
Freya pun itu memutus sambungan dan beranjak dari meja belajarnya, meninggalkan laptop dan paper yang semula tengah ditekuninya. Dia mengganti piyama tidurnya dengan setelan yang membuatnya layak menginjakan kaki di klub malam. Freya memang tidak pernah suka clubbing tapi menjadi sahabat Arkana selalu membuatnya terpaksa menyambangi tempat bising itu.
Untuk apa?
Tentu saja menjemput Arkana pulang ketika laki-laki itu sudah mabuk parah dan sama sekali tidak sadarkan diri. Karena seperti kata Haidar, cuma Freya yang bisa menjinakan Arkana.
Freya pikir rutinitas menyebalkannya ini akan berakhir setelah Arkana resmi berhubungan dengan Gianna. Tapi rupanya dia salah.
"Ck... Dasar, tetep aja ngerepotin." Freya bergumam jengkel sambil memesan ojek online.
Nantinya dia akan pulang dengan mengemudikan mobil Arkana, jadi dia hanya perlu datang diantar ojek online.
Freya tidak pernah punya kesulitan keluar rumah di waktu semalam ini. Kini dia hanya tinggal berdua dengan Bi Imas, asisten rumah tangganya.
Sejak bekerja, Kenan memutuskan pindah dari rumah dan menyewa tempat tinggal baru yang dekat dengan kantornya. Jangan tanya soal kedua orang tua angkatnya.
Bahkan ketika mereka masih tinggal di rumah ini pun, Freya tifak pernah benar-benar merasakan kehadiran mereka sebagai orang tua.
Tidak sampai setengah jam Freya telah tiba di Nightiest, tempat laknat langganan Arkana. Gadis itu melewati pintu masuk tanpa kendala, lalu berjalan cepat menuju lantai dua. Di bawah penerangan yang minim dan entakan musik yang membuat telinganya sakit, Freya berusaha mencari keberadaan Arkana.
Dia baru saja hendak menelepon Haidar untuk menanyakan mereka duduk di sebelah mana, ketika akhirnya matanya menemukan Arkana.
Sahabatnya itu tengah setengah berbaring di sebuah sofa sendirian.
Kedua matanya terpejam sementara mulutnya kelihatan sibuk meracaukan entah apa. Berbotol-botol minuman di atas meja meyakinkan Freya bahwa Arkana sudah mabuk berat sekarang.
“Ck... Dasar bego. Beneran nyusahin orang aja, secinta itu ya dia sama ceweknya, sampe mereka berantem pun sampe mabok parah...” gumam Freya sambil mengambil langkah mendekati meja Arkana.
Namun seorang gadis tiba-tiba mendahuluinya, dia tiba lebih dulu di hadapan Arkana. Freya otomatis menghentikan langkahnya ketika menyadari siapa gadis itu. Gianna, pacar baru Arkana.
Gianna mendudukan diri di samping Arkana, menepuk-nepuk bahunya hingga pemuda itu terbangun.
Perlahan Arkana membuka kedua matanya. Dan, di detik selanjutnya, dia segera memeluk Gianna.
Freya hanya bisa menertawai dirinya, seharusnya dia segera pergi dari sana. Tapi entah mengapa tubuhnya terasa kaku tidak mau digerakan. Hingga akhirnya, Arkana melepas pelukannya, lalu menangkupkan wajah Gianna dan memagut bibir gadis itu dengan rakus.
Kenapa gue harus liat
ini semua, sih? Dasar, Arkana brengsek!
Freya merasakan nyeri pada dadanya. Harusnya dia tidak perlu datang kemari. Harusnya dia sadar Arkana sudah punya Gianna.
Freya mendengus dan berbalik pergi meninggalkan pasangan itu.
“Aaarrgghhtt Arkana sialan.”
****
“Eehh loh loh loh... bukanya itu Pak Ori ya?!" gumam Freya yg duduk dimeja bartender dengan setengah sadar.
"Pak Oriii!!! Sini, Pak! Di sini!”
Orion kaget bukan main mendengar seruan itu. Langkahnya menuju toilet terhenti begitu menemukan gadis yang menyerukan namanya dengan heboh, tengah terduduk di depan meja bar. Dia tidak mungkin salah lihat ‘kan? Gadis yang nampak nyaris tidak sadarkan diri itu benar-benar mahasiswanya?
Orion meringis dan mengusak rambutnya. Bertemu mahasiswanya di klub malam tentu bukan hal bagus. Dia nyaris melangkah pergi dan pura-pura tidak pernah melihat mahasiswanya itu, tapi... ketika gadis itu semakin heboh menyerukan namanya sambil melambai-lambai sampai dia bahkan nyaris jatuh dari kursinya.
Pada akhirnya Orion menghela napas. Kesadaran Freyq bahkan sudah tidak terkumpul, dia mungkin tidak akan ingat pernah bertemu dengannya di sini.
"Ck... Ngapain kamu di sini?" Orion bertanya setelah mendudukan diri di samping Freyq. "Mana mabok parah lagi."
"Diihh.. Bapak sendiri ngapain hayo disini?" Freya malah balik bertanya. Bahkan dari jarak sejauh ini, Orion bisa mencium bau alkohol menguar dari mulut Freya.
"Hah... Bener ya kata Arkana, Bapak emang seneng banget clubbing."
"Ah, kenapa gue nyebut-nyebut si bajingan itu lagi, sih?!" Freya mendadak memekik kesal sambil menjambaki rambutnya. Dia lalu menyambar minumannya dan menenggaknya sampai habis.
"Hey.. Hey... udah cukup!" sela Orion sambil mengambil gelas yang ada di tangan Freya. "Kenapa sih kamu? Hah?"
"Udah tau dia nggak pernah ngeliat gue, masih aja dipeduliin, dasar bego!" Orion makin terkejut mendengar racauan Freya yang tidak memperdulikannya.
"Aaahhh lagi patah hati, ya?!"
"Bego gue tuh bego, dari dulu ngejar Arka a yang nggak pernah peduliin gue. Emang bego." Freya meracau lagi setelah menenggak gelas yang dia ambil dari samping entah punya siapa.
"Ck... ni cewek ga tau situasi apa?!" gerutu Orion sebal.
Orion yang melihat itu pun langsung meminta maaf pada orang yang disebelah Freya karena minumannya diambil Freya dengan tidak tau malunya.
Sementara umpatan kasar terus saja melompat dari mulutnya. "Si Arkana juga sama begonya. masa dia nggak pernah nyadar perasaan gue, sih? Atau dia pura-pura nggak tau? Sengaja bikin gue kesiksa?" Mendecak kecil, Orion lantas menahan tangan Freya saat perempuan itu akan mengambil gelas yang tadi diambil Orion.
Perempuan itu menoleh pada Orion dengan kening mengerut.
"Berenti minum Frey. Kamu udah mabuk parah," cetus Orion, tangannya masih menahan tangan Freya.
"Ck...Siapa lo bisa larang-larang gue, ha?" dengus Freya dan menepis tangan Orion dengan tangannya yang bebas.
Ya... Gadis itu pasti lupa dirinya yang lebih dulu memanggil dosen itu terlebih dulu kemari. Bahkan dia mungkin sudah tidak ingat bahwa sosok di sampingnya ini adalah dosennya. Freya menjungkirkan gelas minumannya, tapi rupanya isinya sudah habis. Gadis itu mengerang lalu melambai heboh pada bartender, seakan hendak memesan minuman lain. Tetapi lagi-lagi Orion menahannya.
"Saya bilang berhenti minum, Freya Adira Putri!" Orion berujar serius, membuat Freya mendecak marah.
"Ck... Emang kenapa, sih? denger ya pak, Gue tuh stress stuck di perasaan ini bertahun-tahun! Stres, tau nggak stress! bisa nggak sih kalian biarin gue bahagia bentaran aja?" Lalu kini Freya menelungkupkan kepalanya di atas meja bar dan mulai menangis tersedu-sedu.
Orion mendecak kecil. Dia menyesal sudah menghampiri Freyq tadi, harusnya dia benar-benar pura-pura tidak dengar saja saat namanya disebut.
"Woy, gue tungguin nggak balik-balik ternyata lagi asik di sini." Seseorang tiba-tiba menepuk bahunya membuat Orion menoleh. Evan, si pemilik Nightiest sekaligus temannya, sudah berdiri di sampingnya kini.
Orion mendecak. “Asik dari mana. Gue lagi pusing ngurusin ni cewek satu.” Dia mengedikan dagunya pada Freya yang masih heboh menangis sambil meracau betapa malang dan idiotnya dirinya.
Sebelah alis Evan berjingkat. “Siapa, tuh?”
“Mahasiswa gue.”
Jawaban Orion lantas membuat Evan mendengus.
“Ck... Mampus lo. Bener ‘kan apa kata gue, harusnya lo jangan sering-sering dateng ke sini lagi. Keciduk mahasiswa sendiri tau rasa ‘kan?”
“Lo lupa lo duluan yang ngundang gue, hah?" Orion mendelik pada Evan.
Ya... Malam ini, Milena, tunangan Evan, memang mengadakan pesta ulang tahunnya di sini. Kalau bukan karena Evan dan Milena yang memaksanya datang kemari, mungkin Orion tidak akan mau menginjakan kaki ke Nightiest lagi.
Terakhir kali dia minum-minum di sini kesadarannya benar-benar hilang dan perempuan-perempuan kegatalan menempelinya tanpa tahu malu. Padahal saat itu Evan sengaja mengadakan perayaan diterimanya Orion sebagai pengajar di kampus tempatnya bekerja. padahal Orion sendiri tidak pernah tahu kalau mantannya disebut.
Mantan paling mengganggu, kalau harus diperjelas.
"Tadi gue ketemu Aubrey, dia nyariin lo. Gue bilang aja lo nggak ke sini." Evan menjawab ringan. "Pasti menurut dia lo bakalan dateng ke birthday party-nya Milen. Yah, meskipun tebakannya emang bener, sih."
"Ngapain sih Milen ngundang Aubrey segala?" Orion berdecak kesal. Evan menggeleng cepat.
"Si Aubrey nggak diundang, Nyet. Tapi lo tau sendiri 'kan temen dia banyak, apalagi yang sering nongkrong di sini, ya mungkin mantan lo dapet info dari mereka." Ini membuat Orion mengerang kesal. Dia malas sekali betemu Aubrey.
Belakangan ini entah kenapa mantannya itu sangat berambisi meminta agar hubungan mereka diperbaiki. Dan itu sangat tidak mungkin.
Bagi Orion, hubungan yang rusak tidak mungkin bisa diperbaiki lagi. Terlebih, sejak awal dia memang tidak pernah benar-benar serius dengan Aubrey. Keduanya juga tidak cocok satu sama lain. Percuma saja mengulang hubungan yang sudah diketahui akan berujung ke mana pada akhirnya.