
Dua hari kemudian…
Di Lobby Svetovska Company…
Pukul 07.30 pagi…
Islandzandi, Haura dan Karin berjalan hendak masuk ke Lobby.
"Lo nggak bareng sama Aufar?" Islandzandi terdiam melihat kearah Karin lalu tersenyum.
"Rin, gimana kalo lo aja yang nanya sama Aufar, sapa tau karena lo Care sama Aufar, Aufar jadi suka sama lo..."
"Kok?! (kaget lalu melihat kearah Haura) Ra, lo?? "
"Sorry-sorry, tapi cewek kayak Island itu harus dikasih tau buat dia peka sama perasaan lo, kalo nggak dikasih tau dia nggak bakalan nyadar!"
"Iiihh dasar lo tuh ya..."
"Tapi berkat dia gue kan jadi tau perasaan lo selama ini... Sorry ya Rin... Selama ini gue nggak nyadar dan gue terus nyakitin Aufar..."
"Gue sih selama Aufar bahagia sama lo, gue juga ikut bahagia!"
"Nah sekarang tinggal lo yang harus proaktip buat ngedeketin Aufar, jangan sampai Tania yang jadian sama Aufar... Gue nggak suka kalo dia deket sama Aufar!"
Karin hanya tersenyum. Lalu Karin melihat kearah Islandzandi.
"Thank you ya..."
"Nah gitu dong, kan enak tuh kalo udah pada tau perasaan masing-masing! So... (melihat kearah Islandzandi) Kapan Ahjushi lo masuk lagi?" melihat kearah Islandzandi.
"Dia bilang sih hari ini... Gue juga belum ke Apartemennya lagi, pulang malem terus nyiapin acara... Trus nyocokin jadwal kuliah sama kerjaan gue…"
"Hebat lo, lo masih pemotretan juga kan? Badan lo nggak capek apa?"
"Serius? Gue pikir lo resign dari model…"
"Nggak lah, sayang sih kalo mau gue lepas gue dapet pengalaman kerja dari model… Jadi gue tetep mertahanin Destiny ya… Meskipun gue wanti-wanti sama Aslan kalo pas jadwal gue harus dipadetin biar sekalian beres…"
Tak lama mereka melihat pekerja lain yang sedang memberi hormat.
Mereka langsung melihat kebelakang dan melihat Reyandra yang baru datang dan berjalan kearah mereka.
Aufar, Karin, Haura pun memberi salam padanya, Reyandra terdiam melihat kearah Islandzandi.
"Selamat pagi pak!" memberi salam.
"Pagi…" melihat Islandzandi.
Islandzandi terdiam melihat kearah Reyandra.
Seneng deh bisa liat kamu sehat lagi... Sumpah pengen banget meluk dia... Tapi kok dia keliatan kurus banget sih dari terakhir gue liat... Mam ngasih makan yang bener nggak sih?
Tak lama pegawai lain juga memberi salam kearah Reyandra, Islandzandi langsung masuk kedalam disusul oleh teman-temannya langsung masuk ke dalam, saat Haura dan Karin berpisah dengan mereka karena berbeda ruangan.
Aufar yang baru datang menghampiri Islandzandi langsung merangkulnya.
"Kenapa lagi lo? Harusnya kan lo seneng dia udah sembuh dan balik lagi ke kantor… Apa lagi yang buat lo nggak nyaman di sisi dia? Baru juga kemaren dia mempertaruhkan hidupnya buat lo…"
"Gue seneng kok dia sehat lagi..." Aufar terdiam melihat Islandzandi.
"Kok gue ngerasanya lain ya? Nggak kayak kemaren di bandung! Apa ini omongan dari Eolia kemaren?"
"Ya, omongan Eolia emang sedikit buat gue sakit hati sih... Apa iya gue selalu nyusahin Reyandra?!"
"Dia ngomong gitu sama lo?" Islandzandi terdiam melihat Aufar.
"Dia ngelakuin itu atas dasar kemauannya sendiri kali, jadi lo ga usah mikirin omongannya dia."
Dih... Kenapa gue jadi ngebela dia. Ck!
"Tau ah, gue juga bingung… Yang penting kerjaan gue beres! Oia, bokap lo gimana? Pasti kecewa sama papah ya..."
"Sedikit, tapi nggak apa-apa kan gue yang ngelepasin lo... Bukan lo yang ngelepasin gue! Lagian, gue nggak mau egois dapetin lo tapi hati lo terus tertuju sama Reyandra..."
"Thanks ya, Far..."
Aufar melihat kearah Islandzandi serius lalu masuk ke dalam ruangan bagian Kreatif.
Sementara saat Islandzandi berjalan kearah ruangan bagian kreatif dan melihat Bu Khanza sedang duduk bersama seorang laki-laki. Karyawan yang lain sudah duduk di meja meeting termasuk Nadia yang langsung melambai kearah Aufar, Aufar dan Islandzandi pun menghampirinya dan duduk disisinya.
"Ada apaan sih?"
"Ada pegawai baru…"
"Emang di bagian kita masih membutuhkan orang ya?"
"Hah, gue juga nggak tau… Buktinya Bu Khanza lagi wawancara karyawan baru… (melihat Islandzandi edang bad mood langsung duduk di kursinya) Eh… kenapa dia?"
"Lagi galau sama pacarnya!"
"Laaah, bukannya kalian pacaran ya?!"
"Gue yang suka sama dia… Dia sukanya sama orang lain…"
Nadia terdiam melihat Islandzandi.
Aufar melihat kedalam Ruangan Bu Khanza… Tak lama saat mereka sedang bekerja…
Bu Khanza keluar dari ruangannya diikuti oleh pegawai baru.
Lalu mereka pun berdiri di hadapan para pegawai di bagian Kreatif, Nadia dan Aufar pun melihat kearah pria itu.
Sementara Islandzandi tidak memperdulikannya dan terus mengerjakan kerjaannya.
"Saya akan memperkenalkan pegawai baru, yang akan bekerja sama dengan bagian kreatif. Silahkan perkenalkan dirimu.."
"Oh… Dia sama denganmu!" ucap Nadia bisiknya kearah Aufar.
Aufar hanya terdiam melihat kearah Alditra.
"Kayaknya gue pernah liat tapi dimana ya?" ucap Aufar.
"Nadia, kamu bantu dia, Alditra jika ada yang kamu tanyakan kamu bisa Tanya Nadia, dia yang akan mebantu kamu nanti sekaligus partner kamu sekarang… Mengerti! Kamu bisa duduk di sebelah meja meja kalian di swift ya… Island di dekat Aufar dan Nadia di dekat Alditra (melihat Islandzandi yang berdiri disamping Nadia) Dan kamu Island… Kamu menghadap saya sesudah ini!"
"Baik Bu…"
Alditra melihat kearah Islandzandi. Lalu melihat kearah Aufar…
Mereka pun memulai pekerjaan mereka, Islandzandi yang baru keluar dari ruangan Bu. Khanza melihat kearah Alditra yang sedang diajari oleh Nadia, Saat Island mau duduk di mejanya, Alditra melihat kearah Islandzandi.
**
Sementara itu…
Di ruangan Reyandra…
Reyandra sedang membaca kerjaan yang sudah ditinggalkannya selama minggu, tak lama Eolia masuk keruangannya dan berjalan kearahnya.
"Pagi… Harusnya yang baru sembuh dari cedera jangan dulu bekerja! Kenapa kamu tiba-tiba masuk? Padahal lukamu juga belum sembuh betul kan…"
"Tidak enak kalau harus merepotkan ibunya Island, jadi aku memutuskan untuk pulang dan bekerja lagi… (terdiam) Lagipula…"
"Kau ingin melihat Island? Bukankah sudah seharusnya mereka merawatmu! Anaknya kan sudah membuatmu jadi seperti ini!"
"Eolia… Sudah kubilang ini bukan salah Island, saya yang tidak bisa menjaga diri sendiri…"
"Tapi buatku Island yang buat kamu jadi kecelakaan! Sedikit demi sedikit dia menghancurkan hidupmu Rey…"
Reyandra terdiam sambil melihat file di atas mejanya. "Sepertinya ada pegawai yang baru masuk di bagian kreatif…" ucapnya mengalihkan pembicaraan.
Eolia melihat Reyandra kesal
"Hah… Rey… Kamu bener-bener berubah! Aku kecewa sama kamu!" beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Reyandra yang masih terdiam.
Reyandra terdiam sambil berfikir.
“Maafkan saya… Dengan sikap saya seperti ini mungkin kamu bisa melupakan saya dan mencari pria yang lebih baik lagi dari saya…” ucap Reyandra dalam hati.
Beberapa jam kemudian…
Bu Khanza masuk ke Ruangan Reyandra dan duduk di kursi depan Reyandra.
"Kau tau kenapa saya memanggilmu kesini?" Masih sibuk dengan laporan yang sedang ditandatangan olehnya.
"Tidak pak!"
"Bukankah bagian Kreatif Stafnya sudah cukup banyak? Kenapa masih menerima pegawai baru lagi tanpa memberitahu saya!" tegasnya.
Bu Khanza bingung. "Loh, bukanya bapak yang sudah menerimanya?"
"Apa maksudmu?" melihat Bu Khanza serius.
"Surat lamaran itu sudah ada dimeja saya dari minggu kemarin, dan di dokumen yang saya terima ada cap dan tandatangan bapak bahwa bapak sudah menyetujui kalau Alditra masuk ke bagian Kreatif makanya tadi saya langsung memperkenalkan pada karyawan lain dan langsung bekerja!"
Reyandra terdiam kaget!
"Selama beberapa beberapa minggu saya tidak masuk karena ada urusan keluar kota. Dan hari ini saya baru melihat dokumennya!" Bu Khanza terdiam sama terkejutnya!
"Lalu siapa yang berani menerimanya dan mengatas namakan Bapak?! Apa mungkin Bu Eolia?"
"Tidak mungkin! Karena kalau dia yang menerimanya pasti dia bilang pada saya." Reyandra masih terdiam mengerutkan halisnya.
“Apa tujuannya masuk kesini tanpa sepengetahuan saya dan Eolia?” ucapnya dalam hati. "Kau boleh kembali keruangan! Dan tolong panggilkan pegawai baru itu untuk menghadap saya!" lanjutnya.
"Baik pak!"
Bu Khanza meninggalkan ruangan Direktur. Beberapa menit kemudian Alditra masuk ke ruangan Reyandra.
Tok Tokk..
"Permisi pak?! Anda memanggil saya?"
Reyandra masih sibuk dengan dokumen-dokumennya. "Silahkan duduk…!"
Alditra berjalan kedepan Reyandra dan duduk di depan Reyandra.
"Siapa namamu?"
"Alditra Dermawan!" jawabnya dengan santai.
"Darimana asalmu?"
"Saya asli Jakarta. Kalau boleh saya tau, untuk apa saya dipanggil kesini?"
Reyandra terdiam lalu melihat Alditra serius. "Bagaimana kamu bisa masuk kesini?"
"Saya hanya mencoba memasukan lamaran kesini dan ternyata ada panggilan dari Bu Khanza bahwa saya diterima kerja dan hari ini saya baru masuk!"
"Kau tidak mengenal pegawai yang ada disini? Masalahnya kamu masuk kesini tanpa ada izin dari saya ataupun wakil Direktur disini… "
Alditra terdiam melihat Reyandra serius. "Wah kalau itu saya tidak tau… Saya baru mengenal semua pegawai dari bagian Kreatif hari ini! Selain itu saya tidak kenal dengan bagian lain!"
Reyandra terdiam serius melihat Alditra.
"Kau boleh kembali ke ruanganmu!"
Alditra berdiri sambil memberi hormat. "Terima kasih… Pak Reyandra!"
Alditra pun pergi dari ruangan Reyandra dengan tersenyum sinis, sementara Reyandra terdiam melihat kepergian Alditra dari ruangannya masih curiga.