Islandzandi

Islandzandi
Kecelakaan Aufar 2



Haura, Karin dan Islandzandi pun hanya menangis melihat Aufar dari kejauhan. Reyandra dan Pak Indra hanya bisa berdiri di belakang mereka.


Reyandra memegang pundak Islandzandi menenangkan Islandzandi.


Tak lama salah satu perawat berjalan ke luar ruangan.


"Apa kalian keluarga pasien?"


"Saya dosen dan mereka adalah teman-temannya… apa ada masalah serius?" ucap Pak Indra.


"Aku udah ngasih kabar sama orang tuanya… Mereka lagi dalam perjalanan." ucap Islandzandi.


"Begini Pak, Mba, pasien banyak mengeluarkan darah dan membutuhkan golongan darah AB, sedangkan disini persediaan Golongan darah AB sedang kosong… apa kalian ada yang bergolongan darah AB?"


Haura, Karin, Pak Indra dan Islandzandi terdiam karena golongan darah mereka berbeda dengan Aufar. Sementara Reyandra terdiam berfikir.


"Saya AB anda bisa mengambil darah saya… Tapi tolong selamatkan Aufar!"


Islandzandi melihat Reyandra. "Rey…" ucapnya memegang tangan Reyandra masih menangis.


"Baiklah silahkan anda ikut dengan saya…" ucap Suster itu langsung kembali ke dalam ruang tindakan.


"Hey... Island, liat saya... kamu berdoa saja yang terbaik ya…" ucap Reyandra sambil mengusap kepala Islandzandi lembut tersenyum lembut ke arah Islandzandi.


"Makasih ya Rey…" Karin.


Reyandra pun berjalan ke dalam ruangan. Perawat pun menutup gorden jendela agar mereka tidak bisa melihatnya.


"Sebaiknya kalian menunggu sambil duduk… ini pasti akan membutuhkan waktu yang lama…"


Haura, Islandzandi dan Karin pun duduk lalu memeluk satu sama lain sambil menangis.


Satu jam kemudian ada beberapa polisi berjalan kearah mereka.


"Apa kalian keluarga pasien yang bernama Aufar?" ucap salah satu polisi.


"Keluarganya belum datang Pak, saya dosen walinya Aufar dan mereka teman-temannya Aufar…"


"Apa pasien belum sadar?" Polisi.


"Iya, Pak. Dia sedang ditangani oleh dokter, kami juga sedang menunggunya."


"Ini kecelakaan tunggal, karena pegemudi mabuk dan menjalankan mobil dengan kecepatan diatas 180/km, maka kami sedang menyelidikinya, untung saja tidak ada korban lain."


"Apa? Mabuk?" ucap Karin kaget.


"Nggak mungkin, Pak. Aufar nggak mungkin nyupir sambil mabuk!" sanggah Islandzandi.


"Mereka sedang balapan dan kami sudah mengamankan beberapa teman-temannya di kantor polisi."


Islandzandi, Karin, Haura terdiam berfikir.


Ini pasti gara-gara gengnya Aufar, mereka pasti maksa Aufar buat balapan sama mereka…


Polisi memperhatikan Islandzandi dan Karin. "apa ada yang kalian ketahui?"


"Nggak ada Pak!" Karin.


Islandzandi hanya terdiam. Haura merangkul Islandzandi menenangkannya.


Masih di depan ruang tindakan…


Tak lama Dokter yang menangani Aufar keluar dengan memakai masker dan masih memakai Handscoon.


"Bagaimana keadaan AUfar dok?!" ucap Karin yang langsung gercep menghampiri dokter Vian.


Tak lama Reyandra pun menyusul Dokter Vian keluar dari ruangan itu sambil memegang tangannya bekas suntikan dengan kapas. Islandzandi langsung berdiri dan menghampiri Reyandra.


"Rey…" ucap Islndzandi cemas dan membantu Reyandra.


"Saya nggak apa-apa Island…"


"Apa kami sudah bisa bertanya pada pasien?" Polisi.


"Untuk sekarang masih belum bisa, Pasien sedang dalam keadaan tertidur. Mungkin nanti anda bisa kesini lagi dan bertemu dengan pasien untuk bertanya jika pasien sudah sadar. (melihat kearah Karin dan teman-temannya) Dan masa kritisnya sudah lewat, sekarang hanya tinggal menunggu Aufar untuk bangun, (melihat Perawat keluar) tolong kamu telpon ruangan untuk pasien atas nama Aufar karena dia sudah bisa dipindahkan ke ruang pemulihan." Jelas Dokter Vian.


"Baik Dok!" ucao Suster sambil berlalu dari hadapan mereka.


"Baiklah, terima kasih atas informasinya, kami akan kembali lagi besok!" Polisi.


"Sama-sama pak! (melihat Reyandra) kau sudah tidak apa-apa kan? Harus istirahat dan minum vitamin karena kami mengambil darahmu lumayan banyak… kalau begitu saya permisi dulu…" ucap Dokter Vian sambil melihat ke arah Reyandra.


"Terima kasih dok!" Pak Indra.


Dr Vian berlalu dari hadapan mereka.


Tak lama kedua orang tua Aufar datang kearah mereka.


"Astaga, Island. apa yang terjadi?" ucap Bu Merry menghampiri Islandzandi.


"Mana sekarang Aufar? Bagaimana dia?" Pak Jeny Ayah dari Aufar sendiri.


"Aufar sekarang sedang didalam om tante, tapi masih belum sadar, baru aja ditindak sama dokter." jelas Islandzandi sambil memeluk Bu Mery yang sedang menangis.


Tak lama keluar perawat dibarengi Aufar yang sedang terbaring lemah sudah memakai pakaian rumah sakit dan sudah bersih dari darah yang tadi mengalir. Perawat itu membawa Aufar ke ruang pemulihan.


"Ya ampun Aufar…" ucapnya sambil mengikuti Aufar yang dibawa ke ruangan pemulihan.


Pak Jeni terdiam. "Hah… anak itu kenapa lagi sih? bikin masalah saja! (ucapnya jengkel sekaligus khawatir lalu melihat kearah Pak Indra) ah, anda dosen walinya Aufar ya? Terima kasih karena sudah datang kesini… (melihat Islandzandi, Haura dan Karin) lebih baik kalian juga pulang! Apalagi kamu Island! Nanti Diandra khawatir sama kamu…"


"Iya Om… Aku udah bilang papah kok, papah juga udah tau kalo Aufar masuk rumah sakit…"


"Hah… Pantas saja dia telpon terus… Ya sudah kalian pulang saja, biar om dan tante yang mengurus sisanya. Bilang sama orang tuamu kalau semua baik-baik saja"


"Baik Om…"


"Sekali lagi terima kasih!" ucao Diandra sambil pergi berjalan mengikuti Bu Merry.


"Nah, sebaiknya kita pulang juga… saya antar kalian sampai stasiun ya…"


"Iya, Makasih Pak!"


Karin terdiam. "Ah, iya, makasih Pak…."


**


Di Apartement Reyandra…


Pukul 18.00 malam…


Islandzandi sedang tidur di ruang tengah karena kecapean.


Sementara Reyandra yang baru bangun dari tidurnya berjalan dan melihat Islandzandi masih di rumahnya. Islandzandi sedang tertidur di sofa. Reyandra menghampiri Islandzandi dan duduk di samping Islandzandi yang sedang tertidur pulas.


"Kau masih disini? Sebegitu khawatirnya kamu sampai tidak mau saya antar pulang dan memastikan saya tidur." ucap Reyandra tersenyum sambil membelai rambut Islandzandi.


"Hmmmhh… (membuka matanya melihat Reyandra yang sedang tesenyum padanya) kamu udah bangun..."


"Kamu belum pulang… nanti Om Diandra sama tante Audrey khawatir…"


Islandzandi beranjak bangun dan duduk di sebelah Reyandra. "Oh… tenang aja, aku bilang sama Mam kalo aku mampir kesini. Aku juga udah bilang Aslan kalo pemorenan hari ini di cancel karena kondisi Aufar. (melihat Reyandra) kamu udah nggak apa-apa kan?"


"saya udah baikan, kan saya bilang tidur sebentar aja udah cukup…" jawab Reyandra melihat Islandzandi yang terdiam. "Sebaliknya yang kenapa-kenapa itu kamu kan? Liat Aufar kayak tadi…"


Islandzandi berfikir. "Sebenernya udah sering sih Aufar luka-luka karena kecelakaan gara-gara gengnya, tapi aku baru liat Aufar luka parah kayak tadi, aku sedikit kaget aja…" melihat Reyandra lalu tersenyum ke arah Reyandra.


Reyandra mengusap kepala Islandzandi. "Besok kamu harus besuk Aufar lagi kan…"


"Iya, besok aku mampir ke Rumh Sakit lagi!"


Reyandra terdiam melihat Islandzandi sambil tersenyum kecut.


**


Di Svetovska Company…


Pukul 09.00 pagi…


Reyandra dan Tama sedang berjalan berkeliling sendirian memperhatikan para pegawai yang sedang bekerja di setiap Divisi…



"Bagaimana Pak? Apa ada seseorang yang bisa anda ajak bekerja sama selain Ryu Sera?"



Reyandra terdiam. "Hah memang sampai sekarang belum ada, dan saya tidak bisa mempercayai Ryu Sera, karena meskipun dia dengan senang hati membantu saya, dan saya juga tau kalau dia punya maksud lain…"


Tama tersenyum. "Anda memang luar biasa, bisa menilai orang dengan hanya kelakuannya saja!"


Reyandra masih terdiam di bagian Desain dan melihat kearah Bu Khanza kepala Divisi Desian dan Taufik asisten yang dipercayainya sedang berbicara dengan serius.


Tama terdiam berfikir. "Apa anda akan membiarkan nona Island berada disisi Aufar?"


"hm… untuk sekarang Aufar pasti membutuhkan Island… meskipun hati saya tidak mengjinkan tapi ini yang terbaik buat kesembuhan Aufar." Reyandra terdiam berfikir cemas.


Tak lama Ryu Sera berjalan kearah Reyandra dan Tama.



"Pak, data yang anda minta sudah ada apa bapak akan melihat sekarang?"


Tama dan Reyandra melihat kearah Ryu Sera.


"Hm… saya kesana…" ucap Reyandra berjalan melewati Ryu Sera dengan dingin, Tama pun mengikuti di belakangnya.


Sementara Ryu Sera terdiam melihat kearah Reyandra yang sedang berjalan.


Ck... Hah… Masih bersikap dingin, apa dia memang kayak gitu? Bagaimana cara menarik perhatiannya ya? Sudah beberapa cara aku lakuin tapi gagal! Apa dia benar-benar punya pacar seperti yang digosipkan dimedia?


**


Di Rumah Sakit H…


Pukul 15.00 sore…


Di ruang pemulihan Aufar…


Bu Merry, Islandzandi, Haura dan Karin duduk menunggu Aufar yang masih belum sadar.


"Terima kasih kalian sudah datang menjenguk Aufar…"


"Nggak apa-apa tante, kita kan teman Aufar, bagaimana pun kami juga khawatir sama keadaan Aufar…" ucap Karin.


"Hah… anak ini tidak sadar kalau banyak orang yang menyayanginya, kenapa dia terus melakukan yang bisa membuatnya seperti ini sih?! Melihat Islandzandi yang terdiam) kalian tidak bertengkar kan Island?"


"Ya?! (kaget dengan pertanyaannya) eu… sedikit tante… tapi aku nggak tau bisa sampe kayak gini!"


"Hah… anak ini! Selalu saja membuat kami khawatir!" ucap sang Ibu samvil memperhtikan Aufar.


"Aku minta maaf tante, gara-gara aku Aufar jadi mengalami kecelakaan kayak gini!" Islandzandi menyesal.


"Tidak apa-apa, tante sudah tau sifat Aufar…"


Karin terdiam melihat Islandzandi. Tak lama Handphone Islandzandi berdering Line Message. Islandzandi pun melihat pesannya.


...“Reyandra...


...kamu masih di rumah sakit?"...


..."Islandzandi...


...iya, aku masih disini, kamu jadi mau jemput? Aku ada pemotretan loh… nggak apa-apa kamu nunggu lama?"...


...“Reyandra...


...kalau begitu saya jemput jam 4 saja…”...


..."Islandzandi...


...ok!"...


Karin terdiam melihat Islandzandi terdiam kesal.