Islandzandi

Islandzandi
Tempat Bercerita Yang Nyaman



Freya terdiam setelah menceritakan kisah hidupnya yang tragis. Setelah dia dilahirkan disaat itu pulalah dia kehilangan Ibunya, dan Ayahnya tentu saja menyalahkan Freya karena dia lahir Istrinya meninggal, dia tidak mau mengurus Freya dan pergi dari Indonesia, sedangkan Freya diurus oleh kedua orang tua Islandzandi yaitu kakek Neneknya, dan setelah kakek neneknya meninggal karena kecelakaan, akhirnya hidupnya sekarang diurus oleh adik dari ayahnya yang berada di Indonesia yaitu Om Erik dan istrinya Tante Haura.


Freya mengeratkan genggamannya pada secangkir coklat panas yang dibuat Orion lalu menghela napas perlahan. Ditatapnya Orion yang duduk di sampingnya, mendengarkan ceritanya dengan penuh perhatian.


"Harusnya setelah minta maaf seseorang itu nunjukin rasa penyesalannya kan?" Freya bertanya pelan dan Orion mengangguk. Perempuan itu mendengus. "Harusnya setelah ayah bilang semua itu, dia berusaha buat ngebaikin saya, biar saya Nerima lagi dia dan maafin dia... tapi ini apa? Dia ngulang lagi dan sibuk dengan kerjaannya, bahkan sampai dia sakit pun saya ga tau dan ga bisa liat dia... Kayaknya saya emang ga pantes buat Nerima kasih sayang orang tua ya?! I don't deserves to belove..."


Orion menggeleng lantas bergeser mendekat. Ditariknya Freya ke dalam pelukannya. "Engga, nggak gitu. Nggak ada seorang pun di dunia ini yang nggak pantes nerima kasih sayang, Frey." Orion mengusap rambut Freya dengan lembut. "Termasuk kamu."


Mendengar perkataan Orion justru membuat pertahanan Freya kembali runtuh.


Tangisannya kian tidak terkendali. Dia memang bisa menjadi selemah ini jika sudah membahas tentang keluarganya.


Sebenarnya Freya tidak pernah membicarakan masalah keluarganya sampai sedetail ini pada siapa pun, bahkan pada Rania dan Arkana sekali pun. Dia juga tidak mengerti kenapa pada akhirnya malah menjadikan Orion tempat bercerita.


Mungkin karena Orion memberinya rasa nyaman?


"Saya nggak bisa bicara banyak soal orang tua kamu. Karena menurut saya yang orang luar pun, tindakan nggak bertanggung jawab mereka itu salah besar." Orion berhenti sejenak dan menghela napas berat. "Ini pasti berat banget buat kamu."


"Seandainya dulu saya nggak pernah lahir, mungkin akhirnya nggak akan gini. Ibu masih ada dan Ayah pun nggak akan pergi dari sini..." Naya bergumam pelan di tengah isakannya.


Orion tersentak lantas melepas pelukannya. Tangannya menyentuh dagu Freya, membuat perempuan itu menatapnya.


"Hei, dengerin saya, Frey." Orion berujar perlahan. "Berhenti nyalahin diri kamu sendiri. Ini sama sekali bukan salah kamu. Nggak ada anak yang pernah minta buat dilahirkan ke dunia. Bukan salah kamu kalau Ayah kamu nggak bisa bertanggung jawab atas diri kamu, bukan salah kamu kalau kamu nggak dapet kasih sayang yang seharusnya diterima dari keluarga. Itu sepenuhnya kesalahan orang Ayah kamu."


"Saya nggak bermaksud bikin kamu semakin benci Ayah kamu. Saya cuma pengen kamu sadar nggak seharusnya kamu terus-terusan nyalahin diri sendiri di kondisi ini. Karena di sini kamu korbannya, Frey." Orion berhenti sejenak lalu perlahan mengusap air mata Freya dengan jemarinya. "Mungkin Ayah kamu punya alesan atas sikapnya selama ini Ama kamu. Alesan yang mungkin bakalan sulit kita pahamin. Tapi apa pun itu, kalau emang dia Ayah yang baik, suatu saat nanti dia pasti kembali sama kamu."


Freya terdiam mendengar ini.


"It will happen, believe me." Orion berujar lalu kembali menarik Freya ke dalam pelukannya. Menyandarkan kepala perempuan itu di dadanya sementara tangannya bergerak mengelus kepalanya dengan menenangkan.


"Maaf ya, Pak, dari tadi saya nangis terus." Freya bergumam pelan. "Maaf juga saya malah cerita soal masalah saya."


Orion justru tersenyum kecil mendengar ini dan mengeratkan pelukannya. "Nangis itu emosi yang wajar ditunjukin seseorang waktu sedih. Perasaan kamu jadi lebih baik setelah nangis dan ceritain masalah ini 'kan?"


Freya mengangguk berkali-kali menanggapi ini. Dia lalu bergumam pelan, "Makasih, Pak."


Perlahan kedua tangan Freya membalas pelukan Orion, melingkari pinggangnya dengan agak ragu. Wajahnya dia benamkan di kemeja yang Orion kenakan, membuatnya dapat memghirup harum parfum pria itu. Meski sakit di hatinya belum sepenuhnya hilang, Freya tersadar kini dia sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya.


Dulu, sebelum dia mengenal Orion, dia selalu menangis sendirian tiap kali mengingat Ayahnya. Yang bisa dilakukannya hanya tidur meringkuk sendirian di kamarnya, memeluk bingkai foto Ibunya. Bi Imas yang ingin membantunya, biasanya selalu datang ke kamarnya mengantarkan secangkir coklat panas.


"Waktu saya kecil, setiap Om Erik sama Tante Haura berantem, kak Kenan selalu nemenin dan meluk saya. Tapi suatu hari, kakak saya nggak ada di rumah, saya sendirian sementara Om sama Tante berantem." Freya berujar sambil tersenyum samar mengingat kenangan itu. "Untungnya waktu itu ada temen kakak saya dateng ke rumah, dia nggak bisa hibur saya, tapi dia jelasin ke saya kalau makan coklat bisa bikin perasaan jadi lebih baik."


Freya tidak menyadari, Orion tercenung mendengar cerita itu.


"Sejak saat itu, saya selalu makan atau minum coklat setiap perasaan saya kacau. Orang itu bener, sedikit banyak, perasaan saya emang jadi lebih baik.” Dia lalu berhenti dan mengulas senyum yang lebih lebar untuk Orion. "Tapi hari ini, saya baru sadar kalau keberadaan Bapak juga ternyata berhasil bikin saya membaik."


Freya mengeratkan pelukannya pada Orion setelah mengatakan itu.


Dulu, hanya Kenan yang mampu menenangkannya dengan sebuah pelukan. Freya tidak pernah mengira, dia bisa mendapatkan ketenangan yang sama dari sebuah pelukan selain pelukan milik kakak sepupunya itu. Mungkin karena pelukan itu dari Orion.


Mungkin karena dia Orion.


Ketika Freya membuka mata, dia sudah ada di atas kasur.


Matanya mengerjap beberapa kali dan memandang ke sekitar. Rupanya dia tengah berbaring di kamar Orion.


Sepertinya tadi setelah kelelahan menangis dia sampai jatuh tertidur di pelukan Orion, dan laki-laki itu mungkin membawanya kemari.


Freya meregangkan badannya sambil melirik jam. Pukul delapan malam. Sebelumnya dia sudah mengabari Bi Imas tidak akan pulang malam ini, alasannya masih sama seperti dulu, menginap di kosan Qila.


Samar-samar, Freya bisa mencium harum masakan dari kejauhan. Perutnya lantas berbunyi. Sekilas dia mengerling cermin, merapikan rambutnya yang berantakan, lalu cepat-cepat berjalan menuju dapur.


Di sana, rupanya Orion tengah berkutat dengan wajan. Kaca mata yang biasa dia pakai ketika bekerja kini bertengger di ujung hidungnya, sementara keningnya mengerut dalam. Dia nampak begitu serius sampai tidak menyadari presensi Freya.


Diam-diam Freya terkekeh. Tawanya itu membuat Orion mendongak dan menatapnya.


"Eh, udah bangun?" tanyanya. "Kenapa ketawa-tawa gitu?"


Freya menekap mulutnya lalu berjalan mendekat. "Engga, lucu aja liat Bapak serius gitu masaknya. Pake kaca mata segala lagi. Biar apa sih pak pake kaca mata? Emang ga keliatan itu bumbu-bumbunya?"


Orion mendecak kecil sambil mengecilkan api di kompor. Dia lalu berjalan menuju kulkas dan membaca resep yang sebelumnya Freya tempelkan di sana.


"Saya 'kan masaknya sambil liatin resep, jadi ya pake kaca mata. Kalau nggak seserius ini nanti masakannya gagal gimana?" sahut Orion kemudian. Dia kembali ke wajan dan menambahkan beberapa bumbu ke dalamnya.


"Oooh gitu." Freya mengangguk-angguk sambil mendudukan dirinya di meja makan. Bertopang dagu, dia mengamati Orion yang masih serius memasak. "Emang masak apa, sih, Pak?"


"Telur orak-arik."