
"Are you okay, miss?" ucap seorang pria yang mungkin tidak jauh umurnya dengan Om Erik sambil memberikan segelas air putih pada Freya.
Freya hanya mengangguk sambil menerima air itu masih trauma dengan kejadian tadi.
Bagaimana bisa Orion tidak datang dan tidak menolongnya?
Ya... Mereka kini sudah berada di sebuah lobby hotel yang berada tidak jauh dari Nighties.
"Thank you sir. If it wasn't for you, I don't know what would have happened to me.." ucap Freya sambil melihat ke arah pria itu dengan mata berkaca-kaca.
"Nona Freya, anda tidak perlu berterima kasih pada saya..." ucap pria itu sambil memberi bow pada Freya.
Freya terpaku pada pria tua itu karena terkejut kenapa dia bisa tau namanya?
Siapa dia?
Sementara pria tua itu hanya tersenyum pada Freya.
"Sudah lama tidak berjumpa dengan anda Nona, dan memang benar, anda sangat mirip dengan mendiang Ibu anda... Tuan pasti akan senang berjumpa dengan anda .."
"Kau..."
"Apa kamu sangat bersenang-senang dengan para bajingan itu? FREYA ADIRA PUTRI?" ucap seseorang yang berjalan kearahnya.
Praaaaanggg!!!
Mata Freya membulat tidak percaya melihat siapa yang ada dihadapannya sekarang... saat ini...
Kedatangan seseorang yang tidak pernah disangka oleh Freya membuat gelas yang tadinya dia genggam pun akhirnya terjatuh ke lantai dan dia pun berdiri perlahan.
"Tuan..." ucap pria tua itu memberi salam pada pria yang baru saja bicara sambil melangkah ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan Reyandra Adira Putra. Ayah kandung dari Freya Adira Putri.
Meskipun Freya tidak pernah bertemu dengan ayah kandungnya secara langsung, tapi dia tidak bodoh untuk tidak tau Ayah kandungnya siapa... Almarhum Oppa dan Ommanya, Erik, Haura juga Kenan selalu memperlihatkan photo Reyandra pada Freya saat masih kecil dan memperkenalkan bahwa dia adalah ayah kandungnya sampai Freya berumur tujuh belas tahun dia tidak mau diingatkan lagi akan ayahnya lagi.
Freya yang malam ini menerima beberapa terapi shock akan kejadian yang menimpanya tidak kuat lagi menahan beban tubuhnya.
"Nona!!" ucap Pria itu berlari menghampiri Freya dan menahan tubuh Freya agar tidak terjatuh ke lantai.
"Tuan..." ucap Pria itu pada Reyandra yang masih berdiri.
"Hah... Kita pulang ke rumah Erik!" ucap Reyandra menghela napas pasrah pada akhirnya ketika melihat putrinya sudah pingsan.
"Baik, Tuan."
***
"Sini." Orion yang telah berganti pakaian mendudukan diri di sofa dan menarik kaki Aubrey untuk diletakan di atas pahanya. "Ngobatin luka sendiri aja nggak becus. Lo bisanya apa, sih?"
Aubrey tersenyum kecil mengamati Orion yang kini fokus mengobati luka di kakinya. Memang, bagaimana pun Orionnya tetaplah Orion yang perhatian.
"Aku? Aku bisanya bikin kamu balikan lagi sama aku," cetus Aubrey lalu tersenyum lebar. Tapi senyumannya segera luntur ketika Orion mendongak dan mengiriminya delikan tajam.
"Udah ini langsung balik. Gue ngobatin lo karena rasa kasian, rasa kemanusiaan gue. Nggak lebih." Orion berujar tegas.
"Tapi Ri, don't you miss me?" Aubrey bergerak mendekat, memeluk sebelah lengan Orion. "Don't you miss... my touch?"
Orion berdecak kesal. "Lo lupa gue udah punya Freya?"
Mendengar ini Aubrey malah terkekeh. "Dan kamu pikir aku percaya bocah itu beneran cewek kamu?"
Orion menatap Aubrey dengan kening mengerut. Tidak habis pikir bagaimana harus menghadapi perempuan ini. Dia hendak mengatakan sesuatu, tapi ponselnya berdenting tanda pesan masuk. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali.
Dia menyingkirkan kaki Aubrey darinya dan berusaha mengambil ponselnya, tapi Aubrey justru menahannya.
"Ri, aku tau kamu cuma pura-pura sama perempuan itu. Berhenti bertingkah bodoh gitu," ujarnya lagi.
Freya :
Pak saya udah sampai, Bapak di mana?
Kalau lima menit Bapak nggak dateng, saya pulang aja ya, saya nggak betah di sini.
Kenapa juga harus ketemuan di Nightiest sih Pak ....
Apa maksudnya ini...?
Tatapannya lalu beralih pada Aubrey dan dia segera memahami semua ini. Ditunjukannya ponselnya pada perempuan itu.
"Ini kerjaan lo 'kan?" tembaknya langsung.
Aubrey mengembuskan napas dan bersilang dada. "Well, iya. Dan setelah baca chat kamu sama dia aku jadi tau kalo kalian emang cuma pura-pura." Dia lalu meraih lengan Orion dan menggenggamnya. "Buat apa sih kamu sampai segitunya? Kasih aku kesempatan kedua dan aku bakal yakinin kamu buat nggak nyesel balikan sama aku, Ri."
"Sesusah itu, ya buat bikin lo paham?" Orion bertanya tidak habis pikir.
Aubrey mengesah pelan dan menelengkan kepalanya. Seakan tidak mendengar perkataan Orion tadi, dia meneruskan, “Lagian aku juga udah kirim cowok buat cewek pura-pura kamu, biar dia nggak kesepian malem ini."
Apa?
Jantung Orion terasa mencelus mendengar ini.
"Lo udah gila, hah?" Orion berteriak marah, matanya menatap Aubrey penuh emosi. "Mau lo apain Freya?"
Aubrey mengerjap terkejut, tidak mengira reaksi Orion akan semenyeramkan ini. "Ri, dia cuma pacar pura-pura kamu. Don't over react."
Orion mengacak rambutnya frustasi. Dadanya berdebar menahan amarah.
"Iya, dia emang cuma cewek pura-pura gue. Tapi lo paham kenapa gue sampai cari cewek pura-pura? Karena gue nggak mau lo gangguin gue lagi. Sejijik itu gue sama lo sampai-sampai gue butuh bantuan orang lain buat nyingkirin lo." Orion berujar penuh emosi, napasnya terengah seakan dia baru berlari. "Dan karena ini semua gue nggak mau lo balik ke hidup gue. Lo cuma mikirin diri lo sendiri. Lo selalu berbuat sesuka lo demi dapetin apa yang lo mau, tanpa mikirin dampaknya buat orang lain!"
"Sekarang pergi lo dari sini!" Orion berseru, suaranya menggelegar mengerikan. "Keluar lo sebelum gue panggil satpam."
Aubrey gemetar takut, sebelumnya dia tidak pernah melihat Orions semarah ini. Terlebih, hanya karena seorang perempuan.
Bagaimana mungkin ...
Cepat-cepat ia mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu keluar.
"Aubrey." Orion memanggil namanya dengan penuh ancaman. "Kalau sesuatu terjadi sama Freya, kalau sampai dia luka sekecil apa pun, lo orang pertama yang gue cari."
Aubrey meneguk salivanya susah payah dan segera berlari meninggalkan apartemen Orion. Meninggalkan laki-laki itu yang kini dikuasai rasa panik.
Cepat-cepat Orion mengambil kunci mobilnya dan berlari keluar. Di perjalanan dia segera menghubungi Evan.
"Van, tolong gue," katanya bahkan sebelum Evan sempat mengucap halo. "Freya ada di klub lo, tolong cari dia dan amanin dia."
Sejenak hening di ujung sambungan, seakan Evan tengah mencerna maksud Sean. "Freya? Amanin dia? Maksud lo apa, sih?"
"Just look for her in your god damn club and save her!" Orion menukas habis sabar dan meninju roda kemudinya. "Aubrey ngejebak dia. Gue lagi di jalan ke Nighties. Tolong selamatin dia sebelum terlambat."
Evan menghela napas. "Okay i got it."
Dan sambungan terputus. Orion menginjak pedal gas dan memacu mobilnya semakin kencang. Belum pernah dia merasa sepanik dan setakut ini. Jantungnya bertalu-talu begitu keras sampai dadanya terasa sakit.
Demi tuhan, dia tidak pernah setakut ini sebelumnya.
Kenapa? Kenapa dia bisa merasa begitu panik hanya karena Freya terancam bahaya?
Kenapa Feya bisa membuatnya bereaksi seperti ini?
Orion tidak tahu. Pikirannya terasa berantakan. Dia kacau. Rasa panik dan cemas seakan menelannya hidup-hidup.
Please god, save her for me.