Islandzandi

Islandzandi
Refreshing



Semester ganjil selalu jadi waktu paling sibuk. Freya kelelahan dengan tugas-tugas yang mulai menggunung, ditambah dengan kegiatan-kegiatan dari himpunannya. Belum lagi persiapan untuk festival budaya juga sudah dimulai. Dia dan teman-temannya mulai sibuk membuat dekorasi dan menyiapkan segala ***** bengek untuk kegiatan itu.


Festival budaya ini memang dijadikan nilai akhir salah satu mata kuliahnya, dan juga menjadi acara yang seringkali menarik masyarakat luar, sehingga mereka harus mempersiapkan yang terbaik.


Freya menghela napas memikirkan semua kesibukan yang telah dilalui selama beberapa minggu ke belakang. Dia memukul-mukul pelan bahunya demi menghilangkan rasa pegal di sana.


Orion yang berjalan di sisinya menoleh dan tersenyum menyesal begitu melihat Freya.


"Capek, ya? Maaf, harusnya saya nggak usah ngajak jalan tadi." Orion berujar dan berjalan di belakang perempuan itu. Tangannya bergerak memijat pelan bahunya. "Atau kamu mau pulang aja?"


Freya menggeleng cepat. Dia meraih tangan Orion di bahunya, dan menarik pemuda itu agar kembali berjalan di sisinya. "Engga kok, saya emang butuh refreshing. Pusing juga dari kemaren nugas terus."


Orion tergelak mendengar ini. Dia meremas tangan Freya dalam genggamannya lalu tersenyum kecil. "Ya udah, hari ini kita refreshing. Mau ke mana dulu? Nonton? Makan? Atau belanja?"


Freya tidak perlu berpikir lagi. Sejak pagi tadi Orion mengajaknya ke mall ini, dia sudah punya rencana akan ke mana.


"Timezone!" serunya bersemangat sambil menunjuk, mereka pun menyempatkan berfoto di booth snapshot, dengan gaya yang aneh dan konyol sesuai dengan paksaan Freya, tentunya.


"Pak, liat! Ada kembaran Bapak!" Freya berseru heboh. Setelah mereka melihat hasil cetakan foto, dia menunjuk pada sebuah mesin capit boneka.


Perempuan itu menempelkan wajahnya ke kaca dan menatap ke dalam mesin dengan tampang sedih dibuat-buat. "Aduh, kasian snoopy, kamu kejebak di sana dempet-dempetan sama teddy huhuhu."


Orion tergelak sendiri melihat tingkah Freya.


"Pak, kembarannya kejebak gitu kok malah ketawa, sih?" Freya menoleh dan menatap Orion dengan galak.


"Kembaran saya apa, sih?" Orion ikut mengintip ke dalam mesin dan melihat boneka snoopy lumayan besar yang tenggelam di tengah-tengah boneka teddy bear.


Orion lantas terkekeh. Memang banyak yang berpendapat wajahnya mirip dengan karakter snoopy. Katanya, senyumannya terlihat serupa dengan senyuman lebar khas snoopy—kedua matanya pun nampak menyipit saat tersenyum. Belum lagi kulit pucat Orion pun membuatnya nampak semakin mirip dengan kartun anjing putih itu.


"Bahkan stiker snoopy juga dipasang di case hp Bapak." Freya menukas. "Ayo, bebasin dia. Dari tadi 'kan Bapak kalah mulu dari saya, sekali-kali berusaha yang bener dong biar berhasil."


Orion lagi-lagi terkekeh. Sepertinya Freya tidak sadar sejak tadi pemuda itu sengaja kalah darinya. "Kamu nantangin saya?"


Dengan cepat Freya menggeleng. Dia menunjuk ke dalam mesin. "Saya kasian sama snoopy."


Ini membuat Orion tertawa geli dan akhirnya mengangguk setuju. "Yang kayak begini sih cetek."


Dia menggesekan kartunya pada mesin, lalu mulai menggerak-gerakan tuas. Di sampingnya Freya menunggu dengan penuh antisipasi. Namun percobaan pertama berakhir gagal.


Orion berdecak dan kembali menggesekan kartunya. Kali ini dia sampai membungkuk dan mengerutkan keningnya. Namun sama seperti yang awal, percobaan kedua kembali gagal.


"Katanya cetek." Freya yang mulai kehilangan antusias mendengus dan tertawa kecil.


Orion mengesah dan menatap boneka snoopy yang tengah tersenyum polos. "Kayaknya snoopy betah di sana."


Freya tergelak mendengar ini. "Pinter ya, ngelesnya."


Freya pikir Orion akan menyerah, tapi lagi-lagi pemuda itu menggesekan kartunya. Kali ini dia benar-benar memasang tampang serius, sangat berhati-hati menggerakan tuasnya. Ketika capitan berhasil menangkap kepala snoopy, napas Orion tercekat. Di sampingnya Freya ikut menahan napas ketika tuas bergerak membawa snoopy ke ujung mesin menuju lubang di bagian bawah.


"YEYY!!" Freya memekik senang begitu boneka snoopy itu benar-benar berhasil ditangkap.


Orion sendiri tersenyum lebar sambil membungkuk mengambil boneka tadi. Dia lantas menyodorkan boneka snoopy itu pada Freya.


"Buat kamu," katanya. "Biar kamu selalu inget sama saya tiap liat dia."


Freya menerimanya dengan senang. Dia memeluk boneka itu, dan menenggelamkan wajahnya di sana. "Padahal saya bukan maniak boneka. Tapi nggak apa-apa, karena ini kembaran Bapak, jadi saya terima."


Orion terkekeh mendengarnya. Dia mengusak puncak kepala Freya dengan gemas, lalu merangkul bahunya dan berjalan keluar.


Freya lantas menggeleng. "Belum lapar. Mau nonton dulu, makannya nanti aja udah nonton."


Orion mengangguk setuju. Mereka hendak naik ke lantai atas ketika ujung mata Freya menangkap sebuah toko berwarna-warni. Dengan gesit dia menggamit tangan Orion, lalu menariknya ke sana.


"Eh, kenapa?" Orio bertanya bingung, tapi Freya tidak menjawab.


"Liat, Pak, lucu!" Freya memekik tertahan begitu mereka tiba di toko aksesoris yang tadi menarik perhatiannya. Dia mengacungkan sebuah bando dengan telinga piglet berwarna pink putih.


"Kamu mau pake gituan?" Orion bertanya sambil tertawa geli.


Freya menggeleng lalu menyurukan boneka snoopy di pelukannya pada Orion. Dia berjingkat, dan memasangkan bando tadi di kepala Orion.


"Bapak yang pake," cetusnya sambil mengamati Orion dengan cengiran lebar. "Tuh 'kan lucu."


Orion tidak sempat bereaksi karena Freya sudah terlanjur menariknya agar berdiri di depan dinding toko dengan wallpaper warna-warni.


Perempuan itu kemudian mengeluarkan ponselnya dan mengarahkan kamera pada Orion.


"Sini, difoto dulu," tukas Freya. "Dipikir-pikir saya nggak punya foto Bapak sendiri."


Orion menjungkitkan kedua alisnya. "Harus banget pas saya lagi pake beginian?"


"Harus, dong. Kan udah saya bilang, Bapak tuh jiwa Bebelac." Freya menyahut bersemangat. "Udah, cepet pasang pose."


Orion tahu dia tidak bisa kalah dari Freya. Maka akhirnya pemuda itu membiarkan Freya memotretnya dengan boneka snoopy besar dalam pelukan dan bando piglet di kepalanya. Dia bisa merasakan pengunjung lain mencuri pandang dengan geli pada mereka.


"Ih, gemes banget, Pak!" Freya menukas sambil menunjukan hasil fotonya pada Orion.


"Kamu juga pake," tukas Orion lalu menarik bando berbentuk telinga kucing dan menyurukannya ke kepala Freya. "Biar saya nggak malu sendirian."


"Dih, ngapain malu," cetus Freya sambil membenarkan posisi bandonya. Dia lalu berdiri di samping Orion dan mengambil selfie berdua tanpa rasa malu sedikit pun.


Setelah puas mengambil foto berkali-kali dan merasakan tatapan menyelidik dari staf toko, akhirnya Freya memutuskan mengakhiri sesi pemotretan dadakan mereka. Dia melepas bandonya dan bando Orion lalu membawanya ke kasir. Orio mengekor di belakang, masih sambil memeluk boneka snoopynya.


"Jadi nontonnya?" tanya Orion setelah mereka keluar dari toko.


"Jadi, dong." Freya menukas dengan bersemangat. Dia mengeluarkan bando yang tadi sudah dibungkus oleh pegawai toko, dan kembali memasangkannya pada kepala Orion. "Tapi sambil pake ini."


"Frey, kamu mau orang-orang ngeliatin saya?" Orion mendesis panik.


Freya sendiri hanya mengeluarkan bandonya dan memakainya di kepala dengan santai. "Nih, saya temenin, biar Bapak nggak malu sendirian."


Dia lalu menyelipkan lengannya pada lengan Orion dan mendongak menatapnya sambil tersenyum lebar.


Dihadiahi senyuman manis begitu, Orion tidak bisa protes lagi. Pada akhirnya dia ikut tersenyum dan membiarkan Freya melakukan apa pun yang dia mau.


Yah, mungkin hanya bersama Freya, Orion bisa melakukan hal-hal seperti ini.


***


Kiran pernah bilang, window shoping bisa meringankan stress. Kelana setuju dengan kakaknya itu.


Sejak hampir satu jam lalu, Kelana sudah berjalan mengelilingi mall ini, keluar masuk setiap toko hanya untuk melihat-lihat barang yang mereka jual. Dia berhenti cukup lama di toko buku untuk mengecek buku latihan soal terbaru, mencari adakah paket soal yang belum dipelajarinya.


Sesaat kemudian Kelana tersadar, mestinya agenda window shoping-nya ini dilakukan untuk meredam sakit kepalanya karena belajar terlalu lama. Kenapa sekarang dia malah menghabiskan waktu dengan membaca-baca buku latihan soal?