
Untuk pertama kalinya Kelana menoleh pada Kenan. Ditatapnya laki-laki itu dengan tajam, seakan dia berniat melubangi keningnya.
"Aku udah pernah bilang 'kan, nggak perlu susah-susah mengakrabkan diri. Bersikap kayak orang asing aja, itu lebih dari cukup." Dia berujar dengan suara rendah.
Kiran terkesiap mendengar ini. "Kelana! Kok gitu ngomongnya?"
Kelana mengembuskan napasnya dengan kasar. Dia meletakan sendok dan garpunya, lalu bangun dari duduknya dengan cepat sampai menimbulkan bunyi decitan keras. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, dia berlalu meninggalkan ruang makan.
Kiran mengesah kecil dan menoleh pada Kenan. "Maaf, ya. Biasanya Kelana nggak pernah senakal ini. Aku nggak ngerti kenapa dia selalu jadi kasar tiap kita kumpul bareng."
"Nggak apa-apa, akunya yang emang harus lebih sabar ngadepin dia," sahut Kenan sambil tersenyum menenangkan.
Perlahan Freya ikut berdiri dari duduknya. Ditatapnya Kenan dan Kiran. "Biar aku yang ngomong sama Kelana ya, Kak."
Freya lalu berjalan menyusul Kelana. Laki-laki itu rupanya tengah duduk di ruang tamu, sibuk dengan ponselnya. Sejak pertama bertemu, Kelana memang tidak pernah kelihatan menyukai Kenan. Dia pasti selalu bersikap dingin pada calon kakak iparnya itu. Entah karena apa. Padahal, sebetulnya Kelana itu anak yang periang dan ramah pada hampir semua orang. Hanya pada Kenan dia bersikap tidak menyenangkan.
Hati-hati Freya mendudukan diri di samping Kelana. Rupanya remaja itu tengah sibuk memainkan game di ponsel.
"Lan."
Kelana hanya mengernyit, jemarinya bergerak lincah di atas layar ponsel. Freya menghela napas.
"Kelana. Kakak manggil, loh."
Kelana ikut menghela napas juga.
"Apa?" tanyanya, tetapi atensinya masih belum teralih dari game.
"Kelana kok keliatan nggak suka banget, sih sama Kak Kenan? Padahal 'kan Kak Kenan selalu baik." Kelana mendengus mendengar ini. Sekilas dia melirik Freya. "Kak Frey nggak tau aja."
Kening Freya mengerut heran. "Nggak tau soal apa?"
Beberapa saat Kelana tidak menjawab. Dia masih fokus pada game-nya, sampai akhirnya tulisan 'you lose' terpampang besar-besar di layar ponselnya. Anak itu lalu meletakan ponselnya, dan menoleh pada Freya. Menatapnya dengan begitu serius.
"Kak Kenan tuh jahat. Dia bukan orang baik," cetusnya kemudian.
Kerutan di kening Freya semakin mendalam mendengar ini. "Hah? Jahat gimana?"
Sejenak Kelana hanya menatap Freya dalam diam. Tapi akhirnya dia mengedikan bahu dan kembali sibuk dengan game-nya. "Nanti juga Kak Freya tau sendirilah, kalau emang harus tau."
Freya semakin tidak mengerti ucapan Kelana.
"Kok gitu? Kamu tau sesuatu, ya?" Freya mengguncang bahu Kelana.
Aneh juga, sih, bagaimana mungkin Kelana mengetahui sesuatu tentang Kenan yang tidak diketahui oleh Freya, adik sepupunya sendiri.
"Iya, aku tau sesuatu, tapi itu bukan hak aku buat cerita ke Kak Frey." Kelana menghela napas pelan. "Yang pasti aku punya alesan nggak suka sama Kak Kenan. Dan kalau Kak Frey harus tau soal itu, suatu saat Kak Frey pasti bakalan tau sendiri."
Freya terdiam menatap Kelana. Tidak habis pikir, bagaimana bisa bocah tujuh belas tahun ini, membuatnya bingung setengah mati.
Sebenarnya apa yang diketahui Kelana tentang Kenan, sampai-sampai membuatnya membenci Kenan seperti itu?
***
Kening Orion mengerut heran begitu dia melihat wajah Aubrey di layar interkomnya. Perempuan itu kini ada di depan pintunya. Apa lagi yang dia inginkan, sih?
"Ri, bukain dong," Didengarnya suara Aubrey dari luar. "Ini terakhir kalinya aku datengin kamu, aku janji. Jadi please let me in."
Orion menghela napas. Aubrey ini bebal, bisa-bisa dia diam di depan pintu apartemennya sampai subuh. Maka akhirnya Orion membukakan pintu dan mantannya itu segera melangkah masuk.
"Jadi mau ngomongin apa?" tanya Orion sambil mengamati Aubrey yang kini mendudukan diri di sofa. "Gue lagi sibuk, nggak usah basa-basi."
Aubrey mengerucutkan bibirnya. "Kasih aku minum dulu kek. Where's your manner, Sir?"
Lagi-lagi Orion mengesah. Dia lalu berjalan ke dapur dan menyiapkan segelas jus jeruk untuk Aubrey.
Masa bodoh malam-malam begini tamu tidak diundangnya itu malah dijamu dengan minuman dingin.
Rupanya, Aubrey mengikuti sampai ke dapur. Perempuan itu tersenyum sambil menerima minumannya.
"Jadi?" Orion mendesak lagi. Dia menyandarkan punggungnya ke pantry sambil bersilang dada menatap Aubrey yang berdiri di hadapannya.
Aubrey akhirnya menarik napas. "Aku bener-bener nggak punya kesempatan kedua, ya?"
Mendengar ini Orion mendecak "Kalau ini yang mau lo omongin, mending pergi sekarang."
"Tapi, Ri, kamu lupa kita pernah bahagia dulu?" Perempuan itu menatapnya dengan sedih. Perlahan dia berjalan mendekati Orion, berusaha mengikis jarak.
Tapi kemudian, dia tersandung kakinya sendiri, dan begitu saja jus di tangannya tumpah mengenai kaus Orion.
"****!" Orion mengumpat merasakan cairan lengket itu mengotori baju dan kulitnya.
Aubrey sendiri terkesiap kaget, gelas di tangannya jatuh ke lantai, pecah berhamburan. Salah satu pecahannya mengenai kaki perempuan itu. Dia meringis kesakitan ketika darah segar mulai mengalir dari luka goresan.
Orion membuang napas kesal. Ia berdecak. "Kenapa sih, lo ceroboh banget?"
"Sori ...."
Hati-hati Orion melangkah menuju salah satu laci dan mengeluarkan kotak obat dari sana. Dia menyerahkannya pada Aubrey.
Setelah memastikan Orion masuk ke kamarnya, Aubrey bergegas meninggalkan dapur juga. Dengan langkah terseok dia berjalan menuju ruang tengah, mengambil ponsel Orion yang disimpan di atas meja.
Seperti yang sudah dia duga, layarnya tak dikunci.
Cepat-cepat perempuan itu menekan ikon pesan, menggulir pada satu percakapan, dan mengetikan pesan di sana. Tidak lama, balasan muncul. Dia membalasnya lagi, dan bibirnya segera mengukir seringai lebar.
Orion :
Frey, kita ketemu di Nightiest sekarang ya
Freya :
Hah? Mau apa, Pak?
Aubrey menyeringai membaca balasan ini. Dia tahu, hubungan Orion dan bocah itu memang hanya dibuat-buat. Kalau tidak, kenapa pula Freya masih memanggil Orion seperti itu?
Orion :
Ada yang mau saya omongin, harus sekarang dan Cuma bisa diomongin di sana
Freya :
Ya udah, Pak saya ke sana
Aubrey tak mengira semudah ini menjebak Freya. Entah karena bocah itu terlampau bodoh, atau memang karena dia benar-benar menyukai Orion. Yang mana pun alasannya, Aubrey tidak peduli. Dia akan segera menyingkirkan bocah itu.
Sambil menyeringai puas Aubrey menghapus percakapannya, membiarkan ulahnya itu tidak meninggalkan jejak.
"Have fun, dumbo."
Sebenarnya Freya tidak paham kenapa dia selalu berakhir datang ke klub malam karena laki-laki. Dulu karena Arkana. Sekarang karena Orion.
Dia tidak mengerti jalan pikirannya sendiri. Kenapa dia mau-mau saja diminta datang ke tempat kotor ini. Dia sampai harus berbohong pada Kenan yang malam ini menginap, lagi-lagi menjadikan Qila sebagai alasannya.
Perempuan itu lalu duduk di salah satu meja di lantai dua, posisinya paling ujung. Orion bilang tadi dia akan menunggunya di sana. Freya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan berisik dan remang-remang itu. Tapi Orion tidak kelihatan di mana pun.
Entah kenapa, perasaannya mendadak tidak enak.
Mungkin harusnya dia tidak usah datang ke sini.
Jarinya lalu mengetikan pesan untuk Orion.
Orion :
Pak, saya udah sampai, Bapak di mana?
Kalau lima menit Bapak nggak dateng, saya pulang aja ya, saya nggak betah di sini.
Kenapa juga harus ketemuan di Nightiest sih, Pak ....
Orion tidak membaca pesannya.
Freya menghela napas pelan dan memasukan ponselnya ke tas. Saat itu, seorang laki-laki bertubuh jangkung tiba-tiba menghampirinya dan duduk di sampingnya. Dengan begitu santai dia meletakan lengannya di belakang kepala Freya.
Kedua mata Freya melebar. Dia menggeser duduknya menjauh sambil menatap laki-laki asing itu ngeri.
"Sendirian aja?" tanya si laki-laki, matanya memindai Freya dengan kurang ajar sementara bibirnya tersenyum menjijikan. Dia bergumam, lebih pada dirinya sendiri. "Boleh juga."
Freya menggeleng cepat. Kepalanya segera mengirim alarm bahaya. Dia bangkit berdiri sambil berujar, "Nggak. Gue lagi nunggu cowok."
Tapi sialnya si laki-laki dengan cepat menarik tangan Freya hingga dia kembali terduduk, kali ini sampai mereka duduk berdempetan.
"Kalau lagi nunggu cowok, kenapa malah pergi, hm?" tanyanya dengan suara rendah. Dia merangkul Freya, membuat posisi mereka kian dekat. "Lagian cowok lo nggak akan dateng. Mending main sama gue aja ya, Cantik?"
Kedua mata Freya melebar. Diaa berusaha melepaskan diri tapi percuma.
"Lepas atau gue teriak?" ancamnya, berusaha kedengaran mengintimidasi meski jantungnya berdebar takut.
Sebenarnya mana Orion? Kenapa dia tidak datang juga, sih?
Laki-laki itu malah tergelak mendengar gertakan Freya. "Teriak aja. Nggak akan ada yang peduli. Everyone busy with their own bussiness here. Lagian teriakan lo paling kalah sama suara dj, mau coba?"
Kedua mata Freya semakin melebar ngeri. Laki-laki itu mengikis jarak mereka, sementara tangannya yang bebas mulai bergerak menuju bagian atas blouse Freya.
Freya panik. Dia ingin membebaskan diri tapi tubuhnya seperti mati rasa saking takutnya dia. Yang bisa dirasakannya hanya tubuhnya yang gemetaran dan suara debaran jantungnya sendiri.
Please.. Siapa pun tolong gue.
Laki-laki itu telah membuka satu kancing blouse teratasnya. Wajahnya merunduk membuat hidung mereka bersentuhan. Freya bisa merasakan air matanya mulai menetes.
Tolong ....
Lalu, ketika Freya sudah hampir kehabisan harapan, suara tajam penuh intimidasi itu menyapa telinganya.
"Stay away from her or you'll end up in jail."