Islandzandi

Islandzandi
Putus



"Putus?" Giana mengulang tidak percaya. "Aku kira kamu ngajak ketemu mau minta maaf, tapi ternyata ... kamu pengen kita putus, Ar?"


Saat itu, kopi mengepul yang dipesannya terasa lebih menarik untuk diperhatikan. Arkana hanya menundukan kepala menghindari tatapan Giana. Dia mengerti betul jika kini Giana marah besar padanya. Arkana tidak bisa mengendalikan dirinya setelah dia tahu Freya menyukai dosen itu, perasaannya kacau. Akibatnya, dia melupakan hari ulang tahun Giana. Membatalkan pesta kejutan yang sudah disiapkannya, dan lagi-lagi mengabaikan perempuan itu.


Lalu hari ini, dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.


Arkana sadar dia memang berengsek.


"Maaf. Aku bener-bener minta maaf, Na. Aku cuma nggak mau kamu terus-terusan ngerasa sakit karena hubungan ini." Hanya itu yang bisa diucapkannya.


Giana mendengus pelan. "Sadar juga ya, selama ini yang kamu lakuin cuma bikin aku sakit?"


Kali ini Arkana mendongak dan menatap Giana menyesal.


Perempuan itu balas menatapnya dengan tatapan terluka.


"Maaf."


"Ini gara-gara Freya 'kan?"


Kedua mata Arkana melebar begitu nama itu disebut. "Apa?"


"Iya 'kan? Kamu pikir aku nggak sadar selama ini kamu diem-diem suka dia? Apa-apa Freya, dikit-dikit Freya. Kamu minta putus karna dia 'kan, Ar?" Giana menghela napas lelah. "Sekali aja pernah nggak, sih, kamu mikirin aku dan bukannya Freya? Jangan-jangan aku cuma pelarian dari dia, iya?"


Arkana tidak bisa menjawab ini. Lagi-lagi dia hanya mampu menundukan kepalanya.


Di hadapannya Giana kembali mendengus. Perempuan itu menatap Arkana tidak percaya.


"Brengsek." Dia bergumam. "Fine. Kita putus."


Setelah mengatakan itu Giana bangkit dari duduknya dan berjalan cepat meninggalkan kafe. Arkana menghela napas memandangi punggung perempuan itu menjauh. Rasa sesal mulai menyapa hatinya karena telah membuat perempuan sebaik Giana kecewa. Tapi Arkana telah kehilangan kendali atas perasaannya sendiri.


Dulu dia pikir dia benar-benar menyukai Giana dan melupakan Freya. Nyatanya ketika Freya benar-benar telah bersama laki-laki lain, Arkana menyadari hatinya kembali berontak. Dia mungkin masih tidak punya kesempatan mendapatkan Freya. Tapi membiarkan Giana tetap di sisinya juga tidak benar. Arkana tahu yang dilakukannya pada Giana selama ini hanya membuat perempuan itu terluka.


Karena itu, mungkin berpisah memang jalan terbaik. Mungkin ini memang yang terbaik baginya dan Giana.


Sementara Giana masih mencoba menahan tangisnya seekuat tenaga. Ada banyak orang yang mengenalinya di lingkungan ini, dia tidak boleh kelihatan menangis apalagi setelah bertemu dengan Arkana. Orang-orang mungkin akan mengoloknya habis-habisan.


Tahan. Jangan nangis di sini. Plis jangan nangis di sini.


Giana bersyukur kafe tempatnya bertemu dengan Arkana tadi berada di dekat kosan Mika. Perempuan itu mempercepat langkahnya, dan segera menggedor pintu tidak sabaran begitu tiba.


"Kenap―"


"Mika, gue putus." Giana langsung memeluk Mika begitu perempuan itu membuka pintu kosannya. Tangisannya pecah seketika.


Mika tertegun mendengar ini. Dibawanya Giana agar duduk di karpetnya. Beberapa saat dibiarkannya Giana puas menangis dulu.


"Ini, minum dulu biar tenang dikit," kata Mika sambil menyodorkan segelas air.


Giana meminumnya sampai habis kemudian menghela napas. "Bener 'kan firasat gue. Ini semua gara-gara Freya. Gue cuma pelarian dari dia, Ka."


Masih sambil terisak, Giana menceritakan kejadian tadi pada Mika.


"Yang sabar ya, Na." Mika berujar setelah cerita Giana usai. "Seenggaknya sekarang lo udah lepas dari Arkana. Meski sakit, ini yang terbaik."


Giana menggeleng pelan.


"Begonya gue meski udah tau gini pun rasanya tetep sakit banget diputusin Arkana, Ka. Gue sesayang itu sama dia. Tapi kenapa, sih ...."


Lagi, Giana kembali menangis. Perempuan itu menekuk lututnya dan mengubur wajah di tangan. Mika menghela napas kemudian merangkul temannya dengan sedih.


Dia tidak tega melihat Giana seperti ini. Giana yang dikenalnya adalah perempuan ceria, tapi setelah mengenal Arkana, dia berubah. Hubungan mereka sepertinya tidak pernah membuat Giana bahagia. Mika juga tidak mengerti kenapa Giana bisa begitu menyukai Arkana ketika sebenarnya yang Arkana lakukan hanya menyakitinya. Andai saja tidak pernah ada perempuan itu di antara hubungan Giana dan Arkana.


Bicara soal perempuan itu, tiba-tiba Mika teringat sesuatu. Dia meraih ponselnya dan mengirimi pesan untuk pacarnya.


Mika :


Marco, kamu pernah bilang dulu Arkana ngamuk banget cuma karna foto temennya lagi berduaan sama dosen kesebar 'kan?


Tak lama balasan dari Marco muncul.


Marco :


Yup he was so damn angry


Kenapaa?


Mika :


Boleh aku liat fotonya?


Marco :


Giana nanyain?


Mika :


Engga, ini aku doang yang tiba-tiba kepikiran, Cuma mau liat fotonya


Marco :


Hm oke tapi janji jangan disebar ya


I can't handle the angry Arkana


Marco sent pictures


Mika :


Ya kamu kan bisanya ngurusin angry bird doang wkwk


Thx bae


Mika mengamati foto itu dalam diam. Dia lalu beralih menatap Giana yang masih menangis sesenggukan sendirian.


Kalau Giana ingin membalas rasa sakitnya, setidaknya Mika bisa membantu.


****


"Padahal rencana gue harusnya berhasil sedikit lagi. Sedikit lagi gue bisa buat Freya bener-bener suka gue, dan waktu dia lagi sayang-sayangnya, gue tinggalin dia. Gue bikin dia sakit. Gue tunjukin ke Kenan balesan dari sikapnya dulu. Karena dia udah lukain gue, biar gue lukain juga adik kesayangannya." Orion mendengus lalu menenggak lagi minumannya sampai habis. "Tapi gue nggak bisa. Nggak bisa. Gue nggak bisa lakuin itu sekarang. Gue bahkan nggak sanggup liat Freya nangis."


Evan menghela napas pelan. Dalam diam memperhatikan Orion yang kini sudah hampir kehilangan kesadaran. Entah berapa botol minuman yang sudah habis ditenggaknya. Kacau. Orion kacau malam itu.


"Lo tau? Freya bahkan inget waktu pertama kali gue ketemu dia-meskipun dia nggak sadar kalo orang itu gue. Waktu dia masih kecil, waktu gue nenangin dia yang nangis karena orang tuanya berantem. Saat itu gue kasih dia coklat, gue bilang coklat bisa bantu bikin dia bahagia. Dan sampai hari ini dia selalu inget omongaan itu, dia selalu ikutin saran dari gue." Orion mengusak wajahnya, teringat pada cerita Freya malam sebelumnya. "Perhatian sekecil itu selalu dia inget di memorinya. Perhatian sesederhana itu yang selalu ngebantu dia laluin hari-hari beratnya selama ini. Dan sekarang, gue tega-teganya berniat mainin perasaan dia, manfaatin kemudahannya termakan perhatian orang lain demi rasa dendam gue sendiri."


Memang benar, anak yang memberi coklat dalam cerita Freya adalah Orion. Saat itu, dia datang ke rumah Kenan dan Freya untuk mengerjakan tugas kelompok.


Orion jatuh tertidur karena memang tidak punya niatan membantu. Saat terbangun, teman-temannya yang lain termasuk Kenan sudah pergi entah ke mana. Yang tersisa hanya dirinya dan Freya kecil yang menangis kencang. Itu adalah pertama kalinya Orion mengetahui kondisi keluarga Kenan dan Freya yang berantakan.


Kala itu Orion tidak tahu bagaimana caranya menghentikan tangisan Freya. Hanya sejumput pengetahuan tentang kandungan coklat yang lantas melintasi benaknya. Dia tidak pernah benar-benar berniat menghibur Freya. Bahkan janjinya untuk mencari Kenan saat dia pulang pun hanya diucapkan agar dia bisa segera terbebas dari Freya. Orion tidak benar-benar mencari keberadaan Kenan.


Dia tidak pernah mengira, tindakan asal yang dilakukannya tanpa niat membantu dapat benar-benar menolong Freya.


"Gue jahat, Van. Gue jahat." Orion meringis seraya mengacak rambutnya.


"Gue udah peringatin lo dari awal." Evan lagi-lagi menghela napas. "Lo bakalan nyesel main-main sama perasaan orang. You trapped in your own game."


Orion terdiam mendengar ini. Dia menatap udara di hadapannya dengan tatapan kosong, seakan berusaha memandang kenangan tempo hari lalu.


"Waktu dia bilang dia bersyukur kenal gue, waktu dia bilang gue beda dari orang lain yang selalu nyakitin dia, gue ngerasa ditampar." Orion mengurut pelipisnya lantas menghela napas.


"Bisa-bisanya gue berniat nyakitin cewe sepolos itu, bisa-bisanya gue nambah rasa sakit di hidupnya. Dia bahkan nggak salah apa-apa. Kenapa gue malah berniat bikin dia bayar kesalahan kakaknya?"


"Akhirnya lo sadar," tukas Evan kesal.


"Gue harus apa? Gue nggak mau nyakitin dia lebih jauh lagi. Gue... Gue sayang dia." Orion berhenti sejenak, tangannya bergerak menjambak rambutnya sendiri.


"Tapi di sisi lain gue ngerasa nggak pantes punya perasaan itu karena pernah berniat ngelukain dia. Belum lagi soal statusnya sebagai adik sepupu Kenan..."


Evan terdiam beberapa saat. Ikut memikirkan masalah ini.


"Pilihan lo cuma ada dua sekarang," ujarnya dan membuat Orion seketika menatapnya.


"Apa?"


"Pertama, lupain rencana bales dendam lo dan lanjutin hubungan lo sama dia seakan nggak pernah ada yang terjadi. Tapi kalau gitu, lo bakalan terus dihantuin rasa bersalah. Dan sesuatu yang disembunyiin, cepet atau lambat pasti bakalan terbongkar 'kan?" Evan berhenti sejenak sebelum meneruskan, "Kedua, minta maaf dan jelasin semuanya sama Freya. Soal apa pun respons dia, jadi resiko lo. Meskipun kemungkinan besar dia bakalan marah. Tapi seenggaknya lo punya kesempatan perbaikin kesalahan lo dan yakinin dia buat maafin lo."


Orion tercenung mendengar ini. Dari kedua pilihan itu tidak ada yang kedengaran lebih baik. Dia tidak mungkin meneruskan hubungannya dengan Freya dan berpura-pura seakan tidak ada yang terjadi. Di sisi lain, dia belum punya cukup keberanian untuk dibenci oleh Freya jika memilih mengakui niatan balas dendamnya.


"Kalau gue berhenti sekarang gimana?" Orion bertanya pelan.


"Maksudnya?"


"Kalau gue berhenti sekarang, seenggaknya gue nggak akan nyakitin Freya 'kan? Perasaan dia belum sedalem itu buat gue, dan gue pun... masih punya kesempatan ngehapus perasaan buat Freya."


Kening Evan mengerut mendengar oni. "Lo ... nyerah sama Freya?"


"Gue rasa nggak seharusnya gue sayang sama adik sepupu Kenan." Orion berujar pelan. "Dari awal perasaan gue buat dia udah salah. Nggak seharusnya gue sayang dia. Sebelum perasaan gue, juga perasaan dia jadi lebih jauh, gue harus berhenti sekarang."