
"Mau ke mana sih kita?" Freya bertanya untuk kesekian kalinya pagi itu. Sambil menguap, dia menatap Arkana yang duduk di sampingnya dengan kening mengerut. Ini memang masih terlalu pagi. Bahkan di luar sana langit masih gelap.
Jadi di akhir pekan ini mestinya Freya masih bergelung di kasur hangatnya. Dia telah menyusun rencana untuk tidur seharian. Sudah berhari-hari suasana hatinya memburuk, dan yang dibutuhkannya hanya kasur dan selimut. Tapi tiba-tiba saja, Arkana datang ke rumahnya pukul empat pagi. Memaksanya bangun dari kasur dan bersiap-siap pergi entah ke mana.
Arkana yang tengah menyetir lagi-lagi hanya memasang cengiran. "Udah dibilang nggak usah banyak tanya. Nanti juga tau."
Freya menghela napas kesal. "Lo udah nyulik gue subuh-subuh, nyuruh gue siap-siap dan bahkan lo nggak ngasih tau kita mau ke mana. Jangan-jangan lo mau jual gue ke pasar gelap, ya?"
Mendengar ini malah membuat Arkana tergelak. "Ngaco lo. Inget nggak kemaren-kemaren gue bilang lo harus janji temenin gue seharian? Nah, pokoknya kita seneng-seneng dah seharian ini."
Oh. Iya. Tentu saja Freya ingat hari itu.
Ketika dia bertemu dengan Orion dan Emma. Ketika sikap Orion mendadak berubah drastis padanya.
Sejak hari itu, sejak teleponnya di malam hari, mereka tidak pernah saling menghubungi lagi. Di kampus pun mereka jarang bertemu.
Orion seakan membuat jarak, sementara Freya terlalu takut untuk mendekat dan bertanya sebenarnya ada masalah apa.
Freya pikir, apakah dia melakukan kesalahan?
Memangnya apa yang sudah dia perbuat? Memangnya dia sudah terlalu melewati batas?
Kenapa Orion tiba-tiba bersikap dingin dan menjaga jarak darinya?
Freya sebenarnya ingin menanyakan ini, tapi kemudian dia merasa tidak pantas.
Memangnya dia siapa? Memangnya hubungan mereka selama ini apa?
Jangan-jangan hanya dirinya yang menyukai Orion sendiri. Hati Freya lantas terasa mencelus ketika teringat malam itu. Malam ketika dia mencium Orion lebih dulu.
Jangan-jangan karena itu...?
"Ngelamun terus!" Arkana menukas sambil menoyor kepala Freya, membuat perempuan itu meringis protes. "Inget ya, harusnya hari ini lo hibur gue. Kok malah jadi lo yang bete gitu, sih."
"Gue nggak bete," cetus Freya meski raut wajahnya mengatakan sebaliknya.
"Ngegalau doang, ya?"
"Ih, apa, sih. Engga, kok."
Arkana justru terkekeh mendengar ini "Nggak usah ngibul. Rania bilang sama gue, udah beberapa hari ini lo ngegalauin si Dosen mulu."
"Rania ember." Freya berdecak jengkel.
"Udah, pokoknya hari ini kita sama-sama seneng-seneng. Nggak boleh ada yang galau-galauan. Oke?" Arkana meliriknya sekilas dan memberikan senyuman lebar.
Sejenak Freya hanya menatap Arkana dalam diam. Dia paham sih, sebenarnya Arkana ingin menghiburnya, dan bukannya sebaliknya. Setidaknya ia harus menghargai usaha sahabatnya ini 'kan.
Akhirnya Freya mengangguk sambil menyandarkan kepalanya pada jendela. "Iya deh, terserah aja. Tapi gue ngantuk sekarang. Lo bangungin gue kepagian tau."
Arkana terkekeh dan mengusak kepala Freya sekilas. "Ya udah, tidur aja dulu sana. Masih agak jauh juga, kok."
Dengan itu, Freya memejamkan kedua matanya dan mulai jatuh tertidur. Dia tidak tahu berapa lama waktu yang dihabiskannya selama terlelap. Tapi yang pasti, ketika Arkana mengguncang pelan bahunya agar dia bangun, sinar matahari telah menusuk pandangannya dengan terik.
"Bangun, Frey. Udah nyampe." Arkana berujar lembut.
Freya menyipitkan mata, berusaha menyesuaikan pandangannya dengan cahaya sekitar. Dia lantas turun dari mobil mengikuti Arkana. Matanya segera melebar ketika tersadar ada di mana dirinya sekarang. Aroma khas laut dan deburan ombak kini tengah menyambut kedatangannya.
"Arkana, kenapa nggak bilang mau ngaiak gue ke pantai. sih!" Freya mendecak kesal sambil memukul lengan Arkana. "Baju gue nggak pas gini, woy!"
Dia memang mengenakan blus, celana jins dan sepatu kets sekarang. Di sampingnya Arkana malah tergelak geli.
"Ya baju santai gue 'kan emang kayak gini!"
Lagi-lagi Arkana tergelak. Freya yang mencak-mencak marah selalu berhasil membuatnya merasa gemas. "Ya udah, si, kalau mau renang tinggal beli aja bajunya. Gue yang bayarin."
Freya mendecak pelan menanggapi ini.
"Udah dong, jangan bete lagi. Kita ke sini mau seneng-seneng 'kan? Senyum coba." Arkana mendekat dan menangkup wajah Freya, jemarinya bergerak untuk menarik ke atas kedua sudut bibir perempuan itu. "Tuh 'kan cantik."
Freya mendengus dan tertawa kecil, didorongnya Arkana menjauh. "Apa, sih."
Arkana ikut tertawa dan menggandeng tangan Freya agar ikut berjalan bersamanya. Angin bertiup menerbangkan helaian rambut mereka, membuat Freya sejenak memejamkan matanya. Baru sebentar saja, aroma pantai telah berhasil menyegarkan pikirannya.
"Sini, foto dulu." Arkana lantas melepaskan genggaman mereka dan bergerak menjauh.
Freya menjungkitkan kedua alisnya. "Tumben inisiatif. Biasanya harus gue paksa dulu baru lo mau fotoin gue."
"Lo harus bahagia hari ini. Orang lain juga harus tau kalau lo lagi bahagia," kata Arkana sambil mengeluarkan ponselnya dan mengarahkan kameranya pada Freya. "Ayo buru."
Freya agak tidak paham sebenarnya maksud Arkana tadi. Tapi pada akhirnya dia tetap bergaya dan membiarkan Arkana memotretnya berkali-kali.
"Wih, cakep juga," komentar Freya sambil mengamati hasil jepretan Arkana. Dia lalu menambahkan sambil setengah bercanda, "Emang ya, kalau modelnya cantik hasil fotonya pasti cantik."
"Hm, bener." Arkana bergumam menanggapi.
Mendengar ini langsung membuat Freya melirik Arkana dengan heran. Dia lantas terkekeh. "Padahal gue becanda doang, loh. Ya makasih, sih, akhirnya lo mengakui gue cakep."
"Ya emang lo cantik," cetus Arkana ringan lalu mengambil ponselnya dari tangan Freya. "Gue kirimin nih foto-fotonya. Jangan lupa lo posting. Si Dosen tau sosmed lo 'kan?"
Sejenak Freya terdiam, memikirkan maksud Arkana. Perlahan seulas senyum mengembang di bibirnya. "Maksud lo ngajak gue jalan, nyuruh gue foto-foto terus diposting ke sosmed buat nunjukin ke Pak Ori kalau gue baik-baik aja 'kan? Kalau sikap dia itu nggak nyakitin gue sama sekali, gitu 'kan?"
Arkana mendongak dari ponselnya dan menatap Freya. Dia mendengus dan ikut tersenyum. "Nah, itu tau. Dia udah seenaknya bikin lo ngegalau, jangan sampai lo nunjukin seberapa besar dampak yang dia buat sama lo. Lo harus kuat, buktiin sama dia kalau sikapnya itu nggak akan bikin lo jatuh." Dia lantas menghela napas lelah. "Gue nggak suka ya, lo tiba-tiba dibikin sakit sama cowok nggak bertanggung jawab."
Freya kemudian terkekeh pelan. Dirangkulnya Arkana dengan erat. "Makasih, Ar. Lo emang sahabat terbaik gue."
Sahabat terbaik.
Perkataan Freya ini sukses membuat Arkana tertegun. Iya, bagaimana pun dia memang hanya sahabat di mata Freya.
Tapi kemudian laki-laki itu tersenyum tipis. Ini bukan saatnya untuk bersedih. Dia harus bisa membuat Freya merasa bahagia hari ini.
"Tapi bahagia lo jangan cuma sebates di sosmed doang, ya. Lo harus beneran seneng-seneng seharian ini." Arkana menukas sambil menatap Freya dengan serius.
"Ya elah, udah berapa kali lo ngomong gitu hari ini? Sekali lagi ngomong, dapet mangkok cantik dari indoapril noh," cetus Freya sambil terkekeh. Dia kemudian berjalan menjauh menuju pesisir pantai, dan melepas sepatunya. Digulungnya celana jinsnya ke atas.
Di belakang, Arkana mengekori dan mengamati Freyq dalam diam. Perempuan itu perlahan berjalan menuju laut. Dia lantas berhenti dan membiarkan air laut membasahi kedua kakinya sesekali. Kakinya bergerak-gerak membentuk garis-garis abstrak pada permukaan pasir sebelum akhirnya bentuk itu terhapus kembali oleh air laut.
"Ah, nggak seru mainannya cuma di pinggir doang." Arkana yang telah melepas sepatunya tiba-tiba berlari menuju Freya dan menarik tangannya hingga perempuan itu ikut masuk ke dalam air laut bersamanya.
Freya yang semula tengah melamun, terkejut mendapati ini. Dia segera menyibakan rambut basahnva yang tadi menutupi wajah, dan meninju lengan Arkana di sampingnya.
"Arkan, gue jadi basah!" pekiknya kesal yang hanya ditanggapi oleh gelak tawa dari si pelaku.
Cepat-cepat Arkana kembali ke daratan dan berlari menghindari Freya yang mulai mengamuk.
"Eh malah lari! Sini lo!" Freya susah payah mengejar Arkana. Bajunya yang basah membuat langkahnya menjadi berat. Tapi melihat tawa dan raut usil Arkana, mau tidak mau membuat Freya merasa geli dan ikut tergelak juga.
"Sini lo, Arkana!"