
"Nggak tau, gue bingung, Ran." Freya berujar sambil menatap Rania yang balas menatapnya dengan prihatin.
"Tadi gue ketemu Arkana, Aubrey, terus Kak Evan. Banyak yang gue obrolin. Kepala gue mau pecah.”
Rania tersenyum kecil kemudian mendekat untuk mengusak kepala temannya itu. "Ya udah, jangan terlalu banyak mikir dulu. Kalau kepala lo pecah beneran nanti gue yang repot."
Freya terkekeh mendengar ini. Dia benar-benar harus bersyukur memiliki teman seperti Rania yang selalu bisa membuatnya tersenyum di saat terberat sekalipun.
"Gue mandi dulu deh, biar pusingnya agak ilang." Freya beranjak bangun lalu berjalan menuju kamar mandi. “Minjem piyama dong, Ran."
Rania mengambil satu stel piyama dari lemarinya dan menyodorkan pada Freya. "Jangan lama-lama lo mandinya. Ntar kesambet setan."
"Sembarangan!" Freya mendengus.
Tepat ketika Freya masuk ke dalam kamar mandi, ponsel Rania berdenting pelan. Sebuah pesan masuk.
Pak. Orion :
Rania, saya janji ini bener-bener permintaan terakhir, Bisa tolong carikan kontak Ayahnya Freya yang bisa saya hubungi?
Kening Rania seketika mengerut membaca ini.
Untuk apa?
Mulanya dia ingin segera menolak. Tapi kemudian teringat kembali pada kejadian tempo hari. Ketika Orion terang-terangan membela Freya di depan semua orang, lalu ketika dia memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Rania akui itu tindakan yang beresiko besar. Dan Orion rela melakukannya demi Freya.
Sambil berpikir Rania menggigiti ujung jarinya.
Baiklah. Sekali ini saja. Sekali ini saja ia membantu Orion lagi.
Rania :
Buat apa kalau saya boleh tau, Pak?
Tak lama balasan segera muncul.
Pak. Orion :
Ada yang harus saya selesaikan, Saya janji ini buat kebaikannya Freya juga
Perlahan Rania meraih ponsel Freya dan membukanya. Dia tahu password-nya karena sering menggunakannya, meski sebelum-sebelumnya bukan untuk menyalin nomor orang lain. Bahkan sebagai sahabatnya pun, Rania masih merasa tindakannya ini agak tak sopan, tapi dia tidak punya pilihan lain 'kan? Orion bilang ini demi kebaikan Freya. Dan Rania benar-benar berharap memang benar seperti itu.
Begitu dapat, Rania segera mengirimkannya pada Orion.
Ponsel Freya yang masih berada. dalam genggaman Raniw mendadak bergetar pendek. Perempuan itu tersentak kaget ketika menyadari sebuah pesan masuk dari nomor yang tadi disalinnya. Nomor Ayahnya Freya.
Orion memandangi sederet nomor yang baru saja dikirim Raniw. Dia tidak menyangka Rania akan secepat itu mengirim nomor Ayah Freya padanya.
Sebenarnya, bukan tanpa alasan Orion meminta nomor itu. Tatapannya lantas beralih pada layar komputernya yang menyala. Menampilkan cuplikan video yang sempat direkamnya beberapa waktu lalu. Dalam video itu Freya tengah tersenyum sedih, berbicara di depan kamera tentang alasannya memilih Lembang sebagai tempat untuk dikunjungi.
"Mm, Ibu saya. Ibu saya alesannya, Pak." katanya perlahan. Dia lalu melepas tawa kecil. "Dulu Nenek saya pernah bilang, Ibu saya suka banget sama Lembang, ada kenangan manis disini. Katanya tiap ada waktu santai Ibu dan Ayah saya pasti pergi ke Lembang. Bodohnya, saya nggak pernah tau lokasi pasti yang sering Ibu saya kunjungin itu di mana. Dan karena tempat ini emang lagi populer, ditambah ada kamera, ya udah saya putusin dateng ke sini."
Dari belakang kamera kemudian terdengar suara Orion, "Kalau gitu... seandainya bisa, ada pesan yang pengen kamu kasih buat Ayah kamu?"
Setelahnya, kamera mati. Orion ingat dia segera menghentikan rekaman dan beralih menghibur Freya. Orion ingat saat itu Freya berkata dia bahagia karena dirinya.
Iya, Freya pernah merasa bahagia karena dirinya.
"Makasih karena ... Udah hadir di hidup saya."
"Saya bener-bener bersyukur kenal sama Pak Orion. Bapak nggak seperti orang lain yang datang buat nyakitin saya. Makasih, Pak.”
Freya bahkan pernah begitu berterima kasih atas kehadiran Orion dalam hidupnya. Pernah bersyukur karena Orion ada untuknya, menghiburnya, dan tidak datang hanya untuk melukainya.
Itu semua terjadi sebelum Freya tahu apa yang sebenarnya dia lakukan.
Seandainya Freya tahu lebih cepat semua niatan busuk Orion, mungkin perempuan itu tidak akan sudi berhubungan dengannya.
Orion menghela napas. Dia lalu mengetikan sederet pesan di nomor yang tadi Rania kirimkan untuknya, bersamaan dengan rekaman video yang dia miliki.
Berulang kali dia menghapus kalimat yang disusunnya, lantas mengetik ulang. Orion benar-benar ingin mengirimkan pesan terbaik yang bisa mengubah hati dan pikiran penerimanya. Dia benar-benar berharap, pesannya dapat memberikan efek yang baik.
Karena setidaknya, jika Orion tidak lagi bisa menjadi sosok yang dapat menemani Freya, dia harus mampu membuat sosok lain yang lebih berharga kembali ke hidup perempuan itu.
Maka dengan begitu, Orion dapat pergi meninggalkan Freya dengan perasaan tenang.
***
"Kamu nggak apa-apa?"
Freya menoleh begitu didengarnya Kenan bertanya. Kakaknya itu masih fokus pada roda kemudi di hadapannya, tetapi sesekali dia melirik Freya yang duduk di sampingnya.
Mungkin Kenan pun menyadari kegelisahan Freya. Sejak tadi kedua tangannya mengepal di atas paha, dia tidak berhenti menggigiti bibirnya sendiri. Freya menghela napas dan perlahan melepaskan kepalan tangannya. Dia terkejut sendiri ketika menyadari telapak tangannya berkeringat begitu banyak.
"Kita pulang ke rumah kan?"
"Nggak Kak, aku mau ke apartemen Ayah lagi... aku kayaknya udah nyaman tinggal di sana."
"Bukan karena kamu nggak mau ketemu Kakak kan?"Freya terdiam.
"Soal Orion, Kakak bener-bener minta maaf."
Ini bukan topik yang ingin Freya bahas, meski dia tahu cepat atau lambat Kenan akan membicarakannya.
"Ngapain minta maaf sama aku? Yang Kakak rusak masa-masa sekolahnya 'kan Pak Orion," gumamnya.
Freya bahkan tidak peduli jika perkataannya barusan menyakiti Kenan. Toh memang benar begitu 'kan.
"Kakak tau. Kakak juga nyesel ngelakuin itu semua. Mungkin Orion nggak akan pernah maafin Kakak." Kenan berujar pelan.
Ini membuat Freya kembali teringat perkataan Evan. Memang benar, memang benar Orion tidak pernah memaafkan Kenan. Rasa dendamnyalah yang kemudian menyeret Freya ke dalam masalah ini.
"Kakak nyesel pernah berbuat sebodoh, dan sejahat itu.” Kenan berujar lagi, kali ini dia menepikan mobilnya lalu memutar duduk ke samping agar bisa menatap Freya lebih baik. “Kakak nggak pernah nyangka efek dari perbuatan Kakak bisa berdampak sejauh ini, Dek. Seandainya Kakak tau, Kakak nggak akan pernah lakuin itu semua. Tapi dulu Kakak ngebiarin ego Kakak menang, dan berakhir memicu semua masalah ini. Kakak bener-bener nyesel."