Islandzandi

Islandzandi
Diandra



Dikamar Islandzandi… pukul 01.00 pagi…


Islandzandi masih duduk di meja belajarnya sambil melamun…


Jadi… Reyandra kenal dengan Eolia trus bekerja sama Ayahnya dia sampai dipercaya oleh Ayahnya, trus Erik… Saudaranya? Bener-bener kebetulan banget! Nggak bisa dipercaya… Aahh… Tau ah…


Waktu pun berlalu dengan cepat.


Selama seminggu ini Islandzandi menjalankan harinya dengan bekerja di Svetovska Company dan jadi model di Destiny Studio…


Selama di Svetovska Company Islandzandi selalu menghindari obrolan karyawan lain tentang Reyandra, dan tentu saja Islandzandi masih jadi suruhan karyawan lain untuk diminta bantuan.


**


Hari minggu…


Di Studio Majalah Destiny…


Pukul 11.00 siang…


Aslan dan Kru lain sedang melakukan pemotretan.


Begitu pun dengan Kliennya Pak Darma pun ikut melihat Proses pemotretannya.


Islandzandi sedang diphoto oleh Aslan… dengan costum game...





contoh ya..


"Sebenernya kostumnya ada beberapa, tapi yang ingin kita tunjukan untuk iklannya adalah yang ini saja…"


"Jadi untuk keseluruhan jadi tiga kostum ya…" ucao crew kostum.


"Tapi untuk Rambut dan juga Make Upnya seperti ini saja apa tidak terlalu sederhana?" ucap crew make up menimpali.


"Ya, ini saja, karena kalau seperti ini pun kalau modelnya dia pasti akan sangat bagus… Ksatria perempuan yang Elegan…"


Tak lama setelah Islandzandi selesai di photo bagian Erik yang di photo…


Setelah bagian Erik sudah selesai mereka berdua pun di photo untuk Cover game dan Posternya.


Pak Darma melihat kagum pada Erik. "Untuk karakter prianya juga sangat tajam, saya puas! Nanti kalau ada job lagi saya pasti akan kesini untuk membuat iklannya."


Saat sesi photo Couple pun Pak Darma tertegun melihat kearah Islandzandi dan Erik. Setelah selesai pemotretan Aslan pun memanggil Islandzandi dan Erik untuk meeting di ruangannya.


**


Di ruangan Meeting,


Pukul 19:00 malam…


Aslan dan Klien sedang duduk sambil mengobrol tak lama Erik dan Islandzandi masuk dan duduk.


"Apa ada masalah?"


"Sama sekali tidak ada masalah, saya puas dengan hasilnya!" ucap Pak Darma puas melihat ke arah Aslan.


Aslan terdiam sejenak. "Jadi gini, Pak Darma ini bekerjasama dengan kita tidak hanya sekedar Pemotretannya saja… Jadi Pak Darma juga meminta tolong pada kita untuk membuat Video Klip dari Iklan Game tersebut."


"Tapi… Emangnya Destiny bisa? Biasanya selama ini kan kita cuma pemotretan aja!"


"Saya sudah bicara pada Direktur memang Destiny tidak bisa, tapi saya akan menyewa orang yang ahli dalam bidangnya untuk Syuting Iklan tersebut. Karena kalian berdua adalah orang yang tepat untuk memerankan karakter tersebut…"


"Bukankan karakternya tidak hanya kita?" ucao Erik heran.


"Untuk itu, gue bakalan minta tolong sama model lain untuk ngisi karakter pendukungnya, tapi untuk karakter utama kalian yang bakalan meraninnya… Gimana?" ucao Aslan menimpali.


"Kapan mulai syutingnya?"


"Kalau bisa secepatnya."


"Gue nggak bisa Slan, hari biasa kan gue magang…"


"Kalau begitu setiap hari minggu tapi dari pagi sampai malem ya.. Bisa kan? Biar cepat selesai dan nggak ada pengeluaran tambahan lagi! Fee nya nanti aku kasih dua kali lipat dari biasanya…"


Erik melihat Islandzandi.


"Gimana? Bisa?"


"Iya deh boleh…"


"Ini tolong di baca dan di tandatangan untuk kerjasamanya…" sambil memberikan berkas pada Aslan.


Setelah Meeting mereka selesai Islandzandi dan Erik bersantai di Ruangan Aslan sambil mengobrol.


Pukul 20:00 malam…


**






Aslan sedang di meja kerjanya di studio melihat hasil photonya.


"Lo beneran nggak apa-apa? Kerjaan di Svetovska kan berat, lo bilang karyawan lainnya ngebully lo dengan nyuruh-nyuruh lo seenaknya…"


"Ya… nggak apa-apalah… Kapan lagi gue bisa syuting?! Erin bilang Syuting buat iklan itu susahnya minta ampun, ya… Meskipun ini Game Online tapi kan apa salahnya dicoba… Bener ga Aslan?"


"Hhhmm… Perusahaan yang bekerjasama dengan mereka katanya pengen sedetail mungkin, makanya tadi pas pemotretan Pak Darma juga ikut liat… Soalnya klien mereka sangat teliti dan nggak mau ada satu kesalahan pun, katanya sangat perfectionist…"


Erik terdiam berfikir. "Emang mereka bekerjasama dengan Perusahaan mana?"


"Gue juga nggak begitu tau sih… Yang jelas mereka bilang perusahannya gede aja…"


"Game online ya?! Sampe bikin Trailler untuk video klipnya juga? Hebat banget!" gumamnya sambil terdiam.


"Eh Si Aufar gue telpon sibuk terus dia! padahal gue mau bilang bakalan ada pameran photografer... Gue mau dia juga ikutan!"


"Aufar pulangnya malem terus, minggu pertama kerja dia udah disuruh lembur…"


"Udah malem, mu pulang ama siapa? Mampir dulu ke Apartemen Reyandra nggak?"


"Pengennya sih gitu, tapi nggak deh... Mu istirahat aja!"


Aslan melihat Islandzandi tersenyum lalu berfikir. "Eh, salam ya sama Reyandra, sering-sering maen kesini... Siapa tau dia mau ikut partisipasi!"


"Partisipasi apaan, kerjaan dia sibuk terus!"


"Iya nih tiap pulang kerja pasti langsung buka laptopnya trus ngerjain kerjaannya lagi... Emang lagi ada proyek ya? Biasanya kalo Reyandra kayak gitu suka ada proyek kalo nggak launching."


"Mmmhh... Nggak tau!"


"Udah sana gih pada pulang! Gue jadi nggak konsen nih kerjanya..."


"Iya, iya... Lo lama-lama kayak cewek deh! Island gue anterin pulang yuk! Sekalian gue mau ke tempatnya Haura!"


"Oh ya udah hayu! Ya udah, gue duluan ya Aslan… Bye!"


"Ok bye! Ati-ati dijalan loh... Jangan ngebut!"


**


Di ruang Divisi desain Development...


Islandzandi sedang mengetik karena disuruh Bu Khanza.


Sementara Aufar dan Nadia sedang dinas luar pada hari itu.


Bu Khanza keluar dari ruangannya membawa kertas.


"Loh... Nadia mana? Belum pulang kesini ya?"


"Belum bu..."


"Aduh, gimana ini ya? Saya masih belum beres... (melihat Islandzandi) Kamu udah bikin laporannya?"


"Udah Bu, tinggal di Print..."


"Ah kalau gitu biar Yoga aja yang nge print, kamu tolong temuin tamu di lobby dia pegawai perusahaan yang bekerja sama dengan kita, saya masih masih belum selesai jadi kamu tolong temani dulu dia dan ulur waktu sebisa mungkin sampai saya datang kesana... Ok?!"


"Eu, tapi Bu..."


"Tanya resepsionis dia pasti tau... Saya beresin kerjaan saya dulu ya! Makasih loh Island..." ucapnya sambil masuk ke dalam ruangannya buru-buru.


Yoga melihat Islandzandi tersenyum. "Udah sana temuin Tamunya Bu Khanza biar gue yang terusin..."


"Iya deh, thank you ya Kak..." uucapnya sambil berjalan meninggalkan ruangannya.


Di lobby...


Islandzandi berjalan kearah Resepsionis dan menanyakan tamu yang akan bertemu dengan Bu Khanza.


Setelah di beritahu lokasinya.


Islandzandi pun berjalan ke ruang tunggu dan menghampiri tamu itu.


"Eu.. Maaf Pak, apa bapak yang ingin bertemu dengan Bu Khanza?!"


Saat Tamu tersebut berbalik melihat kearahnya Tamu tersebut pun terdiam kaget begitu pun dengan Islandzandi.


"Lo?"


Islandzandi suara hati.


Mampus… Ini cowok yang pernah ngebully gue dulu waktu semester awal, sekarang masa ketemu lagi?


"Lo Island kan?"


Islandzandi tersenyum kecut. "Iya Kak Shandika…"


"Masih inget gue?"


"Pasti ingetlah! Secara Kak Shandika kan yang selalu ngebully aku..." tersenyum penuh arti.


Shandika tersenyum. "Itu kan udah lama… Magang disini lo? Jadi kangen kampus kalo liat lo…"


Magsud lo kangen buat ngebuli adik kelas… Island tersenyum kecut ke arah Shandika.


"Jadi anda disini mau ketemu sama Bu Khanza..."


Mereka pun berbincang.


Sementara itu Reyandra yang baru saja datang karena ada Meeting di luar bersama Tama melihat kearah Ruang tunggu dan melihat Islandzandi sedang berbincang dengan Shandika begitupun dengan Tama.


Reyandra pun berjalan menuju Lift sambil berfikir.


Saat di Lift…


"Kamu tau tadi Island ngobrol sama siapa?"


"Kalau tidak salah sih dia kakak kelasnya Nona Island sewaktu di Kampus Pak. Tapi sekarang sudah lulus… Saya juga tidak tau kenapa mereka masih berhubungan."


Reyandra terdiam berfikir. "Untuk Ronald apa kamu sudah menyelidikinya?"


"Sudah Pak, datanya sudah ada di meja bapak…"


"Aaaaah.. Iya terima kasih, kau boleh istirahat…"


Tama terdiam ragu ingin mengatakan sesuatu pada Reyandra.


**


Dirumah Diandra…


Pukul 19.00 malam…


Diruang makan…


Saat mereka sedang makan malam…


Islandzandi Pak Diandra dan Bu Audrey sedang makan malam.


"Gimana magangnya?"


"Haaaahh… Capek pah.."


"Iya, kamu sekarang pulang malem terus… Mam jadi nggak ada temen ngobrol lagi deh..."


"Aku ada syuting video klip buat kliennya Aslan… Kliennya pengen aku juga yang jadi model video klipnya bukan hanya poster…"


"Memangnya videoklip buat apa?"


"Katanya sih buat Game online…."


"Hah… kamu ini! (terdiam ragu) Island... Jeni sudah membicarakan tentang pertunanganmu dengan Aufar, sepertinya dalam waktu dekat ini mereka berencana akan kesini untuk melamarmu… (terdiam melihat kearah Islandzandi dan Bu Audrey yang baru mendengar kabar itu) Sebenernya papah juga nggak setuju kalau kamu cepat-cepat menikah tapi kayaknya Jeni pengen ada menantu di rumahnya..."


Islandzandi terdiam sejenak. "Melamar ya?! (melihat kearah Bu Audrey) Pah, sebenernya aku juga belum siap... aagian sekarang ini aku sama Aufar lagi sibuk-sibuknya di kantor... Aufar aja sekarang jarang ada waktu sama aku..."


"Iya Pah... Apa nggak kecepetan? Lagian Island---"


"Aku juga sebenarnya pengennya nolak, tapi kamu tau sendiri kan Jeni kayak gimana? Aku nggak bisa nolak dia... Lagian kita juga kan harus punya hubungan baik sama perusahaan Jeni."


Islandzandi hanya terdiam. Pak Diandra langsung terdiam! Begitu pun dengan Bu Audrey.


**


Di kamar Pak Diandra dan Bu Audrey…


Pak Diandra sedang duduk di tempat tidur sambil membaca buku bersandar di sandaran tempat tidurnya.


Sementara Bu Audrey yang baru keluar dari kamar mandi berjalan kearah tempat tidur dan duduk di sebelah Pak Diandra.


"Pah…" melihat Pak Diandra serius.


"Hm…" masih sibuk membaca.


"Apa nggak sebaiknya papah tolak dulu pertunangan dari Pak Jeny?! (melihat Pak Diandra yang masih terdiam) Lagian, Island pacaran sama Aufar karena--"


"Aku nggak bisa nolak Ma… Jeni itu salah satu pemilik saham terbesar di perusahaan, kalau nanti aku ada masalah dengannya, aku takut efeknya ke perusahaan…"


"Kamu kan tau sendiri kalau Island cintanya sama Reyandra … Dari dulu sampai sekarang... Kalau masih pacaran aku nggak akan ngelarang kamu mau Island pacaran sama siapapun, tapi kalau masalah menikah, aku nggak setuju kalau kamu mengaturnya… Biarkan Island yang menentukan!"


Pak Diandra terdiam. "Umur Reyandra dan Island sangat jauh… adan aku sangat khawatir kalau---"


"Jika Reyandra pergi meninggalkan Island? Atau Reyandra nggak bisa memberikan keturunan? Atau nggak membuat Island bahagia?"


"Sayang, semua orang tua pasti akan melakukan yang terbaik bagi anaknya, apalagi Island, dia adalah putri kita satu-satunya…"


"Justru karena dia putri kita satu-satunya, kita harus membuat putri kita bahagia kan? Dengan menerima keputusan putri kita, dengan siapa dia akan menikah…"


Pak Diandra terdiam berfikir. "Putri kita kan sudah memilih, dan itu adalah Aufar---"


"Hanya karena umur kau menentang hubungan Island dengan Reyandra, padahal kau tau sendiri orang tua Reyandra seperti apa… Dan Reyandra sendiri seperti apa… (ucapnya dengan tegas dan tidur membelakangi Pak Diandra karena kesal) Lagian memangnya kamu siap ditinggal sama Island? Kalau Island udah nikah dia pasti akan ikut suaminya dan nggak akan tinggal disini lagi!"


Pak Diandra langsung terdiam melihat Bu Audrey yang sedang kesal padanya lalu menutup bukunya berfikir.