
***
“Kamu nggak ada kelas hari ini?” tanya Orion ketika keduanya sudah berada di dalam mobil. Seperti janjinya saat sarapan, Orion mengantar Freya pulang. Padahal Freya sudah menolak dan berkata dia bisa pulang dengan gojek, tapi Orion bilang dia juga akan ke kampus jadi lebih baik Freya pergi bersamanya saja.
“Kebetulan nggak ada, Pak.”
“Ngomong-ngomong semalem kamu bilang saya itu dosen baru yang seneng clubbing.” Orion tiba-tiba berujar begitu sambil melirik Freya di sampingnya. “Tau dari mana?”
“Oh, saya ngomong gitu ya?” Freya bertanya dengan kaget.
Duh bener-bener ya, mulutnya ini nggak bisa dijaga banget saat mabuk.
“Iya.”
“Itu.. eu, temen saya pernah nunjukin photo Bapak pas lagi di klub. Tapi tenang aja Pak, nggak banyak yang tau soal photo itu, kok. Orang-orang yang tau pun udah janji nggak akan sebarin photo itu.” Freya berujar cepat. “Jadi nggak akan ada apa-apa.”
Orion tertawa kecil. “Oke, kalau gitu saya bisa tenang. Berarti kita jaga rahasia satu sama lain, ya? Saya bakalan tutup mulut soal kebiasaan kamu dateng ke klub, kamu juga lakuin hal yang sama.”
“OK!” jawabnya tegas sambil mengangguk. “Tapi Pak, saya nggak sesering itu dateng ke Nightiest. Jarang malah. Kemaren Cuma kebetulan aja ke sana.”
Akhirnya dia kembali diingatkan pada Arkana. Kalau bukan karena Arkana dia tidak akan datang ke Nighties dan berakhir merepotkan Orion seperti ini.
“Apa karena temen cowok kamu itu?” Orion bertanya, mengungkit perihal tentan Arkana. Tadi saat menceritakan kejadian semalam dia memang sengaja melewatkan detail ketika Freya terus-terusan meracau tentan Arkana. “Hmm.. Siapa namanya? Arkana ya?”
“Bapak kok tau?” Freya menatap Orion dengan kedua mata membola. Sebenarnya sejauh mana dia melantur membicarakan rahasia-rahasianya semalam?
“Ya gimana mau nggak tau, orang semaleman kamu terus-terusan meracau tentang dia, sampai nangis-nangis malah!” Orion menjelaskan dengan geli.
Sementara Freya mendengarnya mendengus tidak percaya. Dia sampai menangis-nangis karena Arkana?
“Hmmm... Pathetic banget ya, Pak?” ucap Freya sambil menatap nanar ke samping untuk melihat luar jendela sambil memijat kedua ujung halisnya.
Orion menoleh pada Freya. Tangannya terangkat untuk mengusap kepala gadis itu dengan lembut, membuat Freya ikut menoleh menatapnya. Sentuhan itu entah kenapa terasa begitu menenangkan.
“Nggak apa-apa, saya juga pernah ngerasain sakit karena ditinggal perempuan.” Orion berujar pelan sambil tersenyum muram. “Sampai mabuk-mabuk dan nangis-nangis. Saya juga pernah se pathetic itu.”
Freya mencebikan bibirnya lalu bergumam, “Saya sih, bukan ditinggal. Orang memiliki aja nggak pernah, gimana bisa ditinggal.”
Mendengar ini justru mengundang gelak tawa dari Orion. Sukses membuat Freya jengkel.
“Ck... jangan ketawain dong, Pak! Katanya ngerti perasaan saya,” protes Freya.
“Oke, oke, saya nggak ketawa.” Ucap Orion mengontrol tawanya.
Freya mendengus melihat Orion membuat gestur menutup restleting di depan mulutnya. Padahal saat pertama bertemu, Orion memberikan impresi yang tidak begitu bagus di mata Freya. Mungkin akibat photo di klub malam yang ditunjukan Arkana padanya. Tapi setelah kejadian kemarin, setelah Orion menjaganya selama dia mabuk dan tidak sadarkan diri, lalu kenyataan bahwa pemuda itu tidak melakukan apapun padanya, membuat Freya mulai memandang Orion dengan sedikit lebih baik. Sepertinya Orion memang tidak seburuk itu.
Beberapa saat kemudian mereka sudah hampir sampai di rumah Freya. Gadis itu mengarahkan jalan pada Orion, dan belokan selanjutnya tibalah mereka di tempat tujuan.
“Maaf ya Pak. Saya udah banyak ngerepotin Bapak dari semalem.” Freya berujar setelah melepas seatbelt nya. Dia menatap Orion sambil tersenyum tidak enak.
“Santai aja.”
“Ini saya cuci dulu ya, Pak. Nanti saya balikin kalo udah bersih.” Freya menunjuk paper bag berisi hoodie yang semalam Orion pakaikan untuknya. “Sekali lagi maaf dan makasih banyak, Pak. Saya duluan ya..”
Laki-laki itu segera memeluk Freya sementara wajahnya menyiratkan cemas luar biasa.
Kening Orion mengerut begitu dia mengenali siapa sosok laki-laki itu. Dipandanginya Freya dan si laki-laki yang masih berpelukan dengan tatapan tidak percaya. Orion mendengus dan cengkramannya pada kemudi mobil mengencang hingga jemarinya memutih.
“Kenan?!”
****
“Kak Kenan?” Freya bertanya dengan bingung ketika kakak sepupunya itu tiba-tiba saja menyerbunya dengan pelukan.
“De, kamu dari mana sih semaleman, Hm? Kakak khawatir tau!” Kenan melepas pelukannya dan menatap Freya dengan cemas. “Kamar kamu tiba-tiba kosong, Bi Imas nggak tau kamu pergi ke mana, di wa malah ceklis satu doang, ditelepon apalagi, ga aktip, si Arkana juga ditelpon ga aktip, Rania ditanyain ga tau apa-apa jawabnya. Apa ga keder Kakak nyariin kamu semua orang yang kakak hubungin pada ga tau kamu ada dimana?”
Freya mengerjap mendengar rentetan perkataan Kenan tadi. Dan sekarang dia bingung harus bagaimana menjelaskan kejadian semalam. Tidak mungkin juga kan dia bilang pergi ke klub dan menginap di Apartment dosennya. Bisa-bisa Kenan mengulitinya hidup-hidup.
Jujur Freya belum mempersiapkan alibi apa pun atas kepergiannya semalam. Meskipun Kenan sudah tidak lagi tinggal di rumah ini, tapi dia masih sering berkunjung beberapa kali dalam satu bulan untuk menjenguknya. Tapi dia tidak pernah mengira, tadi malam saat Kenan menjenguknya dia tidak mendapati adik sepupunya itu berada di rumah.
“Kakak semalem kesini?” Freya malah balik bertanya.
“Iya, tadinya Kakak mau ngajak kamu makan malem sama Kiran, tapi pas kakak cek ke kamar kamu—“
“Oh, Kak Kiran juga ikut ke sini?” Freya menyela, wajahnya seketika berbinar ketika mendengar nama calon kakak iparnya disebut. Sebulan lalu Kenan dan Kiran baru saja bertunangan, dalam waktu dekat mereka mungkin akan segera melangsungkan pernikahan.
Kenan mau tidak mau terkekeh melihat eksdpresi adik sepupunya itu. “Iya, dia lagi masak sarapan di dalem sama Bi. Imas.”
“Yaahh... Aku udah sarapan, tapi ga papa deh makan lagi, aku suka masakannya Kak Kiran,” ucap Freya sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
Kenan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah adik sepupunya. “Ya udah, sana sarapan dulu. Tapi abis makan jelasin semuanya ke Kakak, ya.”
“Iya, Kak.”
Yah, setidaknya Freya punya waktu untuk memikirkan alibi yang harus diberikannya pada Kenan.
***
Setelah seharian menghabiskan quality time bersama Kenan dan Kiran, Freya kedatangan Rania di rumahnya di sore hari. Setelah memberikan alibi yang cukup meyakinkan pada Kenan perihal kepergiannya semalam. Sebenarnya Kenan sedikit curiga dan tidak percaya.
“Temen aku kan bukan Arkana sama Rania doang, kak. Ya, masa aku harus kenalin anak-anak seprodi sama Kak Kenan?”
Akhirnya Kenan menerima alasannya. Terkadang, Kenan memang bisa jadi kelewat protektif pada Freya. Meskipun Kenan masih memiliki kedua orang tuanya dan yang katanya Freya sendiri masih ada Papahnya yang entah ada di mana. Peran Orang tua Kenan hanya sebatas status di kartu keluarga semata. Tidak lebih dari itu, Kenan dan Freya malah lupa kapan terakhir berkomunikasi dengan kedua orang tua Kenan. Tante Haura saat ini tengah bekerja di Inggris, dia memang selalu menanyai kabar ke Freya menanyakan tentang kabar Kenan dan juga Freya itu pun hanya sebulan sekali. Sementara Om Erik yang katanya kembali ke Korea katanya kembali dengan keluarga dari ayahnya yaitu Ferdinan sekaligus pemilik Svetovska Company yang sekarang dipimpin oleh Reyandra Adira Putra sekaligus Ayah kandung Freya yang bahkan sampai sekarang Freya sendiri belum pernah bertemu muka dengannya.
“Gue bilang juga mending lo mundur, Frey! Susah amat sih, dibilangin. Udah tau Arkana seneng mainin cewek dari dulu, apa lagi yang mau lo harapin dari dia, hah?”
“Pengennya juga gue kayak gitu Ran... Kalo aja perasaan bisa dihapus segampang yang Lo omongin. Dari dulu gue udah lupain yang namanya Arkana kali!” ucap Freya mengesah mendengar ceramah dari sahabatnya itu. “Udah ah, ga usah ngomongin si Arkana lagi! Males gue!”
Rania berdecak, sahabatnya ini memang paling susah diberi nasehat soal Arkana. “Ya udah, tapi pertanyaan gue masih belum Lo jawab. Jadi kemaren malem Lo ke mana? Sama siapa?”
Freya memang belum menceritakan tentang Orion, dia tau Rania pasti akan bereaksi berlebihan.
“Kayak Andika kangen band aja Lo lama-lama.” Cetusnya.
“Ih, gue serius Freya Adira Putri!”