
Beberapa hari ini Orion tidak melihat Freya di kampus.
Tapi setidaknya, mahasiswanya itu masih membalas pesannya. Katanya, dia sedang menenangkan diri di rumah dan menolak datang ke kampus untuk beberapa hari. Orion bisa memahami keputusannya ini.
Setelah kejadian mengerikan itu tentu Freya butuh waktu untuk menenangkan diri.
Flashback On.
"Halo Freya!" sapa Orion saat Freya baru membalas telponnya setelah dua hari dia tidak memberi kabar padanya, ke rumah pun hanya Bi Imas yang keluar dan memberi kabar bahwa Freya tidak apa-apa dan memang sedang tidak ingin diganggu bahkan oleh Orion sekalipun.
Tanpa bosan Orion terus meminta maaf pada Freya atas kejadian yang ditimbulkan oleh Aubrey yang membuat Freya ketakutan.
"Iya, Pak. Maaf saya baru bisa ngehubungin Bapak sekarang..."
"It's okay Frey... Tapi gimana keadaan kamu sekarang?"
"Alhamdulillah, saya baik-baik aja, Pak. Tapi saya belum bisa kembali ke kampus lagi, Pak. Saya masih dihukum sama keluarga saya karena udah bohong dan adanya kejadian kemarin, mereka makin marah. Dan ada hal lain yang harus saya urus dan pastikan."
"Emh... Jadi, kita nggak bisa ketemu ya?!"
"Maaf ya, Pak."
Falshback Off
Sebenarnya Orion ingin menanyakan siapa pria misterius yang menolongnya kemarin, ingin bertanya lebih jauh bagaimana keadaannya, dan... ingin bertemu dengan Freya... tapi, demi menghargai keputusan Freya jadi mau tidak mau Orion menyetujuinya.
"Pak, permisi."
Orion mendongak dari laptopnya dan segera bersitatap dengan Rania. Perempuan itu tersenyum
lebar pada Orion.
"Ada apa, Ran?" tanyanya.
Rania berdehem lalu berujar dalam suara rendah, sehingga hanya Orion yang bisa mendengarnya, "Bapak tenang aja, Freya nggak kenapa-kenapa kok. Dia udah ngerasa baikan selama istirahat di rumah."
Orion mengerjap bingung mendengar perkataan Rania.
Kenapa perempuan ini tiba-tiba bicara begitu...?
"Freya udah cerita semuanya sama saya, Pak. Saya udah ngerti hubungan Bapak sama Freya." Rania berbisik sambil tersenyum lebar. "Makanya saya mau ngasih tau Bapak kalau Freya baik-baik aja setelah kejadian di Nightiest. Jadi nggak usah khawatir lagi ya, Pak?"
Orion lantas tertawa kecil. Memangnya dia kelihatan sekhawatir itu, ya?
"Oke. Makasih, ya."
Rania mengangguk-angguk tapi belum beranjak juga. "Mulai sekarang saya bakalan mendedikasikan diri saya sebagai informan Bapak soal Freya. Jadi kalau ada info apa-apa tentang Freya bakal saya sampaiin ke Bapak."
Lagi-lagi Orion tertawa, tidak pernah mengira mahasiswanya itu bisa selucu ini.
"Ya udah, kalau gitu informasi apa lagi yang bisa kamu kasih ke saya?" tanya Orion sambil memasang cengiran.
"Sore ini Freya bakalan ikut ngajar di taman belajar pinggir kota bareng UKM Shine. Bapak dateng aja, bisa ketemu langsung sama Freya di sana 'kan?"
Orion terdiam sejenak memikirkan ini. Freya tidak mengabarinya apa pun soal kegiatan ini. Tapi akhirnya dia mengangguk dan tersenyum pada Rania.
"Ide bagus."
***
Shine adalah salah satu unit kegiatan mahasiswa tingkat fakultas yang mendedikasikan diri untuk mengajar di taman belajar pinggiran kota secara sukarela. Murid-muridnya biasanya anak-anak jalanan atau siapa pun dari keluarga yang tidak mampu mengenyam pendidikan formal.
Freya sebenarnya bukan anggota UKM ini. Tapi Juni, yang merupakan salah satu pengajar di Shine, mengajak Freya untuk ikut datang di sore ini. Katanya, sih berinterikasi dengan anak kecil itu bisa menghilangkan stres. Omong-omong, Freya juga sudah menceritakan kejadian buruk yang menimpanya di Nightiest pada Rania, Juni, Dasya dan Qila.
Mereka pun berusaha menghibur Freya semampunya, dan ini salah satu upaya yang Juni lakukan.
"Gimana? Mereka ngegemesin 'kan? Bikin perasaan jadi baikan 'kan?" Juni menghampiri Freya yang sejak tadi hanya duduk memperhatikan di ujung ruangan.
Juni ikut tersenyum mendengar ini. "Gue seneng lo ngerasa gitu." Dia lalu menarik tangan Freya. "Tapi lo bakalan ngerasa jauh lebih seneng kalo udah interaksi sama mereka. Ayo ke depan."
Freya tidak sempat berontak ketika Juni mendadak menariknya ke depan ruangan. Dia panik, tidak terbiasa berinteraksi dengan anak kecil. Saat itu Sisi telah menutup dongengnya, dan duduk bersama anak-anak lain. Dia dan anggota Shine lainnya menatap Freya dan Juni penuh antisipasi.
"Nah, Adek-adek, kakak yang satu ini punya sesuatu yang menarik nih. Yuk, diperhatiin!" Juni berujar dengan ceria. Setelah bicara begitu, dia segera duduk dan meninggalkan Freya benar-benar sendirian di hadapan anak-anak.
Freya terpaku, tidak tahu harus bagaimana. Tapi akhirnya dia berdehem dan mengulas senyum lebar. Berusaha kelihatan seceria dan seramah Juni dan Sisi tadi.
"Halo, nama Kakak Freya, hari ini Kakak jadi tamu pengajar di sini. Salam kenal, ya!" Salamnya segera disambut ceria oleh anak-anak itu. Freya memutar otak, memikirkan apa yang harus dia lakukan di depan sini. "Mm, hari ini Kakak mau ngajarin satu lagu nih buat kalian. Dengerin, ya!"
Dan, Freya mulai menyanyikan salah satu lagu anak-anak yang paling diingatnya bersamaan dengan gerakan-gerakan paling diingatnya bersamaan dengan gerakan-gerakan improvisasi yang dia buat. Di hadapannya anak-anak mulai ikut bernyanyi dan menari, beberapa anak bahkan sampai maju ke depan dan ikut menari bersamanya.
Freya tertawa ketika seorang anak laki-laki meraih kedua tangannya dan mengajaknya menari berputar-putar. Dia tidak pernah tahu bermain bersama anak-anak bisa semenyenangkan ini.
Hingga akhirnya, ketika nyanyiannya selesai dan tawanya mereda, Freya baru menyadari sesosok laki-laki tengah mengamatinya sejak tadi.
Di sana, di pintu masuk, Orion berdiri sambil bersandar pada dinding. Kedua tangannya terselip di saku celana dan bibirnya mengulas senyum lebar sementara matanya tidak pernah lepas sekali pun dari Freya.
"Loh Bapak ngapain ke sini?" Freya bertanya sambil mendudukan diri di samping Orion.
Pertunjukannya tadi sudah usai, dia bisa kembali ke belakang ruangan sementara anggota Shine yang lain menggantikannya mengajar anak-anak.
"Nggak boleh? Emangnya kamu doang yang boleh ikut kegiatan Shine?" Orion malah balik bertanya.
Freya merengut kecil. "Ih, bukan gitu."
Orion tertawa melihat raut wajah Freya. Seperti kata Rania, Freya memang sudah baikan.
"Saya cuma pengen liat kondisi kamu aja, Frey." ucapnya sambil menghela napas berat. "Maaf."
"Udah Pak, saya juga salah. Harusnya saya ga langsung percaya dan mau-mau aja di suruh Dateng ke sana."
Benar. Kenapa waktu itu dia langsung setuju begitu Orion mengajaknya bertemu di klub malam?
Apa karena dia merasa punya hutang pada pria itu?
Atau dia sudah menaruh rasa percaya yang terlampau besar?
Freya sendiri tidak mengerti jalan pikirannya. Harusnya dia lebih harus berhati-hati. Apalagi masalahnya sekarang bukan hanya Orion tapi Ayahnya juga.
Orion menggeleng cepat dan melirik Freya. "Nggak. Aubrey yang salah. Kamu disini korban, Frey."
"Tapi, tetep aja Pak..."
"Maafin saya, Frey. Kalau aja dari awal saya nggak nyeret kamu ke hubungan saya sama Aubrey, semua ini nggak akan terjadi."
"Ya, udahlah, Pak. Semua juga udah kejadian. Ambil hikmahnya aja."
Orion terdiam.
"Trus, laki-laki yang nolongin kamu siapa? Kamu dibawa kemana sama dia? Kamu ga diapa-apain kan sama dia?"
Freya terdiam berfikir. Jujur saja, saat ini dia tidak ingin membahas Ayahnya yang telah pulang.
"Mmh... just a good guy..." ucapnya tanggung.
Tentu aja Orion tidak mempercayai kata-kata Freya, matanya memincing ke arah Freya. Freya yang di tatap pun hanya bisa tersenyum kearah Orion.
"Saya pulang dengan selamat kok. Oh ya, kok Bapak bisa tau saya ada di sini?" Freya bertanya dengan kening mengerut.
Orion lantas tertawa kecil. "Rania yang kasih tau saya." Lalu dia cepat-cepat menambahkan ketika melihat reaksi terkejut Freya, "Jangan marah sama Rania. Niat dia baik pengen ngehibur saya, karena dia aja nyadar sekhawatir apa saya sama kamu."
Sejenak Freya terdiam mendengar ini, tapi kemudian dia tersenyum kecil. "Saya udah ga apa-apa, Pak. Nggak usah khawatirin saya lagi."