Islandzandi

Islandzandi
Ketahuan



Di ruang Kreatif


Pukul 19.00 sore…


Saat karyawan lain sedang beres–beres hendak pulang, Islandzandi masih mengerjakan pekerjaannya dengan pikiran campur aduk.


Tak lama Line message bunyi ke handphonenya…


...Karin...


...“lo mau pulang nggak? kita nunggu di lobby nih…”...


...Islandzandi...


...“duluan aja, gue masih ada kerjaan yang belum selesai!”...


...Karin...


...“serius lo, Aufar masih disana?”...


...Islandzandi...


...“nggak! dia ada meeting di luar sama Nadya… gue pulang sendiri aja! Nggak apa – apa!”...


...Karin...


...“nggak apa-apa nih kita tinggal?”...


...Islandzandi...


...“iya, nggak apa-apa… udah sana, gue masih banyak kerjaan nih…”...


...Karin...


...“ok, kita duluan ya, lo take care…”...


Islandzandi hanya terdiam melihat sms terakhir dari Karin.


Tak lama Bu Khanza keluar dari ruangannya sambil membawa tas dan setumpukan map ditangannya, dia berjalan kearah Islandzandi. Map itu pun disimpan di meja Islandzandi. Islandzandi pun kaget dan melihat kearah map itu dan melihat Bu. Khanza.


"Kamu belum pulang kan?"


Islandzandi melihat kearah Bu Kanza. "Belum bu!"


"Bagus! Kalau begitu tolong kamu revisi semua laporan ini… Dan besok pagi harus ada di meja saya."


"Ya?! Ah iya, baik Bu! Akan saya kerjakan sekarang…"


Islandzandi masih terdiam.


"Saya heran! Kenapa laporannya semua seperti ini?! Mana besok siang ada rapat dan laporan ini harus diserahkan! Tolong kau urus ini ya Island…" ucapnya tersenyum.


Islandzandi terdiam tidak bisa menolak. "Aah iya… Baik Bu…"


Bu Khanza pun pergi meninggalkan Islandzandi.


Islandzandi hanya tersenyum kecut dan melihat sekeliling diruangan itu hanya ada dia seorang! Lalu dia pun memukul punggungnya karena pegal, lalu melanjutkan kerjaannya lagi!


"Aaaaakkhh… Hari ini bener–bener berat!


Islandzandi membenamkan kepalanya di meja sambil berfikir. Apa gue harus bener-bener ngelupain Reyandra ya? Aahhh! Gue nggak bisa…" sedih.


Beberapa jam kemudian…


Pukul 22.00 malam…


Reyandra yang baru keluar dari ruangannya dan dijemput oleh Eolia mereka berjalan hendak pulang saat di lorong mau melewati ruangan Desain Development mereka melihat lampu ruangan itu masih menyala.


"Oh, memangnya stafnya lembur ya? Jam segini masih disini…"


Reyandra terdiam melihat kearah Eolia. lalu mereka berjalan dan melihat ke ruangan itu. Reyandra melihat Islandzandi meregangkan tangannya karena pekerjaannya baru selesai. Islandzandi pun membereskan mejanya bersiap hendak pulang.


Eolia melihat kearah Reyandra yang masih terdiam memperhatikan Islandzandi. "Kenapa? Apa Island merengek padamu karena tidak mau ditinggalkan olehmu?"


Reyandra hanya menggeleng melihat Eolia menyesal.


"Sepertinya dia sudah bisa menerimanya."


"Secepat itu? Kau pasti khawatir padanya kan? Tenang saja, nggak akan terjadi apa–apa sama dia! Kau liat kan bagaimana Aufar melindungi Island?! Dan bagaimana Aufar menenangkan Island? Aku yakin kalau kau terus bersikap seperti ini Island akan mencintai Aufar!" tersenyum.


Reyandra terdiam mengerutkan halisnya. "Ayo, kita pulang!"


Eolia menarik tangannya dan berjalan meninggalkan tempat itu… Tak lama saat Eolia dan Reyandra akan melewati lorong dan Bagian Kreatif… Reyandra dan Eolia pun pergi dari koridor. Islandzandi pun berjalan meninggalkan ruangan Kreatif tak lama Pak Ronald datang berjalan kearahnya.


"Island!" panggilnya sedikit berteriak.


Islandzandi melihat kearahnya terdiam heran. "Iya Pak?"


"Kau belum pulang?"


"Aah, iya ada kerjaan yang harus diselesaikan malam ini, jadi saya lembur… Ada apa ya Pak?"


Pak Ronald melihat kearah Islandzandi. "Pantas saja saya pernah melihatmu…"


"Maksud bapak?"


Pak Ronald memperlihatkan majalah dewasa yang cover depannya terpampang wajah Islandzandi. "Bisa kau jelaskan tentang ini?"




Islandzandi terdiam terkejut. "Eu..Itu… Kenapa bapak bisa punya majalah itu?"


"Kau tau tidak ingat peraturan disini?! Kalau orang lain tau kau bisa kena Skors… Meskipun kau itu karyawan baru disini, tapi tentunya kau akan kena hukuman! Atau malah di blacklist dari perusahaan..."


"Saya minta maaf Pak… Memang sebelum bekerja disini saya bekerja di Studio Destiny… Dan sampai sekarang saya masih bekerja disana meskipun kontrak karena saya kerja disana hanya mengisi waktu luang saya saat sekolah dulu…"


Pak Ronald terdiam kearah Islandzandi. "Apa kau kekurangan uang?"


"Ya?"


"Sampai kau mau diphoto seperti ini?"


"Eu, ini juga saya baru pertama kalinya kok Pak, selama ini saya selalu menolak bila temanya dewasa, tapi karena ada sesuatu hal, saya menerima tema ini…"


Pak Ronald tersenyum. "Hm… Baiklah… Saya akan merahasiakan hal ini dari orang lain… Tapi jika mereka tau, saya tidak akan ikut campur ya…!"


"Terima kasih Pak…"


**


Diluar Lobby saat Islandzandi hendak berjalan menyebrang tiba–tiba mobil Reyandra melaju melewati Islandzandi pelan.


Islandzandi melihat kearah kaca mobil dia melihat Eolia sedang bercanda bersama Reyandra.


"Hah… (tidak percaya sambil tertawa kesal) Secepat itu lo berubah Rey? Reyandra yang sekarang emang bukan Reyandra yang gue kenal dulu… (terdiam) Dan lo juga nggak tau siapa Islandzandi yang sekarang kan?! Liat aja pas kamu tau majalah itu.... Mau marah segimana pun kalian gue nggak peduli."


**


Dirumah keluarga Diandra…


Pukul 23.00 malam…


Pak Diandra sedang menunggu Islandzandi diruang keluarga dengan kesal begitupun dengan Bu Audrey, tak lama Islandzandi berjalan masuk keruangan sambil menahan tangisnya.


"Berhenti disitu Islandzandi Pradipta!"


"Aduh Pah, bisa besok nggak Island capek nih!"


"Apa magsudnya ini?! (tegasnya sambil melemparkan majalah dewasa yang dilihat Pak Ronald tadi), Mulai sekarang berhenti jadi model dan berhenti magang di Svetovska kalau kelakuanmu seperti ini!"


Islandzandi melihat Pak Diandra kesal. "Papah sadar nggak sih kenapa Island ngelakuin hal ini? Selama ini Island selalu nurut sama apa yang papah suruh, bersikap baik, tidak memalukan nama keluarga, sampai menikah pun papah atur! Selama ini papah anggap Island ini anak apa boneka yang papah pelihara? Karena jujur aja Island ngerasa kalo papah selama ini terlalu overprotected sama Island! Selama ini Island nggak pernah ngebantah apa yang papah suruh! Jadi tolong untuk pekerjaan yang aku pilih papah nggak usah mencampuri lagi!"


Tak lama Pak Diandra menampar pipi Islandzandi kesal.


"Pah..." ucap Bu Audrey mengingatkan.


"aku bilang mulai besok kau tidak usah bekerja lagi!"


Islandzandi tidak menjawab dan langsung berlari ke kamarnya dengan kesal!


"Kenapa dia jadi liar seperti itu? Baru kali ini Islandzandi bersikap itu (berfikir) Apa Reyandra sudah mulai menjauhinya?"


"Apa maksudnya dengan mulai menjauhi? Apa yang papah rencanakan untuk Island?"


"Beberapa waktu yang lalu Reyandra datang ke kantor. Dan aku meminta dia untuk memutuskan hubungannya dengan Island."


"Kau tau? Island seperti ini karena kau selalu memaksakan kehendakmu pada Island! Dan aku pikir ini adalah salah satu pemberontakan Island padamu! Jadi tolong jangan salahkan orang lain karena Island jadi seperti ini! Kau harus intropeksi dirimu sendiri!"


Pak Diandra terdiam kaget melihat kearah Bu Audrey… Bu Audrey menggeleng kearah pak Diandra tidak percaya bu Audrey pun berjalan ke kamarnya Islandzandi. Di kamar Islandzandi bercerita pada Bu Audrey sambil menangis… Bu Audrey pun langsung memeluk Islandzandi sedih…


Sementara itu…


**


Di kamar Apartement Reyandra…


Reyandra lalu menundukan kepalanya, box cingcinnya pun dikepal erat olehnya dan tak lama air matanya menetes kelantai Reyandra mulai menangis, tak lama mendengar suara kunci password pintu dibuka, Reyandra menghapus air matanya di pipi lalu sibuk membaca buku yang ada di depannya.


Tak lama Erik yang baru masuk berjalan kearah Reyandra dan melemparkan sebuah majalah ke meja itu lalu duduk disisi Reyandra.


Reyandra yang terkejut melihat kearah Erik.


"Ini..."


"Selamat Hyung... Ini efek keputusan yang kamu ambil! Hah... Aku nggak habis pikir…" melihat kearah majalah.


Reyandra mengambil majalah itu masih shock dan melihat kearah Erik. "Ini… Kau?!"


"Apa itu yang kau inginkan, Hyung?! Kau tau aku benar-benar risih selama pemotretan itu!"


"Tapi…" Reyandra terdiam melihat majalah itu.


"Katanya ini bentuk pemberontakan untuk ayahnya dan kau hyung! (melihat Reyandra kecewa) Hyung, apa yang kau pikirkan? Kau menyuruh Island untuk menikah dengan laki-laki yang tidak pernah dia cintai, dan kau kembali lagi pada Eolia? Hah, tidak masuk diakal! Kau mau memaksakan kehendak kalian pada Islandzandi? Yah… Itu sih terserah kau juga ayahnya Island… Tapi bila Island sudah berontak seperti ini, aku takut dia akan lebih berontak lagi ke hal yang lebih parah lagi dibanding ini… "


Reyandra menutup wajahnya kecewa dan kesal pada diri sendiri.


"Erik, saya hanya…"


"Aku kesini hanya untuk memberitahumu dan mengingatkanmu saja!"


Erik pun pergi meninggalkan Reyandra yang masih terdiam.


Hah… Island, kenapa kamu membuat posisi saya semakin bersalah… Saya tidak menginginkan ini… Tapi Om Diandra… Saya akan berusaha bersabar lagi, saya akan menunggu Om Diandra berubah pikiran… Kumohon kau lebih bersabar lagi Island... Jangan melakukan hal semacam ini...


Reyandra pun menyentuh keningnya berfikir.


**


Di ruang rapat


Pukul 11.00 siang…


Reyandra dan Eolia sedang bicara, lalu Staf yang lain sedang menunggu bersiap–siap untuk rapat, tak lama Bu Khanza dan Islandzandi masuk ke ruangan itu.


Reyandra melihat kearah Islandzandi lalu berbicara lagi pada Eolia.


Islandzandi yang membawa laptop melihat kearah Reyandra lalu berjalan di belakang Bu Khanza dan duduk disamping Bu Khanza. Tanpa melihat kearah Reyandra.


"Di mohon untuk tenang, rapatnya akan segera dimulai." ucap Pak Ronald sambil memberi instruksi pada kliennya untuk memulai.


Semua yang ada disana tertuju pada orang yang akan presentasi.


"Selamat siang semua!" ucapnya sambil memperlihatkan gambar yang ada di laptopnya melalui proyektor dan dilihat oleh semua pegawai disana.


Reyandra, Eolia, Bu Khanza, Pak Ronald dan Ryu Sera terkejut melihat model yang ada di layar tersebut.


Ryu Sera melihat kearah Islandzandi. "Apa-apaan ini?!"


Dan semua yang sadar bahwa yang ada dilayar tersebut adalah Islandzandi langsung melihat kearahnya! Sementara Islandzandi masih menyalakan laptopnya belum sadar bahwa dirinya sedang terpampang di layar.


Tak lama Islandzandi melihat kearah Bu Khanza yang sedang melihatnya kesal, lalu melihat kearah staf lain yang sedang memperhatikannya juga termasuk Reyandra dan Eolia.


Islandzandi pun melihat kearah Layar tersebut dan terkejut melihat photonya dan Erik yang sedang memakai kostum game!


Islandzandi melihat Bu Khanza menggelengkan kepalanya…


"Eeu…"


"Tunggu…"


Reyandra mulai menekan keningnya dengan jarinya kesal.



"Bagaimana bisa photo pegawai Svetovska ada di perusahaan lain?! (bentaknya sambil melihat kearah Islandzandi) Apa kamu tidak tau peraturan di perusahaan? (melihat Islandzandi marah) Kamu pikir ini mainan? Atau kamu bodoh sampai tidak mengerti peraturan kami?!"


Islandzandi terdiam kaget melihat kearah Reyandra. Begitu juga pegawai lain melihat kearah Reyandra.


Klien melihat kearah Islandzandi dan melihat kearah gambarnya kaget karena model dari gambar tersebut adalah pegawai dari Svetovska Company.


"Eu… Itu saya benar-benar tidak tau menau karena saya sendiri menyuruh anak buah saya untuk bekerja sama dengan photographer yang kami percayai… Dan kami tidak tau kalau modelnya adalah pegawai dari perusahaan anda…"


"Ini tidak ada hubungannya dengan perusahaan anda, tapi kami punya masalah dengan modelnya!"


Tak lama Pak Darma masuk dan melihat situasi ruang rapat.


Lalu melihat kearah Islandzandi.


"Loh, Island? Hei kok bisa ada disini?" sapanya tanpa melihat situasi.


"Kau! (melihat Islandzandi) Keluar dari ruangan ini!" bentaknya sambil melihat serius kearah Islandzandi.


"Apa?!" terdiam tidak percaya melihat kearah Reyandra.


Islandzandi melihat sekeliling yang masih terdiam melihat kearahnya lalu dia pun membereskan laptopnya berdiri dan keluar dari ruang rapat kesal!


**


Di koridor,


Pukul 16.00 sore…


Reyandra dan Eolia sedang berjalan melihat kinerja karyawan di setiap bagian!


Tak lama saat Reyandra dan Eolia masuk ke bagian Kreatif, mereka terdiam melihat Islandzandi sedang berdiri di depan meja karyawan, sementara Bu Khanza dan Pak Ronald sedang duduk di meja sambil memarahi Islandzandi.


"Kamu itu masih baru disini! Tapi kau sudah membuat kesalahan besar!"


"Saya benar-benar minta maaf!" ucapnya masih memunduk.


"Kamu bukan mata–mata dari perusahaan lain kan?" melihat Islandzandi curiga.


"Sudahlah Bu Khanza, dia tidak tau apa yang dia lakukan… Dia mungkin bukan mata-mata…" bela Pak Ronald melihat kearah Islandzandi.


Islandzandi melihat Pak Ronald dan Bu Khanza menggelengkan kepalanya. "Bukan pak, sebelum saya masuk kesini saya memang freelance jadi model… Saya tidak tau kalau photo itu dijadikan model untuk Svetovska…"


"Kamu itu bikin malu saya di depan Direktur dan wakil Direktur tau!"


Islandzandi hanya terdiam menunduk Karena Bu Khanza benar–benar marah.


Bu Khanza pun berdiri dan berjalan keruangannya.


Sementara Pak Ronald melihat kearah Islandzandi dari bawah keatas menyeringai.


"Tenang! Paling hukumannya di skors… Kamu nggak akan sampai dikeluarkan kok, tergantung keputusan Direktur dan Wakil Direktur!" ucap Pak Ronald menenangkan Islandzandi.


Reyandra melihat kearah Pak Ronald lalu pergi meninggalkan koridor itu karena tidak tahan melihat Islandzandi dimarahi langsung oleh Pak Ronald dan Bu Khanza.


Islandzandi yang berbalik kearah koridor melihat Reyandra dan Eolia berjalan.


"Hah… lengkap sudah! Mereka pasti liat kejadian barusan!! Hah, kenapa juga gue sampe nggak tau kalo kliennya Aslan adalah rekanan dari Svetovska Company!" gumam Islandzandi.


Beberapa orang yang ada di ruangan itu melihat sesekali kearah Islandzandi. Islandzandi hanya terdiam menunduk sambil memejamkan mata lelah karena hari itu dia terus dimarahi.


**


Di atap gedung…


Islandzandi dan Aufar sedang duduk sambil membawa minuman di bangku yang sudah disediakan untuk istirahat dan memang sengaja untuk melihat pemandangan kota tersebut.


Islandzandi terdiam menerawang lalu menghela nafas panjang.


Aufar mengeluarkan rokoknya lalu menawarkan pada Islandzandi.


"Rokok?" Islandzandi tertawa kesal sambil mengambil sebatang rokok Aufar lalu menyalakannya.


"Hari ini hari yang berat buat lo Island! Biasanya kalo keadaan gini lo langsung nangis! Dan sorry, saat kejadian itu gue nggak ada disana…" ucapnya sambil merokok menikmati pemandangan.


"It’s okay, lo juga lagi tugas lapangan kan?! Gue ngerti kok!"


Aufar terdiam menunduk.


"Dia nyakitin lo…"


"Hah?!" melihat Aufar bingung


"Gue tau lo masih belum bisa ngelupain Reyandra… Tapi…"


Islandzandi menggeleng. "Gue nggak tau perasaan gue sekarang ini Far… Masalah muncul satu persatu tanpa gue duga."


"Masalah majalah itu juga jadi permasalahan buat bokap lo kan? Gue nggak bisa meredam amarah bokap lo… Gue nggak tau juga kalo lo ngambil tema itu…"


"Kalo itu emang gue yang pengen, dan gue juga minta tolong Aslan supaya ngerahasiain itu dari lo, karena kalo nggak, lo juga bakal ngelarang gue kan?!"


"Trus hubungan lo sama bokap lo?"


"Gue sama bokap masih perang dingin!"


Islandzandi terdiam melihat kearah Aufar. Sementara Reyandra yang berada di balik kaca melihat kearah Aufar dan Islandzandi sedih.


"Kamu berubah dengan sangat cepat. (terdiam berfikir) Ini bukan yang saya inginkan, ini bukan yang terbaik buatmu Island... Kau merusak hidupmu sendiri..." ucap Reyandra dalam hati.