Islandzandi

Islandzandi
Niatan Berhentinya Orion



Rania tahu tidak seharusnya dia berdiri menguping di depan ruangan dekan seperti ini.


Tadi dia baru saja membicarakan perihal dana untuk acara UKM yang diurusnya dengan bagian keuangan fakultas. Rania sudah berniat berjalan keluar karena tidak ada lagi alasan baginya diam lebih lama di gedung satu, tempat para petinggi fakultas. Namun kemudian dia melihat Orion dengan raut kusut berjalan memasuki ruang dekan. Rania tidak tahu apa yang dipikirkannya sampai dia memutuskan untuk mendekat dan berakhir menguping.


"Kamu tau 'kan meski kamu anak kerabat dekat saya, selama ini saya nggak pernah memandang kamu secara subjektif. Saya menilai kamu berdasarkan kinerja kamu di sini, Orion." Didengarnya dekannya berujar. “Tapi kali ini, saya mau bicara sebagai sahabat dari ayah kamu. Saya udah dengar gosip di tengah anak-anak.”


Rania melongo mendengar ini. Jadi rupanya Orion dan dekannya memiliki hubungan dekat.


"Kamu baik-baik aja?" Dekannya kembali bertanya.


Sejenak hening dari dalam.


“Dibilang baik-baik aja juga engga sih, Pak. Tapi saya rasa mahasiswa saya lebih terguncang. Efek buat dia lebih besar."


“Iya, itu udah pasti. Sebenarnya gosip seperti ini bukan pertama kalinya. Udah jadi rahasia umum soal adanya hubungan-hubungan begitu. Tapi mungkin, ini pertama kalinya identitasnya terungkap sejelas itu. Makanya, saya jadi cukup khawatir sama kondisi kamu." Dia menjeda sejenak sebelum melanjutkan, "Cepat atau lambat orang-orang pasti lupa sama gosip ini. Tapi seberapa cepatnya, atau seberapa lambatnya, nggak ada yang tau. Sepanjang waktu itu, apa kamu sanggup nanggung semua sanksi sosial dari orang-orang?"


"Saya tau perbuatan saya pasti punya konsekuensi besar. Karena itu saya udah berencana buat berhenti, Pak. Setelah saya selesaikan semua yang harus saya selesaikan." Orion menyahut, kedengaran begitu tenang.


Kedua mata Rania melebar mendengar ini. Dia menekap mulutnya tidak percaya. Haruskah? Haruskah sampai sejauh itu?


"Kamu yakin?" Dekannya bertanya, mungkin juga tidak menyangka dengan keputusan Orion.


"Saya yakin."


Rania menggelengkan kepalanya perlahan, seakan ingin menahan Orion mengambil keputusan itu. Dia berniat mendengarkan lebih jauh lagi, ketika didengarnya derap langkah mendekat dari ujung koridor. Rania tidak punya pilihan lain, sebelum orang lain memergokinya dia harus segera pergi dari sana.


Orion memang sudah mengecewakannya dengan melukai Freya. Tapi tetap saja, berhenti dari pekerjaannya, apa harus sampai seperti itu?


Dia tidak bisa membayangkan reaksi Freya jika mendengar berita ini.


***


Arkana tidak ingat kapan tepatnya. Tapi yang pasti, jantungnya mulai berdebar tidak karuan setiap kali melihat Freya tersenyum. Ada puas tersendiri setiap kali berhasil membuat Freya tergelak karena guyonannya. Kalau memungkinkan, dia ingin selalu menjadi alasan di balik senyum dan tawa Freya.


Seperti malam itu, ketika Arkana berhasil mengajak Freya menonton film yang sengaja dia pilihkan untuk mereka berdua. Senyum tidak henti terulas di bibir Freya, pertanda bahwa perempuan itu benar-benar menikmati film yang ditontonnya. Film yang dipilihkan oleh Arkana.


Arkana jelas-jelas begitu memahami selera Freya. Lagi-lagi, ada rasa puas yang menyelinap di dada Arkana memikirkan ini.


"Gimana menurut lo filmnya, Frey?" Arkana bertanya sembari mengerling Freya. Keduanya berjalan keluar dari area bioskop, menuruni eskalator yang akan membawa mereka ke lantai bawah.


Freya menoleh sekilas pada Arkana lalu menjawab, "They are too brave."


Kedua alis Arkana berjingkat tidak mengerti mendengar ini. "Hm? Terlalu berani kenapa?"


Perlahan Freya terkekeh lalu menggeleng-geleng kecil. "Ya lo bayangin aja, kok bisa-bisanya mereka berani ngorbanin persahabatan bertahun-tahun lamanya demi romantic relationship? Maksud gue, mereka udah jadi sahabat yang bener-bener saling memahami satu sama lain, istilahnya, mereka bener-bener cuma punya satu sama lain. Tapi, pada akhirnya mereka malah saling jatuh cinta. Sementara, hubungan persahabatan dan pacar itu sesuatu yang beda banget 'kan?" Freya menelengkan kepalanya seakan tengah berpikir keras.


"Ketika lo berantem sama sahabat lo, seburuk apa pun pertengkarannya, masih tetep ada kemungkinan buat damai lagi, buat kembali lagi kayak sedia kala. Tapi kalau itu terjadi sama pasangan lo, kalau lo ribut sama pacar lo, belum tentu semuanya bisa balik lagi kayak semula, ‘kan? Makanya ada sebutan mantan pacar, tapi nggak ada mantan sahabat."


Arkana terpekur mendengar ini. Senyumnya seketika luntur. Langkahnya pun perlahan melambat. Begitu saja, dia telah tertinggal di belakang Freya yang masih tidak menyadari Arkana sudah berhenti berjalan. Dalam diam, Arkana memandangi punggung Freya yang berjalan menjauh.


Jadi ... itulah yang Freya pikirkan?


Namun, perlahan perkataan Freya tadi mulai memenuhi kepala Arkana. Bukankah apa yang dikatakan Freya memang ada benarnya?


Seperti dirinya, dia hanya memiliki Freya. Dia tidak pernah punya teman lain selain Freya. Sejauh ini hanya Freya yang benar-benar memahami Arkana dan mengenalnya dengan begitu baik. Bisakah Arkana menukar Freya, sahabat berharganya yang selalu ada untuknya, demi sebuah hubungan yang tidak memiliki kepastian akan berujung ke mana, akan berakhir sampai kapan? Mampukah Arkana jika suatu ketika harus kehilangan Freya karena perasaan egois yang dia miliki?


Arkana mengerjap pelan, kemudian menatap Freya beberapa saat dalam diam. Membuat perempuan itu kian keheranan.


"Kenapa, sih?" Freya bertanya lagi, kali ini kedengaran lebih khawatir mungkin takut Arkana kerasukan sesuatu.


"Kalau lo sendiri gimana, Frey?” Alih-alih menjawab, Arkana justru balik bertanya.


Kening Freya seketika mengerut. Sama sekali tidak mengerti maksud pertanyaan Arkana tadi. "Maksudnya? Apanya yang gimana?"


"Tadi lo bilang tokoh di film itu terlalu berani ngambil langkah kayak gitu." Arkana berujar setelah menghela napas pelan. Dia lantas menatap Freya. "Kalau lo yang ada di posisi mereka, lo bakalan gimana, Frey? Apa yang bakal lo lakuin? Keep the friendship and burry your feeling, or just take a step forward to fulfill your love?"


Kini giliran Freya yang tercenung. Benar-benar tidak mengira Arkana akan tiba-tiba bertanya begitu.


Freya tidak langsung menjawab pertanyaan Arkana. Dia berpikir agak lama, sembari balas menatap pemuda itu dalam diam. Freya lantas menghela napas dan menggeleng pelan.


"I won't ruin my friendship." Freya bergumam pelan sembari menatap Arkana lurus-lurus. "Gue nggak mau ngorbanin persahabatan gue demi hubungan yang rentan berakhir."


Jantung Arkana terasa mencelus sampai ke dasar perut mendengar ini. Rasanya seperti mendapat penolakan bahkan sebelum dia sempat melakukan apa pun. Seakan-akan dia telah diminta untuk melangkah mundur sebelum sempat bersiap mengambil langkah maju.


Arkana lantas melepaskan tawa hambar dan menundukan kepala dengan lesu, membuat Freya menatapnya dengan heran.


Benar. Freya memang ada benarnya. Dia pun tidak ingin kehilangan sosok Freya hanya demi hubungan yang bisa berakhir kapan saja.


"Well, gue setuju sama lo, Frey." Arkana berujar setelah beberapa saat hening."Gue setuju. Nggak ada yang lebih pantas dipertahanin selain hubungan yang menjanjikan selamanya."


Freya tersenyum kecil dan mengangguk setuju.


Tapi keduanya tentu tidak pernah menyadari, bahkan persahabatan mereka, tidak pernah menjanjikan selamanya. Sebab ketika Arkana memutuskan berhubungan dengan banyak perempuan demi mengubur perasaannya untuk Freya, retakan itu mulai muncul dan mengantar mereka pada jarak yang selama ini selalu keduanya hindari.


***


Akhirnya, mereka kembali duduk berhadapan. Alunan musik klasik yang diputar ke seluruh kafe entah kenapa tidak berhasil memberikan efek rileks bagi keduanya.


Freya menangkupkan kedua tangannya pada cangkir teh chamomilenya, berusaha mencuri kehangatan dari sana.


Sementara tatapannya jatuh pada pemuda di hadapannya yang sejak tadi memandang ke mana saja selain ke arahnya. Suasana ini terasa canggung. Kelewat canggung. Freya tidak pernah merasa secanggung ini ketika bersama Arkana.


"Jadi ...."


"Sori."


Freya mengerjap kaget begitu Arkana tiba-tiba mendongak menatapnya dan menggumamkan kata maaf.


"Buat?"


Perlahan Arkana menghela napas. Mungkin dia pun lelah dengan kecanggungan yang mengisi atmosfer di sekitar mereka.


"Karena udah nyebabin semua kekacauan ini." Dia mengibaskan tangannya di udara, seakan ingin menggambarkan kekacauan yang tadi disebutkannya. "Dan ... karena udah suka sama lo."


Kening Freya seketika mengerut mendengar ini. Dia menggeleng menyanggah pernyataan Arkana tadi. "Lo bukan penyebab kekacauan yang terjadi sama gue, Ar." Dia berhenti sejenak, ragu mengatakan ini. "Dan rasa suka juga bukan suatu kesalahan."


"Giana yang nyebarin foto-foto itu, karena dia marah sama gue. Karena gue nggak bisa ngontrol perasaan gue buat lo." Arkana menjelaskan dengan nyaris frustasi. "Ini semua salah gue. Seandainya gue nggak naruh perasaan buat lo, seandainya gue serius sama Giana, penderitaan lo nggak akan bertambah, Frey."