Islandzandi

Islandzandi
Kisah Orion & Kenan II



"Papa kecewa."


Satu kalimat itu berhasil menghancurkan Orion. Dia menunduk sembari meremat jari jemarinya dengan gelisah.


"Mau nyusul kakak kamu ke Jepang? Yang bener aja, belajar di sini aja kamu nggak becus, gimana bisa kamu bertahan di sana?" Papanya menatap Orion dengan mata memicing. "Papa minta kamu ikut olimpiade itu biar kamu belajar yang bener, buktiin ke Papa kamu beneran serius pengen nerusin sekolah di Jepang. Bukannya malah ambil jalan pintas nyuri soal gitu, Orion. Bikin malu aja kamu bisanya.”


Orion menahan napasnya mendengar ini.


Sejak kecil ia selalu dibanding-bandingkan dengan Aruna, kakaknya yang jenius. Ayahnya selalu menyepelekan kemampuannya. Tidak peduli seberapa bagus nilai yang Orion raih di sekolah, ayahnya tidak akan pernah memberi apresiasi. Sebab menurutnya, perolehan Orion tak pernah sebaik Aruna.


Orion mencoba memahami sikap ayahnya yang seperti ini. Sejak ibunya meninggal dunia, ayahnya seakan punya obsesi untuk menunjukan pada dunia bahwa dia bisa membesarkan anak-anaknya dengan baik seorang diri. Tapi obsesinya itu membuatnya menjadi sosok yang terlalu keras. Orion yang memang tidak pernah mampu melampaui pencapaian akademis Aruna pada akhirnya tidak pernah pula mendapat kasih sayang ayahnya.


Lama kelamaan Orion lelah, maka dia memutuskan berhenti berusaha ketika memasuki sekolah menengah pertama. Buat apa belajar? Toh usahanya tidak akan pernah dilirik oleh ayahnya. Toh berusaha sekeras apa pun ayahnya tidak pernah menghargainya.


Aruna yang saat itu tengah meneruskan sekolah di Jepang mungkin merasa prihatin pada kondisi adiknya.


"Kamu bilang pengen dapet pengakuan dari papa. Bukan gitu caranya, Ri. Kalau kamu males belajar terus, yang ada papa makin nggak percaya sama kemampuan kamu."


"Aku cape, Kak. Percuma, usaha sekeras apa pun papa nggak akan pernah ngeliat aku."


"Nggak ada usaha yang sia-sia.


Belajar yang bener, bilang ke papa kamu juga bisa lanjutin sekolah di Jepang kayak Kakak. Kakak yakin papa bakal liat perjuangan kamu."


Maka Orion menyampaikan keinginannya itu. Seperti yang dia duga, mulanya papanya menyangsikan tekadnya. Tapi kemudian kabar mengenai olimpiade matematika datang. Papanya menjadikan olimpiade sebagai tolak ukurnya.


"Menangin olimpiade itu, baru Papa bakal percaya kamu sanggup. Masalah lanjutin sekolah di Jepang bisa diurus asal kamu bisa buktiin kemampuan kamu.”


Janji ayahnya itu, menjadi cambuk bagi Orion. Dia harus memenangkan olimpiade ini. Dia harus membuktikan kemampuannya pada ayahnya. Dia harus mendapat pengakuan yang selama ini tidak pernah bisa dia terima dari ayahnya.


Tapi Kenan mengacaukan segalanya. Setelah kejadian ini bagaimana bisa ayahnya mempercayainya? Bagaimana bisa Orion mendapatkan kepercayaan ayahnya yang bahkan tidak pernah dia miliki?


Dia menjelaskan sampai mulutnya berbusa pun ayahnya tidak mendengar. Yang ayahnya percaya hanya bukti dari penjelasan pihak sekolah. Sejak awal Orion memang tidak pernah didengarkan oleh ayahnya sendiri.


Tapi kekacauan yang Kenan ciptakan tidak cukup sampai di sana.


Entah bagaimana jadinya, satu sekolah mulai menjadikannya sebagai musuh. Kasak-kusuk tajam didengarnya setiap kali dia melangkah di koridor.


"Gila ya, udah nyuri soal masih aja bisa lanjut sekolah, kalo gue yang gitu pasti udah ditendang.”


"Biasa, relasi bokap emang sengaruh itu. Makanya punya ortu tajir, dong."


"Halah buat apa tajir kalau nggak punya etika."


"Etika nggak punya, malu juga nggak punya. Kalo gue jadi dia sih udah pindah sekolah, nggak kuat nahan malulah."


"Dari kecil udah dididik nggak punya malu kali sama bokapnya, makanya bisa tahan gitu."


Itu belum seberapa.


Orion mungkin masih bisa tahan dengan komentar-komentar jahat yang ditujukan padanya. Tapi semua orang punya batas kelemahan 'kan? Setiap orang akan mencapai titik kelemahan jika terus-menerus diserang 'kan?


"Jago juga lo nyuri soal dan masih aman sampe hari ini. Buat ujian minggu depan, bisa kali lo curi lagi soalnya terus bagi-bagi sama kita?"


Itu anak yang memberi pengakuan melihatnya mencuri soal. Dia datang bersama antek-anteknya, mengurung Orion di gudang belakang sekolah.


"Gue nggak pernah nyuri soal. Lo tau sendiri. Kesaksian lo palsu." Orion mendengus.


Anak itu lantas tertawa mengejek. "Oh, jadi lo nolak bantuin kita? Berani juga lo."


Dan bahkan sebelum Orion sempat mengucap apa pun, orang-orang itu telah menyerangnya lebih dulu. Melayangkan tinjuan bertubi-tubi, menendangnya berkali-kali. Satu lawan segerombolan orang, mustahil Orion bisa melawan.


Ketika Orion terkapar nyaris kehilangan kesadaran, barulah mereka berhenti.


Meninggalkannya begitu saja sambil tertawa-tawa. Orion mencoba mengumpulkan kekuatannya, perlahan-lahan bangun dan berjalan meninggalkan gudang. Di luar, dia melihat Kenan tengah berdiri bersandar pada dinding. Laki-laki itu menyeringai puas begitu melihat Orion.


“Liat? Lo nggak akan pernah bisa ngalahin gue."


"Bajingan." Orion mendesis, hendak melayangkan tinjuan pada Kenan, tapi tenaganya tak cukup. Pada akhirnya dia terhuyung dan nyaris jatuh ke tanah. "Gue tau lo di balik semua ini 'kan. Kenapa lo lakuin ini sama gue, hah?"


Iya, Orion gagal di olimpiade. Dia dibenci satu sekolah dan tidak lagi dipercaya para guru. Bukankah seharusnya sudah cukup? Bukankah seharusnya Kenan tidak mengganggunya lagi?


Sejenak Kenan hanya diam menatap Orion dengan tatapan tak terbaca. "Kenapa gue lakuin ini sama lo? Karena ... lo Baltsaros Orion Leandro."


Karena dia Baltsaros Orion Leandro. Satu-satumya sosok yang mengusik Kenan. Satu-satunya sosok yang membuatnya iri, karena memiliki apa yang selalu diidamkannya.


Jika dia membiarkan Orion, bukan tidak mungkin suatu saat nanti laki-laki itu akan mengalahkannya.


Sebab dia punya satu hal yang tak pernah Kenan miliki. Ayah yang selalu mendukung dan punya kekuatan besar.


Maka sebelum itu terjadi, bukankah Kenan harus mencegahnya?


"Nikmatin kekalahan lo, Loser." Kenan mendengus dan berjalan meninggalkan Orion sendirian.


Dan begitulah, semua itu terus berlanjut sampai dua tahun ke depan.


Sampai Orion muak dengan hidupnya sendiri.


***


Namanya Kirania.


Iya, setelah dua tahun bertahan dirisak teman-teman sekolahnya, Orion memutuskan pindah sekolah di tahun ketiganya. Dia tidak sanggup lagi. Akhirnya, setelah menyembunyikan semua penderitaannya di sekolah selama dua tahun, Orion memutuskan membiarkan ayahnya tahu. Ayahnya tidak banyak bicara setelah mengetahui semuanya. Tidak ada kalimat penghiburan. Tidak ada pelukan menenangkan. Yang ayahnya lakukan hanya memindahkannya ke sekolah baru, seakan ingin memaksa Orion melupakan segalanya begitu saja dan memulai lembaran baru.


Tentu saja itu tidaklah mudah.


Kejadian selama dua tahun itu telah membuat Orion berubah. Dia menutup diri pada semua orang, menolak untuk menjalin hubungan. Mungkin Kiran satu-satunya yang selalu mempedulikannya. Perempuan itu selalu mengikutinya ke mana pun, bersikeras tidak ingin membiarkan Orion sendirian.


"Niat gue baik tau, pengen jadi temen lo. Kenapa sih selalu jaga jarak?" Kiran bertanya suatu ketika.


Orion menghela napas, lelah juga terus diusik perempuan ini. "Gue nggak butuh temen. Dari dulu juga gue nggak pernah punya temen.”


"Lo butuh temen." Kiran menggeleng tegas. "Gue tau lo kayak gini karena dulu di-bully—“


"Dari mana lo tau?" Orion menukas tajam mendengar ini.


Kiran lantas menghela napas. "Sori. Gue nggak sengaja denger obrolan bokap lo sama guru konseling waktu hari pertama lo pindah."


Sejenak Orion terdiam. Dia lantas tertawa pahit. “Jadi lo ngasianin gue? Makanya lo maksa pengen jadi temen gue gitu?"


"Bukan karena kasian.” Kiran lagi-lagi menggeleng. "Gue pengen yakinin lo, sebagai korban nggak seharusnya lo ngejalanin hidup dengan murung gini. Justru sebaliknya, lo harus buktiin sama orang-orang yang jahatin lo, bahwa lo bisa hidup bahagia. Yang jahat itu mereka, jadi harusnya mereka yang menderita. Bukan lo."


"Pembuktian, ya?" Orion mengulang perlahan. "Gue cape sama pembuktian. Gue cape berusaha supaya diakui. Karena hasilnya selalu sama, gue gagal."


Dan begitu saja, dia menceritakan kisahnya pada Kiran. Tentang ayahnya yang tidak pernah mengakui kemampuannya, tentang usahanya mendapat pengakuan, sampai tentang Kenan yang selalu mengganggu hidupnya.


Begitu kisahnya usai, Kiran segera mendekat padanya. Memberikan pelukan hangat yang tak pernah Orion kira mampu menenangkannya.


Perempuan itu lalu meraih kedua tangan Orion, menggenggamnya erat sambil menatapnya dalam.


"Udah cukup bertaun-taun lo menderita. Lo mau sepanjang hidup ngerasa sakit terus? Engga, nggak bisa gitu." Kiran mengeratkan genggamannya pada Orion. "Sekarang waktunya lo bangkit. Buktiin lo bisa jadi sukses dan bahagia. Kali ini bukan pembuktian buat bokap lo, bukan juga buat musuh lo. Tapi buat diri lo sendiri. Buktiin sama diri lo sendiri kalau lo bisa. Lo juga pantes bahagia, Ri."


Entah kenapa, kalimat itu seperti menyihirnya. Orion tertegun, dan perlahan mengangguk kecil.


Namanya Kirania.


Dia perempuan pertama yang membantu Orion bangkit dari keterpurukannya. Juga perempuan pertama yang berhasil mengisi tempat istimewa di hatinya.


***


"Jahat banget sumpah." Kelana berdecak tidak percaya begitu Orion selesai bercerita tentang masa lalunya. “Kenapa sih bisa ada orang yang tega nge-bully orang lain?"


Orion terkekeh kecil dan mengusak kepala Kelana. "Yang terpenting Kakak berhasil bangkit dan berubah jadi lebih baik, ya itu pun nggak terlepas dari bantuan kakak kamu sih." Dia lalu tersenyum hangat pada Kelana. “Kakak cerita gini biar jadi pelajaran buat kamu, Lan. Orang yang ngeledekin kamu di sekolah itu, nggak usah lagi dipikirin. Jadiin dia sebagai pemicu biar kamu bisa berkembang. Inget, yang jahat itu mereka, jadi bukan kamu yang harus menderita."


Bocah sepuluh tahun itu mengangguk-angguk mendengar perkataan Orion.


Kalau ada istilah jodoh tidak akan ke mana, mungkin Orion akan percaya. Begitu lulus dari SMP, Orion berpisah dengan Kiran, mereka memilih SMA yang berbeda. Tapi siapa sangka keduanya kini bertemu lagi karena berkuliah di kampus yang sama meski berbeda fakultas. Orion yang memang sudah menyimpan rasa pada Kiran sejak sekolah, memutuskan mengutarakan perasaannya. Tidak diduga Kiran menerima perasaannya dan begitulah mereka menjadi pasangan.


"Kakak kamu kok nggak pulang-pulang, ya?” Orion bertanya pada Kelana sambil melirik jam. Sudah hampir dua jam dia menunggu Kiran di rumahnya. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi.


Di sampingnya Kelana hanya menggeleng tidak tahu sambil mengunyah snack. "Tadi pagi padahal bilangnya bakalan pulang cepet. Nggak tau deh ke mana dulu."


Tak lama terdengar derum motor dari halaman depan. Orion bergegas ke ruang tamu, hendak membuka pintu. Namun gerakannya terhenti begitu melihat sosok tidak asing yang duduk di jok motor bersama Kiran. Kiran dan sosok itu kelihatan mengobrol beberapa saat.


"Kak Ori? Kenapa?" Kelana bertanya sambil menghampiri Orion yang tengah mengintip dari jendela.


Orion terpaku ketika sosok itu membuka helmnya, dan menarik Kiran mendekat. Laki-laki itu mendaratkan kecupan di kening Kiran sambil memeluknya.


Jantung Orion terasa mencelus begitu menyadari siapa itu.


“Lan, laki-laki itu sering dateng ke sini?" Orion bertanya pelan.


Kalan berjinjit dan ikut mengintip dari jendela. Wajahnya seketika berubah kesal. "Iya, sering banget. Mama pernah tanya ke Kak Ran dia siapa, tapi katanya temen sejurusan doang. Nggak tau kenapa aku nggak suka dia. Dia sering banget main ke sini, Kak. Aku kira Kak Ori kenal sama dia."


Orion mendengus tidak habis pikir.


Kenan, bisa-bisanya...


"Kakak kenal dia." Orion berujar lagi membuat Kelana mendongak menatapnya. "Dia orang yang ada di cerita Kakak tadi."


"Hah?" Kelana menatapnya bingung.


Orion menghela napas kemudian berjongkok sehingga tingginya setara dengan Kelana. "Lan, jangan bilang sama Kiran hari ini Kak Ori ke sini, ya. Jangan bilang juga Kakak tanya-tanya soal laki-laki itu. Pokonya anggap hari ini nggak pernah ada. Ya?"


Kelana mengerutkan kening tak mengerti. "Tapi kenapa, Kak?"


Orion tersenyum kecil dan menggeleng. "Nggak usah dipikirin. Pokoknya ikutin aja permintaan Kakak ya. Kakak sekarang mau pergi lewat pintu belakang."


Setelahnya Orion mengusak puncak kepala Kelana dan berjalan menuju pintu belakang. Ini mungkin akan jadi terakhir kalinya berkunjung ke rumah ini.


Yang jahat itu mereka, jadi harusnya mereka yang menderita. Bukan lo.


Kalimat Kiran bertahun-tahun lalu kembali terngiang di benak Orion. Dia mendengus dan mengacak rambutnya kasar.


Baik, Kenan. Kita lihat saja siapa yang akan menderita.