Islandzandi

Islandzandi
The Wedding



Islandzandi sedang melihat dirinya di kamar ganti...


Pukul 18.00 malam…



Akhirnya… Penantian gue buat nunggu Reyandra selama ini membuahkan hasil juga… I will be the wife of Reyandra…


Tak lama datang Haura dan Karin ke ruang ganti…



"Islaaandd… (teriaknya senang) Pokonya udah jadi istri Reyandra jangan pernah berubah ya… Lo harus tetep ikut kita kalo mau hang out… Yaa…."


Islandzandi melihat Haura dan Karin tersenyum.



"Cieeehh bahagia banget sih lo yang udahbmai jadi Nyonya Reyandra…. Sekali lagi selamat ya… Semoga dengan kawin sama Ahjushi lo jadi nggak ngerasa gundah gulana lagi… Apalagi sama Eolia…"


Islandzandi terdiam duduk di kursi. Karin dan Haura saling pandang.



"Kalian udah denger kabar Aufar?"


"Belum… Kita juga nggak tau dia ada dimana… Bahkan Om Jeni sebagai Ayahnya Aufar sendiri nggak tau anaknya ada dimana…"


"Seenggaknya gue pengen Aufar hadir disini…"


"Ya udahlah... Mungkin aja Aufar butuh waktu buat nerima kalo lo udah jadi milik Reyandra…"


Tak lama bu Audrey datang keruangan itu.



"Eh ada Haura dan Karin" tersenyum ke arah kedua temannya Islandzandi.


"Malam tante…" ucap Karin.


"Malem ini tante cantik cantik banget siihhh…" puji Haura.


Bu Audrey tersenyum. "Makasih loh ya, kalian selalu ada buat Island… (ucapnya lalu melihat ke arah Islandzandi) Island kamu sudah siap?!" melihat Islandzandi terdiam.


"Ah, iya…"


"Ya udah, kita nunggu di luar ya… Bareng sama yang lain…"


"Ok, thank’s ya…"


Haura dan Karin pergi meninggalkan mereka. Sementara Bu Audrey terharu melihat kearah Islandzandi.


"Ayahmu pasti bangga padamu… (menyentuh wajah Islandzandi berkaca-kaca) Ah, dia sudah ada di luar mau jemput kamu… Sebentar."


Bu Audrey berjalan kearah pintu dan memanggil Pak Diandra.


Pak Diandra pun masuk ke ruangan itu dan terdiam melihat Islandzandi kagum.



"Kau kelihatan sangat cantik… (membawa buket bangga) ah, dan ini jangan lupa dibawa… Kalo nggak EO nya marah-marah sama Papah…"


Islandzandi tersenyum lalu memeluk Pak Diandra.


Begitu juga dengan Pak Diandra yang membalas pelukan Islandzandi dengan erat.


"Kau bahagia?"


"Sangat… Makasih buat semuanya Pah…"


***


Di sebuah Aula yang lumayan cukup luas di Garden Tea Resort…



Reyandra memakai pakaian berwarna hitam, sedang duduk di depan penghulu menunggu pengantin wanita keluar bersama Erik yang berdiri berada disebelahnya.


Para tamu yang sudah datang pun sudah duduk di kursi yang sudah dipersiapkan.


Aslan pun sudah siap dengan cameranya untuk mengabadikan moment penting Islandzandi juga Reyandra.


"Bagaimana dengan Aufar? Apa benar dia disekap?" ucap Reyandra pelan kearah Erik.


"Sepertinya tapi aku nggak yakin, karena saat tadi pagi aku melihat ke rumahnya tidak ada yang mencurigakan… Tapi anak buahku sedang mencari tahu dan kalau benar, mereka aku suruh untuk membebaskan Aufar…"


Reyandra terdiam. "Lalu Eolia?"


Erik melihat kearah Reyandra heran. "Hyung jangan mikirin dia… Pikirkan saja Island, (terdiam) Bukankan ini yang kau inginkan? Jadi berhenti memikirkan orang lain dan pikirkanlah dirimu sendiri…"


"Erik, saya tau dia pasti sangat sedih… Kau harus terus berada disisinya..."


Erik terdiam. "Dia tidak perlu aku, Ayah sudah ada disisinya…"


Reyandra melihat Erik menyesal. "Aku minta maaf…"


"Sudahlah… Yang penting sekarang kau bahagia… Dan ini takutnya lupa (memberikan cingcin  kawin Reyandra lalu melihat Haura yang baru datang) Ah… Sepertinya aku harus menemui seseorang…"



"Siapa? (melihat kearah Haura yang sedang dipandangi Erik) Hey… Kau benar-benar… Erik, dia sahabat Island…"


"I know… (tersenyum) Kau ingat cewek yang pertama kali kulihat waktu pertama kali aku kesini? Dia adalah cewek yang aku ceritakan!"


Reyandra terkejut. "Benarkah?"


Tak lama Islandzandi dan Pak Diandra datang dari belakang para tamu terdiam.


((disarankan agar dengerin lagu turning page instrumental ya...🤭🤭))


Pak Diandra melihat kearah Islandzandi. "Kau siap?"


Islandzandi melihat kearah Reyandra menarik nafas panjang gugup. "Ya…"


Semua tamu berdiri dan melihat kearah Islandzandi dan Pak Diandra.


"Pah, jangan sampai Island jatuh…" ucapnya tegang sambil berjalan.


"Tidak akan pernah Island! Kau harus tau aku tidak akan pernah membuatmu terjatuh…"


Islandzandi tersenyum. "Thank you Pah…"


Pak Diandra dan Islandzandi berjalan kedepan menghampiri Reyandra. Reyandra hanya terdiam melihat kearah Islandzandi terkesima.


Sementara Alditra sedang duduk diantara tamu yang lain memperhatikan Reyandra. Begitu juga dengan Pak Indra guru dan juga wali kelas Islandzandi selama di SMA.


Manager, Bell Boy, dan gadis yang bekerja di Front Office itu turut hadir di acara pernikahan Islandzandi dan Reyandra.


Pak Diandra menyerahkan tangan Islandzandi pada Reyandra.


"Aku serahkan Island padamu Rey…" ucapnya Pak Diandra dengan berat.


"Baik Om… Dan terima kasih…"


Mereka langsung duduk di kursi yang sudah disediakan...


Islandzandi melihat kearah Reyandra tersenyum, begitu juga Reyandra.


Reyandra melihat Islandzandi tersenyum. "You look so beautiful…"


Islandzandi dengan gugup melihat Reyandra. "Thank you…" sambil tersenyum.


Reyandra melihat ke sekeliling ruangan yang terdapat kerabat dan teman dari Pak Diandra dan Bu Audrey, teman-teman Island pun hanya ada Haura, Karin dan Alditra yang tau hubungannya dengan Reyandra...


Reyandra kemudian melihat Eolia dan Pak Ferdinan yang baru saja masuk ke Aula dan berdiri di pintu masuk melihat kearahnya.




Reyandra pun tersenyum kearah pak Ferdinand sambil menunduk memberi hormat, sementara Eolia membalas senyuman Reyandra dengan berat…


Erik pun terkejut melihat Eolia dan Pak Ferdinan datang.


Penghulu pun mulai berbicara pada Pak Diandra dan Reyandra untuk mengucapkan janji pernikahannya dengan sangat sakral…


"Nak Reyandra, siap dengan ucapannya? Harus satu napas dalam pengucapan dan tidak boleh salah." ucap pak penghulu kearah Reyandra.


"Insya Allah, siap!" ucapnya tegas.


Pak Diandra melihat kertas yang ada dihadapannya gugup.


"Bissmillahirohmanirohim... Ananda Reyandra Adira Putra Bin Keitel, saya nikahkan dan kawinkan kamu, dengan putri kandung saya, Islandzandi Pradipta kepada engkau, dengan mas kawin berupa 500 gram logam mulia dibayar tunai.


Penghulu menepuk tangan yang sedang dijabat Pak Diandra.


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Islandzandi Pradipta Bin Diandra Pradipta dengan mas kawin tersebut, tunai." ucap Reyandra dengan tegas dan lantang.


"Bagaimana saksi? Sah? Sah?"


“Sah...” seru saksi juga para tamu yang sangat antusias.


"Alhamdulillah... (membaca doa) Ijab kobul ini berjalan dengan lancar, semoga rumah tangga kalian menjadi Sakinah dalam bahasa Arab memiliki arti kedamaian, tenang, tentram dan aman, Mawadah bisa diartikan cinta atau sebuah harapan, Warrahmah dalam bahasa Indonesia dapat diartikan dan kasih sayang. Silahkan kedua mempelai saling bersalaman dan sang suami memakaikan cingcin pada sang istri. Dan ini adalah SIM surat ijin menikah kalian." menyerahkan buku nikah pada Islandzandi dan Reyandra.


Setelah selesai mengucapkannya semua orang bertepuk tangan menandakan ikut berbahagia. Reyandra dan Islandzandi berdiri dan saling bertukar cingcin.


Reyandra melihat kearah Islandzandi serius. "To have and to hold, for better and worst, to rich or pour, and sick and then healt, to love to cherish, for all of our life…" ucapnya pelan.


Islandzandi melihat Reyandra serius. "I do…"


"I do..." tersenyum.


Mereka pun memasangkan cincin di jari manis mereka dan berpelukan...


"Finally…" ucap Reyandra tersenyum sambil memejamkan mata.


Sementara para tamu bertepuk tangan ikut merasakan bahagia… Bu Audrey memeluk Pak Diandra terharu.


**


Sementara Pak Jeni terdiam kesal kearah Islandzandi dan Reyandra.


Pak Jeni melihat kearah Alditra yang sedang melihat kearahnya langsung memberi kode pada Alditra lalu Alditra pun mengangguk pelan…



"Hah... Akhirnya kode merah diijinkan... Kasian Island... Aku harus melakukan apa yang Om Jeny suruh, bagaimanapun caranya, meskipun itu melawan keinginanku..." melihat Islandzandi dengan serius.


Sementara itu Eolia terdiam sedih melihat kearah Reyandra. Pak Ferdinan melihat Eolia sedih.


"Kau tidak apa-apa?"


Eolia tersenyum kecut. "Hm... it’s over pah... Saya sudah tidak bisa mengharapkan Reyandra lagi... Hanya aku yang bisa mengobatinya..."


Pak Ferdinan memegang tangan Eolia memberi semangat. "Maafkan papah karena tidak bisa membantumu saat ini!"


Eolia melihat kearah Pak Ferdinan lalu memeluk Pak Ferdinan menahan tangisnya.