
"Lagi apa?" Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul, Orion berjalan mendekati Freya yang duduk di atas karpet ruang tengah. Ini masih pukul tujuh pagi, dan perempuan itu sudah sibuk mencatat sesuatu.
Iya, kemarin Orion benar-benar menahan Freya agar tidak beranjak pergi. Perempuan itu akhirnya menginap semalaman di apartemennya. Mereka tidak melakukan yang lebih dari pelukan, tentu saja. Seperti kata Freya, dia tidak mau menikah muda.
Freya mendongak untuk menatap Orion yang kini duduk di sofa dibelakangnya.
"Oh udah bangun, Pak," sapanya dan mengamati wajah Orion. Dia tidak sepucat kemarin. "Udah baikan?"
Orion tersenyum tipis lalu mengangguk. "Berkat kamu.”
Mendengar ini refleks Freya ikut tersenyum. Tanpa mengatakan apa pun, dia kembali menulis.
Orion menguap lantas membungkuk untuk membaca tulisan Freya. "Resep? Kamu lagi nulis resep masakan?"
Freya tersenyum kecil lagi dan mengangguk. "Kemaren saya miris ngeliat isi kulkas Bapak. Isinya cuma air mineral sama sayuran layu." Dia menghela napas pelan dan menatap Orion. "Iya, saya tau Bapak terbiasa pesen makanan dari luar. Tapi 'kan nggak baik kalau setiap hari gitu terus. Daripada gitu mendingan masak sendiri 'kan? Makanya ini saya tulisin resep-resep masakan sederhana, bahannya gampang, dan masaknya nggak ribet. Saya juga udah tulisin link-link blogger yang biasa nge-share resep masakan simpel."
Orion mengerjap pelan. Dia lalu tertawa kecil dan mengusak puncak kepala Freya. "Makasih, loh. Sebelumnya nggak pernah ada yang peduli apa yang saya makan."
Sambil terkekeh Freya beranjak bangun dan berjalan menuju dapur. "Makanya cepet cari istri sana, Pak. Keliatannya dari kemaren Bapak ngebet nikah, tuh."
Orion mengekori Freya dan mengamati perempuan itu menempelkan resep-resepnya di pintu kulkas. Lucu kalau memikirkan Freya lebih memilih cara konvensional dalam menulis resep-mencatat di kertas dan menempelkannya di pintu kulkas. Padahal tentu saja perempuan itu bisa membuat bookmark khusus di gawai, cara yang lebih cepat dan praktis. Tapi mungkin, Freya ingin resep-resepnya lebih mudah dilihat Orion saat laki-laki itu memasak. Sehingga Orion dapat membacanya langsung dari pintu kulkas.
"Katanya 'kan kamu nggak mau nikah muda." Orion menukas sambil memasang cengiran.
Freya langsung menoleh dan menatap Orion dengan mata melebar. "Hah? Apa, Pak?"
"Nggak usah dipikirin. Saya cuma becanda," cetus Orion sambil terkekeh.
Laki-laki itu lalu berjalan menghampiri Freya, berdiri di belakangnya dan menarik secarik kertas yang telah ditempelkan di pintu kulkas. Dalam diam Orion membaca resepnya. Tidak menyadari Freya yang kini berdiri terhimpit di antara tubuhnya dan kulkas tengah susah payah mengontrol debaran jantung.
Sialan, apa maksudnya ngomong gitu sih? Ngapain juga dia berdiri di sini, nggak tau apa jantung gue udah sakit dari kemaren?
Rutuk Freya dalam hati dengan wajah memerah.
"Terus ini saya mau masaknya gimana? 'Kan nggak ada bahan-bahannya?" Orion kemudian bertanya sambil menunduk menatap Freya. "Saya juga nggak bisa milih bahan masakan yang bagus."
Freya lantas mendongak dan balas menatap Orion. Sebuah ide melintas di benaknya.
"Bapak mau saya temenin belanja?"
***
Maka di sinilah mereka beberapa jam kemudian.
Sebelum mengantar Freya pulang, Orion membawanya ke supermarket. Sementara Orion mendorong troli belanja yang mulai penuh, Freya berjalan menelusuri rak-rak sambil memilah sayuran yang menurutnya berkualitas bagus.
"Sayuran nggak usah nyetok terlalu banyak deh, Pak, kan nggak bisa didiemin terlalu lama. Nanti keburu layu kayak nasib sayuran-sayuran di kulkas." Freya berujar sambil memasukan beberapa sayur ke troli.
"Ya udah, emang yang paling bener sih nyetok mi instan." Orion menyahut senang. Dia hampir mendorong trolinya meninggalkan bagian sayuran tapi Freya segera menahannya.
"Sama aja bohong dong, Pak, kalau kebanyakan makan mi instan," cetus Freya sambil merotasikan mata. "Ceritanya ‘kan rencana saya bantuin belanja biar Bapak bisa masak sendiri pake menu sehat dan sederhana. Kalau ujung-ujungnya beli mi instan ya apa faedahnya saya susah-susah nulisin resep terus nemenin Bapak ke sini."
Orion merengut mendengar ini. Benar juga, sih kata Freya.
"Sedikit aja, deh beli mi instannya. Ya, boleh ya?" Tapi dia belum menyerah untuk mendapatkan makanan instan itu. Stok mi instan di dapurnya memang sudah habis.
Freya menghela napas lantas bersidekap. "Enggak. Meskipun beli cuma dikit saya yakin ujung-ujungnya yang bakalan dimasak pasti ya si mi instan."
"Ah, kamu kayak nggak pernah makan mi instan aja." Orion lantas menukas dan ikut menyilangkan tangan di dada. "Saya tau ya mahasiswa itu demennya makan mi instan. Emang saya nggak pernah jadi mahasiswa apa?"
"Ya, bukan gitu. Saya 'kan di rumah ada yang bantu masakin, jadi menunya terkontrol, nggak mungkin setiap hari cuma makan mi instan." Freya menghela napas, tak mengerti kenapa bisa sesulit ini membicarakan pola makan sehat dengan dosennya. "Bapak 'kan beda. Karena nggak ada yang masakin, bisa aja Bapak cuma makan mi instan 'kan? Nggak baik tau."
"Hah, kok jadi gitu sih, Pak?" Freya melongo, tidak habis pikir dengan jalan pintas yang diambil Orion.
"Becanda," cetus Orion sambil terkekeh. Ia lalu mendorong trolinya. "Udah saya janji cuma beli sedikit, kok."
Freya berdecak. Memang, sepertinya dia tak bisa mengalahkan Orion. Sambil masih mengomel, dia berjalan bersisian dengan Orion. Sementara Lo hanya mendengarkan omelan Freya sambil terkekeh-kekeh. Merasa geli diceramahi mahasiswanya sendiri.
"Freya?"
Ketika mereka hendak berbelok, sapaan itu menghentikan langkah keduanya. Naya seketika tertegun begitu melihat siapa sosok yang berdiri beberapa meter di depannya.
Jantungnya terasa berhenti berdetak selama beberapa saat.
"Arkana ...."
Beberapa meter di depannya berdiri Arana dengan keranjang belanjaan di tangan. Da menatap Freya dan Orion bergantian dengan terkejut. Cepat-cepat laki-laki itu berjalan menghampiri Naya.
"Siang, Pak." Arkana menyapa Orion.
Orion membalasnya dengan anggukan.
Tatapan Arkana lalu kembali beralih pada Freya. "Kok lo bisa di sini sama Ppak?"
Sean sudah membuka mulut hendak bicara. Tapi Freya dengan cepat mendahuluinya.
"Ah, itu, tadi gue lagi belanja juga terus nggak sengaja ketemu Pak Orion. Ngobrol bentar deh," jelasnya. Dia lalu menoleh pada Orion. "Iya 'kan, Pak?"
Sebelah alis Orion berjingkat. "Hm, iya."
Arkana lantas mengangguk-angguk. "Ya, udah temenin gue belanja yuk, bantu pilih bahan-bahan masakan."
Freya melirik Orin sekilas, laki-laki itu memicingkan matanya sembari menggeleng kecil. Seakan memberi kode bagi Freya untuk menolak ajakan Arkana tadi. Tapi memangnya alasan apa yang akan Freya berikan pada Arkana? Maka akhirnya Freya hanya bisa mengangguk.
"Ya udah, ayo," katanya. Dia lalu menoleh pada Orion yang kini menatapnya tidak percaya. "Pak, saya duluan, ya. Permisi pak."
Freya meraih tangan Arkana dan membawanya berjalan meninggalkan Orion yang masih terdiam di tempatnya. Baru beberapa langkah, ponselnya bergetar pendek. Cepat-cepat Freya mengecek. Pesan dari Orion.
Dosen Gila :
Apa-apaan...
Harusnya kan saya yang kamu temenin belanja
Freya diam-diam terkekeh. Dia menengok ke belakang dan menemukan Orion tengah menatapnya dengan dongkol. Diketikannya balasan untuk Orion.
Freya :
Ya maaf Pak, saya nggak ada alesan buat nolak Arkana...
Lagian Bapak kan mau beli mi instan, buat apa saya temenin hayo~~
Dosen Gila :
Ga tau ah saya kesel
Freya :
... tapi itu emoji kaget Pak, bukan kesel
Dosen Gila :
Biarin. Suka suka saya, Kamu aja suka suka sendiri kan ninggalin saya gini...