
"Lo yakin soal ini?" Akhirnya Evan bertanya.
Sebelah alis Orion berjingkat. "Of course. Lo liat sendiri 'kan gue hampir berhasil dapetin dia dalam waktu singkat? Semudah itu bikin dia kebawa perasaan, dan bakalan sama gampangnya buat mainin dia. Ketika dia sakit, orang yang sayang dia pun, bakalan ikut sakit."
Evan menggeleng. "Engga. Bukan itu. Gue tau lo udah tertarik sama dia dari awal. Nggak mungkin lo bawa dia pulang ke apartemen pas dia mabok kalau lo nggak punya perasaan apa-apa. Waktu itu lo bisa aja ‘kan tinggalin dia di Nightiest, tapi lo nggak lakuin itu. Because you want to take care of her, Ri."
Sejenak Orion tertegun memikirkan ini. Sebetulnya, Evan ada benarnya juga. Orion tidak mau menyangkal, sejak pertemuan pertama, dia memang sudah tertarik pada perempuan itu. Tapi entahlah, rasa tertariknya itu hampir terlupakan setelah dia tahu kebenarannya.
"Lo yakin nggak akan nyesel?" Evan bertanya lagi. "Sebelum semuanya terlalu jauh, lo harus pikirin ulang lagi."
Tetapi Orion menggeleng.
"Nggak. Gue nggak akan nyesel." Di berhenti sejenak, cengkramannya pada gelas minumannya mendadak mengencang, seakan dia berusaha meremukan benda itu dalam genggamannya. "Orang itu yang harusnya nyesel. Dia alesan gue ngelakuin ini semua. Dia awal dari semua kesalahan ini."
***
"Tau ah, kesel gue. Dasar cepu lo."
Mendengar gerutuan Freya, Rania malah terkekeh geli. Sambil memasukan bukunya ke dalam tas, dia menyenggol lengan Freya dengan main-main. "Ya elah, jangan marah, dong. 'Kan berkat gue, lo jadi nggak salah paham lagi sama Pak Orion."
"Ya tapi 'kan Pak Orion jadi ngira gue cemburu pas liat dia sama si Aubrey Aubrey itu, Ran." Freya mendesis dengan suara rendah. "Gue malu. Emang gue siapanya dia, coba?"
"Lah, 'kan lo emang beneran cemburu? Lagian ngapain malu sih, lo itu mahasiwa kesayangan dia, Frey." Rania menyahut sambil memasang cengiran lebar.
Freya mendengus lalu berdiri dari kursinya dan berjalan lebih dulu menuju pintu kelas. Rupanya, kemarin Orion menghubungi Rania lewat direct message Instagram dan bertanya tentang Freya yang mendadak mengabaikannya. Bodohnya, Rania malah dengan sukarela menceritakan pada Orion bahwa Freya memergoki kejadian di parkiran mobil. Pantas saja Orion tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Freya.
Rania tiba-tiba menyamai langkah Freya dan merangkul bahunya.
"Postingan Instagram lo sama Pak Orion semalem mencurigakan tau, Frey. Kayak lovestagram yang suka dilakuin artis-artis sebelum keciduk jadian."
"Mencurigakan apa, sih." Freya mendengus. "Nggak usah ngawur."
"Kalian lagi kode-kodean 'kan? Iya ‘kan? Yakin gue." Rania menaik turunkan kedua alisnya. "Ayo dong cerita, Frey."
"Itu rencananya Pak Orion, buat bikin si Aubrey ngejauh dari dia." Freya menjawab sekenanya. "Nanti deh gue ceritain, panjang ceritanya."
"Terus ini lo buru-buru gini mau ke mana?" tanya Rania yang menyadari langkah tergesa Freya.
"Mau ngejalanin rencana Pak Orion yang tadi gue bilang," sahut Freya singkat sambil membaca sesuatu di ponselnya.
Rania lantas mendengus, sebal karena temannya ini tidak mau bercerita lebih mendetail. "Apa sih, rencana-rencana, udah kayak intel aja lo."
"Udahlah, gue duluan ya Ran, udah ditungguin nih. Bye!" Freya terkekeh lalu berlari kecil meninggalkan Rania.
Perempuan itu berjalan cepat menuju bagian belakang fakultasnya. Di sana memang tidak seramai tempat lain, dia bisa melihat mobil Orion yang sudah terasa familier.
"Lama banget bubaran kelasnya," komentar Orion begitu Freya masuk ke dalam mobil.
"Biasa, kelasnya Pak Bakhri, materi udah abis juga dia masih asik ngedongeng." Freya menyahut sambil terkekeh kecil.
"Oh, pantes." Orion bergumam mengingat si dosen senior yang memang bawel itu. Ia mulai melajukan mobilnya meninggalkan area Fakultas. Diliriknya Freya sekilas. "Kamu dandan, ya?"
Wajah Freya seketika memanas. "Eh, iya. Keliatan banget ya, Pak? Atau ini kemenoran?"
Orion terkekeh. Freya itu memang biasanya jarang merias wajahnya. Jadi Orion langsung menyadari kalau perempuan itu berdandan meski tipis-tipis. "Engga kok. Cantik."
"Tapi kenapa? Saya kira kamu nggak suka dandan kalau sehari-hari?" Orion bertanya lagi.
Freya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Itu ... 'kan saya mau ketemu sama Aubrey, saya udah liat dia gimana sebelumnya. Jadi ya... saya mau dandan sedikitlah biar nggak kebanting banget sama dia."
"Kebanting apanya, sih? Mau kamu dandan atau nggak menurut saya tetep cantikan kamu daripada Aubrey." Orion menyahut dengan wajah serius.
Freya justru merengut mendengar ini. "Nggak usah berlebihan deh, Pak. Bocah SD juga bisa taulah kalau saya dibandingin sama Aubrey bakalan kalah jauh."
Orion melirik Freya dengan alis berjingkat. "Aneh ya, kayaknya kamu doang yang nggak seneng dipuji cantik."
"Bukannya nggak seneng, Pak, saya orangnya realistis," cetus Freya. "Tapi yah makasih udah bilang saya cantik."
Mendengar ini Orion lagi-lagi terkekeh. Sebelah tangannya terangkat mengusak kepala Freya dengan gemas. "Tapi saya serius, Frey. Buat saya kamu jauh lebih baik dari Aubrey, dari segi apa pun."
Akhirnya Freya tersenyum kecil. "Makasih, Pak."
Tak lama mereka sampai di sebuah restoran di tengah kota. Orion menautkan jemarinya dengan Freya begitu turun dari mobil. Laki-laki itu membawanya ke sebuah meja di tengah ruangan. Freya bisa melihat Aubrey sudah lebih dulu duduk di sana. Perempuan itu nampak sibuk dengan ponselnya dan tak menyadari kedatangan mereka.
Sejenak Orion meremas pelan tangan Freya dalam genggamannya, seakan memberi kekuatan.
"Lo dateng lebih cepet," katanya membuat Aubrey mendongak.
Seulas senyum langsung merekah di bibir perempuan itu, tapi sedetik kemudian lenyap digantikan kerutan di kening begitu tatapannya jatuh pada Freya.
"Lo ... cewek nggak sopan yang kemarin itu 'kan?" tukasnya sambil menatap Freya tajam.
Freya mendengus mendengar ini. Dia hampir buka suara tapi Aubrey kembali berujar, kali ini pada Orion.
"Ri, ngapain dia ke sini?" Tatapan Aubrey lalu turun pada tangan Orion dan Freya yang saling menggenggam. Kerutan di keningnya semakin dalam. Dia lantas mendengus. "Nggak mungkin 'kan ini cewek yang kamu maksud?"
Orion mengulas senyum asimetris lalu menarik sebuah kursi untuk Freya sebelum dia sendiri duduk di sampingnya. Dia menyempatkan memesan makanan untuknya dan Freya lantas beralih pada Aubrey.
Ditatapnya perempuan itu lurus-lurus dan mengangguk. "Iya, ini cewek yang gue maksud. Kenalin, Freya, cewek gue."
Freya menyodorkan tangannya pada Aubrey lalu tersenyum. "Freya, pacarnya Kak Orion."Aubrey mengabaikan uluran tangan Freya. Dia masih memandang Orion tidak percaya. "Nggak mungkin. Kamu pikir aku percaya?"
Orion mendecak kecil. "Lo sampai nyusulin gue di sana-sini, ngotot ngajak balikan, waktu gue bilang udah punya cewek lo malah nggak percaya dan minta bukti. Gue udah bawa bukti nyatanya lo masih aja nggak percaya?"
Aubrey menggeleng. "Engga, masalahnya aku tau banget selera kamu, Ri." Dia berhenti sejenak untuk menatap Freya lalu tertawa merendahkan. "Dan bocah ini, jelas nggak masuk kriteria kamu sama sekali."
Freya mengumpat dalam hati.
Memangnya dia seburuk itu, ya?
Aubrey mengembuskan napas sambil bersilang dada. Wajahnya kini berubah datar. "Seengganya kalau mau cari pacar pura-pura, cari cewek yang bagusan dikitlah."
Lagi, Freya menahan umpatan kasarnya di ujung lidah.
Orion sudah membuka mulut hendak menyerang, tapi Freya mendahuluinya."Maaf ya, Mbak, bahas soal selera mungkin saya emang bukan seleranya Kak Orion. Saya emang nggak secantik Mbak Aubrey."