Islandzandi

Islandzandi
Surat Selesai Magang dipercepat



Di rumah Keluarga Pak Diandra…


Pukul 20.00 malam…


Reyandra memutuskan untuk pulang ke rumah Pak Diandra…


Saat Reyandra dan Islandzandi berjalan ke dalam rumah...


"Island… Kamu nggak apa-apa kan nak?!" ucapnya sambil memeluk Islandzandi.


Islandzandi terdiam kaget melihat Bu Audrey yang langsung memeluknya dengan cemas.


Pak Diandra melihat kearah Reyandra sambil menganggukan kepala. "Sebaiknya kalian tinggal disini dulu… Kalau langsung ke Apartement aku takut Island masih trauma…"


Bu Audrey melepaskan pelukan pada Islandzandi dan melihat Reyandra. "Rey… Terima kasih ya, kamu sudah melindungi Island…"


Islandzandi melepaskan pelukan Bu Audrey dan melihat kearah Bu Audrey sambil memegang pundak Bu Audrey. "Aku nggak apa-apa kok! (melihat kearah Reyandra) Ya, mungkin aku sedikit trauma, tapi itu nggak akan lama, Mam tau aku kayak gimana kan?!" tersenyum kecut kearah Bu Audrey menenangkannya.


Sementara Reyandra hanya terdiam melihat kearah Islandzandi.


Tak lama mereka pun masuk ke ruang keluarga.


Reyandra menyimpan tasnya juga Islandzandi di lantai lalu mereka duduk di sofa berhadapan dengan Pak Diandra dan Bu Audrey…


"Sebaiknya Island tidak masuk ke kantor dulu… Melihat kondisi Island dan suasana di kantor pasti sangat ribut dengan adanya kejadian kemarin…"


"Benar! Kau tau bagaimana khawatirnya kami mendengar berita itu? Kami sampai tidak bisa tidur karena terus memikirkanmu!"


"Iya, maafin, aku emang selalu bikin kalian khawatir… Tapi aku nggak bisa, di bagian Kreatif lagi sibuk sama persiapan Launcing … Aku nggak bisa terus-terusan ijin!"


"Kalo gitu kenapa kamu nggak mengundurkan diri aja?! Apa yang papahmu bicarakan itu benar! Untuk masalah nilai Reyandra pasti akan mengurusnya iya kan Rey?"


Reyandra dan Islandzandi hanya terdiam.


"Mam…"


"Lalu  bagaimana penjahat itu?!"


"Polisi disana sudah membuat laporan dan akan segera diproses sidangnya…"


"Hah, bagus! Dia memang pantas mendapatkan ganjarannya!"


Reyandra terdiam berfikir.


"Kalian belum makan kan? Sekarang kalian istirahat trus makan, aku buatkan makan untuk kalian…"


"Iya…"


"Bi… Tolong bawakan tas Reyadra dan Island ke kamarnya Island…" teriaknya.


"Nggak usah tante… Biar saya saja yang bawa.. Ini tasnya agak berat, kasian Bibi kalau harus bawa…"


**


Di kamar Islandzandi…


Pukul 22.00 malam…


Islandzandi sedang mengutak ngatik laptop yang dia pinjam dari Pa Diandra, di tempat tidur sementara Reyandra sedang duduk di sebelah Islandzandi sambil bersandar di sandaran tempat tidur dan melihat kearah laptop Islandzandi yang sedang melihat jadwal Pemotretannya dan email dari Aslan tentang kontrak menkadi model iklan dari Game terbarunya.


"Island…"


"Hhhmm…" masih melihat Laptopnya.


"Kau sudah tidak apa-apa?"


Islandzandi melihat Reyandra. "Aku udah nggak apa-apa Rey… Biar kamu yakin kalo aku nggak apa-apa aku lagi baca kontrak dari Kliennya Aslan nih…" memperlihatkan Laptopnya pada Reyandra.


Reyandra membaca isi kontraknya. "Chemical Trade? Itu nama perusahaannya?"


Islandzandi mengangguk. "Iya, kenapa kamu kenal?" Reyandra hanya terdiam sambil berfikir.


Itu bukanya perusahaannya Park Jae Joon?


"Apa kamu akan menerima kontrak sebagai model video klip itu?" tanya Reyandra pada Islandzandi terdiam.


"Aku emang seneng banget kalo kerjasama sama mereka soalnya itu kan hobbi aku… Tapi mereka juga kan kerjasama sama Svetovska dan nggak mungkin aku kerjasama sama mereka kalo aku sendiri kerja di Svetovska Company. Dan aku tau kamu nggak suka kan liat aku pakai pakaian sexy, sementara di Game itu kostumnya… (melihat Reyandra) Kamu pasti tau kayak gimana kan?"


Reyandra tersenyum kecut sambil berfikir.


Apa saya berikan ijin Island untuk keluar dari Svetovska dan bekerja di bidang permodelan yang selama ini dia geluti?


Reyandra melihat kearah Islandzandi yang sedang memperhatikannya lalu tersenyum.


"Terus kapan kamu akan tidur? Memangnya kamu nggak capek?"


"Iya, iya… Bentar aku matiin laptop dulu!" mematikan laptop itu lalu mengambil posisi tidur.


Reyandra pun mengambil posisi tidur dan memeluk Islandzandi, Islandzandi pun memeluk Reyandra.


Pukul 02.30 pagi…


Reyandra terbangun kaget karena Islandzandi mengigau tidak karuan dan sedikit ketakutan.


"Mmmhh… Nggak… Rey… Tolong…" kepalanya tak karuan bolak balik ke kanan dan ke kiri.


"Island! Island... Bangun Island!"


"Reeeey!!" teriaknya sambil mengangkat tubuhnya bangun.


"Hei, Island… Kau sudah aman sekarang! Kau sudah ada dirumah… (memeluk Islandzandi di dadanya) Saya disini…"


"Rey…" menangis dipelukan Reyandra.


Reyandra terdiam memeluk Islandzandi sambil menahan amarahnya.


Setelah beberapa menit Islandzandi mulai tenang dan berhenti menangis.


"Kau mau segelas susu?"


Islandzandi menggelengkan kepalanya lalu merebahkan badannya lagi ke tempat tidur. Reyandra pun ikut tertidur disampingnya dan masih melihat kearah Islandzandi.


Lalu mencoba memejamkan mata berharap Island ikut tertidur lagi.


Sementara Islandzandi masih melihat wajah Reyandra yang sedang mencoba tidur, lalu Islandzandi melihat kearah Reyandra dan menyentuh wajah Reyandra pelan.


"Kau tidak akan tidur Island?"


"Aku Cuma pengen mastiin…"


Reyandra pun membuka matanya melihat kearah Islandzandi.


Tak lama Islandzandi pun mencium bibir Reyandra.


Reyandra pun menyambut ciuman dari Islandzandi.


Tak lama Reyandra mulai menolak Islandzandi dengan halus.


"Island…" sambil mendorong wajah Islandzandi pelan dan melihat kearah Islandzandi serius.


"Kenapa? Bukannya di hotel kemarin kamu udah bisa nyentuh aku?!" ucapnya memelas.


"Bisa kita pelan-pelan? Saya masih belum terbiasa menyentuhmu secara intens, Tolong kamu mengerti posisi saya Island…"


Islandzandi pun hanya terdiam lalu mencoba tertidur dengan membelakangi Reyandra kecewa.


**


Di ruang makan…


Pukul 07.00 pagi…


Reyandra yang baru bangun dari tidurnya melihat sekeliling sepi, dia hanya melihat bibi yang suka membantu keluarga Pak Diandra.


"Loh? Den Reyandra udah bangun toh? Kirain blum bangun, Bibi sampai nggak ngeh ada den Reyandra disini… Mau sarapan Den?"


Reyandra tersenyum. "Nggak Bi... Om sama Tante belum bangun ya Bi?"


Reyandra hanya mengangguk lalu berjalan ke meja makan dan menumpahkan air minum ke dalam gelas.


Bibi terdiam ragu melihat kearah Reyandra. "Eu... Neng Island nggak bisa tidur ya Den? Soalnya Pas bibi sholat tahajud bibi denger neng Island teriak-teriak gitu… Apa gara-gara kejadian kemarin ya Den?"


Reyandra terdiam berfikir. "Hhm…" sambil mengangguk.


"Kasian neng Island, baru kali ini ngalamin kejadian kayak gitu…"


"Iya, saya juga sangat menyesali, kenapa kejadian itu bisa terjadi sama Island…"


"Iya, asal Den Reyandra terus ada disamping Neng Island pasti Neng Island bisa melaluinya!"


Reyandra tersenyum. "Oia, biarkan Island tidur untuk beberapa saat lagi ya bi… Jangan dibangunin dulu!"


"Iya Den..."


Reyandra pun berjalan keluar dapur dan berdiri di halaman belakang berfikir.


***


Di Svetovska Company...


Pukul 10.00 pagi...


Di Lobby Svetovska Company… Reyandra, Eolia, dan beberapa tamu dari luar negeri sedang berdiri dan berbincang.


"Before I am very grateful that you and the company are willing to join the Svetovska Company." ucap Reyandra pada tamu itu.


"It's okay, we are also glad to cooperate with you." jawab tamu itu.


"For the next I will be in touch with you, and for the next stage I will share it with you also I will give news via email about Game." ucap Eolia.


"Okay, once again i thank you for your time .. See you later in launching later." ucap tamu itu.


Tak lama para Tamu dari LA pergi.


Eolia pun langsung pergi meninggalkan Reyandra untuk kembali ke ruangannya.


Reyandra yang sudah tau sifat Eolia langsung berjalan mengikuti Eolia dengan sabar.


Sementara para pegawai yang ada disana memperhatikan gerak gerik Reyandra dan Eolia.


***


Di rumah Pak. Diandra…


Pukul 11.00 siang…


Di kamar Islandszandi…


Islandzandi yang baru bangun dari tidurnya melihat ke sisi tempat tidur yang sudah tidak ada Reyandra.


Islandzandi pun langsung bangun dan melihat jam dindingnya.


"Iiiihhh kok nggak ada yang bangunin sih?"


Saat Islandzandi hendak berjalan dari tempat tidur… Tiba-tiba Pak Diandra masuk dan melihat Islandzandi yang sudah bangun.


"Kau sudah bangun?"


"Papah? Kok nggak bangunin? Reyandra mana?"


"Reyandra yang bilang sama bibi kalo nggak boleh bangunin kamu… Dan dia mungkin sedang di kantor…"


"Papah nggak ke kantor?"


Pak Diandra menggelengkan kepalanya. "Mumpung ada kamu disini, aku suruh Sekretarisku untuk membatalkan semua jadwal rapat."


Islandzandi hanya tersenyum melihat Pak Diandra.


Pak Diandra pun menghampiri Islandzandi dan memeluknya dengan erat dengan sedih. Islandzandi hanya terdiam membalas pelukan seorang ayah yang sangat menyayangi putri satu-satunya.


***


Di Svetovka Company…


Di ruang kreatif…


Pukul 12.00 siang…


Bu Khanza, Aufar, Alditra, Nadia dan beberapa staf lain sedang duduk di meja rapat mereka sambil terdiam.


"Bener kan bu! Island itu cewek nggak bener! Kalo dianya nggak kegatelan ngerayu Pak Ronald nggak mungkin kan dia jadi korban pelecehannya pak Ronald?! Orang setau aku ya, Pak Ronald itu baik banget!" ucap Nadia sinis.


"Diam Nadia! Saya sedang pusing masalah Island!" ketus Bu Nadia.


Aufar hanya bisa bisa menahan amarahnya mendengar komentar Nadia.


Tak lama Nadia melihat group chat staf Svetovska terkaget-kaget.


Alditra dan Aufar melihat Nadia.


"Know what?" jawab Alditra malas.


"Mereka bilang liat Pak Reyandra dan Bu Eolia lagi berantem… (melihat kearah Alditra) Kamu inget kan waktu di villa… Pak Direktur sangat marah sama kamu gara-gara Island hilang?! (berfikir) Jangan-jangan Island sama pak Direktur juga ada hubungan?!" jawab Nadia.


"Jangan ngaco kamu!" timpal Bu Khanza.


"Kalau ibu nggak percaya Tanya Ryu Sera… Dia juga ada di sana!"


Aufar melihat kearah Alditra serius.


Sementara Alditra hanya terdiam.


"Aku yakin kalo Island juga ngerayu Pak Reyandra, sampe Reyandra bisa semarah itu sama Alditra! Jadi hubungan Bu Eolia dan Pak Reyandra renggang itu pasti gara-gara Island!" lanjut Nadia berspekulasi.


"Lo yang nggak tau permasalahannya jangan sok tau dan ikut campur deh…" ujar Aufar memang tau hubungan Reyandra dan Islandzandi.


"Aslinya! Island itu cewek nggak bener dia ngerayu semua cowok di sini termasuk lo dan lo!" melihat kearah Alditra dan Aufar.


Tak lama Reyandra datang ke ruangan Kreatif. Semua Staf yang ada disana terkejut karena mereka sedang membicarakannya juga.


"Pak?!" ucap


Reyandra berdiri melihat kearah Nadia yang sedang menunduk. "Alangkah lebih baik kau tidak membicarakan orang apalagi itu partner kerjamu!"


Nadia menunduk. "Iya, maafkan saya pak!"


Aufar dan Alditra hanya terdiam melihat kearah Reyandra.


Reyandra melihat Bu Khanza. "Saya hanya mau menyerahkan ini padamu!" memberikan sebuah amplop pada Bu Khanza.


"Ah, iya baik Pak.. Dan saya minta maaf atas ketidak sopanan karyawan saya.."


Reyandra langsung pergi meninggalkan ruangan itu tanpa sepatah kata.


Bu Khanza melihat kearah Nadia kesal, lalu kembali ke ruangannya. Sementara Aufar keluar ruangan mengikuti Reyandra.


Nadia menghela napas kesal. "Hah... Pake ilmu apa sih supaya orang bisa berpihak sama dia? (melihat Alditra) Kamu juga AL, kok mau sih deket-deket sama cewek kayak gitu? Tar kamu kena musibahnya baru tau rasa loh..."


Alditra tersenyum. "Sebaiknya kamu juga membiarkannya, jangan menjaili dia terus, nanti kamu jadi tersangka jika Island kenapa-kenapa, karena semua orang tau kalau kamu nggak suka sama dia... Kejadian kemaren juga kan kamu yang dicurigai..."


Nadia terdiam kesal.


**


Di lorong tak jauh dari bagian Kreatif...


Aufar menyusul langkah Reyandra dan berdiri di depan Reyandra. "Bagaimana keadaan Island?"


Reyandra melihat serius kearah Aufar. "Dia sudah membaik! Saya tadi mengantarkan surat nilai Island karena sudah beres magang di Svetovska! akan lebih baik kalau Island tidak berhubungan dengan Svetovska lagi! Ini demi kebaikanya… Saya memberitahumu agar kau juga memberi pengertian pada Island karena menerima surat nilai dan telah selesai magang lebih cepat daripada yang lainnya.


Aufar tersenyum sinis. "Dimana dia sekarang?"


"Untuk sementara kami tinggal di rumah Om Diandra! Kalau kau… (terdiam tidak percaya karena Aufar langsung pergi meninggalkannya yang masih berbicara padanya) Hah… Dia tidak pernah berubah! Tidak pernah mendengarkan orang yang sedang berbicara padanya!"