Islandzandi

Islandzandi
Menantu Perempuan VS Ibu Mertua



Braakkk!!


"Mas kok ga bilang kalo aku diikut sertain ngikutin tender desain di Svetovska Company?" ucap Saina yang tiba-tiba saja masuk tanpa mengetuk dan melihat Arga dan beberapa orang sedang dalam diskusi kecil. Arga yang mulai mengurut Kening melihat kelakuan istrinya itu.


"Hah... dimana maner kamu sebagai karyawan?! kamu nggak liat saya sedang meeting? kamu bisa kembali lagi nanti setelah meeting ini selesai!" tandas Arga tegas ke arah Saina.


Saina pun langsung balik badan dan keluar dengan perasaan kesal bercampur malu karena sudah melabrak suaminya yang sedang meeting.


***


"Anjir! ni kenapa sih ni kompi kok jadi lemot gini?!" gerutu Saina uring-uringan. Tika yang melihat kelakuan sahabat itupun hanya bisa menghela napas geram.


"Woy... sejak meeting tadi siang sama para pimpinan Divisi, Lo uring-uringan terus?!"


"Ck, lo tau sendiri kan Tik, kenapa gue kayak gini? lo ikut rapat tadi..."


"Ya ilah cuma disuruh ikut Tender Desain konstruksi Svetovska Company doang... Lagian siapa lagi yang mau para atasan percaya selain lo PA, orang lo yang paling wahid diantara kita ya pasti lo lah yang dipilih."


"Dan lo ga lupa kan itu perusahaan udah gue blacklist dari kehidupan gue?!"


Tika hanya terdiam berfikir. "Na, kayak ya lo udah saatnyadeh nerima dengan lapang dada kalo lo itu emang ada kaitannya sama Svetovska Company... lagian ya, belum tentu kan bokap lo ada disana, orang lo bilang bokap lo ga pernah pulang selama hidup lo... Lagian, lo kerja dibagian desain ya ga mungkin juga lo bakal ga terlibat sama perusahaan itu... ya pasti adalah sedikitnya lo harus berhadapan sama mereka..."


"Tapi, bentar deh... emang laki lo ga tau kalo lo itu..."


"No... dia sama sekali ga tau, Tik. Dia taunya gue hidup sebatang kara disini and that's it!"


Lagian heran gue, emang temen bokap nyokapnya ga ada gitu yang nyariin ni anak? Bener-bener sebatang kara kali ya...


***


~Pak Boss~


Kamu bisa ke ruangan saya sekarang...


ck... ga mau! males banget, udah ada surat perintah (SP) baru manggil... butuhnya tadi pas belum turun SP terserahlah...


dumel Saina dalam hati saat dia melihat SMS dari suaminya.


~Me~


Maaf Pak, saya mau jemput Hana, nggak bisa ke ruang Bapak!


"Tik, aku ijin keluar dulu ya bentar..."


"Heh, mu kemana lo? jam makan siang bentar lagi..."


"Jemput anak gue... waktunya pulang dia..."


"Cieeehhh yang udah ngurus anak..." ledakan Tika membuat Sauna berdecih kesal tapi langsung segera pergi dari ruang kerja mereka.


***


Hana menatap ke luar jendela kelasnya. Tadi pagi Saina sudah berjanji akan menjemputnya.


Tapi, sampai jendela kelasnya dipenuhi dengan wajah-wajah orang tua para temannya, wajah Saina belum juga terlihat, membuat Hana kembali menunduk. Dia merasa, orang dewasa akan sama saja. Mudah berjanji, kemudian mengatakan lupa atau sibuk saat janji itu tidak bisa mereka tepati.


Singkat kata, Hana sudah terbiasa dengan kenyataan itu.


***


Baru saja Saina akan memanggil taksi, tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depannya. Dan siapa lagi kalau bukan mobil suaminya.


"Masuk! kita udah janji kan mau jemput Hana, dan mobil kamu juga masih di bengkel..." ucap Arga dingin saat kaca mobilnya terbuka.


Saina mau tidak mau mengikuti kemauan suaminya. Di dalam mobil saat sedang dalam perjalanan mereka pun saling diam.


"Kamu marah?"


"Marah kenapa, ya?"


"Gara-gara tadi mungkin, atau gara-gara.."


"Apa saya punya hak untuk marah pada atasan? ga kan?"


"Saya dan pimpinan lain menugaskan kamu karena ada alasannya, dan kami benar-benar menginginkan kemenangan tender itu... hanya kamu yang bisa maju dan mengatasinya, karena kamu adalah desainer terbaik di kantor ini..."


"Hmm..."


Kalo ada maunya aja, mau ngomong panjang lebar, coba kalo lagi berdua dan ga ngomongin kerjaan... beuh irit banget ngomongnya.


***


Saat mereka berjalan ke dalam sekolah Saina melihat ke arah ibu-ibu yang waktu itu beradu sengit dengannya.


"Bully?"


"Hmm... Jangan bilang kamu ga tau Bully?"


"Tau."


"Apa?"


"Perundungan."


"Nah, itu. mau tau siapa orangnya?"


"Buat apa?"


"Ya, biar tau!"


"Nggak usah!"


Ck... pantesan aja Hana di bully, orang bapaknya aja kayak begini!


Saina mendengus kesal. Bahkan amat kesal dengan sikap Arga yang santai saat tau jika anaknya mengalami perundungan. Jika Saina jadi Arga, mungkin Saina sudah ajak adu jambak.


Anak-anak belum keluar kelas, mereka berdua menunggu tidak jauh dari depan kelas Hana. Dan dari tempatnya, Saina tau jika dirinya dan Arga menjadi tontonan para orang tua murid. Tapi Saina hanya diam. Dia lebih memilih membuat mereka panas daripada banyak bicara.


Dan karena itu, satu tangan Saina menyelinap ke sebelah lengan Arga, menggandeng lengan kekar suaminya dan mendongak sambil tersenyum saat Arga menunduk menatap ke arahnya.


"Hihiii... biar mereka percaya kalo aku ini sekarang Mamanya Hana. Kamu nggak usah protes kalo nanti malam mau aku bikin enak," kata Saina mengancam sambil mengerlungkan satu matanya menggoda Arga. Sedangkan Arga? seperti biasa reaksinya adalah diam.


Saat jam pulang. Saina bersiap-siap menyambut kedatangan Hana di depan pintu, tapi Arga menariknya dan menggeleng, membuat kening Saina berkerut.


"Tunggu di sini aja di sana sempit. Sesak!" Seketika senyum terbit tercetak di wajah Saina. Meskipun suaminya itu dingin, tapi pria itu diam-diam punya porsi perhatiannya tersendiri.


Tidak membantah Arga, perempuan itu pun menunggu Hana di tempat awal dia datang bersa suaminya.


Dan saat Hana keluar dari kelasnya, Saina yang tadinya tersenyum ingin menyambut putri sambungnya malah sekarang dibuat bingung saat dia melihat Hana yang keluar dengan kepala yang menunduk juga kedua tangannya yang menggenggam erat tali tasnya sehingga Saina mengguncang kuat lengan Arga.


"Mas, liat Hana." capnya sambil menunjuk Hana dngan ujung dagunya, membuat Arga ikut menatap ke arah sang putri. Dan ketika itu juga Arga tau bahwa yang dikatakan Saina benar adanya. Putrinya sangat tertekan selama ini.


"Kamu percaya sekarang kalo Hana tertekan?"


Arga tidak menjawab, malah memilih mendekati Hana dan menepuk puncak kepala Hana hingga membuat kepala gadis kecil itu mendongak.


"Papa?" tanya Hana terpekik yang membuat Arga memgulas senyum tipis.


"Hai, Mama nggak disambut nih?" tanya Saina yang datang dibalik punggung Arga dan seketika membuat gadis itu langsung kegirangan.


"Ada Mama juga? Waahh..." ucapnya semangat.


Mendengar anak paling murung di sekolah heboh, bukan hanya teman sekeasnya saja yang menoleh, melainkan orang tua mereka pun sama.


Dan detik itu juga, bisik demi bisikan mulai terdengar gaduh, membuat Saina yang punya tingkat kesabaran tipis ingin menghampiri, tapi tangannya lebih dulu ditahan oleh Arga.


"Don't."


"Tapi, Mas..."


"Ada Hana..."


Saina menunduk, menatap Hana yang juga menatapnya dengan binar harap yang membuat Saina segera mengulurkan tangannya, berniat menggendong Hana.


"Ayo, kita pulang! Sini, biar Mama gendong." ucapnya sambil hendak mengangkat tubuh Hana. Tapi lagi-lagi tangannya ditahan oleh Arga.


"Ck, apalagi Mas? Aku cuma mau gendong Hana bukan mau nyulik."


Bukanya menjawab, Arga malah menggantikan Saina menggendong tubuh Hana lalu meraih satu tangan Saina hingga membuat Saina menatap tangannya yang saling bertaut lalu kembali menatap Arga.


"Mas..."


"Hana berat, biar aku yang gendong. Sekarang ayo kita pulang!"


Saina pun menurut mengikuti langkah kaki tegas Arga menuju mobil. Bukan hanya itu, setelah mendudukan Hana di kursi belakang, Arga tanpa diminta sudah membukakan pintu penumpang depan untuk Saina lalu meminta wanita itu masuk. Dan tanpa sadar Arga mengusap kepala Saina kemudian menutup pintu mobilnya.


Meski wajahnya datar, tapi hal itu justru membuatnya terlihat manis di mata Saina.


"Hana, Papa kamu kok manis banget sih..." ucapnya saat Arga tengah berjalan memutari mobilnya untuk masuk ke kursi depan sebelah Saina. Sementara Hana hanya tertawa cekikikan kecil hingga dereran gigi putih bocah itu terlihat.


"Makasih ya Mas, udah bukain pintu buat aku. Nanti giliran deh, aku yang bukain baju kamu!" Seketika Arga melirik tajam ke arah Saina.


"Peace, Mas."


Dan seketika suasana hati Saina yang tadinya kesel murah tergantikan oleh kelucuan Hana yang mengajaknya bercanda.