
"Tumben pulang cepet,Pah... Biasanya kan pulang malem terus." ucap Arkana yang sedang duduk di mini bar rumahnya melihat Aufar sang Ayah baru saja pulang dari kantor.
Aufar yang melihat putranya sedang terlihat kacau mengerutkan keningnya.
"Ibumu mana?"
"Katanya mau nginep di rumah Nenek, kirain Papah udah dikasih tau, katanya Nenek lagi sakit jadi Ibu langsung ke sana."
"Oh... don't go anyway, i'll be right back!" ucapnya sudah tau bahwa anaknya tengah dilanda kegalauan tingkat tinggi.
***
"So... gimana kabar Freya?" ucapnya saat Aufar sudah duduk disamping Arkana sambil menuangkan Champaign ke gelas yang sudah tersedia es batu di dalamnya. Sementara Arkana yang hanya menutar-mutar bibir gelas itu melihat sekilas kearah ayahnya.
"Baik..."
"Apa, Erik dan Haura masih belum pulang?"
"You think?" melirik ayahnya sambil tersenyum miris.
"Hah... mereka egois sekali! awalnya bilang akan menjaga Freya dengan baik... tapi apa sekarang?"
"Pah... Apa Papah pernah mencintai orang dan sampai sekarang tidak bisa melupakannya?"
Aufar melihat Arkana mengangkat halis sebelah.
"Kenapa? Apa masalah percintaan mu tidak terbalas?"
"HM... gimana mau terbalas orang aku belum ngungkapin... aku takut kalau ngungkapin, hubungan kita malah akan semakin renggang, aku cukup puas sih dengan keadaan seperti ini. Untuk saat ini aku bisa dekat dan bisa melindunginya sebisa mungkin, dan aku tidak mau dia terluka sedikit pun..."
"Jadi... gadis itu bukan Giana?!"
Arkana melirik ke arah ayahnya kaget. sementara Aufar hanya tersenyum.
"Kamu lupa? Orang tua Giana adalah teman bisnis Papah..."
"HM... Aku hanya kagum sama dia Pah, dan itu adalah alasan... Entahlah, apa yang aku lakuin ini bener apa salah..."
Aufar terdiam berfikir sambil melihat Arkana.
"Apa gadis yang kamu maksud itu Freya?!"
Arkana hanya terdiam.
Aufar mendesah pelan.
'Kisah ini terulang lagi' pikirnya. Hanya saja dulu dia terang-terangan menyatakan kalau dia mencintai Islandzandi, sedangkan putranya dia malah lebih bertahan dengan status yang membuatnya terjebak dan tidak berani untuk melangkah lebih maju. Dulu dia berani karena dia tau meskipun dia terang-terangan menyatakan perasaannya Islandzandi tetap akan selalu ada di sisinya sebagai temannya. Sementara Freya? Dia sendiri tidak tau sifat dan sikap Freya seperti apa? Apa akan sama dengan Islandzandi.. atau malah akan menjauhi putranya itu kalau putranya menyatakan perasaannya secara blak-blakan... Aufar lebih memilih diam dan mempercayai apa yang dilakukan putranya itu.
"Apa Freya ada yang mendekati?"
"HM... Seorang dosen baru..."
"Hmmh?!" gumam Arkana tidak menyangka.
Apa kisah cintanya yang tidak terlaksana akan terulang lagi pada putranya?
Aufar pun melanjutkan ceritanya pada sang Ayah.
Nak... beranilah untuk mengungkapkan perasaanmu, mau itu diterima atau tidak, tapi setidaknya kamu sudah berusaha untuk jujur dengan perasaanmu... Jangan sampai kamu menyesal karena tidak memberitahukannya.
***
"Rania? Kamu Rania kan?"
Rania yang baru saja meminta tanda tangan salah satu dosennya untuk proposal acara, mendadak menghentikan langkahnya begitu mendengar suara familiar tadi memanggil. Dan dengan senyum tiga jari, perempuan itu melangkah menuju meja Orion.
"Iya pak, ada apa?"
Rania berusaha keras tidak salah fokus pada kenyataan bahwa dosen mudanya itu kelihatan beribu kali lipat lebih tampan ketika sedang memakai kacamata.
"Kamu temannya Freya kan?" Orion bertanya sambil membetulkan letak kacamatanya.
Yah... Doi nanyain Freya. Ck...
"Iya betul, Pak."
"Tumben nggak bareng sama dia? Biasanya kalian kemana-mana selalu bareng kan?"
"Bapak merhatiin saya sama Freya?" tanyanya kaget sampai melebarkan kedua matanya.
Sementara Orion mengedikan bahu. "Bukan merhatiin. Emang kentara aja."
Ah masa iya?
lagi-lagi Rania mencibir dan hanya menyuarakannya dalam hati.
"Itu Pak, Freya ada rapat Medfo, saya kan nggak satu departemen di himpunan, jadi saya nggak ikut rapat." jelas Rania dengan sabar.
Orion mengangguk-angguk. "Biasanya beres jam berapa rapatnya?"
Rania berpikir sebentar, "Kurang tau juga sih, Pak. Tapi biasanya jam delapan jam sembilanan.
"Semalem itu?" Kedua alis Orion berjingkat.
Rania hanya mengangguk. "Kadang malah lebih lama lagi."
"Mereka rapat dimana emangnya?"
Kali ini kening Rania mengerut curiga.
Ini dosen kenapa kepo amat, sih?
Tapi karena merasa tidak sopan jika menolak menjawab, akhirnya dia berujar, "Di ruang Sekretariat Himpunan, Pak. Di gedung student center."
Lagi-lagi Orion mengangguk-angguk. Dia membasahi bibirnya sebelum kembali bertanya. "Kamu tau biasanya Freya pulang sama siapa? Dia nggak bawa kendaraan pribadi kan?"
Wah. Kali ini benar-benar mencurigakan. Untuk apa Orion bertanya temannya itu pulang dengan siapa? Kenapa pula dia tau Freya selalu menggunakan transportasi umum? Memangnya Orion selalu sepeduli ini pada semua mahasiswanya?
Rania benar-benar ingin mengutarakan semua pertanyaan itu. Tapi pada akhirnya, yang melompat dari ujung lidahnya hanya jawaban untuk pertanyaan Orion sebelumnya, "Setau saya sih, biasanya Freya pakai ojek online Pak, kalau pulang malem. Dia anaknya nggak enakan, jadi suka nolak kalau ada yang nawarin nganterin pulang. Rumahnya kan emang agak jauh dari kampus."
Orion terdiam mendengar ini. Dia kemudian memasang senyum manis di bibir. "Ya udah makasih ya, infonya. Kamu bisa pergi Rania."
Oke setelah memberi sejumlah informasi mengenai temannya, Freya diusir pergi begitu saja. Tapi karena dihadiahi senyum tampan dari Orion, perempuan itu tidak bisa banyak protes. Dia balas tersenyum dan mengangguk sopan sebelum berbalik pergi.
Sambil melangkah keluar dari ruang Prodi, Rania mengetik cepat sebuah pesan untuk Freya. Dia tau Freya akan menganggap dirinya bereaksi berlebihan, seperti biasa. Tapi masa bodoh, setidaknya Freya harus tahu gagasan apa yang kini berkelebat dalam benak Rania setelah dia berbincang sebentar dengan Orion.
Rania :
Gila Woyyy, Pak Orion kayaknya beneran naksir sama lo, Frey. Masa tadi dia nanya-nanya soal Lo ke gue, buat apa coba??
***
"Beneran ga mau boti aja. Frey? Ini bertiga juga muat loh." Malam itu, untuk kesekian kalinya Dasya bertanya pada Freya.
"Iya, ikut aja sama kita Sampe gerbang depan, nanti dari sana lo pesen ojol nya." Juni yang duduk di boncengan Dasya menambahkan.
Freya menggeleng menolak tawaran teman-temannya itu. Rapat departemen himpunannya akhirnya selesai juga. Dasya dan Juni, dua teman sedeparteme nya, sudah berulang kali menawarkan Freya untuk pulang bersama sampai ke gerbang depan kampus dengan motor mereka. Seperti kata Dasya, sebenernya mereka masih bisa boti atau bonceng tiga, karena masih ada ruang yang tersisa untuk Freya menjejalkan diri di antara Dasya dan Juni di atas jok motor. Tapi Freya memilih menolak.
"Dari sini aja, biar sekalian, Guys. Lagian gue udah pesen ojolnya, nih." katanya sambil menunjukkan handphone nya.
"Ya udah deh, ati-ati lo. Udah malem awas diculik om-om." Dasya menukas sambil memasang wajah menyebalkan.
"Ngomong suka kemana aja, ya!" Freya menggeplak kepala Dasya yang terhalang oleh helm. Perempuan itu tergelak.
"Duluan ya, Frey. Ati-ati!" Dasya melajukan motornya sementara Juni melambai pada Freya.
Sepeninggal kedua temannya itu, kini Freya sendirian di depan gedung student center. Di dalam gedung memang masih terbilang ramai, karena banyak anggota unit kegiatan mahasiswa dan himpunan jurusan yang berkumpul di setiap ruang sekretariat. Tapi di luar gedung, keadaannya sepi dan sunyi. Tentu saja, sekarang sudah jam delapan lewat.
Freya menghembuskan napas dan memandangi layar ponselnya, memperhatikan laju pengemudi ojek online nya. Hampir semua teman sedepartemennya tinggal di kosan sehingga tidak ada yang searah dengan Freya yang tinggal agak jauh dari kampus. Jadi terpaksa perempuan itu harus selalu memesan ojek online jika pulang larut begini.
Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depannya. Freya mengerjap. Tadi dia memesan motor dan bukannya mobil. Kenapa malah mobil ini yang muncul?
Udah malem awas diculik om-om.
Candaan Dasya tadi mendadak menghantuinya. Freya tertegun. Dia baru saja bersiap berbalik kembali masuk ke dalam gedung di belakangnya, ketika jendela mobil bergulir turun, dan serabut wajah menyambutnya.
"Hey, Freya."