Islandzandi

Islandzandi
Kisah Orion I



Dia lantas menyiapkan bubur dan obat berserta air minum di nampan, kemudian membawanya ke kamar Orion. Pintunya separuh terbuka. Setelah mengetuk sekali, Freya melangkah masuk.


Benar saja. Orion sudah terlelap di kasurnya. Perlahan Freya meletakan buburnya di atas nakas. Dia lalu memperhatikan Orion sejenak. Wajah dosennya itu pucat dan kelihatan lelah.


Hati-hati dia meletakan tangannya di atas kening Orion. Benar dugaannya, suhu tubuh Orion hangat. Freya menghela napas pelan. Mungkin dia harus mengompres Orion agar demamnya reda. Sebelum beranjak dia bergerak merapikan selimut Orion, menariknya sampai ke dada.


Lalu tiba-tiba saja, tangan Orion bergerak menahan lengannya. Freya terkesiap, dia pikir laki-laki itu sudah terlelap.


"Pak ...."


Belum cukup sampai di situ, mendadak Orion menarik lengannya. Tenaganya begitu kuat untuk ukuran orang demam, hingga Freya jatuh tepat di atas dada Orion. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah laki-laki itu. Kedua mata Freya melebar sempurna, tapi Orion masih memejamkan matanya.


"Pak ...."


Perlahan Orion membuka kedua matanya. Menatap Freya tepat di mata.


"Kayak gini sebentar aja," katanya dalam suara rendah. Lalu dengan mudah dia membawa Freya agar ikut berbaring di sampingnya di atas kasur. Kedua tangannya bergerak melingkari pinggang Freya, merengkuhnya erat.


"P-pak saya... Saya mau kompres Bapak biar demamnya reda." Susah payah Freya berujar ditengah debaran jantungnya yang menggila.


Dosen Sialan.


Jantungnya terasa hampir copot sekarang.


"Nggak perlu. Kayak gini aja. Saya bisa sembuh dengan gini aja." Orion bergumam dan memejamkan kembali matanya. Dia lalu menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Freya, membuat perempuan itu bisa merasakan deru napas panasnya.


"Kalau gini ceritanya bisa-bisa saya yang sakit, Pak." Freya bergumam pelan meski tahu Orion sudah kembali jatuh tidur. "Sakit jantung."


***


"Telepon aku kalau udah selesai sama Orion, ya?"


Orion menghela napas pelan begitu membaca pesan itu di ponsel kekasihnya. Dia menaruh ponselnya kembali di atas nakas, dan menenggelamkan tubuh di bawah selimut tebalnya. Tidak lama si pemilik ponsel berjalan masuk dengan senampan bubur dan obat. Diletakannya nampan itu di nakas, sebelum dia mendudukan diri di sisi kasur dan mengecek suhu tubuh Orion.


Dalam diam Orion memperhatikan semua perlakuan kekasihnya itu. "Diistirahatin enakan 'kan jadinya? Demam kamu udah turun tuh." Perempuan itu berujar sambil tersenyum hangat. Senyuman yang begitu Orion sukai, sebelum dia tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Nih, makan dulu buburnya."


Orion tidak membuka mulut ketika kekasihnya menyuapi dengan bubur. Dia menggeleng, lalu menatap perempuan itu dengan datar. Tatapan yang sebelumnya tidak pernah dia berikan pada sosok itu.


"Rion, kenapa?"


"Kamu mau omongin sesuatu?"


Orion balas bertanya.


Kening perempuan itu mengerut. "Ngomongin apa?"


Orion mendengus pelan. "Aku tau apa yang udah kamu lakuin sama bajingan itu selama ini."


Kedua mata perempuan itu melebar. Tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari Orion. "Rion... aku bisa jelasin."


"Kamu tau ‘kan siapa dia, Lun? Dia musuh terbesar aku, enggak, dia orang yang bikin aku menderita di masa lalu. Dan kamu bisa-bisanya lakuin itu?" Orion berujar dengan raut terluka. "I trust you so much, but you dare to hurt me with this kind of ****?"


Perlahan kekasihnya mulai terisak. Dia menggeleng pelan. "Awalnya aku nggak berniat lakuin itu, Rion. Sumpah. Aku...."


Orion menghela napas pelan. "Ayo putus."


Lagi-lagi perempuan itu dibuat terkejut. Dia menggeleng pelan, seakan ingin menolak keputusan Orion tadi.


"Tell him i'm the one who dumped you, Aluna." Orion berujar perlahan. "And he'll regret everything he done to me, soon or later."


**


Orion terbangun dengan keringat bercucuran.


Sial, bagaimana bisa mimpi itu kembali menyapanya?


Dia mengembuskan napas perlahan, mencoba mengusir kenangan itu dari benaknya.


Butuh beberapa saat bagi Orion untuk menyadari dia tidak sendirian di atas kasur saat ini. Seorang perempuan tengah bergelung tidur dalam pelukannya. Orion tersenyum kecil memperhatikan Freya yang tertidur dengan damai.


Jemarinya perlahan bergerak menyingkirkan helaian rambut Freya yang menghalangi wajahnya. Dipandanginya wajah polos itu dalam diam.


Ironis sekali memang, Orion memimpikan sosok itu ketika ada Freya di sini, di sisinya, di pelukannya.


Seakan Tuhan ingin mengingatkannya akan niatan awalnya melakukan ini semua.


Gue tau lo udah tertarik sama dia dari awal


Menyingkirkan helaian rambut Freya yang menghalangi wajahnya. Dipandanginya wajah polos itu dalam diam.


Pada sikap konyolnya, pada tingkah polosnya, semua yang ada pada perempuan itu berhasil membuatnya tertarik.


Tapi segalanya berbalik ketika dia tahu siapa Freya. Seakan dunia tengah mempermainkannya, dia hampir jatuh hati pada adik sepupu dari seorang Kenan.


Rasa marahnya pada Kenan terlalu besar. Kesalahan Kenan padanya tidak pernah bisa dia maafkan.


Orion pikir, mungkin inilah kesempatannya untuk membuat Kenan menyesali perbuatannya di masa lalu.


Lo yakin nggak akan nyesel? Sebelum semuanya terlalu jauh, lo harus pikirin ulang lagi.


Lagi-lagi, Evan benar.


Mungkin, dia menyesal melakukan ini.


Tempo hari saja dia dibuat panik setengah mati begitu mengetahui Freya dalam bahaya karena ulah Aubrey. Bagaimana bisa suatu hari nanti dia melihat Freya benar-benar terluka karena ulahnya sendiri?


Orion tidak tahu. Dia bahkan tidak bisa membayangkan itu.


Dia mengeratkan pelukannya pada Freya. Mengubur wajahnya di helaian rambut perempuan itu.


"Maaf, Freya. Saya terlalu egois."


Sementara itu...


Di Svetovska Company...


"Namanya Baltsaros Orion Leandro, dia adalah dosen dari Fakultasnya Nona Freya, dia juga berteman dengan Tuan Muda Kenan. Tapi... ada kejadian dimana yang membuat mereka jadi bertengkar dan saling menjauh."


Reyandra sedang duduk sambil mendengar penjelasan Asistennya itu.


"Apa motifnya mendekati Freya?"


"Saya juga masih tidak mengerti Tuan, tapi sejauh ini pria itu tulus pada Nona Freya."


"Hah... baiklah, terus awasi Freya dari jauh, jangan terlalu dekat."


"Tuan... untuk agenda makan malam anda dengan Nona Freya..."


"Lakukan... Kosongkan jadwal saya di malam Minggu, kalaupun ada cancel atau rescedul..."


"Baik, Tuan Besar."


***


Freya tidak tahu sudah jam berapa sekarang. Dia ingin memutar tubuh untuk melihat jam, tapi pergerakannya terhenti begitu merasakan sebuah lengan melingkari pinggangnya. Wajahnya dengan cepat memanas.


Gila. Dia benar-benar tidur dengan Dosennya?


Perlahan Freya mendongak, dan segera bersitatap dengan Orion yang rupanya sudah terbangun.


"Yang sakit siapa, yang tidur siapa," cetus Orion pelan sambil mendorong kening Freya dengan tangannya yang bebas. "Enak ya dipeluk saya?"


Freya berdehem untuk menyembunyikan rasa malunya. "Apaan. Orang Bapak juga tadi tidur. Bapak duluan malah yang tidur pas peluk-peluk saya."


"Ya saya sih ngaku. Peluk kamu emang enak, makanya saya langsung ketiduran." Orion mengakui dengan enteng, sukses membuat wajah Freya kian memerah.


"Udah ah, Pak, bangun. Itu buburnya pasti udah dingin." Freya berujar hendak beranjak bangun, tapi lengan Orion yang melingkari pinggangnya menahannya. Dia malah mengeratkan pelukannya, membuat Freya menatapnya terkejut.


"Saya 'kan udah bilang, kayak gini aja pasti saya sembuh. Katanya kamu mau tanggung jawab sembuhin saya?" Orion berujar.


Freya menghela napas pelan. "Ya tapi nggak gini juga caranya, Pak. Itu sayang buburnya udah saya masak kalau nggak kemakan."


"Iya sayang. Nanti saya makan buburnya. Tapi nanti loh." Orion menyahut ringan.


"Hah apa, Pak?"


"Iya. Sayang buburnya. Nanti saya makan." Orion berujar lagi sambil memasang cengiran usil.