, ternyata di dalem sana tuh ada kakak saya juga! Kakak saya yang waktu itu saya ceritain, yang overprotective parah, yang bisa ngomel-ngomel panjang kalau tau saya kenapa-napa."


Beberapa saat Orion hanya terdiam setelah mendengar penjelasan Freya. Dia mengerutkan keningnya. "Jadi kakak kamu dateng ke pesta ini juga?"


"Iya, Pak! Kebayang 'kan bakal seheboh apa reaksi dia kalau tau saya datang ke sini sama Bapak yang notabenenya dosen saya. Dia pasti bakalan tanya-tanya ini itu, terus akhirnya ngomelin saya begitu tau ulah saya. Aduh bahaya pokonya, bahaya." Freya mengoceh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Orion tidak menanggapi. Dia hanya menatap Freya lamat-lamat dalam diam. Seakan ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


"Eh tapi Pak, karena kakak saya diundang ke pesta ini, kemungkinan dia temennya Kak Zaidan ya 'kan? Apa jangan-jangan Bapak kenal kakak saya juga? Jangan-jangan Bapak satu circle sama kakak say—"


Ocehan Freya berakhir menggantung di udara ketika mendadak Orion mengikis jarak mereka, dan dengan lembut memagut bibirnya.



Kedua mata Freya melebar. Jantungnya terasa nyaris meledak sementara kedua lututnya seketika melemas. Dia hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya tetapi lengan Orion dengan sigap melingkari pinggangnya.


Perlahan Orion melepas pagutannya, tapi tidak menjauh sama sekali. Dia menempelkan keningnya pada kening Freya, menatap perempuan itu dalam.


"Saya udah bilang kamu cantik hari ini, Freya?" Orion berbisik pelan, napasnya menerpa wajah Freya, membuat pipi perempuan itu memanas. "Kalau belum, my bad. You look dazzling today."


Dan dengan itu Orion kembali melabuhkan bibirnya pada Freya, mengantarnya pada ciuman lain yang membuat Freya lupa akan realita di sekelilingnya.


Termasuk, akan pertanyaannya yang berakhir tak terjawab sama sekali.