
Di Apartement Reyandra...
Pukul 19.00 malam...
Reyandra yang baru saja pulang langsung ke kamar karena dia ingin segera mandi setelah berkutat dengan teriknya matahari karena hari ini kebanyakan Reyandra tugas di luar kantor. Setelah beres membersihkan diri Reyandra pergi kearah dapur, dan melihat makanan yang tersedia diatas meja makan. Mata Reyandra tertuju pada secarik kertas yang ada diatas meja tersebut.
..."Rey.. Aku udah masakin makanan kesukan kamu, hari ini aku ada syuting, maaf ga bilang aku juga baru liat jadwalnya pas Aslan ngingetin. Bentar kok ga akan sampe malam banget. Ya Ya Ya... Luv u Honey....😘😘"...
Reyandra hanya tersenyum melihat note dari Islandzandi. Lalu minum segelas air putih yang tersedia di meja makan, Reyandra pun membuka makanan yang sudah dimasak Islandzandi tadi sore, rendang kesukaan Reyandra.
Saat Reyandra sedikit mencicipi Rendang tiba-tiba rasa mual muncul Reyandra pun segera ke toilet yang ada di dekat dapur lalu muntah.
Reyandra melihat di kaca wastafel kamar mandi itu berfikir.
"Hah...Besok kayaknya harus ke dokter.. Saya tidak boleh sakit!" ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.
Reyandra pun keluar dari kamar mandi lalu ke dapur untuk sekedar menutup makanan yang tadi dia sempat buka sambil menutup mata dan hidungnya karena Reyandra merasa dia mual gara-gara makan dan mencium bau rendang. setelah menutup makanannya Reyandra pun kedalam kamar langsung rebahan di kasur sambil menyalakan handphonenya untuk menghubungi Tama.
"Iya pak?!" suara Tama terdengar di seberang telpon sana.
"Tama tolong besok telpon dokter dan jadwalkan saya untuk periksa..."
"Ala anda sakit Pak? Atau mau saya kesana sekarang?"
"Tidak Tam, besok saja.. Entahlah, tadi tiba-tiba saja saya mual dan muntah-muntah... Saya juga tidak tau kenapa, makanya besok jadwalkan saya untuk cek up...."
"Baik pak!"
Reyandra pun mematikan telpon dan bersandar di sandaran tempat tidur sambil memejamkan matanya.
pukul 21.15 malam...
Islandzandi yang baru pulang melihat makanannya belum dimakan pun langsung cemberut dan masuk ke kamar.
"Rey kok makanannya ga dima...kan?!" terdiam melihat Reyandra duduk sambil tertidur dengan muka penuh keringat.
"Rey... Kamu sakit?!" langsung melempar tasnya ke sembarang arah mendekati Reyandra dan memegang keningnya . "Nggak panas, tapi kok keringetan sih?! Mukanya juga pucet..."
"Rey.. Bangun... Tidurnya yang bener ya... Tar kepala kamu pegel lagi... Rey.." berusaha membangunkan Reyandra lembut. Reyandra pun terbangun dari tidurnya dan melihat Islandzandi.
"Kamu sudah pulang.."
"Mmmh.. Kamu sakit? Kok keringetan? Tapi ga panas kok..." ucap Island sambil membenarkan tidur Reyandra sampai Reyandra terbaring.
"Island itu rendang saya belum bisa memakannya... Nggak tau kenapa tadi saya nyobain langsung mual dan muntah..." Island pun heran dengan penuturan Reyandra.
"Tapi kamu udah makan kan? Jangan sampai kamu blum makan loh..."
"Tadi siang saya sudah makan makanan kesukaan kamu..." Island makin menaikan halisnya heran.
"Maksud kamu seblak seafood?"
"Mmmhh.. Tadi siang Tama yang belikan.."
"Kok tumben sih? Biasanya kamu suka ngelarang aku makan makanan aneh gitu..."
"Hhm.. Tadi siang saya tidak sengaja menemukan makanan itu di google dan kayaknya enak makanya saya coba.."
"Trus.. Enak?"
"Enak.."
"Jadi kamu nggak akan larang aku lagi kan makan makanan itu?"
"Iya kamu boleh memakannya sesuka hati kamu.." Islandzandi hanya tersenyum.
Aneh... Yang hamil gue tapi yang ngidam kok dia sih? Emang bisa ya kayak begitu? Harus nanya Mommy nih... Eh... By tge way kan belum ada yang tau kalo gue hamil... Baru gue ama Haura doang, dan rencananya malam ini mau ngomong ama Reyandra... Kalo kondisi dia kayak gini mana bisa ngomong.. Kasian juga sih... Takutnya dia shock tau kalo dia bakalan jadi calon ayah... Hihi
"Ya udah kamu istirahat dulu aja ya... Besok jangan lupa periksa ke dokter... Aku mandi dulu"
"Hmm.. Jangan lama-lama ya.."
"Iya.."
**
pukul 07.00 pagi...
Islandzandi terbangun dari tidurnya karena terganggu dengan suara Reyandra yang sedang muntah-muntah di kamar mandi. Islandzandi pun segera beranjak dari tempat tidur dan menghampiri kamar mandi.
"Rey... Kamu nggak apa-apa kan? Rey??"
Tak lama Reyandra pun membuka pintu kamar mandinya dengan muka pucat.
"Saya nggak apa-apa Island..."
"Ya ampun Rey... Nggak apa-apa gimana muka kamu udah pucat gini... Hari ini kamu nggak usah ngantor deh ya... Kamu istirahat aja di rumah..." gerutunya sambil memapah Reyandra ke tempat tidur.
"Hari ini nggak ada jadwal, cuma bimbingan aja sama pak Indra, gampang.. Tunggu disini ya... Aku buatin teh manis anget...."
"Mmmhhh... Makasih ya Island..." ucapnya memaksakan senyum.
"Udah seharusnya seorang istri kali Rey... Bentar ya.." Islandzandi pin berlari kecil keluar kamar. Sementara Reyandra tersenyum melihat tingkah Islandzandi.
Saat mata Reyandra tertuju pada tas milik Islandzandi yang berserakan di dekat sofa kamarnya..
Reyandra melihat alat tespek yang sedikit keluar dari tasnya.
Reyandra pun beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil alat tespek itu.
Reyandra yang melihat alat itu terdiam kaget karena alat itu bertuliskan pregnant.
"Punya siapa ini?"
Saat Reyandra hendak melangkah kepala Reyandra pun berputar sampai Reyandra terdiam sejanak.
"Aaakkhh..." Reyandra pun memutuskan untuk kembali ke tempat tidur menunggu Islandzandi datang.
Tak lama saat Reyandra duduk bersandar sambil menyenderkan kepalanya, Islandzandi yang membawa nampan berisikan bubur dan juga air teh manis hangat juga obat lalu berjalan masuk ke kamar.
"Rey... Nih aku buatin bubur makan dulu terus minum obatnya... Aku udah telpon Tama, dia bilang dia akan membawa dokter kesini..." jelasnya sambil hendak menyuapi Reyandra.
"Island... Ini punya siapa?" ucap Reyandra sambil memperlihatkan alat tespeknya. Islandzandi membelalakan matanya kaget.
"Itu... Kok.. Darimana kamu---" terdiam saat melihat tasnya yang berserakan di lantai dekat sofa, lalu menghela nafas pasrah. "Aaaaakkhh... Itu... Punya aku..."
"Kamu hamil? Dan kamu tidak memberitahu saya?"
"A-- Aku juga baru tau kemaren Rey.. Dan tadi malem niatnya aku mau bilang sama kamu tapi liat kamu lagi sakit jadi aku nggak jadi bilang..."
"haaahh.. Island... Kamu... Aaakhhhh!!" ucap Reyandra memegang kepalanya pusing lalu kembali mual dan akhirnya muntah.
1 jam kemudian...
Setelah Reyandra dipaksa makan bubur dan minum obat akhirnya Reyandra tertidur.
Islandzandi duduk disamping Reyandra yang tengah tertidur.
"Ini.. Gue yang hamil kok dia yang repot sih pake acara muntah-muntah segala lagi... Untung aja gue nggak repot kayak kemaren... Jadi gue bisa ngurus bayi gede..." gumamnya sambil tersenyum mengusap kening Reyandra lembut.
**
Beberapa menit kemudian...
Dokter pun sudah selesai memeriksa keadaan Reyandra. Sementara Islandzandi dan Tama berdiri di belakang menunggu hasil pemeriksaan.
"Bagaimana keadaannya dok?"
"Pak Reyandra hanya kecapean saja dan dia mual dan muntah sepertinya karena masuk angin... Saya akan beri obat pereda mual agar dia bisa makan dan saya juga akan memberikan antibiotik..." ucap dokter itu sambil menulis resep dan memberikannya pada Tama.
"Pastikan dia istirahat total.."
"Baik dok.. Eu dok.. Mau tanya apa ada kemungkinan dia ngidam dok? Soalnya saya memang lagi hamil, aneh sih memang... Awalnya saya yang ngerasain mual muntah tapi sekarang jadi dia yang mual muntah..." jelas Islandzandi. Tama yang mendengarnya pun terkejut melihat kearah Islandzandi.
"Sebenarnya secara medis tidak ada hubungannya sih, tapi secara batin mungkin saja... Baiklah kalau begitu saya permisi dulu..." Tama pun mengantarkan dokter itu kedepan sekalian menebus obat untuk Reyandra.
Sementara Islandzandi masih duduk disamping Reyandra sambil mengirim Sms pada pak Indra dan juga teman-temanya kalau hari ini dia tidak ke kampus.
Tak lama...
Tok tok...
Suara ketukan pintu kamar pun bernunyi, Island pun beranjak kearah pintu yang sebelumnya membenarkan selimut Reyandra.
"Nona.. Ini obatnya..."
"Aaahhh iya, makasih Tama... Oia duduk dulu deh, aku buatkan minum..." ucapnya sambil ke dapur. Tama pun duduk di sofa ruang tengah.
"Sejak kapan nona hamil? Apa pak Reyandra tau?"
"Hm... Baru kemaren pas awal mual sama muntah, aku belum periksa ke dokter sih, baru tespeck doang... Dan tadi pagi Reyandra baru tau soal kehamilanku..." ucapnya tersenyum sambil menyuguhkan minuman untuk Tama.
"Mau saya buatkan jadwal untuk ke klinik kebidanan?"
"Oh.. Boleh.. Sekalian luangkan waktu juga buat Reyandra.. Biar dia bisa nemenin aku periksa..." Tama tersenyum.
"Baik Nona... Dan selamat atas kehamilannya..."
"Aaahh apan sih... Biasa aja kali!" Islandzandi tersipu malu.