Islandzandi

Islandzandi
Saya Tau Hubungan Kamu Sama Orion



Freya mengesah lalu segera menunduk minta maaf. Malu sendiri dengan sikapnya.


"Teman-teman, kondusif, ya. Mohon tidak ada diskusi dalam diskusi." Moderator di depan aula berujar mengingatkan.


Freya semakin mengkeret di kursinya, kepalanya semakin menunduk. Dia belum berani mengangkat kepala sampai diskusi kembali dimulai.


"Santai aja sih, Kak." Haekal tiba-tiba berbisik lagi. "Fansnya Pak Orion 'kan emang banyak, nggak usah malu gitulah."


Freua menoleh pada Haekal dan menatapnya dengan mata memicing. Dia balas berbisik, "Gue bukan fans dia, ih."


Gue itu ceweknya, paham nggak, sih, lo?


Tentu tidak.


"Nggak apa-apa, Kak, bukan hal yang memalukan kok jadi fans dosen." Jendra ikut-ikutan menimpali. "Gue juga awal-awal ngefans sama Bu Emma, tapi setelah liat keakraban dia sama Pak Orion, gue merelakan Bu Emma, asal dia bahagia."


"Sial, dangdut banget, sih!" Haekal menahan tawanya sambil menggeplak lengan Jendra.


Mendengar semua ini Freya hanya mengesah sambil memijat pelipisnya. Dia mengembuskan napas perlahan, dan akhirnya mendongak menatap ke depan. Saat itu juga tatapannya segera bertemu dengan Orion.


Dari kursinya Orion tengah memandangi Freya dengan khawatir. Mungkin ingin bertanya kenapa Freya nampak pusing sendiri begitu. Freya lantas tersenyum tipis dan menggeleng kecil, memberikan tanda bahwa dia baik-baik saja. Dia lalu kembali fokus mendengarkan diskusi dan menambahkan catatannya.


Setelah dua jam, diskusi pun berakhir. Acara ditutup dengan foto bersama. Freya yang malas berfoto, memilih berdiri di barisan paling belakang, paling ujung. Mungkin hanya kepalanya saja yang menyembul tertangkap kamera. Tetapi tiba-tiba seseorang ikut berdiri di sampingnya. Freya menoleh, dan menemukan Orion berdiri di sana.


"Pak Ori?" tanyanya heran. Padahal semua dosen berdiri di barisan paling depan.


Orion menunduk dan tersenyum tipis pada Freya. Tatapannya lalu beralih pada mahasiswa lain yang berdiri di sekitarnya, menatapnya dengan sama herannya. Orion kembali menatap Freya dan berujar, "Saya 'kan tinggi, kasian yang lain kalau saya berdiri di depan. Nanti nggak keliatan."


Freya mengerjap lalu mengangguk.


"Kamu kenapa berdiri di sini? Emang bakal keliatan?" Orion bertanya lagi pada Freya.


Freya hanya mengedikan bahu. "Nggak apa-apa nggak keliatan juga. Saya nggak mood difoto."


"Dasar." Orion bergumam sambil menahan diri untuk tidak mengusak puncak kepala perempuan itu.


"Itu tolong yang di samping kiri nggak masuk frame, boleh geseran, ya." Juni yang berdiri di atas kursi dengan kamera di tangan berseru mengarahkan.


"Eh, saya nggak masuk frame katanya. Geser, geser." Orion berbisik sambil menunduk pada Freya. Dia menggeser tubuhnya agar semakin merapat pada perempuan itu.


Freya mendongak dan balas menatap Orion. "Samping kiri, Lah, kita 'kan samping kanan."


Mendengar ini Orion hanya tersenyum simpul. Dia juga tahu itu. Sengaja saja agar punya alasan menempel pada Freya. Dasar.


Setelah sesi berfoto selesai, satu per satu mahasiswa dan dosen mulai meninggalkan aula. Orion yang semula hendak mencuri-curi kesempatan agar bisa berjalan dengan Freya, tiba-tiba dipanggil oleh Bakhri dan diajak mengobrol bersama dosen lainnya. Dengan terpaksa dia keluar dari aula bersama para dosen.


"Freya!"


Freya yang hendak berjalan keluar aula menoleh ketika seseorang memanggilnya.


Emma segera berjalan menghampirinya sambil tersenyum lebar.


"Eh, Bu Emma." Freya ikut tersenyum pada dosennya itu. Agak terkejut juga ternyata Emma mengingat namanya. Pasalnya, Freya itu bukan mahasiswa yang akrab dengan dosen, sehingga jarang sekali ada dosen yang mengingatnya. "Ada apa, Bu?"


"Kamu masih ada kelas?" Emma bertanya. "Ayo, sambil jalan aja."


"Nggak ada sih Bu, tapi masih ada rapat Medfo nanti sore," jawab Freya meski tidak mengerti kenapa Emma tiba-tiba bertanya soal jadwalnya.


Emma lalu mengangguk-angguk. Dia menoleh pada Freya, masih tersenyum. "Kamu nggak salah paham 'kan sama saya?"


Mendengar ini tenggorokan Freya seperti tercekat. "Hah? M-maaf, gimana, Bu?"


Raut panik Freya lantas membuat Emma tergelak. "Bener, ya kata Orion, kamu ini emang lucu."


"Hah?" Freya benar-benar tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya sekarang.


"Iya, saya tau hubungan kamu sama Orion," cetus Emma kemudian.


Kedua mata Freya melebar. Dia memandang ke sekelilingnya, takut jika ada yang mencuri dengar. "D-dosen lain juga tau, Bu?"


"Engga, cuma saya." Emma menggeleng pelan. "Itu pun gara-gara kejadian waktu kita makan siang bareng. Orion jadi muram setelah beres makan, waktu saya tanya kenapa, akhirnya dia cerita semuanya soal kalian."


Dia mengangguk-angguk, masih terkejut karena Emma mengetahui semua ini.


"Waktu itu Orion bilang dia berusaha ngejauh demi kebaikan kamu, tapi setelah dia ngejauh, dia malah ngerasa makin bersalah. Lucu 'kan?" Emma terkekeh pelan. "Saya rasa kalian udah ngatasin masalah itu, ya?"


Freya mengangguk lagi.


"Saya cuma mau bilang, dari yang saya liat Orion emang sesayang itu sama kamu. Dia nggak mungkin lepasin kamu demi perempuan lain. Jadi kamu jangan salah paham lagi ya sama saya?" Emma berujar perlahan. Dia lalu menambahkan dengan ringan, "Tadi di aula kamu natap saya ganas banget, kayak bersiap mau ngelahap saya. Tenang aja, saya nggak suka ngerebut milik orang lain."


Mendengar ini kedua mata Freya lantas melebar ngeri. "Bu, maaf. Maaf banget. Saya nggak berniat kaya gitu, serius," ujarnya dengan menyesal. "Itu itu di luar kesadaran saya. Maaf, Bu."


Emma lagi-lagi tergelak. Dia lalu memicingkan matanya dan memasang tampang marah yang dibuat-buat. "Untung semester ini saya nggak ngajar kamu, ya. Kalau nggak, nilai kamu bisa auto E, nih."


"Aduh Bu, jangan, dong. Maaf banget." Freya semakin panik.


"Bercanda, Freya," cetus Emma sambil menepuk lengan Freya. "Udah ya, masalah kita clear."


Freya menggaruk tengkuknya lalu tersenyum malu. Tidak terasa mereka telah tiba di depan gedung tiga, tempat ruang prodi berada.


"Saya mau ke ruang prodi ya, duluan, Freya." Emma melambai dan berjalan memasuki gedung tiga.


Sementara Freya sendiri melanjutkan langkahnya dengan gontai menuju gedung student center. Masih ada satu jam sampai rapat departemennya dimulai, tapi dia akan menunggu di ruang sekretariat saja.


Dia tidak pernah menyangka Emma mengetahui hubungannya dengan Orion, bahkan sampai menyadari rasa cemburu Freya. Benar-benar memalukan.


Mulai sekarang Freya harus mulai belajar mengontrol emosinya.


"Wey, lemes amat." Seseorang tiba-tiba merangkul bahunya dari belakang. Freya menoleh dan menemukan Juni tengah tersenyum lebar padanya.


"Eh, kirain siapa." Freya menyahut. "Lo mau langsung ke sekre juga?"


"Iya. Pegel gue dari tadi muterin aula buat ngedokum sendirian. Parah tuh Kak Kevin, gue dibiarin ngedokum sendiri," keluh Juni sambil mencebikan bibir. "Ntar di sekre gue mau lesehan, terus mau makan. Gue udah nitip makanan tuh ke Dasya, semoga aja nggak lama."


Freya tergelak mendengar ini. "Tadi gue udah minta Jendra bantuin elo, eh dianya nolak gara-gara ngikut perintahnya Kak Kevin."


Mereka tiba di ruang sekretariat yang masih sepi. Juni cepat-cepat melepas sepatunya, meletakan tas kameranya dengan hati-hati, lalu berbaring di atas karpet. Freya duduk di sampingnya dan mengambil kamera Juni.


"Jun, liat dokum tadi ya," katanya yang dibalas gumaman Juni, perempuan itu mulai memejamkan mata, mungkin bersiap tidur sebentar.


Sementara Freya menyalakan kamera Juni, melihat-lihat hasil dokumentasi hearing prodi tadi. Niatannya memang sekadar untuk iseng dan mencari foto yang bisa dipublikasikan di website himpunan bersama press release-nya nanti. Namun perhatiannya terhenti pada foto bersama tadi. Kelihatannya foto itu diambil untuk percobaan Juni, karena semua orang di dalamnya nampak belum siap difoto. Freya menekan zoom, dan mengamati dirinya dan Orion dalam foto itu.


Orion nampak menunduk sambil tersenyum padanya, sementara dia sendiri tengah mendongak dan balas menatap pemuda itu. Momen ini pasti diambil saat dia dan Orion tengah mengobrol diam-diam. Freya tersenyum sendiri melihat foto itu.


"Jun, nanti gue minta fotonya, ya." Freya berujar masih sambil mengamati foto itu.


Tapi tak ada jawaban dari Juni. Ketika menoleh, Freya menemukan temannya itu telah benar-benar terlelap.


"Ya, elah." Freya bergumam sambil terkekeh.


Ketika dia berniat melihat-lihat foto lain, ponselnya bergetar pendek. Sebuah pesan masuk. Rupanya dari Orion.


Dosen Favoritku :


Saya lagi di Kedai Andri, diajak makan-makan sama Pak Bakhri


Freya mengerutkan kening, tidak mengerti kenapa Orion tiba-tiba mengabarinya begini. Kemudian dia teringat beberapa jam lalu dia menanyakan keberadaan Orion karena laki-laki itu tidak kunjung datang ke hearing prodi. Freya terkekeh, merasa terkesan karena Orion masih menyempatkan diri membalas pesannya meski terlambat berjam-jam.


Baru saja dia berniat mengetikan balasan ketika pesan lain muncul. Kali ini dari Kenan.


Kak Kenan :


Dek, Kakak lagi deket kampus kamu nih, abis ketemu klien


Kakak kangen seafood-nya Kedai Andri, kamu mau ikut makan di sini atau titip aja?


Kedua alis Freya lantas berjingkat. Orion dan kakaknya tengah berada di tempat makan yang sama.


Kebetulan macam apa ini?