
Orion benar-benar tidak menyangka dengan apa yang telah terjadi. Pemuda itu seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri, dia hendak menahan Freya pergi, tetapi ada Pria bertubuh tinggi besar dengan memakai baju hitam juga kacamata hitam menahan pundaknya untuk tidak mengikuti Freya.
Orion yang tau bahwa pria itu adalah bodyguard yang ayahnya kirim untuk melindunginya pun terdiam tidak bisa berkata apa-apa.
Freya baru saja mengambil beberapa langkah menjauh ketika dilihatnya sebuah mobil yang terasa begitu familier bergerak memasuki parkiran. Perempuan itu berhenti berjalan. Mengamati seorang pemuda jangkung yang kini turun dari mobil dan bergegas berjalan mendekatinya dengan raut cemas.
Di tempatnya Freya memandangi Kenan dengan tatapan tajam. Hingga ketika Kenan telah cukup dekat, dia menoleh pada Orion yang masih berdiri di tempatnya semula.
"Saya harap, Kak Kenan juga ngerasain sakit karena ini,” ujar Freya dengan parau, cukup keras untuk didengar baik oleh Orion maupun Kenan.
Kemudian, Freya benar-benar pergi. Membiarkan Kenan dan Orion untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun kembali berdiri berhadapan.
Meski kali ini, dengan perasaan yang benar-benar berbeda.
***
Mika :
https://line.group/invitation/123
Itu link grupnya, Na
Untung grupnya ngebolehin invite pake link
Dan untung password hp Marco masih yang lama
Giana memandangi pesan dari Mika dalam diam. Jempolnya yang hendak menekan tautan grup itu sesaat hanya menggantung di udara. Seakan ia kembali meragu.
Padahal Giana sudah sejauh ini. Dia sengaja membuat akun Line palsu, sengaja meminta Mika pergi ke Fikom untuk mengotak-atik ponsel Marco dan mendapatkan akses ke grup angkatan, dan foto-foto itu siap untuk segera dikirim. Tapi sejenak dia ragu.
Haruskah? Haruskah Gianna bertindak sejauh ini?
Haruskah dia membongkar rahasia seseorang hanya karena rasa sakit hatinya?
Dia udah ngerebut cowok lo, Giana. Dia pantes dapetin ini.
Orang-orang harus liat sekotor apa dia.
Hatinya berbisik pelan.
Giana kembali mengingat kejadian semalam, ketika dia melihat photo-photo Arkana dan Freya saat mereka berada di pantai. Padahal Giana sudah hampir merelakan semua ini. Padahal Giana sudah hampir melupakan ini.
Tapi melihat Photo itu kembali mengusiknya. Rupanya ia masih tidak rela melihat Arkana memilih perempuan itu. Dia masih tidak rela Arkana memutuskannya demi perempuan itu.
Setidaknya perempuan itu harus mendapat pelajaran.
Dengan jemari gemetar, Giana menekan tautan yang dikirim Mika. Beberapa saat aplikasi memprosesnya. Hingga akhirnya, dia dengan akun palsunya berhasil bergabung ke dalam grup itu.
FIKOM 2017
488 member
Sekitar 488 orang akan segera melihat foto-foto yang dia kirimkan, dan tentu tidak butuh lama hingga empat ratus orang itu menyebarkannya ke orang-orang lain.
Tanpa banyak berpikir lagi, Giana mengirim foto-foto yang telah dia siapkan. Puluhan orang segera melihat foto-foto itu. Jantungnya terasa berdebar ketika dia mengetikan kalimat yang telah disiapkannya sebagai pemanis foto-foto itu.
T anak 2017, A dosen idola kalian, Nightiest sampe teler
Setelah itu, tanpa menunggu respons apa pun, Giana segera meninggalkan grup, dan menghapus akun palsunya. Membiarkan ulahnya terhapus tanpa jejak.
Meski dampaknya, tentu mustahil tidak meninggalkan jejak.
Kenan sadar benar dia telah melakukan kesalahan besar di masa lalu. Kenan tahu, dia sudah menorehkan luka teramat dalam pada sosok itu, pada Orion. Dia pun yakin, Orion membencinya sebesar dia membenci dirinya sendiri kala mengingat perbuatannya di masa lalu. Maka bagaimana mungkin, Orion bisa menjalin hubungan dengan Freya?
Sesuatu dalam dirinya berbisik alasan di balik itu semua masih ada kaitan dengan masalahnya dengan Orion.
Untuk kesekian kalinya Kenan mengerang. Dia lantas menginjak gas, melajukan mobilnya lebih kencang lagi. Dia harus segera menemui Freya, perasaannya benar-benar tidak nyaman. Dan ponsel Freya yang dinonaktifkan sejak siang tadi sama sekali tidak membantunya.
Tidak butuh waktu lama hingga mobilnya memasuki area parkiran fakultas adiknya. Cepat-cepat Kenan berjalan turun. Dari kejauhan dia bisa melihat Freya. Dan jantungnya terasa mencelus begitu menyadari sesosok pemuda yang berdiri tidak jauh dari adiknya. Pemuda itu, Orion.
Kenan memacu langkahnya semakin cepat. Dilihatnya Freya berhenti berjalan begitu menyadari presensi dirinya. Bahkan dari jarak sejauh ini pun, Kenan bisa merasakan sorot tajam yang Freya berikan untuknya. Jenis tatapan yang sebelumnya tidak pernah Freya tunjukan. Seakan tatapan itu dipenuhi oleh rasa marah dan kecewa yang begitu besar.
"Saya harap, Kenan juga ngerasain sakit karena hal ini."
Jantung Kenan terasa berhenti bekerja beberapa sekon begitu mendengar ini. Langkahnya pun ikut terhenti. Ditatapnya Freya dengan putus asa.
Apa ... apa maksudnya itu?
Apakah yang dia takutkan benar terjadi?
Pertanyaannya itu tidak sempat dia ajukan. Sebab detik selanjutnya, Freya beranjak pergi begitu saja. Meninggalkan Kenan yang berdiri mematung di tempatnya seperti orang bodoh.
Perlahan Kenan mengalihkan fokusnya pada Orion yang juga masih berdiri membeku dengan tatapan kosong, menatap dalam diam punggung Freya yang berjalan menjauh. Entah kenapa, raut wajah pemuda itu dipenuhi dengan pilu, seakan dia pun sama terlukanya saat ini.
Rasa benci yang dulu selalu muncul tiap kali Kenan memandang Orion kini telah pergi. Dia tidak merasakan kebencian itu lagi. Yang kini dirasakannya hanya rasa sesal dan bersalah yang bercampur jadi satu.
Dalam diam Kenan berjalan mendekati Orion. Berhadapan kembali dengan sosok yang bertahun-tahun tidak pernah ditemuinya. Orion akhirnya beralih menatapnya. Tatapannya seketika berubah dingin.
Kenan ingat jelas, itu masih tatapan yang sama seperti yang selalu Orion berikan untuknya dulu.
Sebetulnya ada banyak sekali yang ingin Kenan ucapkan saat ini. Tentang rasa sesal dan permintaan maafnya akan masa lalu mereka, kemudian tentang pertanyaan atas situasi yang kini mereka hadapi. Tapi entah kenapa lidahnya terasa kelu. Tidak ada sepatah kata pun yang berhasil melompat dari mulutnya.
Inilah alasannya dia tidak pernah punya keberanian untuk menemui Orion. Dia tidak punya cukup nyali untuk sekadar meminta maaf.
Pada akhirnya Orion hanya mengesah, lalu berjalan melewatinya begitu saja. Hendak berlalu pergi.
"Orion."
Seruan lirih Kenan berhasil menghentikan langkah Orion. Meski pemuda itu tidak berbalik, tetap berdiri memunggunginya.
Di tempatnya Kenan menghela napas, lantas menundukan kepalanya. Rasanya dia terlalu malu untuk menatap Orion yang bahkan tidak berdiri menghadapinya.
"Gue tau gue nggak pantes ngomong gini. Gue tau ini udah sangat terlambat." Kenan berhenti sejenak. "Tapi gue bener-bener menyesali semua perbuatan gue di masa lalu. Gue bener-bener ngerasa bersalah pernah buat lo tersiksa sebegitu besar. Gue sadar gue bener-bener bodoh, kotor. Seandainya waktu bisa diulang, gue mau perbaikin semua kesalahan itu."
Orion tidak mengatakan apa pun, tapi Kenan tahu dia mendengarkan.
Kenan lantas mengulas senyum pahit. “Tuhan bikin gue sadar sama semua kesalahan gue. Tuhan bikin gue ada di posisi lo dulu. Akhirnya gue tau gimana rasanya jadi lo. Sama halnya kayak gue yang selalu ngeganggu lo, bikin orang-orang ngeasingin lo, akhirnya gue pun ada di posisi itu. Akhirnya gue tau gimana sakitnya jadi lo. Akhirnya gue tau gimana tersiksanya lo karena ulah gue.”
Kenan memejamkan kedua matanya ketika kenangan buruk di masa SMA-nya kembali menyapa. Mulanya dia hanya jadi sasaran rasa iri orang-orang karena prestasi yang tidak pernah gagal dia ukir, hingga membuatnya tidak memiliki seorang pun teman. Lalu entah siapa yang memulai, kabar tentang dirinya yang pernah merundung seseorang di SMP hingga korbannya memutuskan pindah sekolah, tersebar begitu saja. Semua orang memakinya, mengasingkannya, dan membuat masa-masa sekolahnya menjadi seperti di neraka. Semudah itulah Tuhan memutar balikan posisinya. Dia yang pernah merundung, berakhir menjadi korban perundungan.
Pada akhirnya Kenan paham seberapa buruknya perbuatannya. Rasa sesalnya, rasa bersalahnya menghantuinya hampir setiap hari. Setitik air mata jatuh membasahi pipinya, membuat pertahanannya roboh begitu saja. Hingga dia membiarkan kedua lututnya jatuh ke atas tanah, sementara kedua tangannya terkulai di sisi tubuh. Kepalanya tertunduk, seakan tidak kuasa menatap Orion yang berdiri di hadapannya.
"Gue tau maaf gue nggak akan ngerubah apa pun. Untuk minta maaf pun gue terlalu takut, karena gue sadar kata maaf mungkin nggak akan cukup buat nebus kesalahan gue. Tapi lo harus tau, permintaan maaf gue ini bener-bener tulus dari dalem hati gue." Kenan berujar dengan parau. "Maaf, Orion. Maaf atas semua perbuatan gue. Maaf atas semua rasa sakit yang pernah lo rasain karena ulah gue. Gue bener-bener menyesal pernah ngelakuin itu semua. Maaf. Maaf."
Perlahan Orion berbalik dan menatap Kenan yang masih berlutut dengan kepala menunduk dalam diam. Perasaannya tidak menentu sekarang.
Bukankah ini yang sebenarnya dia inginkan? Kenan yang bersimpuh meminta maaf darinya, Freya yang terluka dan membuat pemuda itu ikut terluka juga. Bukankah sebenarnya rencana awalnya telah berhasil?