
Berita kehamilan Islandzandi ini menjadi berita membahagiakan untuk kedua orang tua Islandzandi maupun teman-teman Islandzandi kecuali ada satu orang yang sangat tidak suka berita itu... Ya itu adalah Jeni ayah Aufar.
4 bulan kemudian...
Saat Islandzandi akan sidang...
Perut Islandzandi memang sedikit terlihat tapi tidak terlalu karena memang badan Islandzandi juga kecil, dan kata dokter bayi dalam kandungannya sangat sehat karena Reyandra selalu memberi dan mengingatkan makanan dan vitamin untuk Islandzandi. Dan Reyandra maupun Islandzandi sudah tidak ngidam lagi 😂...
**
Pukul 22.00 malam...
Di kamar...
Islandzandi sedang duduk sambil bersandar di sandaran tempat tidur, sementara Reyandra sedang menunduk mengajak ngobrol calon buah hati mereka.
"Hai babynya ayah... Baik-baik ya disana... Jangan nyusahin bunda.. Kasian bundanya sekarang... Biar bunda lancar sidangnya ya..." ucapnya mencium perut Islandzandi yang masih kecil, Islandzandi hanya terkekeh melihat tingkah Reyandra.
"Hhm.. Bahagia banget ya... Yang mau jadi Bapak..." Reyandra hanya tersenyum kearah Islandzandi.
"Makasih ya Island... Ini adalah hadiah yang paling spesial buat saya di tahun ini..."
"Sama-sama Rey..."
"Kamu bener nggak pengen apa-apa lagi?"
"Hhmmhh.. Apa ya? Abis ngidamnya diabisin sama kamu sih.. hihihi"
"Tapi saya bersyukur saya bisa merasaknnya, kamu jadi tidak merasakan rasa itu..."
"Aku udah ngerasain kok... Sebelum tau aku hamil, setelah tau aku hamil aku nggak ngerasain lagi apalagi pas kamu yang ngidam gantiin aku... rasanya bebas banget ga ada beban dan rasanya ga ngerasa hamil di trisemester pertama..."
"Saya rela kok gantiin kesakitan kamu kalau bisa saat nanti kamu melahirkan, saya yang merasakan sakit nggak apa-apa..."
"Mana bisa kayak gitu... Dasar kamu ini... Oia Rey.. Kalau--- Kalau ya ini, misalnya nanti kamu disuruh milih antara saya sama anak kita, kamu harus milih anak kita ya..."
"Kenapa bilang seperti itu? Saya nggak mau milih, kalau bisa kamu sama anak kita baik-baik saja..." ucap Reyandra sedikit ketus.
"Ya.. Kan kalau misalkan... Sensi amat sih..."
"Jangan bilang kayak begitu lagi.. Saya nggak suka.."
"Iya-iya..." ucap Islandzandi cemberut.
"Saya nggak bisa kehilangan kamu Island... Kamu adalah hidup saya..."
***
sementara itu di Apartement Alditra...
Pa Jeni sedang duduk di sofa berhadapan dengan Alditra.
"Hah... Mulai sekarang kau harus bertindak... Tujuan utamanya kamu masih ingat kan?"
"Ya... Om..." jawabnya ragu.
Secepatnya saya tunggu kabarmu Al..." terdiam. "Hah.. Kau bahagia sekarang karena akan mendapatkan cucu Diandra... Lihat saja sebentar lagi kalian juga akan mendapat kabar buruk dari Island...
***
Pukul 08.00 pagi...
Di Apartement Reyandra...
Reyandra dan Islandzandi sedang sarapan.
"Rey, hari ini aku terakhir syuting, jadi mungkin aku pulang agak malam..."
"Kamu syuting nggak ada adegan terbang sama lari-lari kan?"
"Udah nggak kok cuma berantem doang... Tenang aja..."
"Habis saya kaget waktu tau kamu ada adegan diterbangin pakai tali.. Kan kamu itu lagi hamil Island..."
"Iya itu jadinya digantiin sama cameo kok.. Hihi..."
"Pake bodyguard ya..."
"Iiiihh ga ah enak aja siapa aku coba pake bodyguard yang ada tar aku diomongin sama temen-temen..." ucapnya cemberut.
"Iya-iya, baiklah tapi kamu janji hati-hati..."
"Siap boz...!"
***
Pukul 23.00 malam...
Di lobby Studio Destiny...
"Rey, aku udah beres..."
"Ya udah sebentar lagi saya sampai, ini udah di jalan... Kamu tunggu aja di dalam ya..." ucap Reyandra dari sebrang telpon.
"Ok..." ucap Islandzandi lalu menutup telponnya
"Island???!" ucap Alditra sambil menghampiri Island.
"Dith? Kamu ngapain disini??"
"Ada urusan... Lagi nunggu Reyandra ya?"
"Hmm... Dia lagi di jalan"
"Ya udah temenin aku makan yuk daripada nunggu disini sendirian..."
"Ya elah.. Timbang makan di depan doang, Reyandra dateng juga kamu pasti liat kan..."
"Hihi iya sih... Ya udah yuk... Aku juga laper lagi nih.."
"Jelaslah pasti laper terus Orang yang makan kamu sama bayinya kan..." Islandzandi hanya tersenyum sambil mengikuti Alditra ke cafe depan studio Destiny...
Park jae Joon yang baru keluar dari lift pun heran melihat Islandzandi keluar bersama dengan seorang pria yang dia tidak kenal.
"Apa kau kenal Island sama siapa?" tanyanya pada Aslan dan pada saat Aslan memperhatikan Island dan Alditra pun sudah berlalu dari hadapan mereka.
"Siapa? Aaaahh paling temen kuliahnya..." ucap Aslan santai.
Beberapa menit kemudian saat Park Jae joon dan Aslan sedang mengobrol di sofa lobby tak lama Reyandra datang.
"Loh Rey? Kok lo kesini?" teriak Aslan kearah Reyandra heran.
"Joon kau disini? Saya kesini mau jemput Island..." Park Jae Joon dan Aslan saling pandang heran.
"Loh.. Island bukanya tadi udah pulang ya?" Reyandra terdiam melihat Aslan sambil mengerutkan keningnya.
"Tadi saya janjian disini dan dia bilang akan menunggu saya disini..."
Park Jae Joon dan Aslan makin kaget mendengar penjelasan Reyandra.
"Tadi saya liat dia keluar sama seseorang tapi saya tidak mengenalinya..."
"Hmm.. Dan saat Mr Park bilang gue liat mereka udah ngilang..."
Mereka pun buru-buru melihat CCTV.
"Alditra?!" ucap Reyandra.
"kau tau dia?" Park Jae Joon melihat Reyandra.
"Hmmh... Dia teman Island saat di Svetovska..."
"Tapi mereka cuma ke Cafe, Rey.. Dan disini cowok itu pulang sendiri tanpa Island..." Reyandra pun mulai panik dan menghubungi Tama.
***
Di sebuah ruangan...
Islandzandi tertidur duduk sambil diikat di sebuah kursi dan mulutnya di lakban. Seseorang tengah berdiri di depannya sambil memperhatikan Islandzandi.
Ya.. Siapa lagi kalau bukan Alditra.
Dia memang sengaja membuat alibi untuk CCTV seakan dia hanya mengajaknya makan dan dia pulang sendiri dan saat Islandzandi pergi ke toilet cafe itu Islandzandi tidak terlihat di camera CCTV cafe itu.
Karena anak buah yang dibayar olehnya yang membawa Islandzandi lewat belakang Cafe tanpa sepengetahuan pegawai cafe tersebut.
"Hah... Nasib lo bener-bener buruk Island..." gumam Alditra masih sedikit ragu untuk melakukan apa yang disuruh Om Jeni.
Tak lama handphone mya pun berdering.
"Ya Om..."
"Bagaimana?"
"Sudah ada ditangan saya om..."
"Bagus, selanjutnya eksekusi saja... Buang mayatnya dan jangan sampai diketahui orang lain." Alditra terdiam sejenak melihat Islandzandi yang mengkhawatirkan mana sedang hamil muda lagi.
"Baik Om... Om tenang saja.."
"Baguslah! Dan hati-hati" ucapnya langsung memutuskan sambungan telponnya. Alditra terdiam berfikir.
Tak lama Islandzandi sadar dari pingsannya dan melihat ke arah Alditra masih dengan pandangan mata belum jelas.
"Hai Island..." Islandzandi kaget melihat kearah Alditra.
"Mmmmhhpp? Mmhhhpp... Mmhhpppp..." hanya suara itu yang terdengar oleh Alditra.
Alditra berjalan mendekati Island, dan dengan refleks Islandzandi pun memundurkan tubuhnya sampai mentok di sandaran kursi.
"Haahh.. Lo tau Island, nasib lo emang bener-bener buruk! Lo sama keluarga lo macam-macam sama Om gue..." gumam Alditra sambil mengelus pipi Islandzandi. Islandzandi pun dengan takut dan meneteskan air mata memalingkan wajahnya agar tidak disentuh oleh Alditra.
"Aaaaakkhhhh!" teriak Islandzandi saat Alditra membuka lakban dimulut Islandzandi.
"Al... Kenapa lo lakuin ini Al? sebenernya apa mau lo" ucap Islandzandi sambil menangis.
"Lo sama keluarga lo nyinggung om Jeni dengan membatalkan pertunngan lo dengan putranya Aufar."
"Apa? Jadi lo..."
"Ya... Om Jeni yang bantu gue selama ini, dan cerita tentang lo yang mirip pacar gue itu emang bener.. Hanya saja, masuk ke Svetovska dan ke kampus itu keinginan Om Jeni agar gue terus ada disamping lo..."
"Hah... Jadi... Ini Om Jeni?"
"Hhmmm..."
"Hah.. kalau Aufar tau dia akan sangat membenci Om Jeni."
"Hah.. Lo tau saat di liburan kantor? Saat lo tesesat? Itu gue yang sengaja mengalihkan papan petunjuknya, dan gue pikir lo nggak akan ditemukan tapi ternyata gue salah, malah ada manusia serigala yang ngikutin lo bahkn hampir memperkosa lo..."
"Bajingan!!! Aaaaaakkkhhhh!!!" teriak Islandzandi. Alditra hanya menyeringai.
"Silahkan aja lo teriak sampe suara lo abis, disini nggak akan ada Orang yang denger teriakan lo...." mulai panik dan streess Islandzandi pun mengeluarkan darah di sela-sela kakinya. Alditra yang melihat itu pun terdiam ragu. Islandzandi yang melihat reaksi Alditra mulai agak tenang.
"Al... Gue tau lo nggak tega liat gue kan? Gue lagi hamil Al.. Gue nggak mau terjadi apa-apa sama bayi gue Al.. Gue mohon.. Gue tau lo orang baik..."
Alditra pun berjalan keluar tanpa melihat Islandzandi lagi.