
Ukkhhhuukk... Ukhkkuukkkk...
"Kenapa Mas?" saat menyantap Mie instantnya dengan tenang tiba-tiba Arga langsung terbatuk saat pertama mencicipinya.
"Air!"
Saina yang panik langsung buru-buru mencari air dan memberikannya pada Arga.
"Minum Mas, Minum."
Arga pun langsung meraih gelas yang Saina berikan dan menghabiskan segelas penuh air yang ada di dalam gelas tersebut lalu menarik napas, namun tetap saja rasa panas itu masih terasa di tenggorokan sampai ke hidung. membuat Arga mengibaskan tangannya di depan wajah karena kini tengah merah padam.
Melihat suaminya kepedasan, Saina yang merasa bersalah lalu menangkup wajah suaminya.
"Masih pedes, Mas?"
"Masih," ucap Arga singkat yang kemudian tanpa dia duga Saina langsung ******* bibirnya.
Wanita itu memagut bibirnya menelusup sampai ke dalam, mencoba meredakan rasa pedas yang timbul. setelah beberapa saat Saina melepaskan pagutannya.
"Masih pedas, Mas?"
Dan kalian tau apa jawaban Arga?
"Makin Panas, Na!"
"Hah?!" seketika mata Saina melotot. Dia lupa kalau mie miliknya lebih pedas daripada milik Arga.
***
"Damn!"
Saina tersenyum sekali lagi saat suara berat Arga terdengar mengumpat. Entah ini kegiatan mereka yang ke berapa kali, tapi Saina rasa pria itu tidak pernah punya rasa lelah.
Setelah insiden makan mie rebus pedas sampai membuat Arga tersedak dan terbatuk hebat, akhirnya Arga pun menjatuhkan hukuman pada dirinya. Hukuman menemani pria itu sampai bosan. Entahlah, tapi menurut Saina Hukuman ini malah terasa sebagai anugerah. Ya, siapa yangengira kalau ha seperti ini adalah hukuman?
"Udah, Mas? Capek?" tanya Saina pada Arga yang kini sudah merebahkan dirinya di samping Saina, mengatur napasnya yang memburu dengan pandangan yang lurus menatap langit-langit kamar. Pria itu menolehkan kepalanya saat pertanyaan konyol Saina lontarkan. Dia pun menghela napas berat sebentar lalu menggeleng pelan.
"Ya, menurut kamu?" tanya Arga balik.
Saina tersenyum mengedikan bahu lalu meraih selimut untuk menutupi tubuh mereka agar tidak terkena masuk angin karena AC yang menyala di suhu angka dua puluh.
"Aku sih kalo diajak lagi, ya hayu aja."
"Ya, kamunya diem aja." ucap Arga yang membuat Saina cekikikan.
"Ya, wajarlah Mas, aku kan baru ngerasain nikmatnya dunia, kalo kamu mau enak juga ajarin aku dong gimana caranya muasin kamu..." jawab Saina cuek dan sekali lagi membuat Arga terdiam karena jawaban yang ajib sekali dari sang istri.
"Bersiin dulu nih, mau di sini apa di kamar mandi?" ucap Saina sambil mengamvil dua lembar tissue dan memberikannya pada sang suami. Arga pun mengambil tissue smdari tangan Saina tapi dia juga beranjak dari tidurnya.
"Kamar mandi aja. sekalian mandi."
"Hah? Yakin, Mas mau mandi jam setengah empat pagi? Nanggung loh..." ucap Saina ikut bangkit juga dan meraih gaun tidurnya dari tangan Arga.
"Biar sekalian sholat subuh!"
"Oh, Ok!" ucap Saina ikut bangkit dari atas tempat tidur tapi hal itu malah membuat Arga menatapnya dan tidak jadi masuk ke kamar mandi.
"Kenapa, Mas?"
"Mau kemana?" tanya Arga yang melihat istrinya melangkh ke arahnya.
"Mau ke Walk in Closet. jangan kepedean kamu Mas, kalau aku juga mau ikut masuk ke sana." ucap Saina sambil menunjuk di balik punggung Arga.
Sebelah halis Arga naik, dengan wajah datar menatap Saina yang malah melakukan sebaliknya. Senyum cerah mengembang dengan deretan gigi rapi membuat Arga menghela napas. Dia baru sadar ternyata begitu jauh sekali kepribadian dirinya dan Saina.
Akhirnya Arga pun meninggalkan Saina yang ingin ke walk in closet meskipun dia tidak tau mau apa wanita itu masuk ke dalam walkin closet? seperti sudah di setting jika senyum wanita itu tidak akan pernah luntur.
Beberapa saat setelah Arga menyelesaikan mandinya yang memakan waktu cukup lama...
"Cuma mau tanya, kamu suka dasi yang mana? Aku udah siapin baju kamu sama jas, aku udah siapin kamu jas navy, kalau dasinya yang ini, gimana?" tanya Saina menunjukan dua dasi yang ada di tangan kanan kirinya.
"Buat apa?!" tanya Arga akhirnya bertanya setelah terdiam melihat Saina dan kedua dasi itu.
"Hah? Kok buat apa? Ya buat kamulah Mas... ya kali aku pake dasi ke kantor." ucap Saina sambil memanyunkan bibirnya.
Arga melihat kearah bibir Saina langsung berdeham.
Sialan! Masa iya baru liat bibir Saina seperti itu, sudah buat iman gue lemah? Trus selama lima tahun kemaren kemna aja? (Arga)
"Mmhh... Ya... Yang kiri aja!" ucap Arga menunjuk dasi yang dipegang di tangan kiri Saina.
Dan hal yang sesederhana seperti itu sudah membuat Saina tersenyum cerah kembali.
Dengan mata mengerjap pelan, Arga memandangi wajah Saina yang dia rasa penuh dengan sejuta ekspresi. Sekak dia resmi jadi suami Saina, entah sudah berapa banyak wanita itu menguarkan ekspresi berbeda-beda untuknya. Dan Arga yakin itu belum semuanya.
"Hah, Ok. Jas udah, dasi udah, kemeja, celana, belt, sepatu jam tangan, done. kalo gitu kau siap-siap dulu, Mas. Aku juga mau mandi dulu." ucap Saina sambil menepuk dada bidang Arga.
Ternyata begini rasanya kembali memiliki istri? bukan saat tidur saja yang menemani, tapi juga saat sehabis mandi, sudah ada yang menyiapkan pakaiannya. Dan tidak hanya itu, yang Arga kagum adalah dengan penampilan Saina yang sering dinilai terlalu berani untuk ukuran perempuan, ternyata wanita itu memiliki sisi lain dari dirinya.
Mungkin ini salah satunya, bahkan tanpa Arga minta, Saina sudah menyiapkan dirinya pakaian. Tanpa dijelaskan pun wanita itu tau apa saja yang menjadi tugas sebagai seorang istri, sekaligus menjadi sebagai seorang ibu yang nanti akan mengurusi putrinya. Ingat, Arga bukan seorang lajang saat menikahi Saina, itu artunya yang harus Saina urus bukan hanya Arga, melainkan anak dari Arga yaitu Hanazola Putri Winata.
"Aduh, kenapa ditarik sih, Mas? kan sakit!" ucap Saina kaget saat dia hendak msyk ke dalam kamar mandi tapi dicekal oleh Arga.
"Mau apa?"
"Ya mandilah, Mas. Emang mau ngapain lagi?"
"Dingin."
"Hah?!"
Saina yang hendak protes atas tingkah Arga hanya terdiam sambil tersenyum.
Ternyata pria yang selma ini gue kenal dingin bisa juga perhatian, ya... Meskipun cara perhatiannya beda, jujur ini malh terkesan keren bagi gue.
"Kalau dingin, kan nanti bisa diangetin lagi, Mas."
"Istirahat aja dulu, masih lama juga jamnya. aku juga mau seklian istirahat."
"Loh, nanti kotor lagi dong kalo balik lagi tidur..."
"Ga masalah, nanti tinggal mandi lagi, sekarang mending tidur lagi... masih pagi!"
Saina pasrah ketika punggungnya di giring melangkah menuju tempat tidur mereka dengan Arga ada dibelakangnya. Setelahnya, mereka kembali merebahkan diri. Meaki keduanya tidak bisa tidur, mereka memutuskan untuk bertukar cerita. Ya... Walaupun yang banyak cerita cuma Saina doang, sementara Arga hanya mengangguk, menggeleng dan berdehem.
***
"Pak..."
"Cukup! Saya tau apa yang kamu mau laporkan Tama." ucap pria yang sedang duduk di ruang kerjanya sambil mengurut keningnya dengan tangannya.
"Pak, apa sebiknya Bapak pulang dan menemui Nona?"
"Hah... Entahlah Tam... meskipun saya pulang juga dia pasti tidak akan memaafkan saya apalgi menerima saya sebagai ayah yang selama ini menelantarkannya..." ucapnya menghela napas. "Semakin lama dia terlihat mirip seperti Islandzandi Tam... saya malah yang takut untuk pulang lafi ke Indonesia..."
"Tapi putri anda mungkin sedang menanti anda dan berharap anda ke sisinya.."
"Kamu lihat sendiri kan? dia sudah menikah, dan dia tidak menunggu saya untuk menjadi walinya..."
"Tapi.. suami Nona..."
"Meskipun dia menikahi duda beranak satu tapi melihat latar belakangnya saya yakin dia pria baik."
Tama hanya menghela napas dengan watak atasannya yang sangat keras kepala...