Islandzandi

Islandzandi
Ancaman



Di ruangan bagian Kreatif…


Beberapa orang staf yang sudah datang ke ruangan itu sedang berkumpul di dekat meja Islandzandi.


Aufar, Islandzandi dan Alditra yang baru masuk keruang itu pun terdiam melihat heran kearah mereka dan menghampiri mereka.


"Ada apa ini?" ucap Islandzandi yang heran mendekati mejanya.


Islandzandi, Aufar dan Alditra terkejut melihat meja Islandzandi yang sudah berantakan, isi komputernya ada tulisan “BITCH”…





"Siapa yang berani ngelakuin ini?!" teriak Aufar pada pegawai lain marah.


"Aku yang pertama kali kesini, dan meja Islandzandi sudah berantakan seperti ini…" ucap pegawai lain.


"Benar! Dan kita nggak berani buat nyentuh barang - barang Island! Karena kita takut disalahkan…" jawab pegawai lainnya lagi.


Islandzandi terdiam melihat mejanya yang sudah berantakan, Alditra berjalan dan duduk dimeja Island dan memeriksa data didalam komputer Islandzandi…


Sementara Aufar melihat sekitar dan melihat CCTV yang ada di Ruangan itu.


"Semua data disini hilang!" ucap Alditra.


"Serius? Ahh… Data buat launching nanti…" Islandzandi terdiam cemas.


"Kamu nyimpen data di flaskdisk kan?! Komputernya nggak bisa dipake, penuh dengan virus, ini harus di Instal ulang!" ucap Alditra melihat kearah Islandzandi.


Islandzandi hanya terdiam shock tanpa menjawab pertanyaan Alditra.


"Ini pasti ulah seseorang! (melihat Alditra serius) Kalian tolong bantu bereskan meja Island! gue ke Control Room siapa tau penjahatnya tertangkap di camera CCTV…" ucap Aufar.


"Saya ikut!" Alditra buru-buru nyamperin Aufar.


Aufar dan Alditra segera pergi dari Ruangan itu.


Sementara Islandzandi masih terdiam shock. Tak lama Nadia dan beberapa pegawai lain termasuk Bu Khanza masuk dan terkejut melihat meja Islandzandi berantakan!


"Ada apa ini?" ucap Bu Khanza menghampiri pegawai yang sedang membereskan barang-barang Islandzandi.


Nadia pun melihat Islandzandi yang sedang duduk di mejanya…


"Ada yang sengaja mengacak-ngacak meja Island bu! Semua data yang ada di komputer Island hilang semua terkena virus, dan harus diinstal ulang…" ucap salah satu pegawai.


"Iya, dan kami masih belum tau pelakunya siapa… Aufar dan Alditra sedang ke Control Room untuk melihat pelakunya…" lanjut pegawai lain menimpali.


Nadia melihat kearah Islandzandi kesal. "Hah, beruntung sekali kamu! 2 orang laki-laki dengan rela melindungimu, siapa pun pelakunya pasti dia sangat membencimu dan ingin menyingkirkanmu!" ucap Nadia ketus.


Islandzandi hanya terdiam melihat kearah Nadia Bu Khanza mulai marah!


"Island! Kamu ikut keruangan saya… Kalian bereskan semua!" ucap Bu Khanza sambil berjalan ke ruangannya.


Islandzandi pun berjalan mengikuti Bu Khanza keruangannya. Nadia melihat Islandzandi sinis lalu berjalan ke mejanya bersiap-siap untuk bekerja.


"Hah… Selalu saja di anak emaskan, padahal dia cuma pegawai baru disini! (ucapnya ketus lalu melihat kearah pegawai lain yang sedang melihat kearahnya) apa? Bukan aku ya penyebab semuanya, aku memang benci Island, tapi aku nggak buat hal kampungan kayak gini!" tandas Nadia mulai merasa dicurigai.


"Ya, dan sebaiknya kau tidak terlalu memperlihatkan kebencianmu pada Island kalau kamu tidak mau dituduh sebagai pelakunya!" ucap pegawai lainnya lagi.


***


Di control room Svetovska Company…


Aufar dan Alditra masih melihat monitor CCTV yan berada di ruang Kreatif ditemani oleh beberapa orang security Svetovska company dan petugas yang menjaga Control Room…


"Camera yang ada di Ruangan itu mati saat pukul 01.00 malam…" ucap petugas yang jaga pagi itu.


"Pelakunya pasti sudah tau dan merencanakan semuanya dari jauh-jauh hari… Dia sudah tau seluk beluk Gedung ini dan jam-jam dimana kami berkeliling…" ucap security.


Aufar dan Alditra terdiam saling pandang berfikir.


"Jadi kemungkinan terbesar pelakunya orang dalam, karyawan disini?!" ucap Alditra.


"Tapi siapa dan untuk apa dia ngelakuin itu sama Island? Island sendiri tidak pernah berbuat kesalahan di sini kan?!" Aufar mulai berfikir.


"Ini nggak bisa dibiarkan! (melihat Aufar serius) Kita harus mencari pelakunya!"


Mereka pun memeriksa seluruh CCTV yang ada di ruangan itu…" ucap Alditra.


***


Di ruangan Reyandra, pukul 11.00 siang…


Reyandra sedang menandatangan berkas-berkas yang ada di meja kerjanya sambil membacanya.


Tak lama Eolia masuk keruangan berjalan kearah Reyandra terdiam serius. Reyandra melihat Eolia terdiam.


"Ada apa?" ucap Reyandra melihat kearah Eolia.


"Ada masalah di bagian kreatif…"


"Apa?" ucap Reyandra masih santai.


"Hah… Kenapa kamu sesantai itu sih?"


Reyandra tersenyum. "Setiap masalah pasti bisa diselesaikan kan?"


"Ada yang mengacak-ngacak komputer dan meja Island! Semua yang ada di komputernya terkena virus dan banyak coretan-coretan kata-kata kotor di mejanya! Aku juga belum melihatnya…"


"Apa?!" ucap Reyandra mulai cemas.


Saat Reyandra dan Eolia hendak pergi tiba-tiba Ryu Sera datang ke ruangannya.


"Pak, maaf... Ada tamu yang mencari Bapak, saya sudah bilang untuk membuat janji dengan anda tapi dia bilang anda pasti akan menerimanya…"


"Tidak sekarang Sera…"


"Ini bukan saat yang tepat untuk… (terdiam melihat kearah pintu masuk ruangan Reyandra) Kau?!"



Tak lama Madam El berjalan masuk ke ruangan Reyandra sambil tersenyum kearahnya.


"Hai Rey?! (melihat kearah Eolia sinis) Oh, kau juga mengikuti Reyandra sampai sini?" ucap Eolia sinis. Reyandra terdiam melihat kearah Madam El.


"Rey…" ucap Eolia membuyarkan lamunan Reyandra.


"Ah, maaf tapi saya harus segera pergi… Anda bisa tunggu di ruangan tunggu setelah itu saya akan menemui anda… Sekali lagi saya minta maaf!" ucapnya sedikit membungkuk lalu berlalu dari hadapan Madam El, begitu pun denga Eolia yang berjalan mengikutinya.


Madam El heran melihat Reyandra. "Apa ada masalah serius?"


"Iya, sepertinya ada masalah yang harus diselesaikan oleh pak Reyandra..."


"Hah… Harus ya Reyandra yang menangani? Apa yang dilakukan Eolia selama disini?!" lanjut madam El dengan ketus.


Ryu Sera hanya terdiam melihat Madam El.


**


Saat mereka berdua masuk Reyandra melihat kearah Aufar dan Alditra, begitu pun dengan mereka yang melihat serius kearah Reyandra dan Eolia.


Petugas control room dan security yang ada disana langsung memberi hormat kearah Reyandra dan Eolia.


Eolia melihat Alditra. "Ada apa ini?"


"Ada seseorang yang mengacak-ngacak meja Island, semua data di computer Island hilang semua terkena virus, semua camera CCTV mati di jam yang bersamaan!" tandas Aufar.


"Sepertinya pelakunya sangat ahli karena dia bisa mematikan semua CCTV disaat yang bersamaan, jika orang biasa, dia tidak akan bisa mematikan semua CCTV dengan bersamaan! Dan kami curiga kalau pelakunya karyawan disini!" lanjut Alditra.


Reyandra terdiam. Sementara Eolia mulai mencurigai Alditra.


Reyandra melihat Security. "Apa ada orang yang mencurigakan? Jam berapa cctv mati?" ucap Reyandra.


"Pada saat kami berkeliling kami tidak melihat orang yang mencurigakan dan saat kami mengecek seluruh ruangan juga tidak ada orang yang berada di gedung ini kecuali kami. Dan cctv mati sekitar pukul 01.00 dini hari…" ucap Security.


"Orang itu pasti ahli computer, karena CCTV mati secara bersamaan itu tidak mungkin kecuali oleh ahli programmer.."


"Hacker?!" tandas Aufar melihat Reyandra heran. "Tapi kenapa Island? Bahkan dia mengobrak ngabrik meja Island."


Reyandra terdiam berfikir. Eolia pun terdiam melihat Alditra.


"Apa ini ada hubungannya dengan yang aku dengar kemarin? Kalau iya Alditra terkait dengan kejadian ini… Aku harus beritahu Reyandra, tapi sebenarnya apa tujuannya datang kesini? Untuk menghancurkan Svetovska Company? Kalau untuk itu aku tidak bisa membiarkannya!" ucap Eolia dalam hati sambil memperhatikan Alditra.


Reyandra melihat Eolia. "Apa ada yang kau ketahui?"


"Ah? Tidak…"


"Apa kita tidak menghubungi polisi?" Aufar.


"Jangan gegabah, jika kasus ini sampai ke polisi, wartawan pasti akan tau dan langsung memberitakan kejadian ini, kalau sampai berita ini masuk ke televisi…" ucap Eolia melihat kearah Reyandra.


"Eolia benat, kita harus menyelidiki ini, tanpa menghubungi polisi!" berfikir.


"Kau gila! Kalau ini dibiarkan pelakunya akan terus berkeliaran dan mungkin akan mencelakai Island!" sengit Aufar tidak terima.


Reyandra melihat Aufar serius. "Kalau kejadian ini sampai masuk ke televisi launching game tidak akan bisa diselenggarakan! Jangan memikirkan diri sendiri! Pikirkan juga nasib Svetovska Company!"


Aufar melihat Reyandra kesal lalu keluar dari Control Room.


**


Di ruangan Kreatif…


Meja Islandzandi sudah dibereskan oleh staf lain, dan karyawan lain sedang bekerja kembali dengan tugas mereka.


Reyandra masuk keruangan itu dan melihat sekitar…


Para pegawai disana langsung melihat kearah Reyandra terkejut dan memberi hormat dan menyapanya…


Reyandra berjalan ke meja Islandzandi dan melihat computernya yang masih menyala dan masih ada tulisan “BITCH”.


Reyandra pun kesal melihat tulisan itu dan melihat kearah Nadia.


"Mana Islandzandi?!" tandas Reyandra pada Nadia.


"Eu, ada di Ruangan Bu Khanza pak!"


Saat masuk ke ruangan Bu Khanza disana sudah ada Ryu Sera dan Pak Ronald.


Reyandra berjalan masuk ke ruangan Bu Khanza, semua orang yang ada di ruangan itu langsung berdiri melihat Reyandra masuk keruangan itu…


"Pak…" ucap Pak Ronald kaget melihat Reyandra yang datang ke ruangan mereka.


"Siang pak!" ucap Bu Khanza hormat.


Reyandra melihat kearah Islandzandi yang sedang melihat kearahnya. "Bagaimana bisa hal ini terjadi di Svetovska Company? (melihat Islandzandi yang masih shock) Kau ikut saya ke ruangan!" ucapnya dengan tegas sambil pergi dari ruangan Bu Khanza.


Islandzandi melihat kearah Bu Khanza, Pak Ronald dan Ryu Sera…


"Sudah, tidak apa-apa! Direktur orangnya baik! dia hanya akan bertanya! Ikuti saja perintahnya!"


Islandzandi pun pergi dari ruangan itu dan berjalan mengikuti Reyandra dibelakangnya. Pak Ronal melihat Islandzandi tersenyum.


"Dia pasti akan dimarahi!" ucap Bu Khanza penasaran.


"Mungkin juga tidak…"


Bu Khanza melihat Pak Ronald bingung. "Maksudnya?"


"Siapa tau dia dipanggil untuk ditenangkan benar kan Bu Khanza?"


"Ah, iya bisa jadi…"


Pak Ronald pun terdiam berfikir begitu juga Bu Khanza.