Islandzandi

Islandzandi
Liburan 3



Pukul 15.00 sore…


Cuaca saat itu sangat bersahabat…


Mereka pun berkumpul di halaman belakang untuk memulai permainan “Catch me”. Sementara Reyandra dan Eolia hanya duduk melihat karyawan lain bermain termasuk Islandzandi juga ikut dalam permainan tersebut berpasangan dengan Alditra, Haura dan Erik pun ikut dalam permainan tersebut.


"Rey, kau tidak apa-apa melihat Island dekat dengan Alditra?" ucap Eolia melihat kearah Reyandra.


"Mereka hanya rekan kerja… Saya masih percaya dengan Island… Begitu pun sebaliknya…"


"Oh ya? Kau yakin? Kalau aku lihat sih Alditra sepertinya menyukai Island… Dia mendekati Island dengan terang-terangan sementara dia tau kalau Island adalah istrimu… Mungkin kau percaya pada Island, tapi kau harus hati-hati pada Alditra…"


Reyandra hanya terdiam melihat kearah Islandzandi.


Sementara Eolia tersenyum melihat kearah Alditra.


Waktupun berlalu dengan cepat…


***


Pukul 20.30 malam…


Bu Khanza, Pak Ronald, Ryu Sera, Nadia, Haura, Karin, Erik, Alditra, Eolia, Islandzandi dan Reyandra duduk mengelilingi pembakaran menghangatkan diri.


Pak Ronald melihat Islandzandi. "Bagaimana kalau kita mengadakan permainan?" ucap Pak Ronald bersemangat.


"Lagi? Hah, saya tidak ikut…" ucap Eolia ketus.


"Permainannya sangat gampang, Truth or dare"


"Wah bagus juga itu... Boleh Pak …" timpal Bu Khanza.


"Boleh dicoba tuh…" ucap Erik.


Yang lainnya pun menyetujui.


Pak Ronald membawa sebuah botol dan memutarnya di meja yang mereka kelilingi.


Tak lama botol pun mengarah kearah Eolia. Eolia terkejut melihat kearah Reyandra.


"Siapa yang akan bertanya?" Bu Khanza melihat ragu kearah Eolia.


"Maaf jika ini terlalu lancang! Tapi, apakah ibu mempunyai rahasia yang tidak kita ketahui?" ucap Pak Ronal langsung mengarah pada Eolia.


"Maksudnya?"


"Apa ibu benar-benar menikah dengan pak Reyandra?" melihat ke orang-orang yang ada disana yang sedang antusias mendengar jawaban dari Eolia.


Eolia tersenyum. "Sebaiknya saya ambil hukuman…" mengangkat gelas yang berisi minuman alkohol.


Reyandra pun mengambil gelas yang diambil Eolia.


"Biar saya saja yang meminumnya…" ucap Reyandra sambil meminum air itu.


Orang yang ada disana pun langsung terkesima, tersenyum sambil bertepuk tangan kecuali Alditra, Islandzandi, Haura, Erik dan Karin yang tau kebenarannya.


Islandzandi mulai kesal merlihat kearah Reyandra, lalu Pak Ronald pun memulai memutar botolnya lagi, botol pun menunjuk pada Reyandra.


"Hm… Apakah anda sudah menikah dan istri bapak sedang berada di sini di antara kita?" tanya Ryu Sera penasaran.


Reyandra melihat Islandzandi. "Benar…"


"Wuuuaahhh…" seru Nadia terkesima akan jawaban Reyandra yang tegas.


Islandzandi hanya terdiam menunduk. Botol pun diputar kembali dan kali ini mengarah ke Eolia lagi.


"This time I will choose dare…"


"Kalau begitu kami akan menantang Bu Eolia dan Pak Reyandra untuk berciuman…" tantang Pak Ronald memang sengaja untuk mendekatkan Eolia dan Reyandra untuk melihat reaksi mereka dan juga Islandzandi.


"Apa?"


"Benar, kami sudah tau kalau Bu Eolia dan Pak Reyandra sudah menikah… Jadi kami akan mendukungnya…"


Islandzandi mulai kesal dan berdiri.


"Aku keluar dari permainan ini!" ucap Island langsung pergi meninggalkan mereka.


Reyandra yang hendak berdiri ditahan oleh Eolia yang melihat serius kearahnya sambil menggelengkan kepala.


Tak lama Alditra berdiri.


Alditra melihat kearah Reyandra. "Saya akan menyusulnya!" membungkuk memberi hormat pada Reyandra dan menyusul Islandzandi.


"Ck... Dia kenapa sih? Lagi dapet ya?" ucap Nadia sinis.


"Dan sejak kapan mereka jadi sangat dekat" bisik Karin pada Haura.


Haura mengangkat bahunya. "Nggak tau! Aku juga baru liat mereka sedeket itu."


Erik berbisik kearah Haura. "Dia tau kan kalo Reyandra suaminya?"


"Ya iyalah orang dia juga dateng kok waktu Island kawin..." jawab Haura.


Erik terdiam mulai berfikir sedikit curiga melihat reaksi Alditra.


**


Di halaman depan villa…


Islandzandi sedang berjalan hendak keluar dari Villa.


"Gila ya! mereka seenak jidatnya nyuruh-nyuruh orang ciuman! Dasar! Mereka nggak tau kalo Reyandra itu laki gue bukan lakinya Eolia!" gerutu Islandzandi kesal.


"Island! (teriaknya sambil berlari dari belakang menarik tangannya) Lo nggak apa-apa? Lo mau kemana malem-malem gini?!"


"Gue nggak apa-apa Al… Gue Cuma lagi kesel aja sama kelakuan mereka! Gue lagi pengen sendiri… Jadi lo nggak usah temenin gue…"


"Bener nggak apa-apa? Trus lo mau kemana?"


"Ke tempat kita tadi…"


"Malem-malem gini? Emang lo tau arahnya?"


"Taulah… Udah balik lagi sana! Tar Nadia nyariin lo lagi! Tar gue lagi yang disalahin gara-gara lo terus ngikutin gue..."


Islandzandi pun pergi meninggalkan Alditra. Sementara Alditra hanya terdiam sambil tersenyum.



"Hah… Lo nggak akan bisa pulang dengan tanda yang udah gue rubah Island…" berjalan pulang kembali ke villa.


Sementara Pak Ronald diam-diam mengikuti Islandzandi dari kejauhan!


Alditra yang tidak memperhatikan Pak Ronald langsung berjalan ke dalam Villa tanpa bergabung lagi dengan teman-teman yang lain.


**


Di Kamar Reyandra, Pukul 23.30 malam...


Reyandra sedang duduk berfikir.



Tak lama ada yang mengetuk pintunya...


Reyandra pun melihat kearah pintu terdiam, tak lama setelah beberapa menit penggedor pintu itu masih mengetok pintunya makin keras, Reyandra pun berjalan kearah pintu dan membukakan pintu kamarnya.


Reyandra terkejut ketika melihat Haura, Erik dan Karin yang sedang berdiri.


"Loh kalian?!" melihat semua orang yang ada disitu tidak mengerti.


"Hyung!" buru-buru masuk kedalam dan mencari sesuatu.


Haura dan Karin pun ikut masuk. Reyandra melihat sekitar dan menutup pintu kamarnya kembali dan menghampiri mereka bertiga heran.


"Ada apa ini?" melihat kearah mereka bertiga.


"Apa Island disini?" ucap Erik cemas.


"Tidak... Bukanya di kamarnya?" ucap Reyandra sambil melihat kearah Karin.


Karin menggelengkan kepalanya dengan cemas. "Nggak ada! Gue udah nungguin dia dari tadi tapi dia nggak dateng-dateng... Gue pikir dia udah baikan sama lo dan dia ada disini!"


Reyandra terdiam mulai cemas.


Erik berfikir. "Terakhir dia bareng siapa?"


"Alditra... Saya akan mencarinya!"


Reyandra pun berlari keluar kamarnya disusul oleh Erik, Haura dan Karin yang ikut berlari juga.


***


Reyandra berjalan dan menemukan sosok Alditra yang sedang duduk di dapur sambil mengobrol dengan Ryu Sera dan Nadia. Reyandra dan yang lain pun menghampiri Alditra.


"Al, lo yang terakhir bareng sama Island kan?" ucap Haura langsung serius.


"Ada apaan nih? Dateng-dateng langsung sewot!" ucap Nadia berdiri berhadapan dengan Haura.


Alditra menarik Nadia untuk duduk kembali lalu berjalan menjauh dari Ryu Sera dan Nadia. "Iya, tadi memang saya mau nemenin dia, tapi Island lagi pengen sendiri jadi dia pergi sendirian ke bukit."


"Bukit? Bukit yang tadi kalian datengin?" lanjut Karin tidak percaya melihat Alditra.


Alditra mengangguk. "Mmmh… Katanya dia mau kesana... (terdiam melihat kearah Haura) Ahh jangan bilang dia belum balik?" lanjutnya ikut cemas.


"Hah... You right, dia belum balik sampe sekarang!"


"Serius gawat jalannya kan gelap nggak ada penerangan?!"


Reyandra mencengkram baju Alditra marah. "Lalu kenapa kau tidak menemaninya? Kau tau diluar sana sangat gelap?! Bagaimana kalo Island tersesat atau..."


Erik melihat reaksi Nadia dan Ryu Sera yang kaget sekaligus bingung langsung melepaskan tangan Reyandra dari Alditra.


"Rey, sudahlah, tidak enak dilihat orang!" Erik.


Alditra melepaskan cengkraman Reyandra dan melihat kesal pada Reyandra. "Kenapa saya harus menjaganya? Dia bukan siapa-siapa saya! Bukankah kau yang seharusnya menjaga istrimu? Kenapa kau melepaskan tangannya disaat dia butuh seorang suami yang harusnya ada selalu disampingnya! Atau kau memang mau melepaskannya?"


"Apa?"


Erik terdiam melihat Alditra tidak percaya. "Eu, sebaiknya kamu jangan membuat situasi menjadi rumit! Tolong bantu mencari Island dan tunjukan jalannya pada kami..."


Alditra terdiam melihat serius kearah Reyandra. "Saya akan mencarinya atas keinginan saya! Saya tidak ingin membatu kalian!"


"Ya, terserahlah paling nggak tunjukin jalannya sama kita!"


Alditra melihat kearah Reyandra masih kesal lalu dia pun membawa jacket lalu pergi keluar. Reyandra, Erik dan beberapa pegawai laki-laki disuruh ikut mencarinya sementara Haura dan Karin menunggu di depan Villa dengan cemas.


***


Di hutan…


Islandzandi berjalan dengan cemas karena dari tadi dia tersesat dan berputar-putar disekitar itu-itu saja.


"Mampus gue! Dari tadi gue nggak bisa balik… Jalannya juga beda, padahal tadi arahnya kesini… Tapi kok beda ya?" gerutunya sambil terisak. "Rey…" panggilnya pelan karena takut kalau dia berisik malah akan ada hewan buas yang keluar.


Tak lama Pak Ronald yang ikut tersesat juga langsung berlari kearah Islandzandi.


"Island! (mengatur napasnya karena kecapean) Kamu dari tadi keliling-keliling terus… Memangnya kamu mau kemana?"


"Loh pak Ronald kenapa ada disini?"


"Mengikutimu! Karena kau selalu menghindariku, kau tau kalau kesabaranku ada batasnya?! Hah… Sudah lama saya menahan diri…"


Islandzandi terdiam melihat mata Pak Ronald yang melihatnya seperti mangsa.


Islandzandi pun mulai mundur ketakutan.


"Pak, Ingat ya... Kita itu lagi tersesat!"


"Saya nggak perduli kita tersesat atau nggak, yang jelas saya bisa menikmati tubuhmu sekarang!" ucapnya sambil tersenyum.


Islandzandi pun langsung berlari menghindari Pak Ronald.


Pak Ronald pun mengejarnya dengan sangat cepat dan mendorong tubuh Islandzandi ke tanah, Pak Ronald pun langsung membalikan badan Islandzandi jadi menghadap kearahnya dan pak Ronald langsung menindih tubuh Islandzandi agar tidak kabur. Islandzandi pun berusaha melepaskan diri dari dekapan Pak Ronald.


"Aaaakkkhhh…!!!" teriak Islandzandi karena tidak bisa menghindari Pak Ronald yang sedang membuka paksa baju atas Islandzandi dan berusaha menciumnya.


"Percuma kamu berteriak, tidak akan ada yang akan menolongmu sekarang!"


"Nggaaaaakkkk!!!!! Aaaaaaaakkkkhhh, Reeeeeeeyyy!!!" teriaknya sambil menangis.


Pak Ronald pun menampar pipi Islandzandi. Islandzandi terdiam kaget lalu Pak Ronald pun berusaha lagi untuk membuka bajunya dan mulai menciumi Islandzandi.


Islandzandi pun masih berusaha mempertahankan baju dan bibirnya sambil menangis.


**


Sementara itu…


Di bagian lain Reyandra dan petugas SAR yang ada di daerah itu terus mencari. Alditra hanya tersenyum melihat mereka tidak menemukan Island. Erik berjalan ke dekat Reyandra.


"Island!!!" teriaknya.


"Hyung, tenanglah! Kau harus bersabar…"


"Erik, saya tidak bisa bersabar dan bersikap tenang saat Island hilang di hutan seperti ini…"


"Tapi paling tidak kita dapat bantuan dari Tim SAR… Kau harus…"


Tim SAR 1 berlari mendatangi Reyandra. "Maaf, apa ini handphone milik istri anda? Saya menemukannya disana?" sambil menunjuk kesatu arah.


Reyandra kaget melihat Handphonenya Islandzandi yang sudah tergores. "Benar… Ini milik istri saya…"


Tim SAR itu langsung berlari ke teman-temannya dan menunjukan arah yang dia tunjuk tadi.


Reyandra, Erik dan Alditra pun mengikuti mereka.


Tak lama mereka mendengar teriakan.


“AAAaaakkkhhh!!”


Reyandra terdiam. "Island?!" langsung berlari kearah suara teriakan itu.


Erik pun mengikutinya.


Begitu pun Tim SAR lainnya.


Alditra yang dari tadi berjalan dengan santai mengikuti mereka dengan santai.


**


Saat Reyandra dan yang lainnya berlari kearah suara itu, tak lama dia melihat Pak Ronald sedang menindih tubuh Islandzandi dan Islandzandi pun sedang berusaha lepas dari dekapan Pak Ronald.


"Island?!" teriaknya.


Pak Ronald dan Islandzandi melihat kearah Reyandra dan cahaya yang menyoroti mereka.


"Reeeyy!!" teriaknya sambil menangis.


Tak lama Reyandra yang berlari kearah pak Ronald, Reyandra langsung menarik badan Pak Ronald kebelakang dan langsung memukulnya dengan marah dan tanpa ampun…


Islandzandi yang masih menangis menutupi sebagian tubuhnya dengan tangannya karena sebagian kaosnya robek dibuka paksa oleh Pak Ronald tadi.


Reyandra terus memukul Pak Ronald dengan kalap.


"Apa yang kau lakukan pada Island? I give you a second chance but you just abused it!"


Pak Ronald tertawa dengan wajah penuh darah. "Kau bicara seperti itu padahal kau sendiri menjadikannya selingkuhan…"


"Apa?!"


Erik langsung berlari menghampiri Islandzandi dan menutupi badan Islandzandi dengan jacketnya.


"Hei, you're save?"


Islandzandi hanya menangis memeluk Erik erat.


Tanpa Islandzandi menjawab pun Erik merasakan pelukan Island sangat ketakutan.


"Heii… Island tenanglah… Kita sudah ada disini! Reyandra dari tadi mencarimu… Kamu sudah aman sekarang! Kamu tidak perlu khawatir lagi! Ok?!" ucapnya menenangkan Islandzandi.


Sementara Tim SAR melerai Reyandra dari Pak Ronald! Dua orang memegang tubuh Pak Ronald dan tiga orang lagi memegang tubuh Reyandra yang masih ingin menghajar Pak Ronald.


Reyandra melihat marah kearah Pak Ronald. "Aaaaarrgggghhh... Bawa bajingan ini ke kantor polisi!" bentaknya sambil berusaha untuk memukulnya tapi dipegang oleh tiga orang Tim SAR.


Mereka pun membawa Pak Ronald pergi. Reyandra yang mulai tenang pun melihat kearah Islandzandi dan berjalan kearahnya yang masih terduduk di tanah masih memeluk Erik.


Reyandra berlutut di depan Islandzandi menyentuh pipi Islandzandi perlahan.


"Island, maafkan saya! Hah… (sedikit menyesal melihat keadaannya, lalu memeluk Islandzandi dengan erat) Saya benar-benar minta maaf…"


Islandzandi pun memeluk Reyandra dan menangis keras tanpa menjawab Reyandra.


"Maafkan saya tidak datang lebih awal…"


Sementara Islandzandi tidak berkomentar apa-apa hanya menangis di pelukan Reyandra dengan keras dan tersedu-sedu.


Sementara Reyandra pun terdiam sedih sekaligus menyesal masih memeluk Islandzandi dengan erat.


Erik dan Alditra pun terdiam dan melihat kearah Reyandra dan Islandzandi.