Islandzandi

Islandzandi
Takdir Orion Dan Kenan



Freya :


Dalam rangka apa tuh Pak Bakhri tiba-tiba ngajakin makan-makan?


Sean melirik Bakhri dan dosen lainnya yang kini tengah serius membicarakan perihal hearing prodi siang tadi. Memang sudah jadi kebiasaan Bakhri mengundang dosen lainnya untuk makan-makan sambil membahas permasalahan di prodi mereka. Selama hearing prodi, tidak jarang para mahasiwa menyuarakan protes atau kritik yang kedengaran menyerang dan menyudutkan.


Bagaimanapun, tentunya tidak menyenangkan mendengar hal seperti itu. Tapi, sebagai dosen mereka tetap harus bersikap profesional dan tidak bisa terang-terangan menunjukan rasa tersinggung atas protes dan kritik itu. Maka pada akhirnya, acara makan-makan seperti inilah yang menjadi jalan keluarnya. Setidaknya di momen ini, mereka bisa lebih leluasa menanggapi semua saran, protes dan kritik yang diberikan para mahasiswa.


Orion lantas mengetikan balasan untuk Freya.


Orion :


Biasalah, mau diskusi lanjutan soal hearing prodi. Ngobrolin masalah-masalah yang tadi diprotes mahasiswa


Mahasiswaku :


Waduh ada diskusi lanjutan segala...


"Nah, menurut Pak Orion gimana?"


Orion cepat-cepat mendongak ketika Bakhri tiba-tiba menyebut namanya. Dia menatap rekan kerjanya itu dengan tatapan bertanya.


"Ya, Pak?"


Bakhri meringis lalu menepuk pelan lengan Orion. "Chattingan terus dari tadi, Pak Orion tuh. Sama siapa, sih? Pacarnya yang waktu itu diceritain, ya?"


Mendengar ini Orion terkekeh malu sambil mengusap tengkuknya. Dosen-dosen yang lain ikut tertawa pelan.


"Kirain saya, Pak Orion ada sesuatu sama Bu Emma," cetus Damar, rekan dosennya yang lain, sambil memasang cengiran. "Soalnya belakangan keliatan akrab banget. Ternyata engga, ya?"


"Dia langsung nyangkal waktu saya tebak gitu." Bakhri menukas sambil mengerling Orion.


Orion sendiri meringis kecil dan menggeleng. "Engga, saya nggak ada apa-apa sama Bu Emma. Sebatas rekan kerja aja."


Dosen-dosen yang lain tertawa kecil dan mengangguk menerima saja. Obrolan mengenai diskusi hearing prodi tadi pun kembali berlanjut. Orion diam-diam melirik lagi ponselnya. Dia membaca balasan dari Freya yang diterimanya beberapa saat lalu.


Mahasiswaku :


Pak Ori jodoh kali ya sama kakak saya?


Kakak saya juga lagi di Kedai Andri dong


Pak Ori masih inget mukanya nggak? Waktu di kamar saya sempet liat dari lemari 'kan?


Eh, tapi jangan sampai disapa ya Pak, 'kan ceritanya Bapak belum kenal sama dia hehehe


Kedua mata Orion melebar begitu membaca ini. Kenan ada di sini juga? Yang benar saja?


Dengan cepat dia mendongak, dan menyapu pandang ke sepenjuru ruangan. Ada banyak pengunjung yang datang, butuh beberapa saat baginya untuk menemukan pemuda itu. Dan jantungnya terasa mencelus begitu menemukan sosok yang dicarinya duduk di sudut ruangan sana, tepat di samping jendela. Kenan sendiri tengah menunduk mengisi menu pesanannya. Cepat-cepat Orion memalingkan wajahnya ke arah berlawanan.



Orion tahu bukan hal yang baik untuk menemui Kenan saat ini. Dia tidak tahu apa yang akan pemuda itu pikirkan ketika melihat Orion di sini. Namun apa pun itu, rasanya tidak akan berdampak bagus untuk hubungannya dengan Freya.


Kepala Orion bekerja dengan cepat memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Jika sampai Kenan melihatnya di sini, mengetahui pekerjaannya sebagai dosen di kampus Freya, bahkan di jurusannya, mungkin pemuda itu tidak akan tinggal diam. Mungkin pemuda itu akan bertanya pada Freya mengenai dirinya, dan berakhir menceritakan masa lalu mereka. Meski Kena yang bersalah, bukan tidak mungkin jika pemuda itu menyampaikan hal-hal yang buruk mengenai Orion pada Freya, mengingat seberapa besar rasa benci Kenan untuknya-sebagaimana dia begitu membenci Kenan. Jika sudah begitu, entah apa yang akan Freya pikirkan. Mungkin mencurigai Orion, atau malah berakhir benar-benar membencinya.


Karena tentu saja, bukankah aneh sekali jika musuh dari kakaknya tiba-tiba mendekatinya?


Orion tidak bisa membiarkan itu. Dia tidak bisa membiarkan Freya tahu yang sebenarnya terjadi dari orang lain. Orion hanya akan membiarkan Freya mengetahui semuanya dari mulutnya sendiri, sehingga dia bisa membuat Freya memahami hal ini dari sudut pandangnya.


Perlahan Orion berdehem dan menatap kolega-koleganya tidak enak hati. "Pak, maaf sekali, saya ada urusan mendadak yang harus segera ditanganin. Kayaknya saya harus pulang sekarang."


Bakhri menoleh dengan kecewa. Tapi pada akhirnya tetap mengangguk mempersilakan. "Oh ya udah, silakan Pak. Hati-hati di jalan, ya."


Orion mengangguk dan berpamitan pada dosen-dosen yang lain. Bergegas dia meninggalkan mejanya, dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Sekilas, dia bisa melihat Kenan tengah sibuk dengan ponselnya.


Atau mungkin hanya perasaannya saja?


Orion menggeleng kecil dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Menyedihkan karena di saat seperti ini malah dirinya yang melarikan diri dari Kenan, ketika sebenarnya yang telah berbuat salah di masa lalu adalah pemuda itu.


Tapi tentu saja, Orion pun sempat berniat membalas dendam lewat adik Sepupunya Kenan yang sama sekali tidak tahu apa-apa. Dia tidak sepenuhnya tidak bersalah.


***


Sambil menunggu pesanannya tiba, Kenan menyapu pandang ke sekeliling. Padahal jam makan siang sudah lama terlewat, dan makan malam masih beberapa jam lagi. Namun semua meja terlihat penuh diisi oleh pengunjung, kebanyakan mahasiswa dan pekerja. Restoran ini memang lumayan terkenal dan digemari banyak orang. Kenan saja masih merindukan cita rasa seafood-nya yang belum pernah dia temukan di restoran lain.


Pandangan pemuda itu lantas jatuh ke luar restoran. Dia memang sengaja memilih tempat duduk di samping jendela, di mana dari posisi ini, dia bisa melihat langsung ke arah mobil-mobil yang berparkir berderet dengan rapi. Atensi Kenan terhenti pada sebuah audi putih yang terparkir di seberang. Keningnya mengerut begitu menyadari beberapa hari lalu dia sempat melihat mobil itu.


Terparkir di seberang rumahnya selama semalaman sampai pagi hari. Kenan ingat, Freya memberitahunya bahwa itu mobil milik tetangga samping rumah mereka.


Tapi tentu saja, pemilik mobil seperti itu 'kan bukan hanya satu dua orang.


Pesan masuk dari ponselnya kemudian mengalihkan perhatian Kenan. Rupanya balasan dari Freya.


Freya :


Aku masih ada rapat Medfo, Kak, gabisa nyusul makan di sana :(


Padahal tiba-tiba pengen cumi asem manisnya:(


Kenan tersenyum tipis membaca ini.


Kenan :


Ya udah nanti Kakak pesen terus anterin ke rumah buat kamu


Lama nggak rapatnya? Pulang ke rumah malem?


Freya :


ASIK MAKASIH KAK


Iya jam 9 juga paling aku udah


Kenan :


Pulang sama siapa nanti?


Ojol?


Freya :


Biasa juga gitu


Kenan :


Ya udah, ati ati


Freya :


Siap, Kak


Setelah menerima balasan terakhir dari Freya, Kenan meletakan kembali ponselnya ke atas meja. Tatapannya lagi-lagi terarah ke luar jendela. Dia bisa melihat seorang pemuda jangkung berjalan memasuki audi putih yang tadi diamatinya. Dari kejauhan Kenan memang tidak bisa melihat wajah pemuda itu, tapi entah kenapa, sosoknya terasa tidak asing. Ketika audi putih itu melaju meninggalkan area parkir, Kenan lantas mendengus dan menggelengkan kepalanya pelan.


Dia pasti terlalu lelah sampai-sampai memikirkan orang asing begitu.


Sekarang Kenan hanya berharap supaya makanan pesanannya segera tiba.