Islandzandi

Islandzandi
S2 Tanggung Jawab



gue cepet cabut dari sini sebelum Aubrey sadar gue disini.


Tatapannya lalu beralih pada Freya yang sudah tenang.


Apa gue tinggalin aja ya ni cewek?!


“Van, Gue titip dia sama lo, ya?” Orion bertanya pada Evan, masih sambil menatap Freya yang kedengarannya mulai mendengkur.


Evan menggeleng tanpa berpikir. “Nggak bisa. Enak aja! Gue sibuk.”


Benar, kenapa juga Orion berpikir dia bisa mengandalkan Evan di saat seperti ini. Sepertinya Orion memang tidak punya pilihan lain. Dia akan membawa Freya bersamanya dulu.


"Ck... Ya udah, gue cabut dulu," ucapnya pada Evan. Pemuda itu lalu membawa Freya ke atas punggungnya, dan berjalan cepat meninggalkan klub. Dia melangkah menuju mobilnya di parkiran, lalu dengan susah payah membawa Freya masuk.


Setelah ikut masuk ke dalam mobil Orion menggoyang-goyangkan pundak Freya. Gadis itu hampir terlelap.


“Hei, Freya, kasih tau saya alamat rumah kamu. Biar saya anter pulang,” ujarnya.


Tapi Freya hanya menjawab dengan gumaman tidak jelas, membuat kesabaran Orion habis.


Pemuda itu lalu membuka clutch yang disampirkan di bahu Freya, mencoba mencari ponselnya. Mungkin ada kontak yang bisa dihubunginya. Tapi sial ponsel gadis itu mati.


Orio menghela napas lalu menatap Freya dengan lelah.


Baiklah untuk malam ini saja dia akan membawa mahasiswanya ini ke apartemennya. Orio tidak sadar, di balik pilar parkiran, berdiri seorang laki-laki yang sejak tadi mengamati mereka, dengan tangan menggenggam ponsel. Memotret seluruh kejadian di sana.


***


Orion menjatuhkan tubuh Freya ke atas sofanya. Pemuda itu lalu berjalan menuju dapur untuk menuang air minum. Ketika dia kembali ke ruang tengah, dia menemukan Freya telah terbangun dari tidurnya. Gadis itu memegangi perutnya dan memasang raut mual di wajah.


"E-eh, kenapa kamu?" Orion bertanya panik.


Huek....


"Jangan muntah di sana!"


Terlambat. Freya telah lebih dulu membungkukan tubuhnya, dan memuntahkan isi perutnya ke atas karpet.


Kedua kaki Orion langsung melemas seketika.


“Sialan.” Pemuda itu mengumpat kesal.


Freya lalu menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa. Sepertinya dia belum sepenuhnya sadar.


“Ck...Aaaahh... panas....” Gadis itu tiba-tiba mengesah sambil mengacak rambutnya gusar.


“Gerah....”


Dengan kedua mata masih terpejam dan mulut yang terus meracaukan 'panas', mendadak saja Freyq bergerak membuka jaket yang dikenakannya, lalu melempar benda itu sembarangan ke atas lantai. Menyisakan tubuh bagian atasnya yang hanya berbalut tank top hitam.


Sial.


Orion meneguk salivanya susah payah melihat pemandangan ini.


“Aarrgghhtt Gerah ....” Freya meracau lagi. “Panas banget....”


Orion tidak mengerti, padahal air conditioner apartemennya menyala. Tapi melihat Freya seperti itu membuatnya ikut kegerahan juga. Lalu seakan ingin mengujiny, mahasiswanya yang tengah mabuk itu bergerak menyentuh kancing celana jeansnya sendiri. Kedua mata Orion langsung melebar. Freya sudah membuka kancing celana jeansnya dan mulai menurunkan retsletingnya. Hanya tinggal menariknya turun, dan .... Dan Orion cepat-cepat menyusun langkah menuju Freya. Dia menahan kedua tangan Freya yang hendak melepas celana jinsnya.


"Stop!!" Orio mendesis sambil menatap wajah Freya yang memerah.


Mahasiswanya itu perlahan membuka kedua matanya dan balas menatap Orion dengan mata sayu, membuat darah pria itu berdesir.


"Stop, sebelum saya lepas kendali." Kedua mata sayu Freya mengerjap pelan beberapa kali. "Panas...."


Lalu gadis itu kembali memejamkan kedua matanya dan tidak sampai beberapa detik langsung mendengkur dalam. Genggamannya pada celana jeansnya pun melonggar.


Orion menghela napas ketika melihat mahasiswanya telah kembali terlelap. Pemuda itu melepas cengkramannya pada tangan Freya dan mundur menjauh. Dia mengamati tubuh gadis itu yang terlelap dengan jantung yang berdebar.


Sebenarnya Orion juga bukan benar-benar pria baik-baik. Hanya saja, dia tidak mau menyentuh perempuan yang sedang dipengaruhi alkohol. Dia tidak mau keesokan paginya ketika mereka terbangun, Freya menangis dan meminta pertanggung jawaban. Padahal gadis itu yang duluan menggodanya meski yah, dia tidak sadar. Karena itu, Orion tidak pernah mau tidur dengan gadis mabuk.


Orion mendecak lalu mengusak rambutnya. Tatapannya beralih pada muntahan Freya di atas karpet putihnya. Freya benar-benar menguji kesabarannya malam ini.


Pemuda itu lantas berjalan menuju kamarnya, mengambil hoodie besar miliknya. Dia tahu tadi Freyq mengeluh kegerahan, tapi masa bodoh, membiarkan gadis itu tertidur di apartemennya dengan tank top membuat Orion takut kehilangan kewarasannya.


Sambil meneguk salivanya susah payah Orion memakaikan hoodie miliknya ke tubuh gadis itu. Dia lalu beralih menaikan kembali retsleting dan mengancingkan celana jins Freya. Sampai dia selesai, Freya masih saja terlelap.


Orion lalu menyelipkan sebelah tangannya ke bawah lutut Freya dan tangannya yang lain memeluk bahu gadis itu, menggendongnya ke kamarnya. Perlahan Orion menidurkan Freya ke atas kasurnya dan menyelimutinya sampai dada. Ditatapnya sejenak wajah Freya yang terlelap. Jemarinya lalu bergerak mendorong kening gadis itu.


"Dasar ngerepotin"


***


Freya terbangun keesokan paginya dengan kepala berat. Gadis itu mengerang lalu memegangi kepalanya yang terasa berputar. Butuh beberapa saat baginya untuk tersadar dia tidak terbangun di kamarnya sendiri. Melainkan di kamar yang benar-benar asing. Jantung Freya dengan cepat berdebar kencang.


Oh Shittt!!! Di mana ini? kok bisa gue di kamar yang nggak gue kenal?


Freya berusaha memutar ingatannya, mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Haidar memintanya menjemput Arkana di Nightiest, lalu dia datang tapi memergoki Arkana justru bermesraan dengan Gianna, lalu dia patah hati untuk kesekian kalinya, lalu dia memesan minuman tanpa berpikir, lalu... lalu... Ingatannya berhenti sampai di situ.


Freya tidak ingat apa-apa lagi.


Sialan.


Dia memang jarang minum-minum. Toleransinya terhadap alkohol sangat rendah. Jadi wajar dia bisa sampai lupa dan mungkin bertingkah tidak wajar ketika mabuk.


Ya ampun, masalah apa yang udah gue perbuat pas mabok sampe gue berakhir di ranjang yang nggak gue kenalin?


Napas Freya mendadak tercekat. Dia mengintip ke dalam selimutnya dan segera bersyukur ketika menemukan tubuhnya masih berbalut pakaian lengkap.


Eh bentar-bentar deh.


Seinget gue, semalam gue nggak pake jaket Hoodie deh. Trus ini Hoodie siapa?!


Seakan Tuhan ingin menjawab kebingungannya, sebuah pintu di seberang kamar bergerak terbuka dan Orion dengan jubah mandinya melangkah masuk.


Kedua mata Freya seketika melebar. Bagaimana bisa dosen barunya ada di sini?


"P-pak Ori?" Orion menoleh pada Freya.


"Oh, udah bangun kamu?" ucapnya dengan santai, lalu dia lalu berjalan menuju cermin dan mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil.


Whaaatt... 'Oh udah bangun, katanya? Oh-udah-bangun?'


Freya tengah panik setengah hidup dan hanya begitu respons dosennya?


"Pak, kenapa Bapak bisa ada di sini?" Freya berusaha tenang dan bergerak mendudukan dirinya di atas kasur, menatap Orion dengan was-was. Tidak mungkin 'kan semalam mereka berdua....


Orion berbalik dan menatap Freya beberapa saat. Dia mengulas seringai tipis sambil bertanya ringan,


"Kamu lupa kejadian semalem?" Jantung Freya seketika mencelus mendengar ini.


"K-kejadian apa, Pak?" tanyanya takut-takut. "Saya nggak inget apa-apa, bisa tolong jelasin biar saya nggak salah paham."


Sebelah alis Orion berjingkat. "Yakin mau saya jelasin? Mendingan sih kamu lupa aja. Soalnya...." Orion berhenti sejenak untuk mengulas senyum penuh arti. "Last night you were so wild, Freya Adira Putri." Kedua mata Freya melebar.


Wajahnya mendadak terasa memanas. "H-hah?" Suara gadis itu tercekat.


Diam-diam Orion menahan tawa. Dia memang berniat menjahili Freya dengan memberi kalimat-kalimat ambigu begitu. Tapi rasanya kasihan juga melihat wajah panik mahasiswanya itu. Dia lalu kembali berbalik menghadap cermin dan melanjutkan mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Ya udah, nanti saya jelasin," kata Orion sambil menatap Freya melalui cermin. "Tapi janji ya kamu harus mau tanggung jawab?"


Loh kok jadi dia yang minta tanggung jawab? Kalau beneran kita begituan harusnya gue dong yang minta pertanggung jawabannya?


Freya tidak mengerti tapi hanya mengangguk patuh.