
Di depan kamar Aufar…
Islandzandi berdiri ragu untuk masuk ke kamarnya.
Setelah beberapa menit berdiri, Islandzandi pun membuka pintu dan masuk ke kamar Aufar tanpa menutup pintunya lagi.
Islandzandi berjalan menghampiri Aufar yang sedang duduk di samping tempat tidurnya sambil memeluk photo Bu Merry.
"Hei… Aufar…" ucap Islandzandi.
"Nyokap gue Island…" ucapnya tertahan menahan tangisnya.
"Iya gue tau, gue ngerti (terdiam) Dan lo harus tau gue disini… Lo inget saat nyokap lo bilang kalo gue harus jagain lo? Itu artinya gue bakalan selalu ada di samping lo... Jadi lo ga usah ngerasa sendirian... hm?!"
Aufar melihat kearah Islandzandi begitu pun dengan Islandzandi.
Sementara itu Reyandra yang sedang berdiri di depan pintu kamar Aufar melihat dan mendengar percakapan mereka langsung terdiam sedih.
"Gue bakalan penuhin keinginan tante Merry sebelum meninggal, yaitu nikah sama lo... Sekarang gue bakalan terus ada di samping lo (menghapus air mata Aufar) Sekarang kita kebawah dan mengantar nyokap lo untuk yang terakhir kalinya ya… Karena mereka udah nunggu lo dari tadi. Kasian nyokap lo... Yuk?!
**
Di ruang tamu keluarga Pak Jenny…
Pak Jenny, Pak Diandra, Bu Audrey dan Masih banyak orang yang melayat sedang menunggu Aufar… Begitu pun dengan Reyandra Erik dan Aslan yang masih ada disana sedang terdiam di dekat jasad Bu Merry yang sudah siap untuk dimakamkan… Aufar dan Islandzandi berpegangan tangan berjalan kearah Pak Jenny dan keluarganya. Islandzandi melihat sekilas kearah Reyandra.
"Kau sudah siap?!" Aufar hanya mengangguk.
Pak Jenny menepuk pundak Aufar. "kau harus kuat! Kita sekarang hanya tinggal berdua... Dan aku minta maaf karena selama ini sudah menelantarkan kalian berdua... Aku benar-benar menyesal..."
Aufar masih terdiam melihat jasad Bu Merry yang sudah dibungkus kain kafan lalu meneteskan air matanya...
Beberapa orang sudah menyiapkan keranda mayat dan jasad Bu Merry pun dipindahkan ke dalam keranda, keranda pun dibawa oleh beberapa orang.
Termasuk Aufar dan Pak Jenny pun ikut mengangkatnya. Mereka pun berangkat untuk menguburkan jasad Bu Merry di pemakaman kelarga Pak Jeny…
**
Sementara itu di sebuah taman dekat Apartement Reyandra...
Pukul 21.00 malam...
Reyandra sedang melamun sambil merokok.
hah… mungkin dengan melepasnya itu bisa membuat Island sadar bahwa dia tidak bisa meninggalkan Aufar.
Reyandra tersenyum pahit lalu meminum Bir kalengnya lalu menghela nafas panjang.
Tak lama Erik datang dan duduk di samping Reyandra sambil ikut merokok menemani Reyandra.
"Kau benar-benar memutuskan Island Hyung? Kamu tau kan kalo emosi Island itu cuma sesaat, waktu itu juga begitu kan? Mungkin Island ingin…."
Reyandra melihat kearah Erik. "Apa Island yang memberitahumu?
"Ya? (terdiam tersenyum kecut) hmm... Sekarang teman yang bisa dia ajak bicara dan yang paling mengenalmu hanya aku, Hyung..." Reyandra hanya tersenyum pahit.
"Meskipun dia Cuma emosi sesaat tapi dia tidak bisa meninggalkan Aufar, saya tau Island tidak bisa berbicara pada saya jadi saya yang mengambil keputusan untuk meninggalkannya agar dia bisa berada disisi Aufar… (terdiam sedih) Saya tidak bisa melihat Island menderita…"
"Kau egois Hyung, justru aku pikir kau meninggalkan Island karena takut jawaban dari Island sendiri kan… Kau tau persis kalau Island sangat mencintaimu, dia hanya ingin dukungan darimu…"
Reyandra terdiam berfikir. "Anggap saja perkataanmu benar, saya takut ucapan Island kalau dia lebih memilih Aufar daripada saya… (ucapnya sambil menahan tangisnya) Tapi meskipun saya mempertahankan Island tetap saja Island tidak bisa melepaskan Aufar…"
"Kenapa?"
Reyandra terdiam. "Karena sebelum meninggal ibunya Aufar berkata kalau dia ingin agar Island menikah dengan Aufar, dan Island sudah berjanji padanya…"
Erik yang melihat Reyandra terdiam sedih lalu menepuk pundaknya Reyandra menenangkan Reyandra yang sedang sedih.
Hari pun berlalu dengan cepat, dan hari-hari pun dilalui Islandzandi dengan berada bersama Aufar untuk menghiburnya sampai Aufar move on kembali dari kesedihannya karena ditinggal Bu Merry.
Reyandra pun menyibukan dirinya dalam bekerja bersama Eolia.
**
Di sebuah Café…
Pukul 16.30 siang…
Aufar dan Islandzandi sedang duduk di salah satu Café sambil makan pesanan mereka.
Aufar melihat Islandzandi. "Hey Island…"
"Hm… (jawabnya masih makan tanpa melihat Aufar) Kenapa Far"
"Lo nggak berhubungan lagi sama Reyandra? Apa karena ucapan nyokap gue?"
Islandzandi terdiam. "Haaahh… Lo nggak usah khawatir, gue sama Reyandra udah nggak berhubungan lagi kok, dan itu bukan karena nyokap lo..."
Iya kan? Karena gue belum bilang masalah keinginan nyokap lo, Reyandra udah ngambil keputusan sendiri buat pisah tanpa dengerin keinginan gue! (terdiam berfikir) Dia… Udah ngelepasin gue…
Aufar hanya terdiam melihat kearah Islandzandi sambil mengerutkan halisnya.
"Oia, Haura sama Karin kemana sih, lama amat! Kita janjianya disini kan?!" ucap Aufar mencoba mengalihkan obrolannya.
"Hm… Coba lo message mereka lagi udah sampe dimana mereka?"
Tak lama kemudian…
Haura dan Karin datang dan berjalan kearah mereka.
"Hei… Sorry-sorry telat ya, hihihi?" ucap Haura cekikikan.
"Lagian pake ketemu sama cowok segala lagi jadi aja lama…" Karin.
Aufar melihat Haura. "Cowok baru lagi?"
"Itu loh cowok yang waktu itu dateng ke pemakaman nyokap lo yang bareng sama Aslan…"
Islandzandi dan Aufar terdiam berfikir.
"Erik?" ucap Island melihat Haura tidak percaya.
Haura tersenyum. "Dia cowok yang waktu dulu ketemu yang gue cerita sama kalian itu loh… masa kalian lupa sih?!"
"Jangan deh… Dia orangnya aneh! Dia juga tipe cowok playboy…"
"Hah… Lo pikir gue gimana? (candanya) Oh iya, nih Form absen buat magang kalian nanti… (ucapnya sambil mengambil form di dalam tasnya lalu membagikan kepada Islandzandi, Karin dan Aufar) Tadi Pak Indra nitipin ke gue… Katanya diisi tiap hari dan di tandatangan oleh kepala Divisi tiap hari juga…"
Islandzandi melihat Aufar yang menerima form itu juga. "Lo… Bukanya lo nggak ngambil magang dulu?"
"Karena kalian magang bareng gue jadi ikut daftar juga sama Pak Indra... Sekalian nemenin lo…" ucapnya tersenyum ke arah Islandzandi.
Mereka pun mengobrol sambil hangout bersama di Café itu.
Beberapa jam kemudian…
Pukul 18.30 malam…
Reyandra dan Eolia yang baru saja masuk ke Café itu berjalan masuk dan melewati meja Islandzandi dan teman-temannya.
Reyandra terdiam sejenak melihat kearah Islandzandi begitu pun Islandzandi yang sedang melihat Reyandra.
"Island?!"
"Oh, Rey?! Kebetulan banget ketemu disini?"
Aufar , Karin melihat kearah Eolia yang sedang berdiri disamping Reyandra.
Islandzandi tersenyum kecut. "Hm… Tumben kamu kesini Rey? Lagi ngedate juga?" ucapnya sambil melirik ke arah Eolia.
Dia mantannya Reyandra kan? Dia disini? Bukanya di LA? (melihat cingcin yang dikenakan Eolia yang dia lihat di Apartement Reyandra) hah… (kecewa)
Reyandra melihat Eolia. "Ah, kenalkan dia Eolia…"
"Gue Aufar, dia Island, Haura dan Karin!"
"Aah.. I see…" ucapnya tersenyum kearah Islandzandi sambil menggandeng lengan Reyandra.
Islandzandi, Aufar, Haura dan Karin terdiam melihat Eolia.
Sementara Reyandra hanya terdiam.
"Eu… Rey, apa kamu mau gabung disini?" ucap Haura ragu.
Reyandra dan Eolia pun pergi dari hadapan mereka. Islandzandi hanya terdiam melihat kepergian Reyandra.
"Cewek itu siapa?" tanya Aufar heran.
"Itu... Kalo nggak salah cewek itu yang digosipin sama Reyandra waktu di LA deh, (melihat Islandzandi) bener nggak Island?"
"Nggak mungkin Reyandra… (terdiam melihat kearah teman-temannya yang sedang melihat kearahnya curiga) Ha… Magsudnya, mungkin itu Cuma gossip…" ucap Haura dengan hati-hati.
Aufar melihat kearah Islandzandi yang terdiam dan menggenggam tangan Islandzandi erat.
"Kita jadi ke club kan?"
"Ya jadilah, udah lama juga kita nggak hangout..." Islandzandi hanya tersenyum melihat kearah Aufar.
**
Di Apartement Reyandra…
Pukul 01.00 pagi…
Reyandra sedang duduk di sofa ruang tengah mendengarkan music sambil melamun.
Tak lama Reyandra mendengar suara kunci pintu Apartementnya dibuka beberapa kali.
Reyandra bingung lalu melihat jam di tangannya menunjukan jam satu pagi.
"Erik?"
Reyandra masih terdiam.
Saat terdengar suara kunci pintu dibuka lagi Reyandra yang terlihat sedikit kesal beranjak dari tempat duduknya dan berjalan kearah monitor menyalakanya dan melihat siapa yang ada di depan pintu Apartementnya.
Kode salah silahkan anda mencobanya lagi.
Reyandra terdiam saat melihat Islandzandi yang ada di depan pintunya.
"Hm… (tubuhnya bergerak tidak stabil karena mabuk tapi kali ini dia lebih tenang) Mmmm 071986?"
Kode salah silahkan anda mencobanya lagi.
"Ya!! (tandasnya kesal) Bilang aja lo nggak mau gue kesini? Iya kan? Dasar brengsek! Anj***, pembohong... Katanya aku boleh terus dateng kesini--" Gerutu Islandzandi memarahi kunci digital Apartement Reyandra mulai habis kesabarannya.
Tak lama pintu Apartement pun terbuka.
"Oh, kebuka?! Aneh…" ucapnya sambil membuka pintu itu.
"Tentu saja terbuka karena saya yang membukanya Island!"
Islandzandi bersandar ke pintu dan mendekati wajah Reyandra. "Haaaahhh… Ini dia Reyandra Adira Putra si pengusaha hebat yang sangat terkenal… (ucapnya tersenyum lalu kembali lagi do mode garang) Ngapain lo disini?"
"Ini Apartement saya dan kamu---" ucapnyq terputus saat Islandzandi menundukan kepalanya lalu mendongak sampai rambutnya terkena wajah Reyandra.
Reyandra pun terdiam menatap wajah Islandzandi yang sedang menatapnya sambil jantungnya berdegup kencang karena terlalu dekat dengan wajahnya.
"Hah… Puas sekarang kamu? Liat aku kayak gini? Dasar cowok brengsek! Lo seneng kan sekarang? Lo ngambil keputusan buat putus secara sepihak karena mantan lo itu kan? Lo masih suka dan sayang sama mantan lo itu makanya lo bawa dia kesini…" mereka saling terdiam.
"Minggir!" ucap Island sambil mendorong tubuh Reyandra sampai badan Reyandra terbentur pintu apartmentnya.
"Islandzandi Pradipta!" ucapnya tegas.
"Apa?! (bentaknya balik lalu menghadap kearah Reyandra) Lo pikir gue nggak akan bahagia sama Aufar? Kayak lo bahagia sama mantan lo sekarang? Hah? Liat aja… Lo… Lo pasti bakalan nyesel udah mutusin gue…" ucapnya sambil memejamkan mata dan badannya terjatuh menimpa Reyandra.
Reyandra yang menahan badan Islandzandi lalu membopong tubuh Islandzandi kedalam Apartemennya dan menidurkan Islandzandi di kamarnya. Reyandra melihat baju yang dikenakan Islandzandi terbuka, Reyandra pun menutupinya dengan selimut.
"Hah… berapa banyak kamu minum sampai kamu tidak sadar seperti ini?! Kamu kesini dengan keadaan mabuk parah seperti ini? Apa yang kamu pikirkan? Bagaimana kalau ada orang jahat yang memanfaatkanmu?" gerutunya sambil mengusap kepala Islandzandi.
Esoknya…
Pukul 08.00 pagi…
Di dapur Reyandra sedang memasak untuk sarapan, Erik tidur di sofa dengan baju dan tas disampingnya dan Islandzandi masih tertidur pulas di kamar Reyandra.
Islandzandi yang baru membuka matanya terdiam melihat sekitar kamar Reyandra bingung lalu duduk dan membenarkan rambutnya pusing.
Aaahhh Shiitttt!!! Ngapqin juga gue ada disini? Island lo gila... lo bener-bener udah ga waras!
Islandzandi berlari dari kamar Reyandra ke kamar mandi dengan terburu-buru karena sedang menahan mual.
Dan saat di dalam kamar mandi Islandzandi mulai mengeluarkan suara muntah dan mengeluarkan isi perutnya.
Saat dirasa sudah selesai Islndzandi pun membersihkan mulut sampai membasuh mukanya berusaha menyadarkan diri dari efek mabuknya.
Apa yang gue lupain? Semalem kenapa gue bisa pulang kesini? Gue ngomong apa sama Reyandra? Gue ga lakuin hal-hal yang memalukan kan di hadapan Reyandra? Ck... Lu kenapa bego banget sih Island!
Erik yang terbangun karena kebisingan Islandzandi pun langsung berjalan kearah Reyandra yang berada di dapur.
"Ck... Berisik banget! Putri tidur kenapa lagi?"
"Erik?! Shuutttt!"
"Hah… Dia kalo mabuk parah juga ya kelakuannya… Dasar bocah!"
Erik pun mengambil makanan yang sedang disiapkan Reyandra.
"Hei… Stop it! Dan tolong bereskan makanannya di meja makan!"
Erik melihat Reyandra yang sedang mencuci tangannya dan membuka celemek yang menempel di badannya. "Okay…" tetap mencomot makanan yang ada di hadapannya.
Reyandra lalu berjalan mengambil sebuah tas dan berjalan ke kamar mandi.
Reyandra mengetuk pintu kamar mandi. "Island?! Kamu nggak apa-apa kan?"
Reyandra pun berdiri terdiam menunggu di depan pintu kamar mandi.
Islandzandi membuka pintu kamar mandi perlahan dan mengintip Reyandra dari dalam kamar mandi cemberut.
'Ini… (menyerahkan tas) baju dan handuk, mandilah lalu ke ruang makan sarapan dulu sebelum pulang!"
Beberapa menit kemudian…
Di meja makan…
Reyandra, Erik dan Islandzandi makan masih terdiam.
'Aiiishhh kenapa suasananya kaku gini sih? Island, berapa banyak kamu minum kemarin malem, hah? Sampe kamu nggak sadar dan sangat berisik!"
Islandzandi terdiam kaget. "Aku? Emang aku ngelakuin apa?" ucap Islandzandi jaim sok pura-pura nggak tau.
"Kamu nggak inget? Lagian kamu maen pergi gitu aja, tau nggak kalo yang lain nyariin kamu!"
Islandzandi terdiam mengernyit menyesal. Reyandra hanya terdiam sambil menyeruput kopinya memperhatikan Islandzandi.
"Hihihi... Iya… Maaf deh! (menunduk lalu melihat Erik serius) Oh ya… Kamu, awas ya kalo nyakitin Haura!" ucap Island teringat tentang hububgannya dengan Haura lalu melihat tajam kearah Erik.
"Diih, kenapa emangnya? Apa Haura udah cerita tentangku?"
"Hah… Aku nggak tau kalo ternyata kalian udah kenal sebelumnya!"
"Ck... Kalau Haura serius, aku bisa lebih serius sama Haura…"
Islandzandi melihat Erik. "Magsudnya?"
"Aku serius menyukai Haura, selama ini aku belum pernah jatuh cinta sama perempuan, tapi pertama kali liat Haura, aku… (melihat Reyandra yang sedang terdiam melihat kearahnya) Pokoknya, tinggal Haura nya sendiri, dia serius apa nggak! Kalau kamu nggak percaya Tanya Reyandra…. Iya kan Hyung?!"
"Hah, gila!" tandasnya ketus.
Ck... Gue daritsi sengaja ngehindar tatapan dan komunikasi sama dia, ibi malah nanya sama orangnya lagi!
"Island, saya sudah menelpon Om dan tante, setelah ini saya akan mengantarmu pulang!"
"Nggak usah! Aku udah minta Aufar jemput…"
Erik terdiam melihat kearah Reyandra dan Islandzandi. Eeiii… Kalian belum baikan juga ternyata?"
"Kita pasti baikan tapi hanya sebatas kakak ade… Iya kan Rey? Karena ternyata Reyandra juga balikan lagi sama mantannya!" sindirnya melihat kearah Reyandra tajam.
Erik terdiam bingung. "Mantan? (berfikir) Eolia?"
"Oooo... Bener banget! Aku udah selesai sarapan, jadi aku pergi duluan!" ucapnya lalu beranjak dari meja makan kesal.
Reyandra masih terdiam melihat kepergian Islandzandi.
Erik melihat Reyandra memberi sinyal.
"Eiii… Sejak kapan kamu balikan lagi sama Eolia?!"
"Dia hanya salah paham!"
"So chase her, before the problem increases, ini kesempatanmu buat ngejelasin kenapa kamu memutuskan secara sepihak, dan… (terdiam) Ini buat kebaikannya loh! Dan aku baru tau kalo sifat Island sangat keras, aku takut malah terjadi apa-apa sama dia!"
Reyandra pun menghela nafas panjang dan beranjak menyusul Islandzandi.
Erik menggelengkan kepala. "Hah, apa jadinya kalian tanpa aku… Untung aja aku mutusin buat dateng kesini…"