
Tidak diduga, Orion justru tersenyum lebar melihat Freya marah-marah begitu. "Kamu cemburu, ya?"
Kedua mata Freya seketika melebar. "Hah? Enggalah."
"It's normal to feel jealous, Frey," sahut Orion seakan tidak mendengar sangkalan Freya tadi.
"Saya nggak cemburu, Pak. Lagian emangnya saya siapa pake ngerasa kayak gitu." Freya mendengus.
"Kamu punya hak kok buat cemburu sama saya," cetus Orion kemudian, membuat Freya menatapnya terkejut. "Udah, ya, masuk mobil dulu, nanti saya jelasin."
Orion lalu meraih tangan Freya lagi dan membawanya masuk ke dalam mobilnya. Dia mulai menyalakan mesin mobil dan menjelaskan.
"Emma itu cuma rekan kerja saya. Dia ngajak saya ngobrol tentang penelitian dia, karena kebetulan topiknya berhubungan sama kepakaran saya, jadi ya udah, kita sharing aja tadi. Mungkin jadi kelamaan karena topiknya emang lumayan panjang." Orion melirik Freya sejenak sebelum kembali fokus pada roda kemudi. "Hp saya juga disimpen di tas, jadi nggak sempet saya cek. Jadi maaf ya, gimana pun saya tetep salah bikin kamu nunggu."
Freya mengesah pelan dan bergumam, "Ngobrolin penelitian tapi sambil ngopi ketawa-tawa."
Lagi-lagi Orion tergelak mendengar ini. Sebelah tangannya terangkat dan mengacak rambut Freya.
"Kamu beneran cemburu, ya."
"Saya nggak cemburu, Pak, ya ampun harus dibilang berapa kali, sih." Freya menukas dengan suara meninggi, tapi kemudian segera menyadari tingkahnya. Dia melanjutkan dengan suara pelan, "Maaf, nggak bermaksud ngebentak."
"Iya, iya, nggak cemburu." Orion menyahut sambil terkekeh-kekeh. "Umur saya sama Emma nggak beda jauh, makanya kita bisa santai, bahkan waktu ngobrolin topik penelitian sekalipun. Lagian Emma juga udah punya tunangan kok, cuma dia belum cerita aja sama dosen-dosen lain."
Sebelah alis Freya berjingkat mendengar ini. "Oh, gitu. Pantesan tadi Bapak juga ngaku-ngaku udah punya pasangan di depan Pak Bakhri. Biar nggak keliatan menyedihkan, ya?"
"Loh, saya 'kan emang udah punya pasangan," cetus Orion.
Freya mengerjap beberapa kali. "Siapa emangnya?"
"Kamu," jawab Orion sambil mengerling pada Freya dengan cengiran lebar di bibir.
Sejenak Freya hanya terpaku mendengar ini. Tapi kemudian dia teringat akan perjanjian mereka dulu, tentang pacar pura-pura dan sebagainya. Dia lantas mendecak kecil. Masih saja Orion betah menjadikannya pacar pura-pura begitu.
Tatapan Freya kemudian jatuh keluar jendela. Dia tersentak ketika tersadar ini bukan jalan menuju apartemen Orion.
"Pak, kita mau ke mana?" tanyanya. "Ini bukan jalan ke apartemen Bapak 'kan?"
Orion menoleh pada Freya dan tersenyum lebar. "Tadi 'kan kamu bilang daripada nunggu saya mendingan nonton di rumah. Jadi ya udah, saya ganti rugi waktu kamu dengan nonton film."
Kedua mata Freya melebar antusias mendengar ini. "Seriusan, Pak?"
"Emang saya keliatan bohong?"
Untuk pertama kalinya Freya tersenyum lebar dan menggeleng. Dia lantas mengeluarkan ponselnya dan mengecek film-film yang sedang tayang di bioskop. Beberapa judul dia sarankan pada Orion dan laki-laki itu hanya mengangguk setuju saja.
Di kursinya Orion diam-diam tersenyum kecil melihat antusiasme Freya. Tidak pernah mengira semudah itu membuat Freya bahagia.
***
"Padahal film romance ada banyak. Eh, ujung-ujungnya malah nonton ginian." Orion bergumam pelan sambil mendudukan diri di kursi. "Umur kamu berapa, sih? Kok senengnya animasi Disney?"
Di sampingnya Freya terkekeh-kekeh. "Disney itu tontonan wajib semua umur, Pak. Lagian emang Bapak mau nonton film romance? Nggak ngantuk apa?"
"Biasanya cewek kan seneng milih film romance," sahut Orion. "Kamu emang lain dari yang lain."
Freya menatap Orion dengan mata memicing. "Tuh 'kan ketauan sering nonton sama banyak cewek, sampai hafal kebiasaannya."
Orion lantas mendecak. "Bukan gitu."
"Ya terus?"
Tangan Orion kemudian bergerak memainkan jemari Freya di atas sandaran lengan sementara matanya menatap perempuan itu. "Poinnya itu kamu lain dari yang lain, Frey. In a good way. Saya suka."
Freya mengerjap mendengar ini. Dia bersyukur duduk di tengah cahaya minim seperti ini, sehingga wajah memerahnya tidak akan terlalu kelihatan. Dia lantas berdehem dan bertanya pelan, "Suka apa, Pak? Be specific, please."
Bahkan sebelum mendengar jawaban Orion, jantung Freya sudah berdebar tidak karuan. Sial, berani-beraninya dia menanyakan hal seperti itu?
"Saya suka—"
"Nona Freya?" Freya yang sedang menatap Orion pun akhirnya melihat ke arah suara yang memanggilnya.
Freya mengerjap dan terdiam sejenak ketika siapa sosok yang memanggilnya.
"Pak Hans? ngapain disini?" ucapnya sambil celingak celinguk takutnya Sang Ayah ada di sini.
"Saya ke sini sama keluarga saya Non, Tuan Besar sudah ada di Apartemen nya... Tadi sih bilangnya nggak enak badan jadi pulang agak cepat, makanya saya bisa quality time sama keluarga kecil saya..."
"Ah... Iya..." ucap Freya tersenyum canggung.
Assisten Ayahnya itu memberi bow pada Freya lalu duduk di depan kursi Freya sesuai dengan nomor tiketnya.
"Siapa?" Orion yang dari tadi mengamati akhirnya bersuara.
"Just... acquaintance..."
Freya menoleh pada Orion sambil memaksakan senyum kecil. Sejenak Orion tercenung, dia tersadar ada yang salah pada senyuman itu.
Freya pun kembali menatap layar besar di depannya. Tapi pikirannya seakan tidak menonton film itu. Dia kepikiran kata-kata Assisten Ayahnya itu sambil menggigit kuku jarinya cemas.
Apa dia sakit? Sakit apa? Kenapa dia ga bilang?
Ck...
Dan Orion tau bahwa Freya tengah bergelut dengan pikirannya.
Tidak. Dia tidak bisa di sini lebih lama lagi.
Perempuan itu bergegas bangun dari duduknya dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Di belakangnya bisa didengar derap langkah Orion mengikuti.
"Freya... Kamu kenapa? Mau kemana?" ucap Orion menarik tangan Freya.
"Siapa laki-laki tadi?"
Freya menghembuskan napas berat. "Dia Asisten Ayah saya"
"Ayah? bukanya kamu bilang kalau kamu--"
"Dia udah pulang Pak, dia pulang dan dengan seenaknya mau ganti waktu yang telah dia sia-siakan... Hah dia pikir gampang apa? Apa dipikiranya saya bakalan maafin dia dengan mudah? Dia pikir---" ucapan Freya tertahan seiring air matanya yang sudah mulai menggenang di pelupuk menahannya.
"Hey, Freya--" Orion langsung memeluk Freya. Tangannya bergerak mengelus punggung Freya menenangkan.
"Nggak apa-apa, nangis aja..." bisik Orion pelan.
Beberapa saat kemudian Freya bisa mengendalikan dirinya.
"Makasih...." gumam Freya pelan.
"Loh, Non Freya?"
Baik Freya maupun Sean menoleh ketika suara itu menyapa.
"Nona kenapa? Apa ada yang menyakiti Nona?" ucap Sang Assisten langsung melihat kearah Orion lalu berubah khawatir saat melihat Freya.
Freya menggeleng sambil tersenyum. Dan tanpa menunggu reaksi apa pun, Freya melangkah menjauh dan meninggalkan Asisten Ayahnya begitu saja. Matanya lagi-lagi memanas membayangkan sang ayah yang sedang sakit, tapi Freya berusaha menahan tangisnya. Dia lantas mempercepat langkahnya, ingin meninggalkan tempat ini secepat mungkin. Dia ingin sendirian. Mengurung diri.
Orion tiba-tiba menyusul langkahnya dan menggenggam tangannya. Membuat Freya menoleh dan menatapnya terkejut. Dia hampir lupa ada Orion di sini.
Tanpa mengatakan apa pun, Orion hanya menatapnya dengan seulas senyum hangat. Senyum menenangkan.
Lagi-lagi, seperti sebelumnya, Freya merasa seakan dia dapat membebaskan semua rasa frustasinya ketika bersama Orion. Seakan sosok itu benar-benar dapat memberinya ketenangan.
"Saya ... Saya boleh pulang ke tempat Bapak?"