
Di sebuah MALL…
Pukul 15.00 sore…
Karin, Haura dan Islandzandi sedang menghabiskan waktu bersama disela libur kerja. Mereka menonton serta berbelanja keperluan perempuan.
Di toko Underwear… Mereka bertiga sedang melihat-lihat.
Tak lama Haura berjalan kearah Islandzandi sambil membawa 2 buah baju tidur sexy untuk Islandzandi.
"Ya… Island, ini cocok buat lo!" ucapnya tertawa sambil memperlihatkan pada Islandzandi.
"Ya! Lo gila? Itu terbuka banget! Lo tau gue nggak suka model kayak gitu…"
Karin hanya tersenyum. "Island, Haura milih ini buat lo pake pas malam pertama lo sama Reyandra…"
"Tau nih, gue pilihin yang bagus juga! Ini pasti Reyandra suka deh, dan pasti nggak bakal nolak… Iya kan Rin?" candanya sambil tersenyum.
"Lagian kenapa sih? Lo pemotretan ada yang terbuka juga kan? Harusnya sih lo udah biasa…"
"Gue juga terbuka ga seterbuka gini juga kali…"
"Lah, trus pemotretan kemaren yang jadi scandal itu gimana tuh?" cercah Haura.
"Itu Cuma sekali karena gue sebel ama bokap gue jadi itu cara ngelawan bokap gue…"
"Ya udalah, ini juga demi Reyandra kan…"
Islandzandi melihat kearah Haura dan Karin tajam. "Kalian ini ya… Maksa banget deh!"
Islandzandi hanya terdiam agak risih melihat baju tidur itu.
"Oh iya jadi kapan acara siramannya? Kita pasti di undang kan?" ucap Haura exited.
"Satu hari sebelum hari H kayaknya…"
"Trus lo sama Reyandra udah ngurus buat acara hari H kalian?" Timpal Karin.
"Tadinya gue mau ikut ngurus, tapi Reyandra bilang nggak usah katanya biar Erik sama dia yang urus soalnya gue kan lagi banyak kerjaan juga…."
"Trus lo udah bilang Aufar? Jangan sampe belum, karena lo tau kan kalo sampai Aufar tau dari orang lain tentang pernikahan lo, dia pasti bakalan sakit hatindan nggak mau kenal sama lo lagi..." ucap Karin menasehati. sementara Islandzandi terdiam.
**
Suatu hari…
Di depan Apartement Reyandra…
Pukul 21.00 malam…
Aufar berdiri sambil menekan bel pintu.
Tak lama Reyandra menyalakan monitor yang ada di dekat pintu… lalu membuka pintu itu.
"Darimana kamu tau tempat tinggal saya?" ucap Reyandra heran.
"Nggak penting! Gue Cuma mau ngomong sama lo masalah Island!"
Tanpa menunggu untuk dipersilahkan Aufar langsung masuk dan berdiri di dekat ruang tv, Reyandra terdiam tersenyum kecut melihat Aufar. Lalu menutup pintu dan menyusul Aufar yang sudah duduk di ruangan tv.
Reyandra hanya berdiri melihat kearah Aufar.
"Kenapa?" ucap Reyandra masih santai.
"Gue Cuma mau bilang daripada lo terus nyakitin hati Island, lebih baik lo putusin dia, karena kalau dia jauh dari lo… Mungkin dia nggak akan menderita seperti kemarin… Gue emang nggak tau masalahnya apa, orang tua Island maupun Island sendiri nggak cerita… Tapi akhir-akhir ini dia sering ngelamun, gue nggak tau masalah kalian apa dan gue nggak mau tau! Tapi satu hal yang gue minta dari lo… Gue nggak bisa liat Island menderita lagi gara-gara lo, lo tau gimana rasanya liat Island kemarin?? Gue nggak pernah liat dia se stres itu dan gue nggak bisa ngapa-ngapain selain ngehibur dia…"
"Jadi Island belum cerita sama Aufar…" gerutu Reyandra dalam hati masih terdiam melihat kearah Aufar.
"Saya berterima kasih karena kemarin kamu selalu berada disisinya… Dan sebentar lagi mungkin Island datang kesini, jadi kalau kamu mau tau kenapa Island kayak kemarin, sebaiknya kamu sembunyi di kamar… Kamu harus denger sendiri dari Island…" jelas Reyandra sambil berfikir.
"Apa maksud lo?" Aufar melihat Reyandra curiga.
"Bukanya kamu mau tau masalah apa yang sedang dipikirkan Island sekarang? Jawabannya akan saya berikan hari ini juga langsung dari mulut Island sendiri!"
"Lo nggak bohong kan?"Reyandra terdiam berfikir.
Apa ini baik? kalau tidak segera diberitahu malah akan menambah masalah kan?! Benar Aufar harus segera diberitahu!
Tak lama Aufar masuk ke kamar Reyandra dan tidak ditutup, Reyandra duduk di ruang tv berfikir sambil mengerutkan halisnya.
Tak lama kunci pintu digital Reyandra bunyi dan pintu pun terbuka…
Islandzandi berjalan kearahnya sambil membenarkan rambutnya yang basah karena hujan.
"Rey…" panggilnya sambil berjalan kearah Reyandra.
"Kau sudah pulang??" terdiam ragu.
Islandzandi melihat Reyandra cemas. "Kamu kenapa sakit?"
Reyandra pun memeluk Islandzandi dan menarik Islandzandi untuk duduk di ruang tengah. Reyandra melihat tangan kanannya Islandzandi.
"Kau tidak memakai cingcinmu?"
Islandzandi terdiam berfikir. "Eeu… Aku nggak mau mengambil resiko kehilangannya…"
"Atau resiko Aufar melihatnya?! (tersenyum kecut kearah Islandzandi yang masih terdiam) Kau masih belum memberitahunya?"
Islandzandi terdiam kaget kearah Reyandra. "Eu… Kemarin sebenernya aku mau bilang, tapi setelah liat wajah Aufar yang lagi seneng, aku nggak tega untuk memberitahunya… Maaf…"
Reyandra terdiam. "Island, jika kamu berubah pikiran…"
Islandzandi melihat Reyandra serius. "Rey, aku nggak akan berubah pikiran, setelah sekian lama aku nunggu kamu untuk nikahin aku… Dan pengorban kita yang kemarin untuk meminta persetujuan papah… Aku nggak akan berubah Rey… Aku mau nikah sama kamu… Kamu bisa sabar lagi kan buat aku bilang ke Aufar… Di waktu yang tepat…"
Reyandra melepaskan pelukan Islandzandi dan beranjak dari tempat duduknya. Islandzandi terdiam bingung kearah Reyandra.
Sementara Aufar yang mendengarkan dari dalam kamar Reyandra terdiam kaget.
"Rey?"
Aufar keluar dari dalam kamar Reyandra dengan shock berjalan kearah Islandzandi tidak percaya…
"Jadi masalah lo kemarin sama bokap lo gara-gara lo mau nikah sama dia? Kemaren juga lo sering ngelamun apa gara-gara ini? Dan lo nggak cerita masalah sepenting itu sama gue?"
Islandzandi berdiri terkejut melihat Aufar ada di Apartemen Reyandra.
"Aufar… Gue…" Islandzandi melihat Reyandra curiga.
Sementara Reyandra melihat kearah Aufar terdiam.
Islandzandi melihat Reyandra kesal. "You know he's listening!"
Reyandra melihat Islandzandi mengerutkan halisnya. "Dia layak untuk tahu Island…"
"Tapi nggak kaya gini Rey… (melihat Reyandra kecewa) Seenggaknya aku,---"
"Enough, Hah.... I hope you’re satisfied"
Islandzandi menggelengkan kepala sementara Aufar pergi meninggalkan mereka marah…
"Aufar, tunggu!" hendak pergi menyusul Aufar.
Reyandra menahan Islandzandi pergi. "Island, biarkan dia…"
"Lepasin!" bentaknya melihat Reyandra marah.
Reyandra melepaskan lengan Islandzandi, Islandzandi berlari mengejar Aufar sampai di luar Gedung Apartement yang sedang hujan besar.
**
Reyandra berjalan dan berhenti di depan pintu masuk Gedung Apartement memperhatikan mereka berdua sambil mengerutkan keningnya sedih.
"Aufar, berhenti! Aufar please!"
Aufar berhenti di tengah taman di luar Apartemen, dan tubuh mereka pun basah karena hujan.
"Gue bener-bener minta maaf udah nggak bilang hal sepenting ini sama lo…"
"Berarti selama ini gue ada di sisi lo Cuma sebagai boneka aja… Lo nggak nganggap gue ada Island…"
"Bukan magsud gue kayak gitu Far, gue Cuma perlu waktu yang tepat buat ngomong sama lo…"
"I’m done! I’m so done Island" melihat Islanzandi kesal.
"Ini alasan kenapa gue nggak bilang sama lo… Ok, A.. Apa yang bisa gue bantu?" melihat Aufar menyesal.
Aufar tersenyum sinis. "Lo nggak bisa bantu apa-apa! Tapi gue bisa, gue bisa ngebunuh seseorang saat ini!"
"Nggak! Aufar, sekarang lo nggak berfikir jernih…"
"Mungkin gue akan buat diri gue terbunuh, dan menjadikannya lebih mudah bagi lo buat bisa nikah sama dia dengan leluasa…"
Islandzandi mulai meneteskan air matanya. "Aufar Please! Gue mohon jangan lakuin itu…"
Aufar mendekat kearah Islandzandi. "Kenapa? Beri gue satu alasan yang bagus?"
Islandzandi berfikir. "Gue nggak mau kehilangan lo!"
Aufar menunduk. "Itu nggak cukup bagus!" ucapnya hendak pergi.
"Karena lo sangat berarti buat gue!"
Aufar masih membelakangi Islandzandi. "Masih kurang Island!"
Aufar berjalan kearah mobilnya yang terparkir di depan Gedung itu dan membuka pintu mobilnya.
"Aufar… (Aufar terdiam, sementara Islandzandi ragu-ragu) Kiss me… (tatapannya menerawang kearah Aufar) Gue minta lo buat nyium gue…"
Aufar berbalik menghampirinya dan langsung memeluk Islandzandi dengan erat Islandzandi pun merangkul pundak Aufar dengan ragu, lalu mereka pun berciuman dibawah hujan yang lebat dan sangat lama. Setelah melepaskan ciumannya dengan Isl
ndzandi.Aufar masih melihat Islandzandi dan mengelus wajah Islandzandi dengan penuh rasa sayang.
Sementara Islandzandi terdiam merasa ada perasaan aneh didalam hatinya.
"Harusnya situasi kita sekarang nggak kayak gini… (menunduk) Lo nggak bisa cinta sama gue? Gue lebih lama sama lo ketimbang dia yang baru beberapa bulan pulang…"
"Sorry Far… Gue bener-bener nggak bisa, gue Cuma bisa sayangi lo sebagai sahabat gue… (melihat Aufar) Please, gue mohon lo jangan menjauh dari gue… Don’t do this to me…" ucap Islandzandi sambil menangis.
"Sorry, tapi gue harus pergi! Gue harus nenangin pikiran gue kalo gue harus kehilangan lo buat selamanya…"
Islandzandi menangis sambil menggelengkan kepalanya masih merangkul pundak Aufar. Aufar pun melepaskan tangan Islandzandi dari pundaknya lalu berjalan membelakangi Islandzandi dan masuk kedalam mobilnya.
"Nggak Aufar, please, jangan pergi… Gue butuh lo buat ada disamping gue…" menangis sambil menjatuhkan badannya ke tanah.
Aufar membuat gas mobilnya kencang dan melaju dengan kecepatan tinggi. Islandzandi pun menangis sambil terduduk di tanah. Tak lama Reyandra berjalan keluar gedung sambil membawa payung kearah Islandzandi.
Islandzandi yang sedang menangis terkejut melihat sebuah kaki yang ada didepannya lalu melihat kearah Reyandra yang sedang memayunginya.
"Rey…"
"Kita masuk!" ucapnya sambil jongkok dan membantu Islandzandi berdiri.
Islandzandi langsung memeluk Reyandra erat. Lalu mereka pun masuk ke gedung Apartement itu dan berjalan ke Apartement milik Reyandra…