Islandzandi

Islandzandi
Pria Misterius



"Hyung... I'm sorry..."



"Minta maaf buat apa, Rik?"



Sementara Haura dan Kenan hanya terdiam berdiri di kedua sisi Erik menunduk.



"Hah... Rik, saya tidak menyalahkan kalian, ini berawal karena saya yang tidak mau mengurus Freya... sampai Papah dan Mam meninggal pun saya masih bersikap egois untuk tidak pulang ke sini untuk melihat terakhir kalinya. Saya yang jahat disini, Rik. Saya--"


"Hyung..." Erik pun langsung menghambur ke arah Reyandra dan memeluk Reyandra seperti dulu yang selalu dilakukan mereka setelah dua puluh dua tahun mereka tidak pernah berpelukan seperti ini.


Haura pun memeluk Kenan yang berada di sisinya melihat haru kearah Erik dan Reyandra yang sedang melepas rindu.


Erik tentu saja berusaha untuk bertemu dengan Reyandra saat dimana Freya masih bayi dan membujuk Reyandra untuk pulang, tapi sia-sia, malah Reyandra tidak mau bertemu dengan orang-orang yang berhubungan dengan Islandzandi.


"Om kesini hanya untuk pergi lagi?" tiba-tiba Kenan yang tidak suka melihat Ayah kandung Freya bertanya dengan tenang.


Bagaimana untuk suka pada Ayah kandung Freya, orang selama hidupnya Freya terluka dan tersakiti oleh Ayah kandungnya sendiri yang tidak Mau menganggap Freya sebagai putrinya sendiri.


Erik dan Reyandra pun melerai pelukanya melihat kearah Kenan.


"Kau, Kenan?"


Kenan hanya terdiam melihat Reyandra tajam.


"Saya hanya tidak ingin Freya terluka untuk ke sekian kalinya lagi, perlakuan Om, Papah dan Mamah yang membuat kami seperti anak yatim sudah membuka mata kami untuk tidak menggantungkan diri lagi pada orang tua seperti kalian."


"Kenan!" seru Erik memperingati Kenan karena tidak sopan.


"No, Erik. Anakmu benar. kita memang orang tua egois. Saya, Kau, Haura... memang telah mementingkan keegoisan perasaaan kita masing-masing tanpa melihat perasaan anak-anak kita. Iya kan?" ucapnya melihat ke arah Haura yang masih terdiam.


"Dan, Ya. Kenan... Saya memang sudah memutuskan untuk kembali lagi ke sini. Saya tidak akan memaksa Freya untuk harus tinggal sama saya, kalau dia lebih nyaman di sini saya akan menyetujuinya untuk tinggal di sini. Tapi, saya akan mengirimkan orang orang untuk selalu mengawasi Freya dari jauh supaya hal ini tidak terjadi lagi, Kenan. Apa kamu setuju?"


Kenan hanya terdiam karena telah gagal menjaga Freya dan membiarkan kejadian semalam...


Sementara itu...


Freya yang baru membuka mata melihat langit-langit kamarnya.


Ini kamarku... aku ada di rumah... Apa semalam hanya mimpi?


Ssshhss Aaakkhhh...


pekiknya ketika tanpa sadar dia melihat tangannya yang biru-biru akibat kejadian tadi malam yang nyaris saja diperkosa oleh laki-laki yang tidak dikenalnya. Ingatan semalam berkelebat di kepalanya, saat dia diselamatkan oleh seseorang, sampai dia melihat sendiri Orang yang tidak ingin ditemuinya sekaligus orang yang paling dirindukannya.


Krekk...


Pintu kamar Freya dibuka dan Bi Imas yang hendak membereskan kamarnya.


"Eh... Non Freya, udah bangun?"


"Mmh... Iya Bi. Oh iya Bi, kok aku bisa ada di sini ya?"


"Eu... Non, di tunggu Bapak sama Ibu di lantai bawah..."


"Hah? Om Erik sama Tante Haura pulang, Bi?"


Bi Imas hanya mengangguk. Freya pun buru-buru keluar tanpa memikirkan tangannya yang biru-biru akibat cekalan dan benturan semalam dia terima.


Drap...drap...drap...


Langkah Kaki Freya terdengar sampai ke ruang keluarga dengan cepat.



"Om Erik, Tante Haura...!!!" teriak Freya kesenangan. Lalu terdiam saat dia melihat siapa yang ada dihadapannya saat ini...


***


"Serius lo ga liat Freya ada di sini? Coba Lo liat CCTV deh..." ucap Orion masih panik.


Sejak beberapa menit Evan mencari sosok Freya dari ujung ruangan ke ujung lain.


"Eh tapi bentar deh, tadi gue liat ada ribut-ribut kecil tapi udah gitu nguap gitu aja, kalau Freya ada apa-apa pasti dia langsung nyamperin gue kan? Secara dia tau gue pemilik klub ini..."


"Pokonya cek dulu CCTV." kekeh Orion.


Saat mereka tiba di ruang CCTV Evan meminta security CCTV untuk memutar video dari CCTV beberapa waktu yang lalu, dari mulai di luar loby lalu lorong, lalu ke meja bar dan ke beberapa CCTV lainnya yang ada di ruangan lainnya.


Awalnya mereka melihat Freya yang baru saja masuk klub lalu berjalan di lorong lalu saat ke berjalan ke arah meja-meja dia pun celingak-celinguk lalu dia berjalan menuju ke meja paling ujung.


Freya sangat gelisah sambil mengotak-ngantik handphonenya.


"Itu, kayaknya pas dia ngirim pesan ke gue..." Orion berucap masih memperhatikan CCTV dengan ekspresi khawatir.


Evan yang melihat Orion pun hanya tersenyum sambil menggeleng kepala tidak habis pikir.


Ck... bentar lagi kayaknya ada yang ga rela ninggalin nih... gumam Evan.


Tidak lama mereka melihat ada seorang pria yang mendekatinya dan duduk disampingnya. Freya menggeleng cepat lalu dia bangkit berdiri, Tapi si laki-laki dengan cepat menarik tangan Freya hingga dia kembali terduduk, kali ini sampai mereka duduk berdempetan.


Orion yang melihat adegan itu pun mengepalkan kedua tangannya geram.


Pria itu lalu merangkul Freya, membuat posisi mereka kian dekat. Freya pun berusaha melepaskan diri tapi percuma.


Saat Freya berusaha menghardik laki-laki itu malah tergelak mendengar gertakan Freya. Lalu Laki-laki itu mengikis jarak mereka, sementara tangannya yang bebas mulai bergerak menuju bagian atas blouse Freya.


Shitt!!! Aubrey Sialan! gerutunya sambil memukul meja di depannya.


Terlihat Freya panik. Dia seperti ingin membebaskan diri tapi tubuhnya seperti mati rasa saking takutnya. Tubuhnya gemetaran saat laki-laki itu telah membuka satu kancing blouse teratasnya. Wajahnya merunduk membuat hidung mereka bersentuhan. Air mata Freya mulai menetes.


Lalu tidak lama kemudian seorang pria tinggi datang menarik pria itu dan langsung memukulnya sampai laki-laki itu tersungkur karena tenaganya. Pria itu lalu membuka jasnya dan menyampaikan jasnya itu ke pundak Freya yang masih menggigil ketakutan.


Tak lama Pria itu membawa Freya keluar dari klub.


"Van, Lo kenal siapa pria itu?!" Saat CCTV telah berhenti.


"Ga tau, kayaknya pria itu baru kali ini masuk ke Nighties deh... Baru pertapa kali juga gue liat..."


"****! ****!"


"Wohohoho.. hold on bro, Lo emosi tapi ga ngerusak properti gue juga kali! balik sana Lo.... Cari cewek Lo"


***


Freya duduk termenung di balkon kamarnya memandang pemandangan yang tersaji di depannya.


Hah... gimana bisa dia datang disaat--


Flashback On.


Reyandra maupun Freya duduk berhadapan tanpa kata. Diantara mereka amat sangat canggung.


"Freya--"


"Sir--"


Ucap mereka bersamaan. Mereka pun saling pandang kaku.


"You first..." ucap Freya.


"I'm Home..." ucapnya kaku tanpa senyum.


Freya menganga tidak percaya mendengar dua kata yang diucapkan ayahnya itu.


"Terus saya harus gimana? Senang? terus bilang welcome home?" jawab Freya tidak kalah dingin.


"I'm sorry.."


"Kenapa baru sekarang? Kenapa nggak dari dulu kamu pulang dan temuin saya?"


"I know, say sudah salah padamu, saya telah menyakitimu dengan tidak mau bertemu denganmu karena alasan Ibumu..."


"Kenapa ga pas dulu saya masih butuh sosok seorang ayah? kenapa baru sekarang?"


"Saya tau kesalahan saya sudah sangat fatal buatmu Nak, tapi ... apa tidak bisa saya ini dikasih kesempatan lagi? Saya akan memperbaiki kesalahan saya dulu, saya akan mengganti waktu yang telah saya sia-siakan."


"Hah... ya, silahkan saja anda berusaha, karena saya akan tetap tinggal disini..."


Ucap Freya penuh ketegasan.