
Beberapa hari kemudian...
Di Apartement Reyandra…
Pukul 19.00 malam…
Islandzandi masuk ke Apartement Reyandra membawa tas besar lalu berjalan kedapur.
Iiih, kalo bukan karena Reyandra gue nggak mau bawa makanan sebanyak ini! Mamam nih, seenaknya aja nyuruh-nyuruh… (berfikir) tapi seneng juga sih calon mantunya diperhatiin calon mertua (tersenyum).
Islandzandi pun membereskan makanan yang dia bawa dari Bu Audrey untuk Reyandra makan sehari-hari ke dalam kulkasnya.
Tak lama setelah beres membereskan makanan Islandzandi pun berjalan ke ruang tengah dan berjalan lagi ke ruang kerja Reyandra.
Lalu Islandzandi pun duduk di meja kerja Reyandra sambil menyalakan Laptop punya Reyandra.
"Coba liat apa aja isi dari Laptopnya? Biasanya kalo gue buka-buka Laptop punya Aufar ada video delapan belas plus plus, apa Reyandra juga ada? (memincingkan matanya sambil mencari folder tak lama Islandzandi melihat ada folder bertuliskan “Pulau Permata”) Hmm... Pulau permata? Apaan nih?" ucap Islandzandi sambil membuka Folder itu dan melihat banyak Photo Islandzandi saat dia smp maupun sma.
Holly ****! Jadi selama ini dia emang merhatiin gue, dia inget sama gue meskipun dia nggak pernah sekalipun ngontak gue… kenapa dia nggak ngomong sih? (tersenyum)
Tak lama Islandzandi menemukan di my dokumen ada beberapa photo candid Reyandra bersama Eolia.
"Ini cewek yang digosipin sama Reyandra waktu itu kan? (ingat perkataan Aufar lalu dengan reflek membuka laci mejanya kerjanya) Box? (mengingat box yang jatuh waktu di dashboard mobilnya Reyandra lalu Islandzandi membuka box itu) Cingcin? (heran Islandzandi pun mencoba cingcin itu dijarinya) Cukup… Oh my God, ini seriusan buat gue kan? (terdiam melihat kearah wanita yang ada di photo itu berfikir)
Sementara itu di kamar mandi Apartement Reyandra…
Erik sedang mandi sambil berfikir tanpa tau ada Islandzandi masuk.
Beberapa menit kemudian setelah Erik selesai mandi.
Erik pun mengeringkan badannya dengan handuk lalu melilitkannya di pinggang. Setelah itu Erik keluar dari kamar mandi dan berjalan kedapur membuka lemari es heran karena ada persediaan makanan di kulkas banyak.
"Oh?! Kok banyak makanan? Perasaan tadi pas pulang masih kosong… (melihat pintu Ruang Kerja Reyandra yang terbuka dari kejauhan) Oh, Reyandra udah pulang ya… Tapi tumben dia bawa makanannya kayak buatan rumah bukan beli di luar?!"
Erik pun berjalan ke Ruang kerja dan masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk pintu.
"Hyung, kok tumben beli makanannya kayak buatan rumah nggak kayak kemaren…" ucapnya sedikit berteriak dan kaget melihat kearah Islandzandi yang sedang duduk di meja kerjanya sedang melihat Laptop Reyandra.
Islandzandi kaget melihat kearah Erik ada di luar kamar Reyandra yang hanya memakai handuk.
"Erik? Lo... Iiihhh... Kok..."
"Island?" kaget melihat Island ada di kamar Reyandra.
"Ngapain lo disini? Oh My God, bisa ga lo pake baju dulu... Iisshh" sambil menutup mukanya kaget.
"Tapi ini kan tempat tinggal gue…"
"Hah?! (bingung) Ini kan Rumah Reyandra... Tempat tinggal lo dari hongkong."
"Iya trus?! Emangnya nggak boleh gue tinggal bareng Reyandra?"
"Lo kenal sama Reyandra? (baru sadar) Aahh… Jadi mobil yang lo pake waktu itu juga punya Reyandra? Pantesan aja gue berasa itu mobil kayak punya Reyandra. Ternyata emang punya dia!"
Islandzandi terdiam melihat kearah Erik bingung. Sementara Erik hanya tersenyum melihat kelakuan Islandzandi.
Beberapa menit kemudian…
Reyandra yang baru pulang dari kantor masuk ke Apartementnya dan berjalan ke ruang tengah Reyandra terdiam melihat Islandzandi dan Erik yang sudah duduk di sofa ruang tengah saling terdiam canggung.
"Island?"
"Hyung… Kau baru pulang?!" tanya Erik sambil tersenyum ke arah Reyandra tanoa rasa bersalah.
Islandzandi masih terdiam melihat kearah Reyandra yang masih berdiri melihat kearah mereka dengan matanya yang memincing.
"Island… Kenalkan dia…"
"Erik, I know Rey…" masih terdiam.
Reyandra melihat Erik heran. "kalian sudah saling kenal?"
"Eu... Tadinya aku mau ngasih surprise pas majalahnya keluar… Tapi ternyata sudah ketahuan! (Tertawa) Hyung… sebenernya aku sama dia itu satu management… Dan aku udah tau kalo dia adalah cewek yang ditunggu olehmu… Soalnya pertama kali melihatnya aku udah tau soalnya kau selalu melihat photonya di laptopmu…"
"Jadi magsud kamu jadi model itu di agencynya Aslan?"
"Yupz... Itu juga nggak sengaja sih... (melihat kearah Islandzandi) Tapi jadinya ya kayak takdir, bener nggak Hyung?" ucapnya bercandanya sambil tersenyum.
"Hah... lo masih bisa senyum? Emang ini situasi candaan ya?"
"Hey... calm down... Island.. Jangan terlalu serius... nantu cepet tua loh..."
"Erik..." ucap Reyandra sambil menggelengkan kepalanya ke arah Erik.
"Island... (mendekatkan wajahnya sambil berbisik ke telinga Island) Gue ini orang yang paling deket sama Reyandra, tar kalo lo ada apa-apa lo bisa minta bantuan gue... Misalnya.... Nyari sesuatu tentang Reyandra selama berada disana mungkin? (melihat Island tersenyum) Iya kan?"
"Erik!"
"Okay-okay relax Hyung... Tenang aja ya! Aku dan Island udah dipasangin jadi model Couple kok… Aku akan menjaganya untukmu! (tersenyum melihat Reyandra yang mulai cemas karena sikap Islandzandi yang mulai memperlihatkan marah pada Reyandra) Ok! Kalo gitu Aku nggak akan lama disini! Aku ada urusan, jadi… Silahkan kalian menikmati malam minggu kalian… Oh iya, aku nggak pulang malam ini… Mungkin kalian akan--" melihat Reyandra penuh arti.
"Erik…"
"Ah, mungkin juga nggak! maafkan hyungku ya Island, dia pasti mengecewakanmu…"
Islandzandi tersenyum kecut kearah Erik.
"Hah… Ok, lupakan… Selamat malam minggu kakak ipar!" tersenyum kearah Islandzandi.
Islandzandi tersenyum kesal. Erik pun pergi dari hadapan mereka.
Sementara Reyandra masih terdiam.
Tak lama Reyandra menerima Line Message dari Erik, Reyandra pun membuka messagenya.
...ERIK...
...“Hyung, aku liat tadi dia di ruang kerjamu dan membuka Laptopmu, dan setelah aku cek dia melihat Photomu dengan Eolia… kupikir kau harus tau dan menjelaskan padanya?! Ok Hyung… Semoga sukses! Dan lekas baikanlah lagi sama Island agar di tempat kerja dia nggak BT!”...
Reyandra pun menyimpan Handphonenya ke saku jasnya dan menghela napas panjang sambil berfikir.
"Kau mampir kesini?" sambil melepas jas juga dasinya.
"Hmm… Mam suruh aku bawain makanan buat kamu… Aku udah taro di kulkas..." ucapnya dingin masih terdiam di sofa tanpa melihat Reyandra.
"Aah… Sampaikan terima kasih buat tante ya… (melihat kearah Islandzandi terdiam masih cemberut) Saya mandi dulu ya, kamu bisa tunggu sebentar?"
"Nggak usah, aku udah mau pulang kok!"
Islandzandi pun membawa jacket dan tas yang dibawanya tadi dan hendak pergi, saat Islandzandi berjalan melewati Reyandra, Reyandra pun memegang lengan Islandzandi.
"Pasti kamu juga banyak pertanyaan tentang perempuan yang tadi kamu lihat kan?"
Lalu Islandzandi pun duduk lagi di sofa ruang tengah masih terdiam.
Beberapa menit kemudian…
Reyandra yang sudah mandi dan berganti pakaian dengan pakaian santai…
"Kamu udah makan?"
"Udah! (melihat Reyandra masih kesal) Kenapa kamu nggak bilang dari awal kalau ada teman yang nginap dirumah? Kamu tau, tadi dia setengah telanjang pas dia nyamperin aku!"
"Setengah telanjang?" melihat Islandzandi kaget.
Reyandra hanya tersenyum.
Sementara Islanzandi masih cemberut kesal karena photo Reyandra dan wanita lain di Laptopnya.
"Kamu pikir itu lucu? Aku kaget banget liat dia ada disana…"
"Iya maafkan saya, saya benar-benar lupa kalau kamu bisa keluar masuk ke Apartement saya… Karena biasanya yang masuk Apartement saya hanya saya dan Erik…
Islandzandi terdiam. "H... cuma Erik? Trus cewek itu nggak pernah ke Apartement kamu gitu? (ucapnya menyelidik) Aku juga liat gossip kamu sama cewek itu di media sosial! Hmm... Bener-bener dewasa ya dia... Orang lain pun nyebut kalian pasangan yang serasi..." Reyandra terdiam sejenak.
Saya harus bilang kalau saya pernah berpacaran dengan Eolia dan sekarang kami masih berhubungan meskipun sebagai partner kerja…
"Island… Wanita itu memang pernah dekat dengan saya…"
Islandzandi tersenyum kecut. "Hah… Jadi emang bener kan kamu pacaran disana?"
"Hanya satu tahun Island…"
"Tapi dalam setahun itu kamu pernah cinta sama dia dan sayang sama dia Rey… Sedangkan aku disini terus nunggu kamu tanpa pernah pacaran sedikitpun dengan cowok laen!"
"Saya tau, dan saya juga minta maaf… Itu karena saya tidak enak dengan ayahnya... Jadi saya terpaksa menerima Eolia jadi pasangan saya... Eolia tau kalau saya tidak mencintainya makanya kami sepakat untuk memutuskan hubungan itu."
"Apa kamu pernah tidur sama dia?" tanya Islandzandi serius melihat ke arah Reyandra.
"Dia memang suka datang ke Apartement saya, dan saya tidak pernah sekalipun tidur dengan dia!"
Islandzandi menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Aku nggak tau harus gimana, tapi dengan kejadian ini aku baru sadar, kalo aku itu nggak tau apa-apa tentang kamu! Dan ternyata omongan Aufar bener…" ucap Islandzandi kecewa.
Reyandra terdiam berfikir. "Apa yang harus saya lakukan supaya kamu kembali percaya lagi pada saya?"
Islandzandi hanya terdiam melihat Reyandra serius lalu tak lama Islandzandi pun menghela napas panjang.
"Aku butuh waktu Rey..."
"Saya antar..."
"Nggak usah! Tadi aku udah minta jemput Aufar..."
Reyandra terdiam kecewa. "Baiklah... kalau itu memang kemauan kamu..."
Islandzandi terdiam sedikit ragu melihat kearah Reyandra lalu dia mulai berjalan meninggalkan Reyandra yang masih terdiam.
**
Di parkiran...
Aufar sudah menunggu di dalam mobil sambil menyetel musik...
Saat Island masuk ke dalam mobilnya sambil menangis.
Aufar yang tadinya sedang menyanyi kaget melihat kearah Islandzandi yang sedang menangis.
"Lo kok nangis? Sama Reyandra?"
"Ternyata apa yang lo omongin itu bener... Cewek yang waktu itu gue liat di internet emang mantannya Reyandra, dia pernah pacaran selama satu taun disana Far... Gue kecewa sama Reyandra Far... Gue kira dia setia sama gue, nungguin gue, gue aja disini rela nggak pacaran demi nungguin dia..."
Aufar terdiam. "Ya udahlah... Nggak usah dipikirin tar muka lo jelek mikirin dia terus... Sedangkan dia mana ada nggak mikirin lo..."
"Lo temenin gue malem ini ya... Gue pengen minol..."
Aufar terdiam berfikir. "Pengen sih gue nemenin lo, tapi... nyokap gue kambuh lagi... jadi gue nggak bisa lama-lama diluar..."
Islandzandi terdiam menyeka air matanya "Seriusan? Kalo gitu gue mau ke rumah lo deh sekalian liat nyokap lo..."
Aufar tersenyum. "Nah gitu dong... Jangan nangis lagi gara-gara dia ya... Rugi tau!" Mereka pun menjalankan mobilnya berlalu dari Apartement Reyandra.
**
Seminggu kemudian...
Di Svetovska Company...
Pukul 18.00 malam...
Di ruang Direktur...
Reyandra sedang berdiri di jendela menatap keluar sambil berfikir.
Hah... Island benar-benar marah... selama hampir seminggu ini dia sama sekali nggak menghubungi saya...
Tak lama Eolia datang ke ruangannya sambil membawa tasnya dan sebuah majalah.
Eolia melemparkan majalah ke meja. "Kenapa kamu nggak bilang kalo Erik jadi model lagi? (Reyandra hanya terdiam melihat photo di majalah itu Erik dan Islandzandi) Hah... Harus di gimanain sih anak itu semaunya aja!"
"Sudahlah, itu memang keahliannya Erik... Dan dia nggak bisa dipaksa, kalau kamu paksa dia, dia malah akan semakin tidak benar! Kamu tau sendiri kan Erik orangnya seperti apa..."
"Hah... (terdiam) Kamu ini selalu saja membelanya! (melihat Reyandra heran) Tumben malam minggu kamu nggak pergi sama Island? Biasanya pulang cepet melulu saking kangennya sama Island..."
Reyandra tersenyum masam. "Island sedang marah, hampir seminggu ini dia tidak memberi kabar pada saya..."
"Hm... Marah kenapa lagi dia?"
"Dia baru tau kalau disana saya pernah pacaran denganmu..."
Eolia terdiam tidak percaya. "Hah... Hanya karena alasan itu? Tapi kan itu sudah lama... Childish banget sih jadi perempuan... (melihat Reyandra yang masih terdiam) Ya udah kita hangout yuk... Udah lama nggak jalan bareng..."
"Sepertinya hari ini saya pulang saja ke Apartement ada beberapa file yang harus saya kerjakan..."
"Iiihh... malam minggu loh ini, besok juga bisa kan..."
"Saya lagi pengen di rumah aja..."
"Ck... nggak seru ah! Ya udah..." ucao Eolia cemberut.
Reyandra tersenyum. "Maaf ya Eolia..."
Eolia pun berjalan pergi meninggalkan Reyandra yang masih terdiam.
Sementara Reyandra masih terdiam melihat Eolia pergi dari ruangannya sambil memejamkan mata berfikir.
**
Di salah satu Bar tempat David…
Pukul 10.00 malam…
Islandzandi dan Haura sedang duduk sambil meminum minuman yang disediakan oleh David.
Sementara David sedang memainkan Bass nya dipanggung mini yang disediakan di Bar itu...
"Hah... Selama seminggu ini kita tiap hari loh minum disini... Lo nggak bosen apa?"
"Ya udah sih gue yang bayarin ini... Lo tinggal dengerin keluh kesah gue aja bisa nggak?"
"Ya.... Kalo keluh kesah lo soal Reyandra terus-terusan gue juga bosen kali! Gue nggak enak tau sama bokap nyokap lo, disangkanya gue lagi yang ngajakin lo minum-minum..."
Islandzandi terdiam sejenak. "Ra... Harusnya kan kalo gue ngambek atau gue pulang dia cegah gue kan supaya gue nggak pulang? Atau hibur gue kek supaya gue nggak ngambek lagi!"
"Udahlah, lo ngarepin sikap kayak gitu dari Reyandra… Gue kasih tau ya, dia itu nggak bisa kalo Cuma dikasih kode kayak gitu, emang Aufar?! Reyandra itu harus ngomong langsung, lo maunya kayak gimana?"
"Ya… Kalo nggak, dia nyamperin kek, cari gue… Baik-baikin gue kek…
"Yaa, lo nya juga kan ngomongnya butuh waktu… Mungkin Reyandra emang mau ngasih lo waktu buat mikir..."
Islandzandi terdiam. "Iya sih… (cemberut) tapi gue kangen dia Ra...."
"Ya udah, mendingan lo yang ngehubungin dia duluan… Buang gengsi lo… Daripada lo kayak gini terus… Bilang yang sebenernya apa yang lo mau… Kalo nggak bilang ya mana Reyandra tau…"
Islandzandi melihat Haura. "Lo… Anterin gue ke Apartemennya ya… Sekarang!"
"What?! No… Island!" Islandzandi pun menarik tangan Haura pergi dari Bar itu, Haura melihat David yang masih main Bassnya itu. David pun melihat kepergian mereka terdiam.