
Sementara Reyandra dan Tama pun terdiam sejenak dan saling pandang ketika terdengar suara tembakan.
"Island!!" Tama pun langsung berlari kearah suara tembakan itu disusul oleh Reyandra, dan beberapa polisi yang mendengar pun ikut mengikuti Tama.
Saat akan masuk ke gedung itu tiba-tiba sebuah mobil keluar dari gedung itu Reyandra, Tama dan yang lainnnya pun kaget dan menyingkir, saat mobil itu melewati mereka Reyandra melihat ke sisi kursi depan terlihat Islandzandi tidak sadarkan diri.
"Island?! Tama... Mobil!"
Tanpa menunggu lama Tama pun berlari kearah mobilnya diikiluti Reyandra lalu menyusul mobil Alditra dan beberapa polisi dan anak buah Tama mengikuti di belakang mobilnya.
"Pak.. Apa anda melihat nona?"
"Ya.. Dia di kursi depan tidak sadarkan diri Tam... Saya takut terjadi apa-apa dengannya."
"Tenanglah pak.. Nona Island sangat kuat... Dia pasti akan bertahan"
Reyandra gelisah saat melihat kondisi Islandzandi meskipun hanya sekilas.. Tapi dia tau kalu Islandzandi pasti sudah sangat menderita.
***
Sementara itu...
Di dalam mobil Alditra yang sedang ngebut dan menghindari dari kejaran polisi dan juga anak buah Tama...
"Aaakkhhh iiisshhhh..." gumam Islandzandi yang bangun dari pingsannya sambil memegang kepalanya masih pusing...
"Al... Stop Al... Lo mau kita berdua mati hah?" ucap Islandzandi saat tau kalau mereka lagi menghindari kejaran polisi...
"Al.... Please Al... Perut gue aaaakkhhh..." Islandzandi memegang perutnya yang makin terasa sakit.
"Island?! Lo nggak apa-apa kan? Island?!" ucap Alditra masih dengan kecepatan penuh sambil melihat kearah Islandzandi sementara Islandzandi hanya menggelengkan kepala sambil menahan sakit di perutnya lalu melihat ke depan.
"Truk.."ucap Islandzandi tersenggal.
"Apa? Lo ngomong apa?"
"Ada truk di depan Al..."
Alditra seketika melihat kearah depan lalu membanting setir nya ke kanan dan ternyata ada mobil dari arah berlawanan. Alditra pun kaget dan membelokan setirnya dan...
BBBRrraaaaakk...
Mobil Alditra pun tak sempat menghindar lagi dari tabrakan itu. Sebelumnya Alditra sempat membelokan setir mobilnya menjadi sisinya yang tertabrak bukan sisi Islandzandi, dan seketika orang-orang yang berada di sekitar pun histeris dan menjerit.
Islandzandi pun tidak sadarkan diri lagi untuk kesekian kalinya dan kali ini ada beberapa memar di tubuhnya dan kepala yang mengeluarkan darah karena benturan tabrakan tadi.
**
Sementara itu...
Mobil yang dikendarai Reyandra pun berhenti dan Reyandra buru-buru keluar dari mobilnya dan melihat keadaan Islandzandi yang lumayan parah.
"No... Island.. Island...!!!" Reyandra yang histeris melihat keadaan Islandzandi pun di cegah untuk mendekati Islandzandi oleh anak buah Tama.
"Pak... Sebaiknya anda jangan melihat nona Island dulu..."
"nggak Tama.. Island..."
"Saya tau pak.. Ambulnce sebentar lagi datang dan nona Island pasti selamat... Bapak tunggu dulu di dalam mobil sambil menunggu evakuasi..."
"Tama..." Reyandra melihat Tama dengan tatapan memohon.
"Baiklah tapi anda jangan harus kuat..." Reyandra pun mengangguk.
***
Di sebuah Rumah Sakit ternama...
Sebuah blankar didorong oleh beberapa perawat di rumah sakit tersebut.
Reyandra dengan setia mengikuti blankar itu di belakangnya dengan cemas.
"Mohon tunggu diluar pak..." ucap suster menahan Reyandra saat blankar itu sudah masuk ke ruang operasi.
"Tolong selamatkan Istri saya dok..."
"Kami akan berusaha yang terbaik untuk menyelamatkan istri bapak, mohon Bapak menunggu sambil berdoa agar istri dan anak Bapak selamat ya pak.." ucap suster itu lalu masuk ke ruang operasi.
Sementara Reyandra langsung duduk di depan pintu ruang operasi dengan pasrah...
Tak lama Pak Diandra dan Bu Audrey datang menghampiri Reyandra cemas.
"Rey.. Gimana Island?" ucap Bu Audrey khawatir.
"Hah.. Tenanglah Rey.. Island kuat.. Dia pasti bisa melalui ini dan selamat..."
"Ammin..."
4 jam Islandzandi berada di ruang operasi dan dokter pun keluar dari kamar itu...
Reyandra, Pak Diandra, Bu Audrey, Erik dan Tama yang sudah berada disitu pun ikut menghampiri dokter itu.
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya dok?" ucap Reyandra.
"Alhamdulillah, pasien dan bayinya selamat Pak.. Bu.. Dan masa kritisnya sudah berlalu... Sekarang tinggal menungu pasien sadar.. Dan juga tolong biarkan pasien beristirahat dan tidak berfikir banyak itu untuk kebaikan psikisnya dan juga perkembangan bayinya..."
"Apa kami bisa melihatnya?" Pak Diandra.
"Kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap..."
"Baik terima kasih dok..."
***
Hari berikutnya...
Reyandra, Tama, Pak Diandra dan Bu Audrey sedang di cafetaria rumah sakit.
"Benarkah Jeni dalang dari semua ini?"
"Benar Pak... Alditra sebenernya keponakan pak Jeni yang sudah dianggap anak oleh pak Jeni, dan dia disuruh mendekati Island dengan cara masuk ke Svetovska dan ke kampus Island..."
Pak Diandra menggenggam tangannya erat menahan amarahnya.
"Apa dia sudah ditangkap? Bagaimana dengan penculiknya?"
Tama terdiam menunduk.
"Untuk Alditra... Dia... Tidak tertolong lukanya cukup parah di bagian kepalanya... Dia sengaja membelokan mobilnya... Seharusnya sisi bagian Island yang tertabrak, Tapi..."
"I know.. Alditra pasti tidak mau Island yang yang kena... Jadi dia memutar mobilnya sehingga Alditra yang tertabrak..." jelas Reyandra.
"Ya..."
"Alditra bukan Orang jahat... Saya tau dia hanya dijadikan alat oleh Om Jeni untuk menyakiti Island..." Reyandra.
"Lalu Jeni? Apa dia ditangkap? l" ucap Bu Audrey.
"Sudah dengan bukti yang kita miliki, meskipun Alditra yang sebagai tersangka tapi ternyata dia sudah menyiapkan semuanya bukti keterlibatan Om Jeni dan dalang dari semua ini adalah dia... Sudah pasti dia tidak akan bebas dengan mudah..." jelas Tama
"How about Aufar?" Reyandra
"Dia... Kami belum bisa mencari tau keberadaannya..."
"Hubungi Aslan.. Minta bantuanya untuk menemukan Aufar, dan jaga dia... Sifat seperti Aufar tidak bisa berfikir jernih.. Kalau bisa hubungi Haura dan Karin untuk terus berada disisinya..."
"Baik pak..."
Mereka pun terdiam sejenak.
"Pak... Tiket dan tempat sudah siap..."
Pak Diandra dan Bu Audrey melihat kearah Reyandra bingung.
"Tiket?" Bu Audrey.
"Begini Om, Tante... Saya berencana akan tinggal dengan Islandzandi di LA untuk beberapa bulan setidaknya sampai Island aman dan tenang tidak teringat kejadian ini lagi... Apa Om sama Tante mengijinkannya?"
"Hah... Tentu saja Rey... Island sekarang adalah hak mu dia sudah menjadi tanggung jawabmu, hanya saja... Tolong jaga Island disana..."
"Apa Om dan Tante mu ikut?"
"Tawaran yang menarik.. Tapi tidak Rey.. Setelah Jeni di penjara pasti perusahaan kacau balau, saya akan mengurusnya..."
"Benar.. Kamu tenang saja, kalau kami rindu juga kami pasti akan kesana... Iya kan Pah?"
Pak Diandra hanya tersenyum kecut. Mungkin sedikit kecewa karena putri satu-satunya akan berada jauh dengannya. Tapi dia berpikir ulang..
Reyandra memutuskan ini pasti ini demi kebaikan Islandzandi jadi dengan berat Pak Diandra pun menyenyetujuinya selain itu bukan tanggung jawabnya lagi melainkan Reyandra karena memang benar mereka sudah menyerahkan putri mereka pada Reyandra.
Tak lama suara telpon Reyandra berbunyi.
"Ya Erik... apa? Okay saya kesana sekarang!"
Setelah menerima telpon dari Erik Reyandra bergegas pergi disusul oleh Tama, Pak Diandra dan Bu Audrey, mereka pikir ini pasti ada hubungannya dengan Islndzandi karena Erik sedang menunggu Islandzandi di ruang rawat inap.