Islandzandi

Islandzandi
Duka Aufar



Di Rumah Sakit Pondok Indah Puri Indah… Pukul 12.00 Siang…


Pak Diandra, Bu Audrey dan Islandzandi masuk ke rumah sakit itu berjalan kearah lift dan melewati koridor-koridor di rumah sakit itu dan sampai di lantai enam mereka melihat Pak Jeny yang sedang ditemani sekretarisnya, Haura dan Karin yang sedang menunggu di luar pintu kamar dimana Bu Merry yang sedang dirawat…


"Jen, bagaimana? Maaf kami kembali lagi agak lama…"


"Hm… Iya terima kasih… (ucapnya dengan tegar) Harusnya kalian tidak perlu kesini lagi, kalian juga harus istirahat!"


Islandzandi berjalan kearah dua temannya yang sedang bersedih…


"Rin…" panggil Island merasa bersalah.


"Dari mana aja lo?! (tandasnya sambil berbisik) Gue telpon nggak aktif terus... (tandasnya tegas) Katanya lo lagi sama Reyandra? Gini ya cara lo sekarang?! Nggak peduli sama sahabat-sahabat lo, lo malah asik-asik beduaan sama Reyandra… Jadi gini ya cara lo sekarang?!"


"Sorry Rin… hp gue abis batre…" bisiknya pada Karin sambil menggenggam tangan Karin.


"Ck... Lepas! Gue ga suka cara lo kayak gini Island! Secara ga langsung lo nyakitin Aufar! Ap sih yang lo harap dari Reyandra?" cevar Karin masih kesal pada Island.


"Rin-- Bisa tenang ga? Semua kejadian ini juga bukan salahnya Island kali..."


"Cih... emang di rumah Reyandra nggak ada charger apa? Basi banget alesan lo! Gue bener-bener kecewa sama lo Island!"


Islandzandi melihat Haura yang langsung mengangkat bahunya ke arah Island, lalu dengan wajah memelas dan amat sangat menyesal Island sekali lagi menarik ujung baju Karin layaknya anak kecil.


"Gue minta maaf, gue janji nggak akan ngelakuin itu lagi… Udah dong lo jangan marah lagi ya Rin… I'm sorry..." ucapnya menyesal dan melihat Karin. Karin pun yang melihat ke arah Island hanya menghela napas berat.


"Ok, kali ini gue maafin tapi ga ada lain kali Island... Aufar sekarang lagi butuh lo... Okay?!" Islandzandi hanya menunduk sambil mengangguk. Karin dan Islnd pun berpelukan, Haura yang melihat kedua sahabatnya utu baikan pun ikut berpelukan.


"Aufar dimana?"


"Hah… Aufar dari semalam nggak keluar dari kamar itu, dia juga belum makan apa-apa... coba lo samperin dia deh, siapa tau dia mau nurut sama lo..."


Islandzandi terdiam lalu berjalan ke depan pintu kamar dimana Bu Merry dirawat… Islandzandi membuka pintu kamar itu dan masuk kedalam.


**


Di dalam kamar Islandzandi terdiam menutup sebagian wajahnya sedih melihat Bu. Merry sedang terbaring lemah memakai oksigen, dan dipasangi alat-alat yang membantunya untuk bertahan, sedangkan Aufar sedang duduk di samping Bu Merry terdiam melihat kearah Bu Merry. Islandzandi berjalan kearah Aufar dan merangkul pundak Aufar.



"Hei... Sorry gue baru kesini sekarang, gue nggak tau kalo nyokap lo keadaanya kritis… Hp gue mati dan semalem gue nggak pulang kerumah… Jadi tadi pagi nyokap gue yang kasih tau… Sorry Far, gue bener-bener nyesel banget! (sedih) maafin gue ya…"


Aufar masih terdiam melihat kearah Bu Merry tanpa menjawab Islandzandi.


Islandzandi langsung memeluk Aufar.


Tak lama Bu Merry membuka matanya dan melihat kearah Aufar dan Islandzandi…


Islandzandi yang melihat langsung memberi tahu Aufar.


"Far… Tante Far..."


Aufar kaget dan langsung mendekat kesisi tempat tidur…


Aufar menghela nafas lega. "Akhirnya sadar juga… Ibu ini Aufar bu…"


Bu Merry melihat Aufar tersenyum lalu melihat kearah Islandzandi. "Island…" ucapnya pelan sambil melihat kearah Islandzandi.


Islandzandi yang kaget pun lamgsung mendekat ke arah Bu Mery dan berdiri di sebrlh Aufar.


"Iya tante, Island disini, tante jangan dulu banyak bicara ya, tante harus istirahat…"


Aufar melihat kearah Islandzandi dengan menahan tangisnya.


"Waktu tante nggak banyak Island... Apa kamu mau menikah dengan Aufar?"


"Ya?!" ucap Island kaget.


"Bu..." Aufar pun meihat sang Ibu kaget.


"Aku ingin melihat kalian menikah dan hidup bahagia… Kamu bisa memenuhi permintaan tante kan?"


Islandzandi hanya terdiam bingung.


"Dan tolong jaga Aufar… Kau mengerti maksud tante kan Island? (menggenggam tangan Island dan menyatukan dengan tangan Aufar) Hanya kamu yang bisa tante percaya buat jagain Aufar..."


Islandzandi melihat kearah Aufar yang sedang menahan tangisnya. "Saya akan menjaga Aufar dengan baik tante… Tante nggak usah khawatir… Sekarang tante iatirahat ya.. Biar bisa sembuh lagi dan kumpul lagi di rumah sama Aufar dan juga Om Jeny."


Bu Merry hanya tersenyun kearah Islandzandi. "Semoga kalian bisa hidup bahagia…" ucapnya terengah-engah sambil menutup matanya yang mengeluarkan air mata.


Aufar dan Islandzandi terkejut.


"Tante?! Island mohon buka matanya Tante... (mulai menangis) Tante…"


Aufar hanya terdiam menunduk menggenggam tangan Bu Merry erat.


Islandzandi langsung keluar memanggil dokter sambil menangis, semua yang sudah menunggu diluar pun panik melihat beberapa dokter dan suster bergegas masuk ke dalam untuk memeriksa Bu Merry.


"Apa yang terjadi Island?"


"Tante, tadi sempat siuman Om... Tapi tiba-tiba dia nggak sadar lagi…" ucapnya sambil menangis.


Pak Jenny langsung berlari ke dalam kamar itu, Haura dan Karin saling berpelukan, Pak Diandra dan Bu Audrey pun memeluk Islandzandi.


"Mam... (menangis) Tante Merry..."


"kita berdoa aja yang terbaik buat mamanya Aufar ya sayang..." melihat Pak Diandra.


Beberapa menit kemudian…


Pintu kamar itu terbuka dokter pun berjalan keluar dan menghampiri Pak Diandra, Bu Audrey, Islandzandi, Karin dan Haura…


"Bagaimana keadaannya dok?" ucap Pak Diandra sedih.


"Kami mohon maaf, kami sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkannya… tapi sepertinya tuhan berkehendak lain…"


"Tidak… Ini tidak mungkin!" ucap Bu Audrey langsung memeluk lengan Pak Diandra.


Pak Diandra, Bu Audrey, Islandzandi, Haura dan Karin hanya terdiam menangis.


Bu Audrey memeluk Islandzandi erat sambil menangis begitupun dengan Islandzandi.


"Mam---"


"Kamu harus kuat, kamu harus menenangkan hati Aufar… Karena cuma kamu yang bisa!"


Islandzandi hanya menganggguk menghapus air matanya.


Haura dan Karin pun menghampiri Islandzandi dan saling berpelukan.


Tak lama Aufar yang daritadi berada di kamar itupun keluar.


Haura dan Karin menyuruh Islandzandi untuk menenangkan Aufar.


Lalu Islandzandi pun menghampiri Aufar dan memeluknya…



**


Di rumah keluarga Aufar…


Pukul 15.00 sore…


Bendera kuning terpampang di depan rumahnya…


Beberapa karangan bunga menandakan ikut berbela sungkawa dari kerabat Pak Jenny juga terpajang di depan rumahnya.


Kerabat dan saudara dari keluarga Pak Jenny mulai berdatangan…


Pak Jenny sedang duduk di depan jasad Bu Merry yang sudah siap untuk dikuburkan masih tidak percaya.


Pak Diandra dan Bu Audrey menghampiri Pak Jenny.


"Hei, kau harus tabah dan merelakannya pergi, biar Merry tenang disana… Kau harus melanjutkan hidupmu bersama Aufar… Kau harus kuat Jen…"


Pak Jenny melihat kearah Pak Diandra.


"Aku hanya tidak percaya kalau Merry telah pergi… Saat dimana dia butuh dukunganku, aku hanya sibuk dengan kerjaan dan tidak menyadari bahwa dia sangat menderita… Aku benar-benar menyesal…" ucapnya sambil menahan tangisnya.


"Mungkin ini yang terbaik, dia harus menahan rasa sakit karena penyakit yang dideritanya selama 3 tahun ini… Kita sama-sama kehilangan, tapi Merry ingin kau terus menjalani hidupmu bersama Aufar dengan bahagia, meskipun tanpanya…"


Pak Diandra hanya terdiam sedih melihat kearah Pak Jenny lalu menepuk pundak Pak Jenny pelan.


Haura dan Karin masih terdiam di dekat pintu masuk rumah sambil melamun.





"Gue bener-bener nggak nyangka kalo ibunya Aufar lagi sakit parah…"


"Ya buat apa juga cerita, lo tau sendiri Aufar anaknya kayak gimana, lagian kalo cerita juga nggak akan merubah keadaan jadi baik kan…"


"Tapi kan, paling nggak ya, kita bisa ngasih support ma tu anak…"


Sementara Islandzandi sedang duduk di samping jasad Bu Merry dan melihat kearahnya.


Islandzandi masih terdiam.


Karin dan Haura melihat serius kearah Islandzandi dan menghampirinya.


Mereka pun duduk di sisi Islandzandi.


Gimana ini? Yang tadinya mau ngelepas Aufar malah jadi nggak bisa lepas, jujur aja, pesan terakhir tante Merry buat gue shock dan nggak bisa nolak, kalau gue kawin sama Aufar gimana sama Reyandra... Karena hati gue udah yakin sama Reyandra, gue bener-bener nggak mau kehilangan Reyandra lagi... Tapi Aufar... Gue bener-bener nggak bisa ninggalin Aufar apalagi dalam keadaan kayak gini…


"Kenapa Island?"


Islandzandi terdiam melihat kedua sahabatnya.


"Sebelum meninggal, tante Merry bilang kalau dia pengen gue sama Aufar nikah… Itu pesan terakhir yang dia bilang sama gue dan Aufar…" Haura dan Karin pun kaget…


"Apa?" Karin.


"Ih sumpahnya lo?! Trus trus gimana dong? Reyandra udah dikasih tau?" Islandzandi pun menunduk sambil menggeleng.


"Gue belum ngasih kabar sama dia… Gue bingung harus gimana sekarang? (bingung melihat kearah Haura dan Karin dengan matanya mulai berkaca-kaca) Disaat gue udah yakin sama hati gue… Sekarang malah ada kejadian kayak gini..." jelas Islandzandi menangis. Haura dan Karin langsung memeluk Islandzandi.


"Hei, kalo hati lo udah yakin sama Reyandra lo harusnya ngomong sama Aufar…" Haura.


"Nggak bisa Rin... Gue nggak bisa ninggalin Aufar apalagi dengan keinginan Tante Merry yang---"


"Ya, trus lo mau ngejalanin hubungan lo sama Aufar??" Haura.


"Gue juga nggak bisa maksa hati lo Island, emang gue lebih seneng lo sama Aufar ketimbang sama Reyandra, tapi gue juga nggak mau liat lo menderita ngejalanin hubungan sama orang yang nggak lo cintai…" Karin.


Haura dan Karin pun menenangkan Islandzandi.


Beberapa menit kemudian...


Aslan berjalan kearah pintu masuk.


Haura terdiam melihat kearah pintu masuk.


"Itu... Bukannya Aslan ya Island? Temennya Aufar juga... Dia baru dateng tuh Island…" Karin.


Islandzandi dan Haura pun melihat kearah pintu masuk lalu mereka pun segera berdiri.


Tak lama di belakang Aslan berjalan Erik juga Reyandra.





"Itu Reyandra kan? Dan---" terkejut melihat sosok Erik ada di antara Aslan juga Reyandra.


Loh itu cowok yang waktu itu kan? Kenapa dia kesini? Apa hubungannya sama Aufar?


...Ost. Winter Sonata - Tears In Your Eyes...


Islandzandi terkejut melihat kearah mereka bertiga dan terdiam melihat kearah Reyandra. Haura pun terdiam kaget melihat kearah Erik.


Mereka bertiga pun berjalan menghampiri Islandzandi yang masih berada di samping jasad Bu Merry.


Reyandra melihat kearah Islandzandi tapi langsung berjalan dan duduk disamping jasad Bu Merry begitupun dengan Erik dan Aslan yang langsung berdoa.


Islandzandi pun duduk disamping Reyandra dan menggenggam tangan kanan Reyandra dengan kedua tangannya.


"Kenapa kamu nggak bilang masalah ini? Sampai saya tau dari ibumu…"


"Aku baru mau kasih tau… Kejadiannya sangat cepat... Aku belum sempat ngehubungin kamu karena aku terus nenangin Aufar..."


Reyandra terdiam mengangguk sambil mengerutkan halisnya melihat jasad Bu Merry yang sudah dibungkus kain kafan.


"Island mana Aufar?" tanya Aslan.


"Dia terus ngurung diri dikamar dan nggak mau diganggu... Kita mau nguburin jenazah tante Merry juga nunggu Aufar siap, karena Om Jeny mau Aufar ikut untuk yang terakhir kali."


Reyandra melihat kearah Pak Jenny yang sedang ditemani oleh Pak Diandra dan Bu Audrey.


"Saya akan menemui Ayahnya Aufar dulu..." melepas tangan Islandzandi perlahan.


Islandzandi pun mengangguk.


Reyandra, Erik dan Aslan menghampiri Pak Jenny dan kedua orang tua Islandzandi yang masih disana.


Reyandra yang melihat kearah Pak Diandra dan Bu Audrey langsung membungkuk.


Sementara Pak Diandra melihat kecewa kearah Reyandra karena kejadian Island yang menginap di Apartementnya, Reyandra oun sudah merasakan sikap Pa Diandra.


"Om Jeny… ini teman-teman Aufar di Studio" ucap Aslan mengenalkan Erik.


Erik sedikit membungkuk kearah Pak Jeny, Pak Diandra dan Bu Audrey.


"Kami turut berduka sedalam-dalamnya… Aufar tidak pernah cerita kalau ibunya sedang sakit…"


"Hm… Dia memang jarang membicarakan keadaan ibunya pada orang lain… Dia sedikit tertutup. Tolong maafkan Tante jika dia ada salah… Dan Terima kasih sudah datang..." jelas Pak Jeny.


"Terima kasih kamu sudah datang kesini Rey…"


"Sama-sama tante, saya juga berterima kasih sudah diberitahu, kalau bukan tante yang bilang mungkin saya tidak tau kejadian ini… Dan saya juga minta maaf atas kejadian kemarin malam harusnya saya memberitahu tante dan Om…" melihat kearah Pak Diandra lalu menunduk.


Bu Audrey hanya tersenyum dan melihat kearah Islandzandi yang sedang melihat kearah mereka.


Sementara Pak Diandra masih terdiam melihat kecewa kearah Reyandra.


"Kalau begitu kami akan menunggu di depan Om..."


"Iya, terima kasih kalian sudah mampir kesini!"


Tak lama Mereka bertiga membungkuk kearah orangtua Islandzandi dan Pak Jenny dan berlalu dari hadapan mereka.


Dan mereka menghampiri Haura dan Karin, sementara Reyandra menghampiri Islandzandi yang berdiri tak jauh dari mereka.


Reyandra terdiam melihat curiga kearah Islandzandi yang dari tadi sedang berfikir.


"Ada apa?" ucap Reyandra pelan.


Islandzandi melihat Reyandra ragu. "hah? Nggak apa-apa..." sementara Reyandra hanya tersenyum kecut kearah Islandzandi.


"Raut muka kamu nggak bisa disembunyiin kalau ada masalah... (melihat kearah Islandzandi) So, let me hear, what your problem?"


Islandzandi melihat kearah Reyandra serius.


Tante merry minta aku nikah sama Aufar… tapi aku maunya nikah sama kamu Rey…


"Aku cuma lagi butuh dukungan dari kamu dan kekuatan cinta kamu, karena hanya itu yang bisa buat aku yakin kalo yang aku…"


"Island... (terdiam mengerutkan halisnya melihat Islandzandi) Saya sayang sama kamu, saya ingin melihatmu bahagia Island, tapi jika kamu sangat berat meninggalkan Aufar dalam keadaannya yang seperti ini… Saya rela melepasmu asal kamu bahagia. (berfikir) Dan sekarang Aufar sedang membutuhkanmu untuk berada disisinya…"


Islandzandi melihat Reyandra berkaca-kaca.


"Kamu nggak mau tau apa yang mau aku omongin Rey…"


"Dengan kamu bicara seperti itu saya tau apa yang ada di pikiranmu Island…"


Islandzandi melihat Reyandra berkaca-kaca. "Kamu serius mau ngelepasin aku? Oke, mungkin aku bisa bahagia sama Aufar… Tapi aku nggak bisa ngasih cinta ke Aufar seperti aku cinta sama kamu Rey…" ucapnya sambil meneteskan air mata.


Lalu Islandzandi berjalan meninggalkan Reyandra. Reyandra hanya terdiam melihat kepergian Islandzandi tersenyum masam.


Saya juga tidak bisa memaksa kamu untuk harus berada di samping saya kalau kamu berat meninggalkan Aufar apalagi dengan keadaan Aufar yang sedang seperti ini...