
Tak lama Orang tua Islandzandi dan Erik datang secara bersamaan menghampiri Islandzandi dan Aufar yang sedang menunggu operasi selesai…
"Island… Sayang..." teriak Bu Audrey berlari menghampiri Islandzandi.
"Mam… (langsung memeluknya menangis dipelukan Bu. Audrey) Mam, Reyandra mam..."
Pak Diandra menghampiri Aufar dan melihat kearah Islandzandi yang sedang menangis.
Erik pun berjalan kearah Aufar.
"Bagaimana Reyandra?" tanya Pak Diandra.
"udah tiga jam Reyandra di operasi dan sampai sekarang belum ada kabar… (menunduk) Maafkan saya Om... Ini semua salah saya, kalau aja saya membawa langsung pulang Island, mungkin kejadiannya nggak akan kayak gini..." ucapnya menyesal.
Pak Diandra duduk disamping Aufar dan menepuk pundaknya. "Ini hanya sebuah kecelakaan… Jangan salahkan dirimu… Awal penyebab dari kekacauan ini adalah Om sendiri… Karena Om terlalu memaksakan keinginan Om untuk menikahkan Island denganmu... Sementara Om sendiri tau kalau Island mencintai Reyandra..."
Aufar masih terdiam menyesal.
Sementara Islandzandi masih memeluk Bu Audrey di depan pintu operasi…
Erik yang tadi berdiri disamping Aufar berjalan kearah Islandzandi ikut menenangkannya.
Tak lama, lampu tanda Operasi no.5 pun mati… Seorang dokter keluar masih dengan memakai baju operasi lengkap dengan headcap, masker dan handscoon yang berlumuran darah… Menghampiri Islandzandi dan Bu Audrey… Pak Diandra, Aufar dan Manager pun berjalan menghampiri Dokter bedah itu…
"Bagaimana keadaan Reyandra, dok? Dia… Baik-baik aja kan? Dia akan sembuh kan?"
"Apa anda keluarga dari pasien?" sambil membuka maskernya.
"iya, saya wali dari pasien…" ucap Bu Audrey.
Tak lama tempat tidur dorong keluar dari ruang operasi, tubuh Reyandra yang sedang terbaring di atasnya dengan kepala diperban dan nafasnya memakai alat bantu… Di bawa keruang ICU… Islandzandi langsung berjalan meninggalkan mereka mengikuti Reyandra…
Sementara Bu Audrey, Pak Diandra, Aufar dan Erik masih di depan ruang operasi menunggu penjelasan dokter…
"Waktu tabrakan terjadi, yang terbentur pertama kali adalah kepalanya dan itu sangat keras, sebelumnya kondisi tubuhnya memang tidak bagus, bisa bahaya kalau pasien tidak sadar-sadar. Sekarang ini kita hanya bisa menunggu dia sadar sampai keadaannya pulih…"
"Memang terakhir dia kerumah dia sudah sangat kelelahan, sepertinya Reyandra tidak makan, dan dia memaksakan diri untuk bisa menemukan Island, sedangkan kami hanya bisa diam saja dirumah. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, itu salah kami…"
"Tapi, kondisinya tidak kritis kan dok?"
"Kalau pasien tidak sadarkan diri selama 2 hari bisa berakibat fatal..."
Mereka pun terdiam cemas...
Tak lama Handphone Erik berdering saat dia melihat ternyata dari Tama, Erik pun berjalan menjauh dari Bu Audrey juga yang lainnya mengangkat Handphonenya.
"Ya, Tama? Iya, saya sudah di rumah sakit (melihat sekitar) Advent... Iya, Reyandra sekarang sudah keluar dari ruang operasi dan kondisinya masih kritis, tidak kau tidak usah kesini... Kamu langsung pulang aja ke jakarta, tolong handle kerjaan Reyandra selama Reyandra disini, biar saya yang nunggu Reyandra! Ah, tapi tolong Eolia jangan dulu dikasih tau! Biar nanti aja sama saya! Iya... makasih Tama... (menutup telponnya terdiam berfikir)
**
Di ruang ICU…
contoh aja ya...
Islandzandi berdiri melihat Reyandra yang belum sadarkan diri… Islandzandi pun berjalan kedekat Reyandra perlahan. Sementara beberapa suster sedang memeriksa infusan juga keadaan kondisi Reyandra.
"Eu, maaf mbak, mbak yang akan menunggu pasien?" ucap auster itu saat sudah memeriksa kondisi Reyandra.
"Iya suster, kenapa ya?"
"Kalau bisa tolong hanya satu orang saja yang jaga mengingat kondisi pasien masih belum stabil, dan kalau ada apa-apa anda bisa menekan tombol untuk memanggil suster."
"Baik suster!"
Suster itu pun pergi dari ruangan Reyandra setelah memeriksa Reyandra. Saat itu Islandzandi duduk disamping Reyandra sambil memegang tangan Reyandra.
"Rey… Buka matamu! Reyandra… Aku mohon… aku janji nggak akan pergi lagi, aku janji nggak akan kayak anak kecil lagi… Aku juga mau nurutin apa kata kamu, sekalipun nganggap kamu sebagai kakak laki-laki kayak dulu… Jadi aku mohon sadarlah…" menangis perlahan disamping Reyandra.
Sementara diluar ruangan ICU… Aufar sedang duduk dengan baju yang berlumuran darah Reyandra dan terdiam. Manager Resort menghampiri Aufar membawa minuman hangat.
"Minum ini, biar badanmu hangat!" duduk disamping Aufar.
"Terima kasih pak…" ucap Bu Audrey.
Aufar melihat Bu Audrey. "Apa dia akan baik-baik saja?"
"Kau juga dengar apa yang dikatakan dokter tadi kan? Akan berbahaya jadinya kalau keadaannya terus seperti ini. Tapi… Kalau kamu tidak memberi pertolongan pertama padanya… Mungkin keadaannya jauh lebih parah lagi!" melihat kearah Manager itu.
Manager itu mengangguk kearah Aufar.
"Island…"
"Masih bersama Reyandra di ruang ICU, tante juga sudah memintanya untuk istirahat, tapi dia tidak mau meninggalkan Reyandra! Di ruangannya juga nggak bisa banyak orang..."
Bu Audrey melihat Aufar sedih…
Sementara Pak Diandra masuk ke kamar Reyandra melihat keadaan Reyandra lalu mengelus kepala Islandzandi.
"Maafkan papah Nak... Andai saja papah nggak menyuruh Reyandra untuk menjauhimu... Ini pasti nggak akan terjadi... Maafkan Om Rey..." gumam Pak Diandra dalam hati sambil melihat Reyandra sedih.
Tak lama dia pun keluar dari ruangan karena tidak tahan melihat Islandzandi yang masih menangis maupun Reyandra yang masih tertidur dengan bantuan alat medis…
Sementara Islandzandi mengangkat tangan Reyandra ke pipinya yang sedang menangis…
"Aku mohon kamu cepet bangun ya... Aku janji bakal ngelakuin apa yang kamu mau... Aku bakalan nurut sama kamu... Kalo kamu bilang putus juga aku nggak apa-apa asal kamu bangun ya... Please!!"
Islandzandi pun mendekatkan wajahnya kearah Reyandra, lalu memegang wajah Reyandra dengan kedua tangannya dan menempelkan pipinya ke pipi Reyandra.
“Jangan tinggalin aku… Rey” gumam Island dalam hati.
Tak lama detak jantung yang ada di dalam monitor berhenti…
Islandzandi terkejut lalu menekan Bel untuk memanggil perawat dan juga dokter.
"Hah... Nggak Rey, aku mohon kamu harus bertahan... Kamu nggak bisa ninggalin aku sekarang Rey... Aku mohon... Kamu harus kuat..." ucapnya masih menangis.
Tak lama Dokter dan perawat berlari ke dalam ruangan itu dan langsung memeriksa denyut nadi Reyandra. Islandzandi mundur ke belakang melihat tindakan dokter sambil menangis.
"Bagaimana?" tanyanya pada perawat.
"Tekanan darahnya terus turun! Terjadi komplikasi, dan reaksi otaknya menurun!"
"Siapkan alat denyut listrik!" tandasnya pada perawat.
"Baik, dok!"
Islandzandi yang masih berdiri di belakang perawat mulai panik. Pak Diandra dan erik masuk untuk melihat Islandzandi.
"Dok, Reyandra kenapa dok?!"
"Island, sudahlah... Kita tunggu di luar..." ucapnya sambil menarik badan Islandzandi dibantu Erik.
"Suster!" memberi isyarat pada suster.
"Maaf, sebaiknya kalian tunggu di luar demi kelancaran tindakan dokter!"
"Kumohon tolong selamatkan Reyandra" pintanya sambil menangis.
"Kami akan menolong sebisa kami, jadi tolong tenang untuk bersabar menunggu…"
Setelah Pak Diandra, Erik dan Islandzandi keluar, Suster itu pun menutup pintu.
Aufar, manager resort dan Bu Audrey berjalan menghampiri Islandzandi yang panik.
"Ada apa Island? Reyandra kenapa?" melihat Pak Diandra.
Islandzandi menggelengkan kepala sambil menangis. "Aku nggak tau mam, tiba-tiba detak jantung Reyandra berhenti... Mam..."
Bu Audrey kaget langsung memeluk Islandzandi yang masih menangis.
"Island, tenanglah... Reyandra pasti akan baik-baik saja... Dia pria yang kuat..." ucap Erik sambilmenenangkan Islandzandi sambil menepuk kepala Islandzandi meskipun dia sendiri juga sebenarnya takut.
Bu Audrey melihat Erik. "Terima kasih ya..."
Sementara Islandzandi masih menangis memeluk Bu Audrey.
Aufar terlihat shock melihat keadaan Reyandra seserius itu.
Erik pun menepuk pundak Aufar, Aufar pun menutup wajahnya dengan kedua tangannya kesal.