
Freya :
Ar, besok siang bisa ketemu? Ada yang mau gue omongin
Arkana :
Bisa. Gue rencananya mau main basket sih di lapangan komplek, di sana aja ya?
Freya :
Oke, boleh
So... meski Freya berencana mengajak Arkana bicara soal Giana, sampai detik ini kepalanya masih dipenuhi oleh Orion.
Kalau dipikir-pikir lucu sekali bagaimana Orion berhasil membuat Freya tidak bisa tidur untuk kesekian kali karena ulahnya.
Dan kini, kepalanya sibuk memutar kejadian saat di pernikahan Zaidan.
Bayangan Orion yang menciumnya berulang kali terputar di benak Freya, bersamaan dengan ucapannya saat di mall.
"Kamu bilang kamu mau lupain sahabat kamu 'kan? Saya bisa bantu kamu supaya kamu bisa lebih cepet lupa sepenuhnya sama dia."
Semua itu membuat wajah Freya lagi-lagi memerah malu.
Sialan sialan. Dasar Dosen Gila.
Jadi maksudnya itu caranya membuat Freya lupa akan Arkana?
Kalau begitu ceritanya, mungkin Freya memang akan berhasil melupakan Arkana. Tapi sebagai gantinya, kepalanya jadi tak henti memusingkan soal Dosen Gilanya itu.
Freya meraih ponselnya, nyaris mengetikan pesan untuk Rania dan menceritakan tentang apa yang dialaminya ini. Tapi kemudian, reaksi berlebihan Rania segera terpeta di benaknya. Rania selalu menekankan bahwa Orion menyukainya. Kalau Freya menceritakan hal ini, sudah dipastikan kalau Rania pasti akan semakin semangat mempertahankan asumsinya itu.
Freya menggeleng keras. Tidak, dia tidak boleh termakan oleh anggapan itu.
Tapi... kalau Orion tidak menyukainya, kenapa dia menciumnya?
Saat itu, sebuah pesan masuk ke ponselnya, otomatis memutus pemikiran Freya. Perempuan itu segera mengeceknya dan jantungnya mencelus begitu melihat siapa pengirimnya.
Ya... Siapa lagi kalau bukan dosen gilanya itu.
ORION.
Bagaimana mungkin Orion muncul tepat ketika Freya tengah memikirkannya?
Dosen Gila :
Udah tidur?
Belum ya? Chat saya langsung diread gitu hehe
Freya mengesah dan mengetikan balasan.
Freya :
Iya, belum tidur. Ada apa ya, Pak?
Dosen Gila :
Kenapa belum tidur? Udah malem loh ini. Kalau besok kamu ketiduran di kelas, dosen lain bisa-bisa ngusir kamu dari kelas, Frey.
Freya :
Ya saya nggak bisa tidur karena mikirin Bapak...
Cepat-cepat Naya menghapus deretan kalimat itu dan menggantinya dengan jawaban yang jauh lebih waras.
Freya :
Lagi nugas, Pak.
Dosen Gila :
Tugas dari siapa? Malem-malem gini belum beres juga?
Aduh sial harus jawab apa lagi? Satu kebohongan memang harus disambung dengan kebohongan lain.
Freya :
Tugas kuantinya Pak Damar, disuruh bikin proposal penelitian. Saya masih stuck di latar belakang Pak, masih kurang paham
Dosen Gila :
Emang Pak Damar nggak jelasin dikelas?
Freya :
Ngejelasin sih Pak, tapi saya nya aja yang nggak ngerti hehe
Dosen Gila :
Ya udah sini saya jelasin. Tapi nggak enak kalau di chat, nanggung. Saya telepon aja, ya?
Kedua mata Naya seketika melebar.
Freya :
Eh nggak usah, Pak nggak usah repot-repot.
Dosen Gila :
Saya nggak ngerasa direpotin, Frey.
Biar tugas kamu cepet beres, kamunya bisa cepet tidur.
Nggak baik begadang terus
Freya :
Nggak usah Pak, nanti saya makin baper sama Bapak.
Freya bersumpah, jarinya mengetikan kalimat itu tanpa berpikir dan tadinya ia akan menekan hapus. Tapi entah bagaimana, bukannya menekan hapus, dia malah menekan enter.
Dan begitulah, pesan tak tahu malu itu seketika terkirim pada Orion.
Tetapi kemudian Freya mengambil kembali ponsel itu dan tanpa berpikir menekan opsi unsent, tidak peduli jika tanda ceklis dua di pesannya sudah berganti berwarna biru.
Orion sudah membaca pesan bodohnya.
Beberapa detik kemudian muncul pesan baru dari Orion.
Dosen Gila :
Ngapain di-unsent? Saya udah baca, kok.
Freya memekik lagi sambil mengacak rambutnya.
Aaaakkhh... Kurang ajar!
Freya :
Maaf, Pak
Dosen Gila :
Ngapain minta maaf?
Freya :
Saya malu 🙈
Dosen Gila :
Ngapain malu? Nggak apa-apa baper sama saya. Saya juga udah baper sama kamu hehe...
Ya ampun.
Lagi-lagi Freya melempar ponselnya ke ujung kasur lalu membenamkan wajahnya yang memerah di bantal. Untuk kesekian kalinya, dia menjerit dengan suara teredam bantal. Lalu tak lama didengarnya ketukan pada pintu kamarnya.
Tok... Tok...
"Non? Non Freya nggak apa-apa? Kok daritadi Bibi denger jejeritan, Non?" Bi Imas kedengaran khawatir.
Freya terlonjak dan teringat dia tak sendirian di rumah malam ini. Ada Bi imas yang pasti terusik dengan kehebohannya sejak tadi. Perempuan itu berdehem lalu berseru, "Nggak apa-apa Bi, ini lagi nonton film horor."
"Beneran, Non?" tanya Bi Imas lagi, mungkin merasa sangsi.
"Bener Bi, Bibi tidur lagi aja. Maaf ngeganggu."
"Ya udah, kalau ada apa-apa Bibi di bawah, ya, Non."
Setelahnya Freya mendengar langkah Bi Imas menjauh dari depan kamarnya.
Freya menghela napas lalu menghempaskan dirinya ke kasur. Dia meraih ponselnya dan tersentak ketika melihat sebuah panggilan masuk.
Dosen Gila is calling...
Sialan, Orion benar-benar serius ingin mengajarinya lewat telepon? Setelah apa yang Freya katakan tadi?
Gadis itu mengusak rambutnya kasar, dan mengabaikan panggilan Orion. Lalu, tanpa berpikir apa pun lagi, segera menonaktifkan ponselnya.
Masa bodoh dengan semua ini. Freya memang harus tidur sekarang.
Flashback ON
"Nih Buat lo." Freya meletakan kotak makan siang di meja Arkana lalu segera beranjak.
Dengan cepat tangan Arkana meraih lengan Freya dan menahannya pergi.
"Buat apa?" tanyanya sambil menatap Freya dengan tajam.
Freya mendecak lalu menjawab, "Gue liat lo nggak pernah makan siang. Makan tuh daripada sakit."
Kening Arkana mengerut tak suka. "Lo ngasianin gue?"
Sejenak Freya terdiam. "Iya."
Cengkraman Arkana pada lengan Freya mengencang. "Gue nggak suka dikasianin. Emangnya lo siapa berani-beraninya ngasianin gue, hah?"
"Gue pernah ada di posisi lo." Freya menjawab cepat, raut wajahnya tenang tetapi matanya menyiratkan rasa sedih. "Bahkan sampai sekarang pun gue masih ada di posisi itu. Gue tau gimana sakitnya ditinggal pergi orang yang kita sayangin, Gue tau gimana rasanya pengen teriak marah, tapi nggak tau harus dilampiasin ke siapa. Gue tau semuak apa rasanya sendirian di rumah yang sepi."
Perlahan cengkraman Arkana mengendur. Ia menatap Freya lama.
Ini sudah seminggu sejak kepindahannya ke sekolah baru. Semua orang sibuk membicarakan Arkana, ada yang diam-diam, dan tak sedikit yang terang-terangan menggunjingnya di depan wajah. Ia jadi bahan gosip, bahan tertawaan, hanya karena kabar keretakan rumah tangga orang tuanya. Ya, karena Aufar adalah pebisnis yang sangat disegani dan terkenal juga karena perusahaannya ada dimana-mana jadi para saingan bisnis Aufar menjadikan gosip yang beredar adalah kunci untuk menjatuhkannya dan gosip itu adalah memang kebenaran dari perasaannya sendiri. Bahwa memang selama ini Aufar tidak pernah mencintai Karin yaitu Ibu dari Arkana sendiri yang membuat Arkana tidak habis pikir.
Di sekolah baru ini tak ada seorang pun yang berani mendekatinya. Mungkin karena sejak awal Arkana memasang tameng kasat mata, ia bersikap dingin dan arogan pada siapa saja. Tapi perempuan ini, perempuan ini satu-satunya yang berani bicara begitu pada Arkana. Freya pasti bukan satu-satunya orang yang mengetahui masalah keluarga Arkana. Bagaimana tidak, hampir semua berita infotainment heboh membahas kedua orang tuanya.
Semua orang tahu masalah ini, semua orang menggunjingnya, mengata-ngatai, dan mengasihani dirinva.
Hanya Freya yang berani mengulurkan tangan, semata-mata karena perempuan itu memahami perasaannya.
Anehnya, Arkana tidak tersinggung.
Mungkin, tanpa disadarinya, dia memang membutuhkan sosok yang dapat memahaminya dengan baik.
"Dari kecil gue nggak pernah tau rasanya dibuatin bekel makan siang sama nyokap. Makanya gue diajarin kakak sepupu gue bikin roti isi sendiri buat makan siang." Freya melanjutkan. Dia mengedikan dagunya pada kotak makan di atas meja. "Makan tuh, roti isinya"
Dia lalu melepaskan cengkraman Arkana pada lengannya dan berlalu pergi.
Arkana menunduk, memandangi kotak makan siang dari Freya. Itu mengingatkannya akan bekal yang selalu dibuatkan Ibunya dulu sewaktu Arkana masih duduk di bangku SD dan SMP.
"Eh, Arkana."
Arkana mendongak dan menemukan Freya tengah menyembulkan kepalanya dari pintu kelas.
"Kalau roti isinya mau lo buang jangan sama kotak makannya ya.
Tupperware mahal tau. Awas aja lo!" Setelah mengatakan itu Freya benar-benar berlalu pergi, meninggalkan Arkana yang tercenung di tempatnya.
Sesaat kemudian Arkana mendengus dan tertawa kecil. Tawa pertamanya di sekolah itu.
Flashback Off