
Islandzandi yang baru saja keluar dari kamar mandinya sambil membawa handuk kecil melap mukanya yang masih basah duduk di meja rias sambil melihat kaca terdiam lalu menutup wajahnya dengan kedua lengannya.
Aslinya dong Reyandra marah! Secara dia liat pemotretan gue sama Kevin tadi mana dia bikin ulah lagi… dan sepanjang perjalanan pulang dia Cuma diem. haaahh… baru juga kita baikan masa mau berantem lagi???!
Tak lama Bu Audrey masuk ke kamar dan menghampiri Islandzandi.
"Kenapa? Dari pulang tadi kok kamu murung terus? Tadi Reyandra yang anter pulang kan? Kok nggak mampir dulu?"
"Niatnya sih dia mau mampir kesini tapi… kayaknya dia marah sama aku Mam... Tadi dia liat aku pemotretan sama Kevin, memang sedikit intim dan sexy tapi masih wajar kok! (melihat kearah Bu Audrey yang sedang menyipit kearahnya) Iya aku tau, papah juga nggak boleh tau kan? Dan jangan sampai liat aku di majalah!"
Bu Audrey terdiam berfikir.
"Island... Reyandra itu pikirannya sama kayak papah kamu... Mungkin saking dia sayangnya makanya dia nggak mau orang lain bersikap buruk sama kamu... Tapi bukannya itu bagus ya?!"
"Justru aku malah jadi ragu Mom…"
"Terus gimana sama Aufar? Tadi Mam nengok dia di rumah sakit dan ngobrol sama mamanya, sepertinya mamanya mau jodohin kamu sama Aufar deh…"
"Mam, emang kalo aku nikah muda boleh?"
"Emang kamu mau mantepin hati kamu sama siapa?"
"Reyandra…"
"Kamu udah yakin?"
Islandzandi hanya terdiam.
"Abis makin banyak orang yang tau makin banyak omongan kalo Reyandra itu bukan tipe yang nyari pacar tapi nyari istri…"
"Ya... Mam sih setuju aja kamu mau nikah muda, tapi yang jadi masalah adalah Papahmu! Dia pasti belum mau ditinggal kamu deh… Dia pasti menentang kamu nikah muda apalagi orangnya Reyandra. kamu tau kan kalo Papahmu---"
"Nggak setuju kalo aku pacaran sama Reyandra, aku tau Mam, dia hanya setuju kalo aku nganggep dia kakak cowok sama kayak waktu dulu! (cemberut) itu masalah yang sebenarnya sih ijin dari Papah…"
"Island, Reyandra sudah dewasa, dia pasti ingin yang terbaik buat kamu walaupun itu menyakitinya… Kamu tau magsud mam kan?!"
"Setelah enam belas tahun aku nungguin Reyandra, aku sama sekali nggak nyangka kalo situasinya bakalan jadi kayak gini…"
Tak lama setelah menasehati Islandzandi Bu Audrey pun berjalan keluar dengan ragu melihat Islandzandi yang masih sedih…
**
Di Apartement Reyandra…
Pukul 22.00 malam…
Reyandra sedang duduk terdiam didepan laptopnya sambil berfikir dan mengingat saat pemotretan tadi.
Eolia benar… Island sudah berubah dan saya belum terbiasa akan hal itu… lebih tepatnya saya belum bisa menerima itu, selama ini saya berfikiran Island akan sama seperti dulu. Dan Island yang sekarang sudah mencintai Aufar… What should I do Island?
Tak lama handphone Reyandra berbunyi menandakan ada line message masuk. Lalu Reyandra membuka line Messagenya yang ternyata dari Bu. Audrey, Reyandra membuka pesannya…
...Bu Audrey...
...“Rey, maaf kalau tante ganggu malem-malem gini, tapi bisakah kamu mengalahkan kekecewaanmu pada Island dan bicara lagi dengannya? Tante juga mengerti sekali kamu pasti sangat kecewa melihat perubahan Island sekarang? Kekecewaanmu itu sama dengan Om Diandra tapi Om Diandra pun sudah menerima Island yang sekarang meskipun dia juga masih sering memarahi Island karena prilakunya, sekali lagi tante harap kamu juga mengerti Rey sama seperti Om Diandra yang menerima Island yang sekarang”...
Reyandra terdiam melihat pesan yang dikirim Bu Audrey sambil berfikir.
Lalu dia mengambil jacket dan segera bergegas pergi ke luar mengambil kunci mobilnya.
**
Di rumah Sakit H…
Pukul 21.00 malam…
Reyandra berdiri disamping Aufar dan melihat keadaan Aufar sementara Bu Merry duduk di kursi seberang Reyandra sambil menunggu Aufar.
"Bagaimana keadaannya tante? Apakah sudah sadar?"
"Iya, tadi siang Aufar sudah sadar dan sudah bisa berbicara meskipun masih lemah."
Reyandra tersenyum. "Syukurlah…"
"Kamu, kalau nggak salah kakaknya Island kan?"
Aufar membuka matanya perlahan tanpa bergerak dan terdiam memperhatikan Reyandra.
Sementara Reyandra dan Bu Merry tidak memperhatikan Aufar sambil mengobrol.
Reyandra? Ck... Ngapain dia disini?
Lalu Aufar pun menutup matanya lagi pura-pura tidur sambil mendengarkan pembicaraan mereka.
"Bukan, saya hanya anak dari kerabat Om Diandra dan tante Audrey."
Bu Merry terdiam sejenak melihat Reyandra serius.
"Oh iya, terima kasih ya sudah mau mendonorkan darahnya untuk Aufar, kalau kamu tidak ada nyawa Aufar bisa dalam bahaya."
"Kebetulan saja darah kami sama…" ucap Reyandra tersenyum ke arah Bu Merry.
Apa? Dia ngedonorin darahnya buat gue?
"Benar darah yang dimiliki Aufar memang sangat jarang makanya sebisa mungkin aku tidak memperbolehkan Aufar untuk berada di dalam bahaya…"
Tapi selama ini kelakuannya sangat membahayakan nyawanya dan juga Island! saya harap Aufar bisa cepat sembuh dan berkumpul lagi dengan keluarga juga teman-temannya.
Aufar hanya terdiam memejamkan mata mendengarkan obrolan Bu Merry dan Reyandra sambil berfikir.
Waktu pun berjalan dengan cepat. Hari-haripun dilalui oleh Reyandra dengan menyibukan diri di Svetovska Company meskipun masih belum bekerja full di kantor.
Sementara Islandzandi pun menyibukan hari-harinya menemani Aufar di rumah sakit saat Bu Merry sedang pulang dulu ke rumah, Aufar pun pulih dengan cepat dan dekat lagi dengan Islandzandi.
**
Di Rumah sakit H…
Pukul 15.00 sore…
Islandzandi sedang menyuapi Aufar makan sore bersama Haura dan Karin. Karin dan Aufar sedang mengobrol bercanda.
Sementara Haura melihat kearah Islandzandi yang sedang tersenyum kecut sambil menyuapi Aufar.
Karin
Haura
Islandzandi
Aufar
Saat Karin dan Haura sedang pergi keluar, Aufar terdiam melihat Islandzandi yang sedang mengutak-ngatik Handphonenya.
"Hei… thanks ya, udah nemenin gue selama disini… dan… gue minta maaf udah bikin lo cemas…" ucap Aufar manja.
"Pokoknya lo nggak boleh bahayain hidup lo lagi. Kalo lo marah sama gue please jangan pernah lari dari gue dan gabung sama temen-temen geng lo lagi… lo cukup marahin gue, maki gue sampe lo puas…"
"Ya… Gue janji nggak akan bahayain hidup gue lagi!"
Islandzandi terdiam sedih melihat kearah Aufar.
**
Di sebuah Bar milik David…
Pukul 21.00 malam…
Islandzandi sedang duduk di meja Bartender sambil meminum minumannya. Bartender itu pun sedang meracik minuman dan menuangkan ke gelas lalu memberikan minuman itu pada Islandzandi.
"Nih… (melihat Islandzandi) Kenapa lagi lo? Ini udah minuman yang ke lima gue bikin!
"Hah… Vid, bisa nggak lo nggak nanya dan jadilah bartender gue buat malam ini…"
"Gue nanya karena gue khawatir sama lo! kalo lo mabuk lo pulang sama siapa? Trus yang penting lo nggak buat masalah di jalan! Gue tau kebiasaan buruk lo kalo mabok gimana…"
"Hah… (melihat David) Lo itu udah ganteng, baik lagi! Kok Haura malah mutusin lo sih? Harusnya lo pengecualian ya…"
"Hah… Mulai deh ni anak! Ya lo tanya sendiri sama sobat lo itu kenapa dia maen putusin gue..."
"ck... hahahahaha... ternyata ada yang lebih tragis kisah cintanya daripada gue..."
"Sialan lo..."
Beberapa menit kemudian…
Haura datang menghampiri Island dan duduk disamping Islandzandi dengan tenang.
Sementara David terdiam melihat kearah Haura lalu melanjutkan kerjanya lagi.
Haura melihat David. "Thank you, udah ngehubungin gue…"
"Anytime! Minum apa? Seperti biasa?"
"Mmm, seperti biasa…"
Islandzandi melihat kearah Haura. "Haura… You are my best friend… Lo yang paling ngerti perasaan gue" gumam Islandzandi sambil memeluk Haura sambil menangis sesegukan tanpa air mata.
"Hah.. Ya.. Ya… Ya… Enough! So apa yang lo rasain sekarang?"
Islandzandi menghela nafas lelah sambil menggeleng. "Di saat Reyandra udah balik lagi kesini ada aja gangguannya… Pertama udah pasti kan lo tau sendiri kalo bokap gue nggak setuju kalo gue sama Reyandra pacaran! Kedua kalo gue milih Reyandra gimana sama Aufar… k
Memaren aja dia udah nekad kan sampe kecelakaan kayak gitu… Padahal gue Cuma ada disamping Reyandra belum milih dia loh, apalagi kalo gue udah ngomong?! Ketiga---" Islandzandi menghentikan ucapannya lalu terdiam menunduk ke meja bartender menahan tangisnya.
Haura hanya terdiam mendengar curhatan Islandzandi lalu tak lama mengambil Handphonenya dan memberitahu Bu Audrey kalau Islandzandi menginap di kosannya, setelah itu Haura melihat kearah Islandzandi sedih.
"Ya, gue tau hambatan percintaan lo banyak banget! So nangislah sepuas lo… hmmm!"
Hah, gue nggak tau ini saat yang tepat buat manggil Reyandra atau nggak, tapi ini yang terbaik buat lo Island, lo harus bilang sama Reyandra tentang unek-unek lo ini…
Mengambil Handphone Islandzandi dan melihat kontak Reyandra lalu menelponnya.
"*H*allo Island, kenapa?”
"Rey… ini gue, Haura!"
Reyandra terdiam sejenak.
"Haura? Apa ada masalah sama Island?”
"Eu… Nggak ada masalah sih, dia Cuma minum dikit, tapi kayaknya udah nggak sanggup buat pulang, bisa lo bantu gue?"
“Dimana kalian sekarang?!”
Beberapa menit kemudian…
Pukul 22.00 malam…
Saat Islandzandi sudah tertidur di meja Bartender dan Haura sedang berbincang bersama David.
"Segitu rumitnya ya… Masih mending kita brarti ya…" ucap David.
"Hah… Kita kan Cuma havefun doang, Vid. Nggak sampe hati kayak dia… Itu, terlalu rumit!"
"Meskipun Cuma havefun tapi berkesan loh buat gue… (Melihat Haura yang sedang melihat serius kearahnya) Tapi tenang aja gue nggak akan maksa lo buat balikan lagi sama gue, karena gue tau lo nggak bisa balikan sama mantan lo kan?"
"Hmm... Lo rekor terlama selama gue pacaran…" ucapnya tersenyum ke arah David.
"Satu bulan… ok!" jawabnya tersenyum kecut sambil membuka ikat rambutnya.
Haura terdiam melihat kearah David yang terlihat tampan saat rambutnya digerai.
"Hei… lo mau godain gue dengan menggerai rambut lo itu ya?" ucapnya sambil menarik kaos David dan menariknya ke dekat wajahnya lalu Haura pun men*** David dengan penuh gairah.
Reyandra yang baru masuk melihat kearah Haura dan David yang sedang berc*** terdiam. Lalu melihat Islandzandi yang sedang berada di pinggir mereka tertidur, Reyandra pun berjalan kearah Haura dan David.
"Hmm hm…" Reyandra berdehem untuk memberitahu mreka berdua kalau dia sudah datang.
Haura dan David pun melepas ciu*** mereka kaget.
"Ah, lo udah dateng?! (membenarkan baju dan rambutnya) Eu… kenalin Rey, dia David, temen Island juga… Gini Rey, tadi gue udah bilang sama nyokapnya Island kalo Island bakalan tidur di kosannya gue, tadinya gue juga mau bawa dia buat nginep di kosan gue… (terdiam melihat David) Tapi… Ada hal yang mesti gue selesein… Jadi bisa kan lo bawa dia ke tempat lo semalem doang kok! Gue percaya sama lo makanya gue nelpon lo buat jagain Island!"
Reyandra melihat Islandzandi tepar. "kenapa dia bisa seperti ini?!"
"Yah, ada masalah yang buat dia pengen minum buat nyeleseinnya dan malah bicara nggak karuan sama gue yang sama sekali nggak ada hubungannya, jadi gue minta lo jemput supaya dia bisa langsung ngomong sama lo masalahnya, biar lo juga ngasih masukan buat dia…"
"Apa ini tentang Aufar?"
Haura terdiam sejenak. "Ya… Pokoknya lo tanya sendiri deh ya…"
Reyandra terdiam melihat kearah Islandzandi.