Islandzandi

Islandzandi
SadBoy



"Telor orak Arik."


Jawaban Orion seketika membuat Freya tergelak. Perempuan itu sampai memukul-mukul meja saking gelinya.


"Ya elah, Pak telur orak-arik doang sampai seserius itu!"


Mendengar ini langsung membuat Orion mendelik. Dengan kesal dia menunjuk-nunjuk Freya menggunakan spatulanya.


"Saya masak ini tuh buat kamu, ya, enak aja malah ngetawain. Harusnya kamu tersentuh ngeliat saya bela-belain masak demi kamu."


Freya seketika merapatkan bibirnya. "Aduh, iya, iya, ampun."


Orion akhirnya terkekeh dan mematikan kompor. Dia meletakan masakannya ke mangkuk, lalu menyiapkan nasi dari rice cooker dan membawanya ke meja makan.


"Nih, dimakan," cetus Orion sambil menata makanannya di hadapan Freya. "Tadinya saya pengen pesen makanan aja, tapi ‘kan kata kamu saya harus ngebiasain masak sendiri."


Freya lantas tersenyum. Senang juga rasanya melihat Orion mendengarkan perkataannya.


"Tuh 'kan malah senyum-senyum. Ayo dimakan," tukas Orion kemudian. "Mau disuapin ya kamu?"


Tangannya lantas bergerak menyendokan masakan buatannya ke depan mulut Freya. Wajah Freya seketika memerah dan cepat-cepat mengambil alih sendok itu.


"Saya makan sendiri aja." Dia menyuap makanannya, mengunyahnya cepat dan seketika berhenti. Ditatapnya Orion dengan mata melebar.


"Wah. Enak loh, Pak. Telur orak-arik doang padahal."


Senyuman lebar seketika terulas di bibir Orion. Tangannya bergerak mengusak puncak kepala Freya.


"Baguslah kalau enak. Sana abisin."


Dia lalu beranjak bangun dari duduknya, membuat Freya mengerutkan kening.


"Loh, Bapak nggak makan?"


Orion berjalan menuju wastafel dan menggeleng.


"Saya nggak laper. Kamu aja yang makan."


Sementara pria itu mulai mencuci perlatan masak yang tadi digunakannya, Freya mengerjap. "Ini nggak diracun 'kan, Pak?"


"Heh, sembarangan!" Orion menukas kesal. Dia terdiam dan menambahkan, "Tapi nggak tau, ya, liat aja kalau beres makan kamu langsung kejang-kejang berarti reaksi racunnya cepet."


Freya menanggapi ini dengan kekehan tawa. Dalam diam Freya mengamati Orion yang kini sibuk mencuci piring. Perempuan itu lantas tersenyum kecil dan berjalan menghampiri Orion.


Orion yang menyadari Freya tengah menghampirinya mematikan keran dan berbalik. "Saya bercanda, kok. Makanannya nggak diracun. Abisin aja."


Lagi-lagi Freua terkekeh. Ketika tiba di hadapan Orion, dia mendekat dan memeluknya, sukses membuat Orion terkejut.


"Saya mau bilang makasih." Freya berujar sambil menyandarkan kepalanya di dada Orion. Dia bisa mendengar debar jantung Orion yang tidak beraturan. Senyumnya terulas ketika menyadari jantungnya pun kini sama berdebarnya. "Makasih karena udah ada buat saya di kondisi ini dan ngehibur saya. Makasih karena mau dengerin masalah saya dan bikin saya ngerasa lebih baik. Makasih karena ... udah hadir di hidup saya." Dia lantas mendongak dan menatap Orion dengan seulas senyum lebar. "Saya bener-bener bersyukur kenal sama Bapak. Bapak nggak seperti orang lain yang datang buat nyakitin saya. Makasih, Pak."


Deg.


Perkataan ini seketika membuat Orion membeku. Dia bahkan tidak bisa bergerak ketika Freya melingkarkan kedua lengan di lehernya dan berjinjit. Perlahan mengeliminasi jarak di antara mereka, lantas menempelkan bibirnya dengan lembut pada Orion.


Freya tidak sadar, ketika dia memejamkan mata di tengah ciumannya, Orion hanya mematung dan menatapnya dengan tatapan kosong.


"Saya bener-bener bersyukur kenal sama Bapak. Bapak nggak seperti orang lain yang datang buat nyakitin saya. Makasih, Pak."


Maaf Freya...


***


"Lama-lama jadi sadboy beneran ya lo."


Haidar berdecak begitu memasuki kamar Arkana dan melihat temannya itu tengah berbaring di kasur sambil memandangi langit-langit dengan tatapan kosong. Sambil meletakan martabak yang tadi dibawanya ke atas meja belajar, dia menyalakan playstation Arkana dan bersiap memainkannya.


"Gue kira lo skip kelas berhari-hari beneran sakit, eh taunya malah bengong gitu. Nyesel gue nengokin lo," cetus Haidar.


"Gue emang sakit beneran," sahut Arkana tanpa beranjak dari atas kasur.


Sekilas Haidar melirik Arkana dengan malas. "Sakit apa?"


"Pilek."


"Lemah banget lo pilek doang sampai nggak ngampus." Haidar mencibir.


"Bukan pileknya yang bikin gue nggak ngampus." Arkana menyahut, tangannya lalu bergerak menyentuh dadanya sendiri. "Tapi sakit di sini."


Haidar seketika bergidik, nyaris melempar joystick di tangannya. "Sumpah geli." Dia lalu mendengus. "Lagian kenapa tiba-tiba galau lagi, sih? Bukannya kemaren-kemaren lo bilang mau nyiapin surprise party buat Giana? Harusnya kalian lagi lengket-lengketnya, dong."


"Gue lupa. Giana marah sama gue." Arkana menjawab datar.


"Bego. Bisa-bisanya lo lupa?" Haidar menatap Arkana tidak percaya.


"Tapi bukan Giana yang bikin gue gini."


"Lah, terus?" Kening Haidar mengerut. "Jangan bilang ... Freya? Lagi? Gue kira lo udah move on dari dia, Ar."


Arkana mengesah lalu mengacak rambutnya frustasi. Akhirnya dia bangun dari tidurannya, dan duduk bersila di atas kasur.


"Lo tau 'kan gue udah suka Freya dari jaman SMA? Nggak segampang itu lupain dia. Apalagi cuma dia yang bisa ngertiin gue. Mungkin karena keluarga kita sama-sama berantakan, Freya beneran paham perasaan gue."


"Iya, tapi lo tau 'kan itu bukan alesan buat lo nyakitin cewe yang nggak bersalah kayak Giana?" Haidar menukas gemas.


Arkana menghela napas berat. "Cewe-cewe lain emang gue jadiin pelarian dari Freya buat bikin gue lupa dari dia. Awalnya Giana beda, gue emang berniat seriusin dia. Tapi kayaknya gue salah. Bahkan setelah sama Giana pun gue tetep nggak bisa lupain Freya. Apalagi waktu tau Freya suka cowo lain....'


"Gatel banget mulut gue pengen ngatain lo." Haidar bergumam pelan. "Terus mau lo apa sekarang? Freya udah suka sama cowo lain, lo mau berusaha bikin dia ngeliat lo gitu? Ar, gue pernah bilang kan, lo punya kesempatan bertaun-taun buat dapetin Freya, tapi lo nggak berani ambil kesempatan itu. Karena lo terlalu penakut. Lo terlalu takut kehilangan Freya, yang padahal belum tentu juga bakalan kejadian. Pengecut tau nggak lo."


"Lo nggak ngerti, Dar." Arkana mengerang kesal. "Bisa aja ‘kan Freya nggak punya perasaan yang sama kayak gue? Bisa aja 'kan kalau gue nyatain perasaan gue, dia malah ngerasa canggung dan akhirnya ngejauh? Gue nggak mau itu terjadi."


Haidar menghela napas. Percuma juga membahas ini. "Ya terus sekarang lo mau apa?"


"Gue juga nggak tau. Tapi gue bener-bener nggak tenang bayangin Freya sama cowo lain. Apalagi cowonya dosen itu." Arkana berujar pelan. "Feeling gue nggak enak soal dia."


"Pusing gue ngurusin hubungan lo." Haidar berdecak jengkel.


"Saran gue satu aja, jangan terus-terusan nyakitin Giana. Dia nggak salah apa-apa. Berhenti bikin dia sakit."


Arkana memandang Haidar beberapa saat, merenungi saran temannya itu dalam diam.