Islandzandi

Islandzandi
Bawel Itu Artinya Peduli, Bawel Itu Artinya Sayang.



"Hey, Freya." Orion menyapa sambil tersenyum.



“Pak Orion?! Ya ampun bikin kaget aja sih, Pak!” Freya memekik pelan sambil mengusap dadanya.


Sebelah alis Orion berjingkat. “Kaget kenapa kamu?”


“Engga... Engga...” Freya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bapak kenapa belum pulang?”


“Harusnya saya yang nanya gitu. Kenapa kamu masih di kampus jam segini?” Orion malah balik bertanya.


“Rapat himpunan, Pak.” Jawab Freya singkat.


“Oh, ya udah saya anterin pulang aja sini.”


Kedua mata Freya melebar, “Eh... Nggak usah Pak, saya udah pesen ojol, kok.”


“Kamu kenapa seneng banget sih sama ojol? Emang driver nya pada lebih ganteng dari saya, ya?” tanya Orion ngawur.


"Hah..." Freya hanya bisa melongo mendengar pertanyaan melantur dosennya itu.


"Udah ayo cepet naek, daripada nanti kamu diculik om-om nangkring di situ sendirian," cetus Orion yang membuat Freya berpikir dosennya itu berbagi sel otak yang sama dengan Dasya.


"Tapi ojolnya gimana, Pak?" Freya menunjukan ponselnya.


"Cancel aja. Nggak apa-apa sesekali ini." sahut Orion sambil mengibaskan tangannya.


"Ih, jahat." ucap Freya lalu mengetik sesuatu di ponselnya.


Freya :


Pak, maaf saya bareng temen. Ga apa-apa Bapak sesuai rute saya aja tanpa saya, nanti saya kasih bintang lima dan tips... Ongkosnya saya udah pake gopay ya pak... makasih...


Setelah selesai dan memasukan ponselnya ke dalam tasnya, Freya pun memasuki mobil Orion agak ragu-ragu.


"Kamu emang selalu pulang semalem ini, kalo abis rapat? Kenapa nggak nebeng temen aja sih pulangnya?" tanya Orion sambil melajukan mobilnya.


"Temen-temen saya anak kosan semua Pak, nggak ada yang searah sama saya. Nggak enak kalo minta anterin." jawab Freya pelan.


Orion melirik Freya lalu menggeleng-geleng. "Kamu tuh nggak ada takut-takutnya ya. Dateng sendirian ke Nighties, pulang malem sendirian dari kampus ke rumah. Kalau kamu kenapa-napa gimana coba?"


Freya menghembuskan nafas pelan. "Sampai sekarang kan nggak kenapa-kenapa."


Orion mendecak lalu menyentil dahi Freya. "Ngeyel kamu, dibilangin juga."


"Aww.. Sakit ih, Bapak!" Freya mengaduh sambil mengusap-ngusap dahinya akibat jitakan dari Orion.


"Orang tua kamu emang nggak khawatir kamu selalu kelayapan malem-malem gini?!" Orion bertanya lagi sambil mengerling pada Freya. "Atau saudara-saudara kamu?"


Freya mengedikan bahu seraya melihat ke luar jendela di sebelahnya. "Kalau aja ada yang kayak gitu saya bersyukur banget, Pak."


"HM... Magsudnya?"


"Saya itu Piatu, Pak. Ayah saya nggak tau ada dimana? Semenjak saya lahir saya belum pernah ketemu ayah saya. yang ngurus saya tuh Kakek dan Nenek tapi itu juga nggak lama, mereka pergi saat saya masih kecil, Om Erik dan Tante Haura yang menjadi wali saya entah kemana, mereka pergi dari rumah dan nggak pulang-pulang. yang satu ke Korea satu lagi ke Inggris... cuma Kakak sepupu saya, Kak Kenan yang selalu ngertiin dan sayang sama Saya ,dia selalu ada buat saya.. hanya saja sekarang dia juga pulang cuma seminggu sekali karena kerja dan tinggal di apartemen Deket tempat kerjanya." jelas Freya tanpa sadar.


Dan untuk ukuran perempuan, Freya mengatakan itu dengan sangat begitu santai, padahal keluarganya memang sangat berantakan, seakan hal itu sudah tidak aneh lagi baginya. Seakan itu bukan hal yang besar.


Orion terdiam sesaat. "Jadi kamu tinggal sendiri di rumah?"


"Iya, tapi kayak yang saya bilang tadi, Kak Kenan selalu Dateng ngejenguk kalau lagi nggak sibuk dikantornya, paling telat seminggu sekali dia pulang." Freya lalu menoleh pada Orion, dan berujar dengan berapi-api. "Nah, dia tuh kalau tau saya kenapa-kenapa pasti bawelnya minta ampun, sama kayak Bapak sekarang ini, nih!"


Beberapa saat Orion tidak bereaksi. Tetapi kemudian dia tertawa kecil sambil melirik Freya. " Jadi Kakak kamu sering bawelin kamu?"


"Iya."


"Terus menurut kamu sekarang saya juga bawel?"


"Iya." jawab Freya cepat tanpa berfikir. Sedetik kemudian dia segera tersadar dan mendekap mulutnya. "Eh, e-enggak Pak, maaf."


Orion tergelak. Sebelah tangannya terangkat untuk mengusak puncak kepala Freya.


"Bawel itu artinya Peduli, Freya Adira Putri." Orion berujar perlahan sambil menatap Freya sekilas. "Bawel itu artinya sayang. Buat apa ngerecokin seseorang kalau nggak ada rasa peduli, kalau nggak ada rasa sayang, iya kan?"


Freya membeku ditempatnya, dia tidak mau memaknai kalimat Orion tadi terlalu jauh, tapi pikirannya malah bekerja sebaliknya.


Sepanjang perjalanan, perempuan itu lebih memilih diam sambil memandang ke luar jendela, sementara Orion di sampingnya bersenandung kecil mengikuti alunan lagu yang diputar dari radio.


Tak lama mereka sampai di depan rumah Freya. Freya melepas seatbelt nya dan menatap Orion yang kini mengetikkan sesuatu di ponselnya.


"Makasih banyak Pak, udah mau nganterin saya pulang." cetus Freya.


Orion mendongak lalu tersenyum. Tangannya bergerak untuk mengacak poni Freya dengan gemas.


"Sama-sama, lain kali kalau butuh bantuan, jangan ragu buat hubungin saya ya?! Saya udah chat kamu tuh. Simpen nomornya." ucap Orion masih dengan senyum hangatnya. Dia lalu cepat-cepat menambahkan ketika melihat raut wajah bingung Freya, "Saya dapetin nomor kamu dari group mata kuliah, nggak usah bingung."


Freya menggeleng pelan. Bukan. Dia bukan mempertanyakan dari mana Orion mendapatkan nomornya. Lebih dari itu, dia tidak mengerti kenapa Orion mendadak bersikap baik padanya.


"Saya bisa ngehubungin Bapak kalau butuh bantuan? Kenapa? Kenapa gitu, Pak?" Freya menyuarakan kebingungan dengan hati-hati.


Memangnya dia siapa? Hubungan mereka hanya sebatas mahasiswa dan dosen kan? Kenapa Orion harus semurah hati itu membantunya ketika dia butuh?


Sejenak Orion terdiam. dia menatap Freya lama dengan jenis tatapan yang tidak bisa diartikan, membuat tanda tanya dalam kepala Freya kian membesar. Tetapi kemudian Orion tersenyum tipis.


"Kenapa? Menurut kamu kenapa?" dia balik bertanya.


"Apapun itu, makasih, Pak." ujar Freya akhirnya. "Saya permisi dulu. Bapak hati-hati di jalan."


"HM... Kamu juga hati-hati di rumah. Jangan lupa makan, jangan begadang. Besok ketemu di kelas, ya."


Freya mengerjap lalu mengangguk kecil. Tanpa berkata apapun lagi dia keluar dari mobil dan berlari kecil memasuki rumahnya. Sama sekali tidak berniat melihat Orion lagi. Jujurly, sikap Orion benar-benar membuatnya bingung. Apa maksudnya?


Perempuan itu membuka ponselnya dan menemukan chat masuk dari nomor tidak tersimpan.


+62860726...


Simpen nomor saya ya. You'll need this later.


Orion benar-benar menghubunginya. Perhatiannya lalu teralih pada pesan dari Rania yang sejak tadi.


Rania :


Gila Woyyy, Pak Orion kayaknya beneran naksir sama lo, Frey. Masa tadi dia nanya-nanya soal Lo ke gue, buat apa coba??


Dengan kening berkerut Freya mengetikan balasan.


Freya :


Nanya-nanya gimana Ran?


Rania :


Awalnya dia nanyain kenapa gue ga bareng sama Lo, aneh ga sih? Kok dia bisa tau kalo kemana-mana kita selalu barengan.


Terus waktu gue bilang Lo ada rapat Medfo, dia tanya rapatnya dimana? beresnya jam berapa?


Dia bahkan tau Lo nggak pake kendaraan pribadi, dan nanyain Lo biasa balik sama siapa?


Sumpah Frey, sumpah...


Ini tuh cuma berarti satu hal...


Sebetulnya Freya sudah bisa mengira kemana arah pembicaraan Rania. Dia menghela napas dan kembali mengetikan balasan.


Freya :


Apaan..


Rania :


DIA BENERAN NAKSIR LO FREYA ADIRA PUTRI!!!


kok gitu aja ga peka sih?


Tuh kan bener kan...


Freya:


Nggak usah ngada-ngada ya, gue aja baru ketemu dia beberapa kali.


Lagian masa iya seorang Baltsaros Orion Leandro naksir mahasiswa kentang kayak gue? Halu abis, Ran.


Sebenarnya itu adalah kalimat untuk meyakinkan diri Freya sendiri. Dia tidak mau berlebihan menanggapi sikap perhatian Orion. Hidupnya ini bukan drama yang memungkinkan dirinya disukai oleh laki-laki berkelas seperti Orion.


Rania :


Ya... Siapa tau aja Pak Orion terpesona sama Lo setelah insiden muntah di apartemennya itu?


Balasan Rania membuat Freya terkekeh. Sambil menahan geli dia membalasnya.


Freya :


Makin ngaco. Yang ada dia harusnya ilfeel terus naro dendam sama gue...


Bener kan? Tingkah Freya saat itu kelewat konyol dan menjijikan. Tidak ada alasan bagi Orion untuk menaruh rasa pada Freya karena kejadian itu. Namun balasan selanjutnya dari Rania berhasil membuat Freya tercenung.


Rania :


Tapi nyatanya enggak kan Frey? Lagian kalo bukan karena itu, karena apa lagi coba?


Freya meringis pelan. Bahkan meski ingin menyangkal tebakan Rania pun, Freya tidak bisa menjawab pertanyaan tadi.


Kenapa Orion melakukan ini semua padanya? Untuk apa perhatian-perhatian itu?


***


Malam itu setelah mengantar Freya pulang, Orion kembali mengunjungi Nighties. Padahal dia sudah berjanji tidak akan menginjakkan kaki ke tempat ini lagi, karena tentu saja, dia tidak mau ada mahasiswa lain yang menciduknya di sini. Tapi ketika kepalanya terasa penuh, yang bisa dilakukannya hanya menumpahkannya pada Evan. Orion menegak habis minumannya setelah bercerita mengenai apa yang belakangan ini dialaminya pada Evan. Di sampingnya temannya itu hanya terdiam, seakan masih mencoba mencerna semua ini.


"Lo yakin nggak salah liat?" pada akhirnya Evan memastikan.


"Mata gue masih berfungsi dengan baik. Dia memang Kenan, Kenan Aiman Ferdinan." jawab Orion dengan suara mengambang, keningnya mengerut dalam.


"Dunia Lo bener-bener sempit, ya?!" dengus Evan sambil menggeleng takjub. "Jadi apa rencana Lo?"


"Apa ya?" Orion balas bertanya sambil menyeringai tipis. "Doa revenge sounds interesting, right?"