
"Ck, Pak suami yang hanya sebagai status tumben sekali ada di luar gedung? biasanya jam segini dia berada di dalam." gumam Saina saat dia keluar dari mobilnya melihat sosok Arga tengah berdiri di depan gedung yang di pimpin oleh pria itu.
"Huuftt... saatnya beraksi Saina! Fighting!" gumamnya sambil merapihkan pakaiannya yang sempat acak-acakan gara-gara kejadian tadi. Lalu melangkah ke arah Arga dengan langkah ringan.
***
"Pagi, Pak Boss!" suara lembut dari seorang wanita menfalihkan perhatian Arga dari salah satu pegawainya yang sejak tadi sedang dia ajak bicara.
Arga memutar setengah badan badannya, menatap datar wanita yang kini sedang berada di sampingnya. Jarak antara dirinya dengan wanita itu kira-kira berkisar hanya tiga puluh senti meter saja. Dan hal itu cukup mengejutkan buatnya. Sampai-sampai dia harus memundurkan dua langkah kakinya ke belakang agar jaraknya dengan wanita itu sedikit berjarak.
"Pagi juga Saina." Saina memamerkan senyum terbaiknya lalu beralih ke arah pegawai yang tadi Arga ajak bicara.
"Pagi, Pak Timo..."
"Pagi Sa... eh magsud saya Bu Saina..."
"Ga usah panggil Ibu deh Pak Timo, panggil kayak biasa aja... berasa tua saya kalo tiba-tiba dipanggil Ibu..."
"Ya ngga bisa dong Bu, sekarang kan Ibu udah bukan hanya karyawan disini, tapi sudah berstatus sebagai--"
"Istri?" tanya Saina memotong kalimat yang akan Pak Timo utarakan sampai pria itu menggangguk. Saina pun berdecak, dia menatap suaminya kemudian menghadapkan tubuhnya agar saling berhadapan satu sama lain.
"Istri itu statusnya di rumah, kalau saya bawa ke kantor nanti bahaya," ucap Saina dengan tatapan lurus pada manik mata Arga. Bahkan kalimat tadi diakhiri dengan kedipan satu mata darinya membuat Arga menghela nafas sambil membuang muka.
Ya... Saina memang meresahkannya.
Tapi apa itu? Arga menilik kening Saina yang berwarna keunguan akibat memar karena terbentur stir saat kecelakaan tadi. keningnya ikut berkerut lalu tangannya mengarak ke kening Saina sambil sedikit menekannya.
"Apa ini?"
"Aaakkhhh..." Saina meringis akibat kesakitan karena tekanan dari Arga. Sedangkan Pa Timo? Of course he doesn't feel comfortable to linger between Arga and Saina, Dia pun berinisiatif untuk undur diri terlebih dahulu.
"Eum... kalau gitu Pak, saya pamit undur diri dulu ya? Mau cek lapangan, ada photoshoot di puncak siang ini."
Dan tanpa repot menjawab Arga pun hanya menganggukan kepalanya singkat tanda jawaban Pak Timo. Untungnya, Pak Timo adalah orang lama, jadi hanya dengan begitu, dia paham akan apa yang Arga maksud.
"Mari Bu, saya pamit dulu..." ucapnya mengulas senyum pada Saina.
"Saina, Pak." tekan Saina bersikeras tidak ingin Pak Timo memanggilnya dengan embel-embel 'Ibu'. Buat Saina, dia merasa belum pantas memyandang panggilan itu. Ya, walaupun sudah menikah dan kenyataannya sekarang dia sudah mempunyai anak yang berusia hampir genap enam tahun.
***
"So... kenapa keningmu bisa gitu?" ucap Arga saat sudah berada di ruangannya.
"Ini... tadi cuma kepentok stir mobil.." ucap Saina sudah duduk di kursi depan meja kerjanya.
Arga membuka laci mejanya dan mengambil kotak obat lalu melemparkannya di atas meja depan Saina.
"Kasih obat! Jangan sampe orang lain liat saya nggak becus ngurus istri."
Ck, untuk kamu ganteng, kalo nggak aku cekik leher kamu, saking cueknya. Dasar Kanebo.
"Obatin... kan biar orang tau kalau suami aku bertanggung jawab sama istrinya..." ucap Saina manja, tanpa memperdulikan rasa sakit karena perlakuan Arga yang teramat sangat dingin padanya.
Flashback ON
"Kamu, Saina Adiraputri Pradipta? Kamu mau nikah sama saya?" ucap Arga dingin saat Saina yang tadinya sedang bekerja tiba-tiba dipanggil ke ruang Direktur Utama.
"Ya?" Saina terpaku saat pernyataan Atasannya yang terdengar serius. "Tapi... Saya..."
"Saya sudah tau kamu, saya udah perhatikan kamu sejak lama..."
"Bapak suka sama saya? Bapak cinta sama saya?"
"Apa dalam sebuah pernikahan harus ada cinta dan sayang? Yang penting kebutuhan kamu dan saya terpenuhi, dan kamu bisa mengurus keluarga saya." Saina mengernyit, dia benar-benar bingung.
"Sebentar Pak..."
"Tau, Pak... tapi, kenapa saya?"
"Karena sifat, kelebihan dan latar belakang kamu yang saya yakin bisa menjadi istri saya."
"Apa kita nikah kontrak kayak di sinetron-sinetron atau novel-novel?"
"Nggak ada kata Kontrak, menikah ya menikah, kamu harus melayani saya sebagai suami lahir dan batin, kamu juga harus mengurus putri saya, dan satu lagi... kamu juga harus siap menghadapi Ibu saya." Saina terdiam mencerna kata-kata atasannya tersebut. "Kalau kamu setuju, Apa yang kamu mau akan saya turuti."
"Bapak memilih saya, brarti sudah mengenal saya kan? Bapak nggak akan risih punya istri seperti saya?"
Flashback OFF
So... Apa ada pacaran sebelum mereka menikah? Seperti Orang-orang pada umumnya?
And the answer.... Of Course Not!
Arga tidak sesenggang itu hingga punya waktu untuk pacaran. Itu sebabnya, kenapa mereka menikah. Selin karena saling membutuhkan, mereka juga saling menguntungkan.
Apa ada cinta di antara mereka? Mungkin belum, entah nanti.
"Udah sana Kerja, Saina!" ucap arga setelah beres memberi tensoplas pada kening. Setelah sikap manja Saina dan menantang emosinya akhirnya dia pun mengalah dan mengobati kening Saina.
Cuup...
Saina mengecup bibir Arga sekilas sampai Arga oun terdiam kaget atas apa yang dilakukan Saina dengan spontan.
"Makasih Pak Su..."
"Hmmm..." hanya deheman yag keluar dari mulut Arga. Saina pun berfikir mengingat kejadian tadi di sekolah Hana.
"Mas, ada yang mau aku omongin."
"kalau bukan soal pekerjaan, jangan bahas di kantor. Tapi kalau soal pekerjaan, siapkan ruang meeting." ucapnya setelah membereskan kotak obat lalu duduk kembali di kursi kebesarannya. Saina pun menghela napas dan berdiriendekati suaminya, dia duduk diatas paha Arga sambil mengelus dada bidang Arga dengan wajah menggodanya.
"Kalau aku bilang soal aku?"
"Nggak lucu, Saina!" ucapnya mulai geram dengan kelakuan istrinya yang suka menggoda. Saina pun berdiri dari duduknya dan tertawa melihat sikap suaminya yang memang sedikit kaku.
"Ok, Ok..." Saina memang harus paham, Arga buka tipe pria yang mudah digoda. Ya kecuali saat mereka di kamar. Bula baju aja Arga sudah dibuat ketar ketir.
"Ini soal Hana."
"Katakan!" ucapnya mulai serius kala mendengar nama putrinya disebut oleh Saina. Saina terdiam sejenak menarik napas.
"Jangan bicara hal aneh soal putriku itu, dia terlalu..."
"Sekarang dia juga putriku, Mas." sela Saina cepat, tidak terima atas ucapan Arga.
"Lalu?"
"Putri kita, Hana. mengalami trauma, Mas."
Arga masih terdiam tidak bergeming, sama sekali tidak terpengaruh akan ucapan Saina padanya, hingga membuat Saina gemas bukan main.
"Mas! Aku bilang Hana punya trauma, apa kamu ga khawatir?"
"Sejauh yang aku liat, Hana baik-baik aja. Bahkan dia nggak pernah ngeluh akan--"
"Hana diejek di sekolah. Dikatain nggak punya ibu, dia nggak punya temen. Bahkan, bukan anak-anak seusianya aja yang bully Hana, tapi para Ibunya juga. Hana selalu dianggap rendah!"
Arga tidak menjawab, tapi Saina melihat garis rahang pria itu yang mulai mengeras, membuat Saina kembali melanjutkan kalimatnya.
"Dia nggak berani ngadu, karena selama ini mikir kamu sibuk dan cuma Mama kamu yang bisa antar dia sekolah. Apa kamu tau selama ini putri kamu hidup dalam ketakutan, Mas?"
Arga mulai melonggarkan dasi yang melilit di lehernya. Dia memijat pangkal hidungnya lembut kemudian kembali menatap Saina. Saina yang melihat gelagat Arga pun mulai kembali berpindah ke sisi Arga dan mengusap lembut pundaknya.