
“Buset dah, masih pagi udah share yang iya-iya aja.” Haidar berdecak tapi pada akhirnya tetap membuka obrolan group itu. Dan di detik selanjutnya dia mengerutkan kening, sambil mendekatkan ponselnya lebih dekat ke wajahnya, seakan ingin memastikan bahwa dia tidak salah liat.
“Ar!” Haidar mengunci ponselnya lalu merebut ponsel Arkana lalu menyembunyikannya di belakang punggung. “Nggak udah diliat.”
Diberitahu begitu malah membuat Arkana curiga. “Apaan, sih?”
“Dibilangin ga usah liat juga, ih! Ini tuh demi kebaikan Lo tau!” Haidar tetap bersikukuh menyembunyikan ponsel Arkana.
“Bacot Lo! Sini ga?!” Arkana berdecak kesal dan dengan gesit merebut ponselnya dari Haidar. Begitu dapat dia langsung membuka obrolan group yang sekarang mendadak ribut.
Beberapa photo yang kelihatannya diambil diam-diam segera menyambut Arkana. Dia membuka salah satu photo itu. Seorang pria jangkung tengah menggendong seorang perempuan di punggungnya saat di sebuah parkiran yang nampak tidak asing.
Ya... Itu adalah parkiran Nighties, dia dapat mengenalinya dengan baik. Tapi meski begitu, Arkana tidak mengenali siapa sosok dalam photo itu karena wajah si perempuan itu terhalangi rambut, sementara si pria membelakangi kamera. Tapi di photo selanjutnya, dimana si pria tengah mendudukan si perempuan ke dalam mobil, wajah keduanya keliatan jelas meski di bawah penerangan remang-remang.
Itu dia si dosen muda yang jadi idola satu fakultas.
Dan saat itu juga, jantung Arkana terasa mencelus ketika dia menyadari siapa perempuan yang ada di dalam photo itu.
Freya, itu adalah Freya nya. Gadis itu terlihat memejamkan matanya dan tidak sadarkan diri.
“Nggak, ini nggak mungkin.” Arkana bergumam tidak percaya sambil melihat-lihat photo lainnya
Photo lain yang berisi si pria yang juga ikut masuk ke dalam mobil. Dan mobil itu pun nampak berlalu pergi meninggalkan area parkiran.
Jemari Arkana bergerak membaca pesan-pesan yang dikirim oleh beberapa anggota group.
Marco :
Itu cewek anak Fikom juga kan? Gue kayaknya sering liat deh.
Jeffian :
Iya, anak ilkom 17 tuh, gue juga sering liat di student center.
Abi :
Gila itu dosen, mahasiswanya aja diembat.
Titan :
Enak kali sama mahasiswanya sendiri.
Abi : Parah Lo, ngomong kaga di filter.
Titan :
Gue ngetik woy, nmga ngomong.
Abi :
Sama aja Nurdin!
Gilang :
Eh bentar-bentar, itu cewek bukannya temennya @Arkana sama @Haidar ya? Bener kan gue? Bro...
Abi : Wew, gila temen Lo pada jauh juga ya maennya.
“Brengsek!” Arkana mendesis. Jarinya bergerak cepat mengetik pesan di group.
Arkana :
Bangsat! Hapus ga photonya?
Jangan ada yang berani share photo-photo itu!
Kalo sampe bocor keluar, mampus kalian semua!
Tepat setelah pesan Arkana terkirim, pesan lain segera bermunculan. Marco, temannya yang mengirim photo-photo itu meresponnya lebih dulu.
Marco :
Wow... Chill dude.
Titan :
Santuy, Bro...
Abi :
Mampus Lo, pawangnya ngamuk! Tiati Lo Marco balik-balik tinggal nama tar...hahaha
Marco :
Iye... Iye... Gue apus. Ah, gue kan Cuma berbagi info aja guys. Syok soalnya kemaren di Nighties ketemu lagi Ama dosen satu ini, ck... ck...
Jeffian :
Santai ajalah Ar, kan Lo tau sendiri apa yang di share di group ini bakal jadi rahasia member doang.
Maka di detik selanjutnya, dia langsung menghubungi sebuah kontak di ponselnya.
“Halo, Freya? Lo dimana?” Arkana langsung bertanya begitu saat Freya mengangkat telponnya. “Gue mau ngomong, ketemu di plaza bisa?”
Setelah memutus sambungan teleponnya, Arkana lalu bergegas bangun dari duduknya. Tanpa mengatakan apapun pada Haidar, dia berlari meninggalkan kantin.
“Woy, ini gimana lontong karinya masih banyak?” Haidar berteriak pada punggung Arkana yang semakin menjauh. Tentu saja Arkana tidak mendengarnya. “Ya udah buat gue aja, lumayan sarapan gratis.”
***
“Haidar bilang semalem Lo jemput gue ke Nighties?”
Freya tersentak begitu Arkana mengatakan hal itu. Dia menatap temannya itu dengan tatapan terkejut.
“Kenapa Lo bohong sama gue, Frey?” Arkana bertanya pelan. Pertanyaannya tidak terdengar menuntut, tapi lebih seperti kecewa. Dan hal ini pula yang membuat Freya mendadak merasa bersalah. Padahal tentu saja, dia bukan di posisi yang membuatnya harus merasa demikian.
“Gue...” Freya bingung harus menjawab apa. Pada akhirnya dia menghela napas sambil berujar “Pas gue Dateng Lo udah sama Giana. Gue nggak enak kalo harus ganggu kalian berdua. Jadi yaaa...”
Arkana terdiam mendengar jawaban Freya. “Trus kenapa Lo bisa bareng sama dosen sialan itu?”
Hah??
Freya mengerutkan keningnya, dia terkejut karena Arkana mendadak menyebut-nyebut nama Orion.
“Marco bilang dia ngeliat Lo naek mobil dosen itu di Nighties.” Ujar Arkana kemudian, tidak tega jika harus mengatakan pada Freya bahwa dia di photo diam-diam saat sedang tidak sadarkan diri bersama seorang pria.
Freya menggigit bibirnya. Dia dan Arkana sudah bersahabat sejak kecil. Rasanya tidak nyaman jika harus menyembunyikan sesuatu dari orang sedekat Arkana. Apalagi dengan posisinya yang sudah terpojokkan begini.
“Iya, gue nggak sengaja ketemu Pak Orion di Nighties. Gue mabok trus dia bawa gue pulang karena gue bener-bener udah nggak sadarkan diri.” Jelas Freya akhirnya, dia memutuskan tidak ada gunanya juga berbohong lebih jauh pada Arkana.
“Tapi Lo ga kenapa-kenapa kan? Dia nggak macem-macem kan sama Lo?” Arkana bertanya dengan raut khawatir.
Dengan cepat Freya menggeleng. “Nggak, kok. Nggak ada yang terjadi. Gue bener-bener Cuma numpang tidur di Apartemennya aja. Lagian Pak Orion itu orang baik tau! Dia nggak jahatin gue.”
Arkana memejamkan mata sejenak. Lalu detik selanjutnya tiba-tiba menarik Freya ke dalam pelukannya, melupakan fakta bahwa mereka tengah berada di tempat umum sekarang. Membuat perempuan yang direngkuh melebarkan mata terkejut.
“K- kenapa, Ar?”
“Maaf, gue yang jahat karena udah bikin Lo ada dalam keadaan kayak gitu. Maafin gue, Frey.” Bisik Arkana pelan.
Freya pun menggeleng pelan. “Nggak usah minta maaf, Lo ga salah, Ar.”
“Kalo aja gue ga mabok, kalo aja gue ga nyusahin Lo, Lo ga akan ke Nighties dan ketemu dosen itu.”
Freya tersenyum kecil lalu menepuk-nepuk pundak Arkana menenangkannya. “ Iya, iya, gue maafin. Reaksi Lo seakan-akan gue terlibat hal buruk banget. Padahal Cuma gini doang.”
Arkana pun melepaskan pelukannya. Kedua tangannya memegang bahu Freya. “Gue takut banget pas tau Lo bareng sama dosen itu. Gue takut Lo kenapa-napa, Frey.”
Kali ini Freya terkekeh. Dia meraih tangan Arkana, lalu menggenggamnya dengan hangat. “Lo kenal gue kan? Gue bisa jaga diri gue, Ar. Gue ga akan ngebiarin orang lain nyakitin gue.”
Tapi itu tidak sepenuhnya benar. Padahal selama ini Freya membiarkan dirinya terluka dengan menyimpan rasa untuk Arkana.
Tapi keliatannya Arkana percaya dengan hal ini. Dia mengangguk dan mengusak puncak kepala Freya.
“Ya udah, sebagai permintaan maaf gimana kalo kita jalan nanti sore?” tanya Arkana sambil tersenyum manis.
Freya memasang raut menyesal. “Eu... Nanti sore gue ada rapat Medfo, Ar.”
Setelah apa yang terjadi kemarin, Freya memutuskan dia harus mulai mengambil langkah untuk melupakan Arkana. Salah satu bentuk upayanya adalah, menghindari interaksi yang tidak perlu dengan laki-laki itu. Dan beruntungnya dia, sore ini dia memang punya agenda di himpunan jurusannya sehingga bisa menolak ajakan Arkana.
“Ah elah... Bang Kevin kan kepala departemen Lo? Skip aja sih, dia kan santai orangnya.” Arkana mengesah, menyebut nama kepala departemen Freya sekaligus kakak tingkat yang dikenal baik oleh Arkana sendiri.
Tetapi Freya menggeleng pelan. “Medfo udah beberapa Minggu nggak rapat, nggak enak kalo gue main skip aja. Lagian gue kan yang jadi penanggung jawab website himpunan.”
“Ck... Susah juga kalo punya temen budak proker,” gerutu Arkana sambil menyebutkan bibir. “Ya udah, balik rapat aja deh jalannya.”
Freya tersenyum kecut. “Besok matkulnya dosen killer Ar, suka ngedadak kuis, gue mau belajar “
Beberapa saat Arkana hanya terdiam sambil menatap Freya. Dia hendak mengatakan sesuatu, tapi ponsel Freya bergetar pendek pertanda pesan masuk. Rupanya dari Rania.
Rania :
Dimana Woy?
Lo nggak akan masuk kelas?
Ck...
Freya berdecak pelan lalu bersiap pergi.
“Udah dulu ya, Ar. Gue ada kelas, nih. Nanti ngobrol lagi, Ok?”
Arkana menghembuskan napas, tangannya menahan Freya. “Yerus gue jalan sama siapa kalo Lo nggak bisa?”
Kedua alis Freya berjingkat. “sama Giana lah. Cewek cakep gitu mau Lo lupain?” dia terkekeh lalu segera beranjak sambil melambai. “Udah aa. Bye, Arkana!”
Di tempatnya Arkana hanya terdiam memandangi punggung Freya yang makin lama makin menjauh. Laki-laki itu lantas bergumam pada dirinya sendiri, mengutarakan pertanyaan yang tadi hendak dia sampaikan langsung pada Freya. “Lo nggak lagi ngehindarin gue kan, Frey?!”